QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Ibu dan Istri (Season 2)



Langit membentang luas menebar kecerahan serta keindahan siang. Cakrawala tengah tersenyum riang dengan sang surya menampilkan cahaya terang. Sesekali angin sejuk datang melunturkan ketegangan yang tercipta di sana.


Gudang terbengkalai di sudut ibu kota menjadi tempat pertemuan satu keluarga. Kim YeonJin terkejut kala menyaksikan bangunan terbengkalai tersebut. Ia meringis tajam dan memandangi Jimin menuntut penjelasan.


"Itu benar Hyung, tuan Kim YeonSun memang berada di sini itu informasi yang aku dapatkan."


Tanpa mengatakan sepatah kata pun YeonJin kembali menatap ke depan dengan perasaan campur aduk, antara gelisah dan kecewa merundung dirinya dalam diam.


Keberadaan mereka pun terendus oleh bawahan Kim YeonSun yang melihat keberadaannya. Keduanya pun langsung di hadang oleh beberapa pria berpakaian serba hitam yang mencegah mencegah untuk masuk ke dalam.


"Minggir, saya ke sini bukan untuk berkelahi, apa kalian tidak tahu siapa saya?" ucap YeonJin kemudian.


"Kami diperintahkan untuk mencegah siapa pun masuk ke dalam," balas salah satu dari mereka.


YeonJin berdecih dan melipat tangan di depan dada seraya menatap nyalang mereka satu persatu.


"Saya datang untuk bertemu dengan appa, kalian minggir atau nanti akan menyesal," ucapnya tegas.


Mereka pun saling berbisik kala mendengar cetusan kata "appa" di sana, dan beberapa saat kemudian adu mulut pun terjadi lalu disusul dengan perkelahian. Choi Jimin terkejut tidak percaya menyaksikan sang kakak tengah melawan empat orang pria. Ia pun kagum dan takjub melihat aksi YeonJin bak di film laga.


"Aku tidak percaya Hyung bisa berkelahi dengan hebat seperti itu," gumamnya yang hanya diam di tempat seraya memeluk tas kerja sang atasan dengan erat.


Tidak lama berselang perkelahian pun usai, YeonJin mengalahkan empat pria dengan tangan kosong.


"Tidak sia-sia dulu aku latihan bela diri," ujarnya disela-sela napas yang naik turun.


Tatapannya pun kembali terpaku pada para pria berjas yang sudah terkapar di atas tanah dengan luka lebam di wajah. Tanpa YeonJin ketahui salah satu dari mereka diam-diam menghubungi Kim YeonSun memberitahukan kedatangan kedua tamu tidak diundang. Dari arah dalam pria paruh baya tersebut pun menyeringai dan membiarkannya masuk.


Melihat sebelah sudut bibir itu terangkat membuat Riana mengerutkan dahi. Entah apa yang tengah dipermainkan mertuanya kali ini, ia bersikap waspada.


"Apa kamu serius dengan keputusan itu?" tanya YeonSun lagi.


"Saya tidak pernah seserius ini dalam mengambil keputusan," balas Riana yakin.


YeonSun bertepuk tangan dan suaranya menggema dalam ruangan, kilatan kebencian hadir tepat mengenai ulu hati Riana. Di waktu, situasi dan kondisi sekarang hubungan antara menantu dan mertua tengah dipertaruhkan.


Kim YeonSun tidak menyangka jika putra semata wayahnya menikahi seorang single parent beranak satu. Entah apa yang dipikirkannya, YeonSun tidak terima. Selama bertahun-tahun pergi dirinya sudah tidak mengetahui lagi kehidupan sang anak dan tanpa rasa bersalah ia begitu saja.


Masa membuktikan jika balasan itu ada dan kini dirinya tengah merasakannya. Kim YeonSun ingin memperbaiki hubungannya dengan sang anak dan berusaha menyingkirkan Riana.


"Sebagai seorang ayah, saya tidak sudi YeonJin menikah dengan wanita beranak satu, tapi yah.....semua sudah terjadi. Maka dari itu sebelum terlambat dan menjadi lebih jauh, kamu harus tahu diri dan pergi dari kehidupan putra saya!"


Kim YeonSun kembali melayangkan tatapan tidak suka, giginya saling bergemelatuk menyiratkan kekesalan. Ada dinding pemisah antara menantu dan mertua bernama kekecewaan. Riana mengerti bagaimanapun juga pria paruh baya di hadapannya ini tetap ayah kandung dari sang suami, orang tua mana pun pasti tidak akan menerima jika putra mereka menikahi seorang wanita beranak satu.


Namun, semua itu sudah berlalu ikatan suci pernikahan sudah membelit kuat dalam kehidupan mereka. Kedatangan Kim YeonSun yang sebelumnya tidak pernah terendus tiba-tiba saja hadir memberi batu sandungan serta mengisuk ketenangan.


"Jika kamu tidak mau melakukannya, jangan salahkan saya jika putri kecilmu akan terus merasakan penderitaan."


Riana menyeringai lagi mendengar penuturan mertuanya lalu mendongak melayangkan tatapan tak kalah serius.


"Seblum itu terjadi saya akan mencegahnya. Saya tidak akan pernah membairkan siapa pun membuat Kaila menderita, termasuk Anda."


"Bagaimana kamu bisa seyakin itu? Apa kamu tidak pernah diajarkan oleh ayah dan ibumu untuk tidak membantah perintah orang tua?"


