
Jam masih menunjukan pukul tiga dini hari, Riana terbangun dari tidur singkatnya. Manik bulan itu menatap lekat sosok sang suami yang tengah tertidur lelap. Wajah tampanya begitu damai dan sangat polos.
Tangan rampingnya terulur mengusap pelan pipi hangat Kim YeonJin. Senyum terpendar di bibir ranum Riana. Ia tidak percaya jika akan ada hari di mana dirinya bisa mendapatkan tugas kembali menjadi seorang istri.
Riana yakin jika kini di hadapannya adalah syurga yang selama ini ia rindukan. Allah menghadirkan Kim YeonJin selepas perginya kerumitan yang mendera. Mendapatkan kekerasan di pernikahan pertamanya membuat ia tidak pernah berpikir untuk berumah tangga kedua kalinya.
Namun, tidak ada yang tahu seperti apa rencana Allah ke depan. Dia menjauhkan Irsyad darinya dan digantikan dengan Kim YeonJin. Sosok yang tidak pernah ia kenal, tidak pernah terjamah dalam pandangan, tidak pernah terpikirkan hidup di dunia ini, tetapi jika benang merah sudah membelit takdir mereka, pertemuan pun terjadi.
Seberapa lama waktu berjalan, seberapa jauh jarak memisahkan, tidak peduli berbeda bahasa, negara, adat istiadat, kepercayaan, jika Allah sudah menghendaki maka semua akan terjadi. Kim YeonJin pada akhirnya menjadi seorang mualaf lalu menikahinya dan menjadi imam dalam hidupnya.
Hari yang sudah ia lewati selama ini seperti mengandung sihir. Bagaimana setiap detiknya menyuguhkan kejadian yang tidak terduga. Karena perbedaan itulah membuat Riana tidak percaya diri bisa bersanding dengan YeonJin.
Namun, berkat adanya perbedaan keduanya bisa disatukan dalam jenjang pernikahan. Teringat kembali masa-masa dulu membuat Riana mendengus pelan. Sekarang ia tidak pernah menyangka saat membuka mata, wajah orang mencintainyalah yang tertangkap pandangan pertama kali.
Ia tidak bisa menahan senyum senang dan terus mengelus pipi sang suami. "Apa yang kamu lakukan? Apa yang semalam tidak cukup?" Perlahan manik yang tersembunyi terlihat.
Riana terkejut dan berusaha menarik tangannya. Namun, YeonJin lebih cepat menggenggamnya erat, seketika pandangan mereka pun saling bertabrakan. "Apa kamu masih ingin melanjutkannya, Sayang?" suara serak nan berat sang suami menyapu pendengaran.
Riana tersentak dengan rona merah sudah menghiasi wajah. Secepat kilat ia menarik tangannya dan berbalik memunggungi YeonJin. Terdengar kikikan pelan di sana, Riana tidak bisa menahan malu lalu bersembunyi di balik selimut.
"Sayang, apa kamu malu?" ucap YeonJin mencondongkan tubuhnya mendekat.
Riana hanya diam tidak mengatakan apa pun dan terus menyembunyikan diri. "Ya ampun, kamu menggemaskan sekali. Aku tidak tahan terus membiarkanmu seperti ini." YeonJin menarik paksa selimut yang menutupi tubuh sang istri tanpa peringatan, Riana langsung kembali berbalik dan wajah mereka bertemu satu sama lain lagi. Untuk sesaat mereka hanyut dalam perasaan menggebu.
Setelah itu keduanya pun melaksanakan salat sunat tahajud bersama lalu berlanjut salat subuh. Sujud demi sujud begitu khusyu mereka lakukan. Tidak ada yang paling membahagiakan dalam hidup Riana selama ini, selain bisa melaksanakan ibadah bersama pasangan halalnya.
Kini ia merasa lengkap, ada suami yang mencintainya dan kedua putra, putri yang menyayanginya. Ia tidak takut lagi akan badai topang menerjang. Sekuat tenaga ia akan melindungi kehangatan keluarganya, meskipun dengan berbagai cara.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. "
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. "
Selesai salam kedua tangan pasangan suami istri itu pun menengadah. Kata demi kata yang terlampir dari mulut kemerahan sang kepala keluarga menjadi do'a untuk keluarganya. Sebagai makmum, Riana mengaamiinkan munajat terbaik sang suami.
Tidak lama Kim YeonJin berbalik ke belakang mengulurkan tangan seraya tersenyum hangat, Riana membalas dan menyalaminya. Kehidupan tenang yang mereka jalani begitu mendebarkan, gelenyar hangat terasa mengusik sanubari. Kehangatan tercipta kala cinta sejati tengah dirajut bersama berlandaskan kepada Illahi Rabbi.
...***...
Jam masih menunjukan pukul setengah tujuh pagi, seperti hari-hari kemarin, saat ini Riana tengah menyiapkan sarapan bagi keluarganya. Wanita berhijab lebar itu pun terlihat nyaman dengan kegiatannya, meskipun sekarang hanya sebagai ibu rumah tangga, tetapi tugas tersebut begitu mulia.
