
...Asa yang membentang tinggi memberikan kesempatan untuk terus berjuang. Harapan yang melambung mengantarkan pada mimpi tak berkesudahan....
.......
CEO, kini sudah kembali melekat pada dirinya lagi. Kim YeonJin, pria berusia 33 tahun itu sudah berhasil mengembangkan kariernya kembali. Sosok wibawa, penuh tanggung jawab tersebut memasuki gedung galeri. Bangunan yang dirancang langsung oleh sang istri di masa itu memberikan manfaat luar biasa. Setidaknya setelah kehilangan gedung utama ia masih bisa merancang untuk membangun usaha.
Namun, ia sama sekali tidak merasa sedih atau gundah setelah usaha pertamanya hilang dalam genggaman. Justru ia merasa lega dan nyaman. Karena bisa membangun semuanya dari awal berkat kerja kerasnya sendiri tanpa campur tangan orang lain.
Menghirup udara terlepas dari jeratan sang paman membuat Kim YeonJin bisa tersenyum lebar. Terlebih ia sudah menganut suatu kepercayaan yang membuatnya lebih terarah.
Allah memang selalu punya cara bagi setiap hamba-Nya untuk berubah. Allah juga yang menghendaki siapa saja untuk menerima hidayah-Nya.
"Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang rugi" (Q.S. Al-A'raf : 178)
Mudah bagi Allah untuk memberikan hidayah pada hamba-Nya.
Begitu tenang, nyaman dan sejuk perasaan yang YeonJin rasakan. Ia sudah berhasil berada di puncak dan telah bersanding dengan wanita yang dicintainya. Status single parent terkadang menjadi suatu hambatan untuk kembali membina rumah tangga. Kegagalan dalam pernikahan memberikan gambaran abstrak ketika hendak membuka hati untuk yang baru. Namun, YeonJin berhasil merobohkan dinding keras itu sampai Riana bisa menerimanya.
Dan sekarang mereka sudah dikaruniai seorang putra bernama Kim Hyun Sik atau Muhammad Asraf Dhaifullah.
"Senyum-senyum terus dari tadi. Hyung tidak apa-apa, kan?" Jimin yang sedari 5 menit lalu sudah berada di ruangan sang bos mengerutkan dahi melihat kelakuan pria satu ini.
Ia masih belum terbiasa dengan perubahan sikap Kim YeonJin. Terkadang pria itu senyum-senyum sendiri, menawarkannya barang mewah atau hal tidak biasa lainnya.
"Biar kutebak, hyung sedang mengirim pesan pada Riana?" tanpa melihat sekertarisnya YeonJin mengangguk mengiyakan.
"Ya Tuhan ini belum ada satu hari hyung berada di kantor dan sudah merindukannya?"
YeonJin pun melepaskan perhatiannya pada ponsel dan menghela napas berat. "Mau bagaimana lagi aku sangat mencintai istri dan kedua anakku. Aku sangat merindukan mereka, Jim," adunya seperti anak kecil pada ibunya.
Kini giliran Choi Jimin yang menghela napas, lelah. "Hyung cinta ada batasnya. Kesampingkan urusan cinta jika sedang berhadapan dengan pekerjaan."
Secepat kilat YeonJin menegakan tubuhnya lalu menggerakan jari telunjuknya tepat di hadapan Jimin. "Tentu perkataanmu itu tidak benar sama sekali. Cinta dan pekerjaan memang dua hal yang berbeda. Tetapi, dengan cinta maka pekerjaan akan mudah untuk dilakukan. Karena kita bekerja untuk orang yang dicintai. Kamu mengerti itu, kan?"
Lagi dan lagi Jimin memutar bola mata, jengah. "Terserah hyung. Aku tidak mengerti.
"Kalau kamu belum mengerti maka menikahlah dan temukan orang yang tepat." Jawab YeonJin seraya sibuk memeriksa beberapa dokumen yang berada di meja kerjanya.
"Dasar bucin," benak Jimin tanpa membalas ucapan sang sahabat.
Sedangkan di luar gallery yang kini merangkap sebagai perusahaan Kim YeonJin, seorang pria paruh baya berbadan tinggi tegap memandangi bangunan tersebut dalam diam. Kacamata hitam bertengger di hidung mancung itu menutupi identitasnya.
"Jadi, kamu sudah berhasil? Saatnya aku menikmatinya juga, kan?" gumamnya sarat akan makna.
...***...
