
...Ketika cinta sudah bermuara, maka tidak ada lagi tangan-tangan yang merusaknya. Namun, apa benar seperti itu?...
.......
Hampir satu bulan lamanya, Kim YeonJin berada di rumah sakit dan tepat hari ini ia sudah diperbolehkan pulang. Luka di tubuhnya pun perlahan mengering. Jimin bersyukur melihat kondisi hyungnya tersebut. Begitu cepat perkembangan yang diperlihatkan. Bahkan dokter pun dibuat takjub. Apa karena ada hal bagus yang sudah menimpanya?
Selama itu pula tanpa Jimin tahu, Riana dan Kaila selalu datang menjenguk. Sesekali ia juga menyendandungkan ayat suci untuknya. YeonJin bersyukur bisa mendapatkan calon istri sebaik Riana.
“Luar biasa. Biasanya pasien kecelakaan seperti Anda tidak bisa sembuh secepat ini. Selamat yah Kim YeonJin-ssi, Anda sudah bisa pulang.” Ucap sang dokter yang selama ini menanganinya seraya membereskan peralatan medis.
YeonJin yang masih duduk di ranjang tersenyum hangat. “Terima kasih banyak dokter. Ini berkat Tuhan melalui Anda,” ucapnya.
Dokter itu pun mengangguk singkat. “Baiklah kalau begitu saya permisi dulu. Semoga Anda tidak kembali lagi ke sini."
YeonJin melebarkan senyuman seraya mempersilakannya pergi. Tanpa ia sadari tatapan Jimin sedari tadi terus memperhatikannya. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan YeonJin darinya. Rasa penasaran terus timbul dalam diri Choi Jimin.
“Hyung, apa terjadi sesuatu? Sepertinya akhir-akhir ini hyung terlihat senang sekali,” ucapnya mendesak.
Bulan sabit di bibirnya kembali terbit membuat selung pipit itu terlihat menambah ketampanan. Tanpa keraguan sedikit pun YeonJin menganggukan kepalanya.
“Ne. Ada hal besar yang sudah datang padaku.”
“Apa itu?”
“Aku melamar Riana, dan dia menyetujuinya. Setelah aku sembuh total kami memutuskan untuk menikah.”
“EEHHHHH!!!!!?????”
Teriakan Jimin tadi mampu menghentikan langkah seseorang di luar ruangan. Tatapannya jatuh ke bawah saat tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Bola matanya bergulir ke sana ke mari. Tubuhnya kaku begitu saja. Ia diam bak bongkahan es teringat akan hari itu.
Sang anak yang tengah dituntunnya pun mendongak melihat wajah pucatnya. “Mamah kenapa? Ayo masuk.”
“A, ehh eung,” racaunya tidak jelas.
Cklekk!!
Pintu yang terbuka itu otomatis menarik perhatian. Pandangan Jimin dan YeonJin pun langsung mengarah ke sana. Muka keterkejutan Jimin masih terpampang jelas. Ia tercengang, tidak percaya mendengar pengakuannya.
“Ri-riana. A-apa benar apa yang dikatakan hyung. Ka-kalian akan menikah?” gugup Jimin. Mendapatkan pertanyaan itu Riana langsung menundukan kepalanya lalu mengangguk sekilas.
“Ne. Hyung tidak bercanda bukan?” potong YeonJin.
“Kaila, Sayang. Appa rindu sekali.” Ia pun merentangkan kedua tangannya menyambut putri kecil itu.
“Appa…” Dengan senang Kaila segera mendekati ayah angkatnya ini.
Sungguh hari-hari bahagianya mulai terjalin.
...***...
Setelah membereskan semua barang-barangnya mereka pun tengah berada dalam perjalanan. Mobil mewah itu dihiasi dengan obrolan-obrolan ringan dari anak dan ayah tidak sedarah ini.
Riana yang tengah duduk di samping pengemudi hanya menatap ke depan. Ia melihat pemandangan tanpa ada niatan untuk bersuara. Sedangkan Jimin, sedari tadi terus curi-curi pandang. Ia masih penasaran apa yang membuat Riana bisa menerima lamaran hyungnya.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanyanya berbisik. Lalu menoleh ke belakang sebentar melihat kedua orang itu yang masih sibuk dengan dunianya sendiri dan kembali pada Riana.
“Iya, silakan.”
“Cih, lucu sekali pertanyaanmu. Kamu sendiri kan tahu jika sekarang YeonJin-ssi sudah tidak punya apa-apa lagi. Jadi buat apa aku menerimanya?”
“Lalu?”
Riana terdiam beberapa saat membuat Jimin semakin penasaran. Apa yang sebenarnya Riana rasakan? Apa wanita itu mencintainya juga? Ia tidak ingin Riana terpaksa menerima hyungnya dan berakhir air mata. Sudah cukup penderitaan yang dirasakan YeonJin, ia ingin sang kakak mendapatkan kebahagiaannya juga.