Riana bangga dan senang melakukannya. Di tengah kesibukannya, sepasang lengah kekar terulur di celah kedua tangan melingkar nyaman di atas perut rata. Semerbak aroma lemon bercampur mint mengusik penciuman.
Riana tersipu malu lalu menyikut perut atletis suaminya pelan. "Jangan menggodaku, Oppa," ucapnya pelan.
Kim YeonJin menyunggingkan senyum lembut, dagu lancipnya bersandar di puncak kepala istri tercintanya. Manik cokelat almondnya terus mengikuti ke mana tangan ramping itu pergi. Gerakan cepat Riana yang tengah memotong berbagai sayur menjadi tontonan menarik baginya.
"Sayang, apa tubuhmu baik-baik saja?" Pertanyaan tiba-tiba itu pun sukses membuat Riana menghentikan kegiatannya.
"Ya-yak, aku sudah bilang jangan menggodaku," balas Riana dengan nada suara sedikit meninggi.
YeonJin terkekeh pelan dan semakin menyamankan pelukannya. Namun, Riana harus kembali terkejut saat tangan kanan sang suami memijat pinggangnya pelan. Perlakuan sederhana seperti itu membuat perasaannya seketika menghangat.
"Apa ini nyaman?" tanya YeonJin lagi.
Suara lembutnya terus menerus mengalirkan rona merah di wajah cantik Riana. Ia tidak bisa berkonsentrasi, Kim YeonJin sangat handal dalam memperlakukannya dengan baik. Ia hanya mengangguk singkat dan membiarkannya terus memijat.
Waktu berjalan sebagaimana mestinya, setiap detikannya menemani kebersamaan. Cinta membalut pasangan terikat janji suci menghasilkan kasih sayang tak terkira. Bak dunia milik mereka bedua, keberadaan sang anak tidak dihiraukan.
Kaila yang baru saja keluar dari kamar Hyun Sik terdiam beberapa meter. Ia senang melihat ibunya bisa tertawa lebar bersama pria yang dicintainya. Ia sadar jika kebahagiaan yang dimiliki oleh sang ibu ada di dalam diri Kim YeonJin.
Sebagai seorang anak yang beranjak remaja, Kaila mengerti sorot mata penuh cinta hadir dalam netra keduanya. Ia tidak bisa membiarkan kebahagiaan orang tuanya direnggut paksa, rasa bersalah akan hari itu tiba-tiba saja hadir. Di mana ia bersikap egois dan ingin pergi ke Indonesia bersama sang ibu, tanpa memikirkan jika di sinilah hatinya berada.
"Kaila minta maaf, Mah. Dari dulu Mamah selalu mementingkan kebahagiaanku. Sekarang giliran Kaila yang menjaga kebahagiaan, Mamah. Hyun Sik Appa em ... bukan, Appa, aku harap Appa bisa menjaga Mamah selamanya," lirihnya terus menatap lekat ke arah dua orang dewasa yang tengah bercanda tawa dengan riang.
Beberapa saat kemudian deheman kuat datang dari Kaila. Pasangan suami istri itu pun melepaskan satu sama lain dan berbalik ke belakang. Mata mereka membola sempurna melihat putri pertamanya tengah menggendong Hyun Sik.
Tatapan nyalang itu terus mengarah padanya bergantian, "Apa Mamah dan Appa akan terus bermesraan seperti itu dan melupakan kami? Kalau begitu biar aku membawa Hyun Sik makan di luar," oceh Kaila.
Riana tertawa canggung dan menggeleng cepat, "ti-tidak, Sayang. Ma-mamah akan menyiapkan untuk kalian sekarang," gugupnya lalu mendorong Kim YeonJin ke depan.
Kepala keluarga tersebut mengusak belakang kepalanya dan berjalan pelan. Sesampainya di depan Kaila, ia bersimpuh menyamakan tingginya dengan sang anak. "Tuan Putri, maafkan Mamah dan Appa yah, Sayang. Ki-kita makan bersama, yah," ucapnya ikutan gugup.
Tanpa mengindahkan tatapan nyalang sang anak YeonJin langsung menggendong keduanya mendekati meja makan. Ia lalu meletakan mereka di sana dan duduk di samping Kaila. Seperti tengah ketahuan mencuri, ia menundukan kepalanya dalam.
"Appa, seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta. Tidak apa-apa, Kaila akan terus mendukung Appa untuk bahagia bersama Mamah," bisik Kaila mencondongkan badannya mendekat.
YeonJin terpaku dan menoleh cepat melihat senyum tulus. "Tuan Putri, Appa sangat menyayangimu," ucapnya lalu membubuhkan kecupan hangat di puncak kepala Kaila.
Riana tersenyum bangga menyaksikan interaksi ayah dan anak sambung di hadapannya. Perasaannya terus menerus menghangat dan ketenangan menyapa kuat. Apa pun yang akan terjadi nanti, ia tidak akan membiarkannya merusak keharmonisan keluarga ini.