Jam sudah menunjukan pukul setengah 5 sore. Sedari tadi Riana sibuk menyiapkan makan malam. Kaila yang tengah berada di ruang keluarga menjaga adik kecilnya. Sesekali gelak tawa dari Kim Hyun Sik terdengar nyaring. Sudut bibir ibu dua anak itu pun melengkung senang.
"Oppa! Ya Allah kamu membuatku terkejut," keluhnya.
Kim YeonJin tertawa senang melihat wajah cemberut pujaan hatinya dan semakin mengeratkan pelukan dari belakang.
"Wangi sekali. Apa yang sedang kamu masak, Sayang?" tanyanya begitu saja.
Riana menghela napas panjang dan menghempuskannya perlahan. "Mana ucapan salamnya, oppa?"
"Mian, mian, assalamu'alaikum bidadari jannahku."
"Wa-wa'alaikumsalam."
Mendengar penuturan sang suami tidak aman untuk jantung Riana. Degupannya sangat kencang membuat aliran darah ke wajahnya begitu kentara. Kedua pipinya memerah padam dengan bulan sabit melengkung sempurna di bibir ranum itu.
"Sangat senang bisa melihat istriku tersenyum. Aahhh, aku bahagia sekali." Oceh YeonJin lalu membubuhkan kecupan hangat di pipi kiri Riana.
Untuk kedua kalinya wanita itu berjengkit kaget, ia masih belum terbiasa dengan kebiasaan sang suami yang kadang tidak tahu tempat dan situasi kala melayangkan ucapan atau pun tindakan manis.
"Mamah, Appa."
Suara putri kecilnya menginstrupsi, buru-buru Riana melepaskan tangan sang suami dan berbalik melihat Kaila. Gadis kecil itu melipat tangan di depan dada seraya tersenyum lebar.
"Kebiasaan, apa Appa tidak bisa sekali saja tidak membuat Mamah malu?"
"Hmm? Apa maksudmu, Sayang? Jutsru Appa senang bisa menggoda Mamah. Uhh putri Appa sudah besar ternyata." Balas YeonJin seraya berjalan mendekati Kalila dan menggendongnya. "Oh yah, apa Hyun Sik tidak nakal hari ini?"
"Adek bayi sangat baik, Appa," balas Kaila.
"Benarkah? Ayo kita temui Hyun Sik, Appa sangat merindukannya."
YeonJin membawa Kaila menuju sang putra berada meninggalkan Riana di belakang. Wanita yang pernah menjadi orang tua tunggal itu masih menyunggingkan senyum bahagia. Lega sudah, beban berat yang ditanggungnya menghilang.
Benar apa yang tertuang dalam Al-Qur'an surah Al-Insyirah ayat 6, "inna ma'al usri yusroo" yang artinya "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Karena sejatinya kesakitan dan kebahagiaan saling berdampingan. Bisa saja hari ini kepedihan memeluk erat, tapi percayalah besok ada senyum yang sudah Allah persiapkan. Kadang Allah memberikan cobaan bukan berarti Allah benci, tapi sebaliknya. Allah begitu mencintai kita dengan caranya yang luar biasa. Allah menghadirkan luka dan menggantinya dengan kado istimewa.
Air mata tidak akan selamanya mengalir. Karena senyum kebahagiaan sudah Allah skenariokan.
"Terima kasih Ya Allah nikmati-Mu sungguh luar biasa. Masa lalu memang bukan untuk dikenang, tapi jadikan sebagai pembelajaran. Aku benar-benar mengerti makna hidup ini. Karena Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya sekali pun. Laa tahzan innallaha maana, janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. MasyaAllah, terima kasih Ya Allah." Gumam Riana lalu menengadah merasakan keberadaan Dzat Illahi Rabbi.
Langit yang semula gelap gulita, perlahan awan kelabu itu saling berpencar memberikan kesempatan pada sang raja siang untuk mengambil alih. Langit cerah berwarna biru terang membentang sepanjang mata memandang. Keindahannya menggambarkan jika sejatinya di balik badai masih ada pelangi.
Begitu pula dengan kepedihan yang terus datang tanpa henti. Entah sampai kapan, tapi yakinlah di ujung sana Allah sudah menyiapkan kebaikan setelahnya.
Itulah yang sudah Riana rasakan. Betapa berat ia menanggung beban sebagai orang tua tunggal bagi Kaila, tapi Allah menghadirkan Kim YeonJin sebagai pelengkap separuh agamanya.