QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Keanehan (Season 2)



Bunga sedang mekar-mekarnya di padang tandus hati seorang Choi Jimin. Semilir angin menyapu wajah tampan itu yang sedikit mengeluarkan semburat kemerahan. Entah sudah berapa lama ia memandangi sosok di hadapannya membuat sang wanita merasa risih. Ia hanya bisa menundukan pandangan sedalam-dalamnya.


Riana yang sadar akan hal tersebut langsung membawa Jasmin beserta kedua anaknya menuju ruang keluarga. Di sana hanya tinggal sang suami dan adiknya yang merangkap sebagai sekertaris. Kepergian mereka membuat bola mata Choi Jimin bergulir dan mengikuti ke mana langkah itu membawanya.


YeonJin menggeleng sekilas dan berjalan mendekat.


Pukulan pelan pun mendarat di puncak kepala Jimin membuat si empunya terkejut. Ia memegangi bekasnya yang sedikit ngilu seraya irisnya menatap tajam ke arah YeonJin.


"Apa yang hyung lakukan?!" serunya kemudian.


"Berhenti memandangi wanita itu. Dia risih dengan kelakuanmu tahu," jelas YeonJin, Jimin melebarkan mata tidak percaya.


"Risih? Hei hyung sebenarnya siapa wanita itu? Apa dia adiknya Riana? Kenapa aku baru melihatnya? Apa selama ini Riana menyem-" dengan cepat YeonJin menggaet mulut lancar Jimin.


Pria itu melebarkan pandangan terkejut dan tertekan. "Kamu terlalu banyak bicara. Apa kamu sangat penasaran siapa wanita tadi? Kenapa? Kenapa kamu seperti itu? Apa jangan-jangan?"


Perkataan YeonJin membuat Jimin menautkan kedua alis, heran. Tangan yang semula berada di bibirnya pergi begitu saja meninggalkan bekas, sedikit kebas. Jimin mengusap-ngusapnya lembut berharap jejaknya bisa menghilang.


"Jangan-jangan apa maksud hyung?"


YeonJin menampilkan senyum misterius seraya kedua tangan melipat di depan dada. Jimin diam menunggu kata-kata sang kakak selanjutnya.


"Kamu jatuh cinta pada pandangan pertama padanya, kan?"


Tatapan serius itu tepat mengarah padanya. Bak sinar leser membidik tepat sasaran, seketika itu juga jantungnya berdegup kencang menimbulkan rona tipis di wajah tampan Choi Jimin semakin menebal.


"Hah?! A-apa yang hyung katakan, a-aku tidak mengerti."


Pria bermarga Choi tersebut bertingkah mencurigakan, YeonJin semakin melebarkan senyum. Ini pertama kalinya ia melihat adiknya seperti sekarang. Meskipun sudah bertahun-tahun mereka bertama, baru sekarang Jimin memperlihatkan tingkah malu-malu kucing.


"Sudah tidak usah mengelak, semua itu tertulis jelas dalam matamu."


"Hah?!"


Jimin lagi-lagi bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. YeonJin mencondongkan badan ke depan sedikit mendekat ke arahnya.


"Jika matamu mengatakan, "ahh aku sangat menyukai Jasmin," benarkan?"


Kedua manik kecil Jimin melebar sempurna, jantungnya seolah berhenti berdetak. Aliran darah dalam dirinya berdesir hebat. Namun, urat sarafnya seperti enggan berfungi membuat ia terdiam kaku.


YeonJin tidak bisa menahan tawa, suaranya bergema di ruang makan tersebut menyaksikan sendiri bagaimana reaksi seorang Jimin saat mendengar perkataannya. Ternyata mudah sekali menggoda adik kecilnya itu. Ia baru tahu jika kelemahan yang dimiliki seorang Choi Jimin adalah wanita cantik nan anggun.


"Ja-jadi namanya Jasmin? Di-dia orang Indonesia juga?"


Dengan cepat YeonJin mengangguk, "benar, dia seperti istriku berasal dari Indonesia. Jasmin bukan adik Riana, tapi dia keponakan Sarah sahabat sekaligus kakak istriku. Yak!! Bukankah kita memiliki kisah yang sama? Tapi sangat disayangkan, jika perbedaan itu tidak mungkin bisa membuat kalian bersama."


"Tuhan selalu punya cara untuk mendekatkan siapa pun. Percayalah jika rencananya lebih baik dari kita. Bisa jadi kamu menyukai sesuatu, tapi itu tidak baik untukmu. Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Karena itulah yang terjadi padaku dulu dan kamu menjadi saksinya,"


..."Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal iitu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S Al-Baqarah : 216) ...


