
Baru saja Kim YeonJin tiba di tempat kerja, Choi Jimin datang menghadang saat ia menuju ruangannya berada. Dahi pria bermarga Kim itu mengerut dalam melihat ekspresi khawatir bercampur takut di wajah sang sekertaris.
YoenJin tidak terlalu mempedulikannya dan kembali hendak melangkah. Namun, lagi-lagi Jimin menghalanginya seolah ada sesuatu yang terjadi. Tidak biasanya pria yang sudah ia anggap adik sendiri itu bersikap aneh.
"Apa yang terjadi? Kenapa dari tadi kamu menghalangiku untuk masuk ke ruangan? Apa kamu lupa betapa banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan?" tanya YeonJin menggebu.
Kepala bersurai kecoklatan lembut di sana menggeleng beberapa kali. Air mukanya menyiratkan sesuatu, tapi mulut tipisnya belum juga mengatakan sepatah kata pun.
Jengah, YeonJin hanya bisa menghela napas lelah dan tidak mempedulikannya. Kedua kaki jenjang tersebut melangkah meninggalkan Jimin yang masih berada di ambang kebimbangan. Sebelum YeonJin membuka pintu kayu jati di hadapannya Jimin membuka suara.
Seketika itu juga tangan kanannya mengambang di udara dengan degup jantung bertalu kencang. YeonJin membalikan kepalanya secara perlahan, iris kecilnya melabar dengan mulut kemerahannya sedikit terbuka.
Ia menatap Jimin horor tidak percaya dengan apa yang dikatannya barusan.
"Ka-kamu tadi bilang a-pa?" gugup Kim YeonJin.
"A-appa. A-ppa hyung kembali dan sekarang ada di dalam ruangan."
Bak bongkahan es, YeonJin diam begitu saja di tempatnya berdiri. Kedua matanya berkaca-kaca seraya sekujur tubuh bergetar hebat. Bayangan masa lalu hinggap dalam ingatan menusuk sanubari paling dalam. Pengkhianatan yang dilakukan oleh orang paling dihormatinya seketika kembali membuka luka lama.
Kesakitan itu datang lagi mengundang cairan bening meluncur bebas di pipinya. Adam appel di rongga tenggorokan naik turun berusaha menetralkan guncangan hebat dalam dirinya. Wajah sang ibu yang tengah menangis akibat perselingkuhan suaminya mendarat begitu saja dalam kepala Kim YeonJin.
Sebagai saksi bisu pertengkaran masa lalu kedua orang tuanya YeonJin tahu benar seperti apa rasa sakit yang harus ditanggung ibunya. Pria yang ia panggil ayah menusuk mereka dari belakang dengan membawa wanita lain ke rumah tanpa perasaan.
Hari itu bagaikan mimpi terburuk sepanjang sejarah kehidupan seorang Kim YeonJin. Hingga ibunya membawa ia menjauhi sang ayah dan perceraian pun terjadi. Keindahan dan keharmonisan dalam istana bernama rumah porak poranda seketika. Badai ombak datang menerjang perahu dalam lautan rumah tangga. Sang nahkoda terbuai godaan menelantarkan penumpangnya sendiri.
Sakit, tidak ada kata selain itu dalam diri Kim YeonJin. Ia harus tumbuh tanpa adanya sosok sang ayah. 19 tahun sudah ia hidup tanpa bayang-bayang pria yang sangat dikaguminya. Namun, sekarang tanpa hujan dan badai sosok itu kembali.
Choi Jimin sadar akan keadaan atasannya ini dan berusaha untuk menenangkan. Tetapi, YeonJin sama sekali tidak menggubrisnya dan langsung masuk begitu saja ke ruangan tersebut tanpa pesiapan yang pasti.
Jimin melebarkan mata tidak percaya dan mengikutinya dari belakang.
Baru pintu terbuka langkah Kim YeonJin terhenti. Seluruh urat sarafnya seolah berhenti berfungsi, ia diam kaku seraya menatap lurus ke depan.
Di sana, di kursi kebesarannya pria paruh baya yang sudah hilang dalam pandangan tengah menopang dagu dengan kedua tangan saling berpautan. Senyum membingkai wajah tidak muda lagi, tapi masih menampilkan wibawa dan garis muka tampannya.
"Sudah lama tidak bertemu, putraku Kim YeonJin."