Sedetik kemudian bibir ranumnya melengkung sempurna. Jimin semakin tidak mengerti dan berusaha fokus menyetir. Meskipun ia sudah tidak sabar lagi dengan jawaban Riana.
“Aku sadar jika selama ini orang yang benar-benar baik padaku itu Kim YeonJin-ssi. Beliau rela menjadi ayah angkat Kaila. Agar dia tidak kehilangan kasih sayang dari seorang ayah. Beliau juga yang sudah memberi pekerjaan hingga aku bisa menghidupi Kaila. Coba kamu pikir, aku ini single parent, apa pantas bersanding dengan pria sepertinya? Tapi dia sudah banyak berkorban untuk meyakinkanku. Ternyata tanpa disadari, Tuhan menitipkan perasaan itu juga padaku.”
Tuturnya kemudian. Jimin tercengang ternyata bukan hanya YeonJin yang mencintainya dengan tulus. Perasaan itu akhirnya terbalaskan sudah.
Ia pikir wanita itu hanya memanfaatkan keadaan. “Mian. Aku sempat berpikiran yang tidak-tidak.”
“Tidak apa-apa itu wajar. Aku sadar diri. Siapa aku dan siapa Kim YeonJin-ssi.”
“Kamu adalah wanita yang kucintai. Jangan dengarkan apa kata orang. Aku hanya ingin bersamamu membangun istana kebahagiaan kita.”
Sontak perkataan itu membuat Jimin dan Riana terkejut. Mereka saling pandang, kemudian menoleh ke belakang dengan kompak.
Jimin langsung kembali menghadap ke depan dengan senyum bertengger di wajah tampannya. Sedangkan Riana masih menatapnya tidak percaya.
Bagaimana bisa di hadapan Jimin, pria itu berkata seperti tadi? Wajah bulatnya merona hebat.
“Kamukan calon istriku, jadi wajar aku berkata seperti itu.” YeonJin menangkap sinyal di kedua matanya.
Riana pun menarik dirinya seraya menundukan kepalanya dalam.
“Aku harap kalian bahagia.” Bisik Jimin lagi.
Ternyata selama mereka berbicara, YeonJin memperhatikannya. Sedangkan Kaila tertidur dalam pangkuannya. Perasaan asing itu terus menyapa perasaan Riana. Ini pertama kalinya setelah pernikahannya kandas, ia bisa merasakan hal itu lagi. Atau mungkin sekarang lebih besar.
Tidak lama kemudian, setelah perbincangan serius tadi mereka tiba di kediaman keluarga Choi. Rumah minimalis itu nyaman ditinggali untuk pengantin baru. Namun, sayang sang pemilik sampai saat ini masih betah melajang.
“Selamat datang di rumahku, hyung, Riana, Kaila.” Ucapnya senang membawa mereka masuk.
YeonJin yang masih berada di kursi roda tersenyum melihatnya. Begitu pula dengan Riana yang tengah mendorongnya di belakang.
“Wahh rumah paman Jimin bersih sekali. Bagus juga. Appa pasti betah tinggal di sini,” balas Kaila.
“Mian hyung, aku tidak bisa mempertahankan perusahaan,” sesalnya.
YeonJin menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak usah berkata seperti itu. Memang perusahaan bukan sepenuhnya milikku. Sebagian besar milik ayahnya Hyerin. Jadi, sekarang aku sudah siap dengan kemungkinan terburuk ini.”
Mendengar itu Riana melamun dalam diam. "Apa semua itu gara-gara aku? Jika memang iya apa yang harus aku lakukan? Begitu banyak pengorbanan yang diberikan YeonJin-ssi untukku. Ya Allah berikanlah rezeki yang berlimpah untuknya. Tapi tetap saja aku merasa tidak enak," Riana menyelam dalam dunianya sendiri lagi.
“Buang jauh-jauh pikiran itu Riana. Ini semua bukan salahmu atau siapa pun. Aku lega bisa terbebas dari permainan mereka.” Ungkap YeonJin menoleh ke belakang melihat wajah kusutnya.
“Ehh, tapi aku tidak mengatakan apa-apa.”
“Semua terlihat jelas dimatamu. Astaghfirullah kebaisaan.” Ia pun langsung menundukan pandangannya.
Jimin tersenyum menatap keakraban mereka. “Syukurlah aku senang melihat hyung begini. Hah~ aku juga bisa bernapas lega sekarang. Berbahagialah untuk kalian berdua. Semoga hyung cepat pulih agar bisa menikahi Riana.”
Kedua insan itu pun tersenyum malu seraya merona hebat. Perlahan kebahagiaan mulai menyapanya. Namun, benarkah demikian? Semoga pelangi itu benar datang setelah hujan pergi.