Jimin termenung mendengarnya, benar apa yang dikatakan YeonJin jika ia menjadi saksi hidup perjuangannya. Bagaimana seorang YeonJin sangat menjauhi atau tidak percaya akan yang namanya cinta. Tetapi, setelah takdir Allah mempertemukannya dengan Riana tidak hanya cinta yang ia rasakan, tapi juga kebenaran.


Jimin tidak bisa mengatakan apapun setelah itu. Ia hanya bisa diam dengan dirinya. Entah apa yang ia rasakan saat ini, tiba-tiba saja kegundahan datang menerjang. Pertemuan singkat dengan Jasmin beberapa menit lalu menimbulan hal aneh dalam hidupnya.


"Ah benar, apa yang kamu ingin bicarakan sebenarnya? Kenapa kamu tiba-tiba datang ke rumahku? Apa kamu mengetahui sandi rumah ini? Yak, apa kamu diam-diam mencari tahu? Aku tidak pernah memberitahukannya pada siapa pun selain Riana," cerocos YeonJin menyadarkan Jimin.


Pria itu sadar dari alam bawah sadarnya, untuk kesekian kali iris kecoklatannya melebar. Ia teringat kembali tujuan awal datang ke kediaman sang bos. Jimin tidak langsung menjelaskan dan mimik wajahnya pun berubah. YeonJin mengerutkan dahi dalam tidak mengerti, tapi entah kenapa perasannya berubah jadi tidak enak.


"Apa yang harus aku lakukan hyung?"


Suara lemah Jimin menggetarkan sinyal bahaya dalam tubuhnya. YeonJin menyadari jika situasi saat ini tidak bisa dibilang baik-baik saja. Kedatangan pria paruh baya yang ia panggil ayah menimbulkan sedikit kegoncangan dalam hidupnya kala masa lalu itu hadir bersamanya.


"A-apa ini ada sangkut pautnya dengan appa?"


Jimin mengangguk lemah. Kedua tangan YeonJin mengepal kuat dari ekspresi yang ditunjukan sekerarisnya ia tahu sesuatu jika sang ayah mulai bergerak. Namun, ada hal lain yang berusaha pria itu sembunyikan darinya, YeonJin menangkap sesuatu tersebut.


Sedangkan di ruang keluarga, Riana yang tengah menggendong Hyun Sik menemani Jasmin dan Kaila. Keponakan dari Sarah tersebut sedari tadi terus menundukan pandangan. Ia tahu apa yang terjadi. Mungkin karena belum terbiasa wanita itu menyembunyikan wajahnya.


"Kamu pasti terkejutkan melihat sekertaris suami teteh tadi?" tanyanya memulai obrolan.


Jasmin menoleh singkat dan menggeleng setelahnya. "A-aku hanya-"


Ada yang aneh Riana rasakan. Jasmin seolah menahan kesedihan yang teramat dalam dan lagi tubuh wanita itu sedikit gemetaran. Sesuatu terjadi di sini, pikir Riana. Akhirnya ibu dari dua anak tersebut berinisiatif membawa Kaila dan Hyun Sik ke dalam kamar. Ia menyuruh sang putri menjaga adiknya yang tertidur lelap.


"Sayang, sebenar lagi waktunya tidur siang kamu maukan menjaga adik kecil di kamar? Ahh kakak juga bisa tidur di samping pangeran tampan kita," ucap Riana setelah membawanya ke kamar sang anak.


"Mamah tenang saja Kaila pasti akan menjaga pangeran kita. Mamah bicara saja sama Eonni Jasmin, Kaila akan tidur siang bersama Hyun Sik."


"MasyaAllah."


Riana membubuhkan ciuman hangat di dahi Kaila. Ia selalu dikejutkan dengan kepekaan malaikat kecilnya dalam kondisi apapun. Ia beruntung dianugerahi putri sebaik dan semandiri Kaila.


Setelah memastikan kedua buah hatinya tertidur Riana pun kembali keluar. Di ruang tamu itu ia masih melihat Jasmin menundukan kepalanya dalam. Hal-hal yang belum ia ketahui seketka merambat dalam dadanya mengantarkan kepedihan. Ia jadi teringat akan masa lalu saat berjuang snedirian membesarkan Kaila.


Riana berjalan dan duduk di sampingnya seraya menggenggam tangan Jasmin.


"Bisa kita bicara di halaman belakang? Di sana tidak ada siapa pun hanya ada beberapa bunga yang mendengarkan kita nanti." Ucap Riana seraya terkekeh pelan.


Jasmin mengangkat kepalanya dan mengangguk samar. Riana tersenyum hangat kemudian menarik pelan wanita itu menuju halaman belakang rumahnya.