"Saya minta maaf. Sejak masih kecil saya sudah menjadi yatim piatu, tetapi saya mengerti bagaimana harus menghargai orang lain. Saya tidak akan pernah berbuat seperti ini jika tidak ada orang yang mengusik kami. Saya sangat mencintai mereka. Untuk itu saya tidak akan pernah meninggalkan Kim YeonJin dan akan melindungi Kaila sekuat tenaga. Karena saya seorang ibu dan istri yang wajib menjaga keutuhan keluarga!"


Sorot mata tegas terpancar jelas di sana membuat Kim YeonSun terpaku beberapa saat, kata-kata yang meluncur bebas dari bibir ranum Rania terus berdengung dalam pendengaran, sekilas menyadarkannya dari kenyataan. Sedangkan dari luar ruangan senyum mengembang di wajah tampan Kim YeonJin, sedari tadi ia dan Jimin sudah tiba di sana mendengarkan percakapan mereka.


Perasaan hangat datang menggebu, ia sangat bahagia dan beruntung bisa mendapatkan wanita sebaik Riana. Berkali-kali rasa syukur tercetus dari bibir kemerahannya, "Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah," benaknya kemudian.


Namun, sedetik kemudian perkataan sang ayah melebarkan manik kecoklatannya mengalirkan kembali kekesalan.


"Kalau memang itu keputusanmu jangan pernah menyalahkan saya jika ke depannya akan ada hal yang tidak diinginkan terjadi."


Sebelum membalas perkataan sang mertua tiba-tiba saja pintu di sebelah mereka terbuka menampilkan Kim YeonJin dan Jimin. Seketika Riana beranjak dari duduk dengan kedua mata membola sempurna dengan mulut sedikit terbuka. Ia tidak menyangka melihat kehadiran sang suami di sana, mendadak jantungnya berdegup kencang.


"Sa-sayang?" panggilnya gugup.


Keseriusan bertengger nyaman dalam pandangan Kim Yeonjin yang berjalan tegap ke arah sang ayah. Tangan kanannya mengangkat dokumen penting tepat di depan wajah Kim YeonSun dan membelakangi Riana.


"Inikan yang Appa inginkan? Tidak usah mengganggu kehidupan kami jika itu menyakiti istri dan putriku," ucap YeonJin tegas.


Kim YeonSun berdecih lalu melipat tangan di depan dada.


"Apa kamu serius dengan ucapan itu? Putri? Dia bukan anak kandungmu," ucap YeonSun lagi.


"Aku tidak pernah seserius ini dengan ucapanku. Meskipun Kaila bukan anak kandungku, tetapi aku sangat menyayanginya. Dan mulai sekarang Appa jangan pernah lagi menampakan diri di hadapan kami!! Jika sampai aku tahu Appa mengganggu Kaila lagi, aku tidak akan pernah tinggal diam."


Kim YeonSun kembali tertawa tidak percaya mendengar perkataan sang anak.


"Kamu berani membantah orang tua kandungmu demi anak dia?" Kim YeonSun menunjuk Riana lalu kembali menggelengkan kepalanya. "Aku sudah salah membesarkanmu, ka-"


"Selama ini Appa tidak pernah membesarkanku. Appa pergi bersama wanita lain dan mengabaikanku dan eomma. Di mana rasa bersalah Appa? Sekarang aku sudah punya keluarga sendiri, jadi jangan pernah mengganggu kami lagi," gertaknya.


YeonJin pun melempar berkas ke atas meja di sampingnya lalu menarik tangan Riana keluar dari sana, YeonSun mendengus melihat kepergian mereka. Kepalanya pun berputar melihat dokumen bertuliskan "Surat Kepemilikan Gedung Gallery Art Collection" terpampang jelas di sana.


"Dia benar-benar memberikanku ini?" gumamnya.


...***...


Riana hanya bisa memandang punggung tegap sang suami yang tengah menariknya keluar gudang tua tersebut. Jari jemari penjangnya menggenggam erat pergelangan tangan dengan rasa hangat menyebar mengantarkan senyum kedamaian.


Awalnya ia terkejut melihat kedatangan YeonJin ke sana, tetapi hal itu memberikan kepercayaan dan kebahagiaan luar biasa. Namun, tidak sedikit juga rasa bersalah menghampiri memudarkan bulan sabit di wajah cantiknya.


Sepanjang jalan menuju kendaraannya berada, Riana dikejutkan dengan beberapa bawahan ayah mertuanya sudah terkapar. Ia mengerutkan kening dan kembali menatap ke depan kemunginan besar itu terjadi akibat perbuatan YeonJin dan Jimin.


"Apa mereka bertarung tadi? Kenapa suaranya tidak terdengar? Dan lagi bagaimana bisa YeonJin Oppa tahu aku ada di sini? Apa mungkin Jimin-?" kepala berhijabnya menoleh ke samping kanan di mana pria itu tengah berjalan menyimbangkan langkah dengan sang kakak.


"Ah, bagaimanapun juga masalah ini belum sepenuhnya selesai."


Langit kembali tertangkap pandangan, panasnya terik matahari membakar emosi yang merundung. Angin pun berhembus menenangkan amarah yang menggelora memberikan kesejukan. Tidak ada yang tahu misteri apa yang terjadi besok, tetapi menyiapkan diri untuk itu perlu dilakukan dan sepenuhnya serahkan pada yang Di Atas. Biar Allah yang menyelesaikannya setelah berusaha sekuat tenaga.