Suara itu mengalirkan aliran listirk disekujur tubuh YeonJin. Tanpa disuruh ia mengepalkan tangannya erat menahan diri untuk tidak melakukan hal yang tidak diinginkan.
"Apa yang Anda lakukan di sini?"
Kim YeonSun, ayah dari Kim YeonJin beranjak dari duduk dan berjalan mendekati sang putra. YeonJin yang masih belum bisa mengontrol dirinya sendiri hanya menatap kedatangan pria itu dalam diam.
"Astaghfirullah hal adzim Ya Allah, apa lagi ini? Hamba bukannya tidak menghormati beliau, hanya saja masih terasa sakit bayangan masa lalu itu," benaknya kemudian.
"Apa kamu tidak ingin menyambut kedatangan appa? Sudah 19 tahun berlalu, beginikah caramu menghormati appa?" suara baritone tersebut seketika menusuk relung hatinya paling dalam.
YeonJin semakin mengeratkan kepalan tangannya saat YeonSun tepat berdiri di hadapannya. Wajah tanpa bersalah dan senyum tanpa dosa itu membuatnya semakin terbakar emosi.
"Saya harap Anda pergi dari sini. Karena saya tidak ingin melihat Anda lagi. Anda menyadari sudah 19 tahun berlalu, dan tidak adakah rasa bersalah?"
Setelah mengatatakan hal itu YeonJin berbalik hendak meninggalkan ruangannya. Namun, keadaan yang sama seperti beberapa saat lalu menyapanya lagi. Kini giliran YeonSun menghentikan langkahnya.
"Appa ingin bertemu dengan istri dan anakmu. Apa dia belum tahu jika kamu masih memiliki seorang ayah?"
Jantungnya kembali berdegup kencang. Entah kenapa ia sama sekali tidak menginginkan Riana bertemu dengan ayahnya. Ia sudah hidup bahagia dalam pernikahannya, maka tidak ada tempat untuk masa lalu singgah, meskipun hanya menyapa sebentar saja.
"Jangan pernah berani Anda menampakan diri di depan istri dan anak saya. Karena saya tidak ingin mereka tahu siapa Anda."
Kali ini YeonJin benar-benar pergi meninggalkan kekalutan pada Choi Jimin. Sekertarisnya itu terdiam menatap ke dalam manik pria paruh baya di sana. Senyum yang masih membingkai wajah YeonSun membuatnya kesal. Jimin tahu bagaimana perjuangan YeonJin saat tidak ada orang tua lengkap dalam hidupnya.
"Apa tujuan Anda datang kemari? Apa Anda ingin menyakiti YeonJin hyung lagi?"
Emosi bercampur kemarahan menjadi satu, sorot mata tajamnya seketika membuat YeonSun tergelak. Suara beratnya teredam dalam ruangan tersebut.
"Sangat beruntung putraku memiliki seseorang yang begitu setia, tapi mau sampai kapan?"
Kim YeonSun memasukan tangan kanan ke dalam jas yang tengah dikenakannya lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat. Benda itu di lemparkan ke depan Jimin membuatnya mengerutkan dahi, tidak mengerti.
"Apa kamu tidak penasaran dengan isi amplop itu?"
Seringaian hadir menambah kesan licik seorang Kim YeonSun. Jimin pun merunduk mengambil amplop di bawah kakinya. Perlahan, ia membuka dan mengeluarkan isi di dalamnya. Seketika itu juga bola matanya melebar sempurna dengan darah berdesir hebat menimbulkan panas ke atas kepalanya. Irisnya bergetar melihat beberapa foto yang kini tengah ia genggam.
"Kamu tidak usah ikut campur dengan urusanku. Kim YeonJin adalah putraku dan kamu tidak ada hak untuk selalu bersamanya. Atau kamu mau mengorbankan ibu dan adik perempuanmu? Semua tergantung pilihanmu, Choi Jimin." Ucap YeonSun tepat di samping telinga kanannya.
Setelah menepuk pundaknya pelan, pria itu pun pergi meninggalkan kebimbangan dalam diri Jimin. Kedua kakinya seolah terbendam tidak bisa digerakan, keadaan tersebut sama seperti Kim YeonJin beberapa saat lalu.
Ia tidak menyangka kedatangan pria bernama Kim YeonSun menimbulkan malapetaka baru. Ia pikir kehidupan sang kakak akan selamanya baik-baik saja. Namun, ia sadar waktu akan terus berjalan sampai Tuhan mengatakan semuanya berakhir.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya.