
Dua minggu berlalu, kehidupan keluarga Kim terus berubah terlepas dari permasalahan yang ada. Kim YeonJin kini bekerja sebagai seniman di perusahaan keluarga Park. Ia bekerjasama dengan Park Hyerin untuk menampung lukisannya. Selama itu pula banyak para pengusaha dan penikmat seni mulai menghubungi perusahaan tersebut untuk membeli karya Kim YeonJin.
Pelukis yang sudah beralih profesi tersebut kini kembali ke bidang sebelumnya. Mereka sangat senang kala mengetahui berita pelukis bertalenta itu menciptakan lukisan baru. Para pengusaha maupun penikmat seni berbondong-bondong memesan karya terbarunya.
“Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?” (Q.S Ar Rahman : 13)
Kim YeonJin sangat bersyukur bisa mendapatkan rejeki berlimpah dari jerih payahnya sendiri. Meskipun harus berawal dari bawah lagi, tetapi Allah menghadirkan hikmah luar biasa di balik ujian menghadang. Tidak ada yang tahu rahasia esok hari. Terkadang waktu menyuguhkan kejutan yang tidak pernah disangka dan diduga.
Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang. Rahmat-Nya menilmpah ruah dan kebesaran-Nya meliputi seluruh alam. Tidak ada yang menduga apa yang akan terjadi besok. Namun, Allah sudah merencanakan sesuatu terbaik. Terkadang kedatangannya harus dibalut terlebih dahulu dengan luka, tetapi setelahnya mengandung kebahagiaan tiada tara.
“Oppa, sangat mencintai Riana, kan?” Pertanyaan dari suara lembut dari belakang mengejutkan.
Konsentrasinya buyar, YeonJin menoleh mendapati Hyerin menyodorkan segelas kopi hangat. Ia menerima dan menegaknya singkat. Bola matanya lalu bergulur meneliti setiap lekukan yang tersaji di atas kanvas. Lukisan baru tengah tercipta mengalirkan lengkungan bulan sabit sempurna di wajah tampan nan rupawannya.
“Aku sangat mencintainya.” Jujur Kim YeonJin, binar dikedua matanya menyadarkan Hyerin.
Ia lalu duduk di bangku kayu di hadapan sang mantan tunangan. “Aku bisa melihatnya, Riana …. wanita itu sangat beruntung bisa mendapatkan suami sebaik dirimu,” ucapnya lagi.
YeonJin mendengus pelan dan tersenyum malu, “justru, aku yang sangat beruntung bisa memilikinya. Bertemu Riana, bagaikan mendapatkan berlian berharga. Meskipun menikahi seorang single parent dianggap tidak baik dan terkadang menjadi gunjingan, tetapi di mataku Riana jauh lebih berharga.”
Hyerin tidak henti-hentinya mengagumi kesungguhan yang tercipta dari air muka Kim YeonJin. Siapa pun bisa melihat hanya dengan sekilas jika sang pelukisa sangat mencintai dan menyayangi istrinya, Riana. Perbedaan bisa dikikis oleh kesungguhan dan keseriusan.
Allah akan memberikan jalan bagi dua insan yang sudah ditakdirkan bersama. Tidak peduli sejauh apa jarak memisahkan, jika suratan dari Ilahi telah tercetus maka suatu saat akan terjadi. Karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Allah sudah berkehendak semua pasti tercipta.
“Semoga kalian selalu bahagia, Riana memang wanita yang sangat baik. Dia pantas mendapatkan sosok pendamping yang terbaik, itu Oppa, bukan?” godanya.
Rona merah seketika menyeruak di pipi putih YeonJin. Selung pipinya semakin terlihat jelas menambah ketampanan. Hyerin tidak bisa menahan tawa dan seketika suaranya bergema dalam studio. Sudah dua minggu mereka bekerjasama, selama itu pula banyak kenangan baru yang tercipta.
“Aamiin, aku sedang belajar menjadi jauh lebih baik,” balasnya merendah.
Hyerin mengangguk-anggukan kepala lalu menyesap kopinya singkat. Bola mata berlensa abunya menatap lekat gerakan YeonJin yang kembali menuangkan imajinasi ke dalam bentuk lukisan. Gerakan kuas di atas kanvas begitu lihai dilakukan mengantarkan serta menyiratkan perasaan sang pelukis.
“Dari dulu sampai sekarang aku masih mengagumi kemampuanmu, Oppa. Gerakanmu dalam melukis bagaikan irama musik klasik yang mengandung sejarah kental. Makna yang hendak Oppa sampaikan terlihat sangat jelas. Meskipun lukisan itu setengah jadi, tetapi aku tahu apa arti di dalamnya. Jika …. tidak ada yang paling berharga selain keluarga, benar?” tutur Hyerin, tatapannya tidak lepas dari guratan gambar tersebut.
YeonJin menghentikan kegiatannya dan memandangi karyanya lagi. Anggukan pun diberikan lalu menoleh pada Hyerin singkat, “itu benar, ternyata kemampuanmu dalam membaca lukisan masih berlaku? Tapi kenapa kamu berhenti melukis?” tanyanya kemudian.
Hyerin tidak langsung menjawab dan menyesap kopinya lagi. “Aku … mimpiku sudah sirna. Aku tidak bisa melukis lagi.”
“Karena … aku sudah jatuh cinta pada seorang penulis,” jawab Hyerin malu-malu. Ia lalu tertawa ringan mengenyahkan kecanggungan, “sudahlah tidak usah dibahas lagi.”
YeonJin tersenyum lebar seraya menatap Hyerin. Wanita itu termangu tidak mengerti, “apa yang Oppa pikirkan?” tanyanya.
“Aku senang akhirnya kamu bisa jatih cinta pada seseorang. Untuk masa lalu, aku minta maaf. Karena tidak bisa mengikuti apa yang mereka inginkan,” ujar YeonJin.
“Oppa, tidak usah minta maaf, semua sudah berlalu. Dulu, aku juga masih kekanakan dan tidak punya pendirian. Sekarang aku sadar dan menyesalinya,” jawab Hyerin. “Oh yah, sudah dua tahun berlalu, apa kalian sudah punya anak?” tanyanya lagi.
Dengan semangat YeonJin merogoh saku celananya membawa benda pintar lalu menunjukan salah satu foto di gallery, “Alhamdulillah, kami sudah dikaruniai seorang putra namanya Kim Hyun Sik, lihat dia tampan, bukan?”
Hyerin menyambar ponsel tersebut dengan mata berbinar senang, “ya ampun, tampan sekali, siapa tadi namanya?”
“Kim Hyun Sik,” balas YeonJin. Hyerin pun berteriak kegiarangan, YeonJin hanya tersenyum senang melihatnya.
...***...
Di tempat berbeda, Riana tengah menunggu seseorang di salah satu restoran. Ia yang datang sendirian terus menerus melihat ke arah pintu masuk. Namun, sulit baginya menemukan orang tersebut sebab tidak tahu menahu siapa yang hendak menemuinya.
Beberapa jam lalu ia menerima sebuah pesan yang berisi jika orang tidak terkenal itu bisa membantu permasalahan suaminya. Meskipun ia tidak begitu percaya, tetapi Riana yakin jika orang tersebut mengetahui selak beluk sang suami. Bermodalkan nekad dan penasaran ia pun mengikuti suruhannya untuk bertemu di sana.
Di saat tengah menikmati minuman dingin dan disibukan bermain ponsel, kursi di depannya ditarik seseorang. Riana mendongak mendapati seorang pria paruh baya duduk di hadapannya. Senyum tulus pun bertengger mengingatkannya pada seseorang.
“Anda yang ingin bertemu dengan saya?” tanyanya kemudian.
Pria yang menggunakan tongkat itu pun mengangguk sekilas. Riana dalam diam memperhatikannya seolah pernah bertemu di suatu tempat. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” lagi-lagi pria paruh baya itu pun mengangguk mengiyakan.
“Mohon, maaf sebelumnya. Apa yang Anda inginkan? Lalu, apa hubungan Anda dengan suami saya? Apa Anda salah satu orang yang bekerjasama dengan Kim YeonSun?” tanya Riana menggebu. Rasa penasarannya semakin tinggi kala lawan bicara sedari tadi bungkam.
Lama tidak ada jawaban yang di dapatinya, Riana bingung dan khawatir jika orang di hadapannya ini benar-benar suruhan dari Kim YeonSun, mertuanya sendiri. “Tuan? Jika Tuan tidak menjelaskan siapa Anda sebenarnya, saya akan pergi dari sini. Saya tidak mau berurusan dengan orang suruhan Kim YeonSun. Saya-“
Perkataan Riana seketika terpotong kala suara serak sang pria menyerobotnya cepat. “Saya Kim Dae Jun dan Kim YeonSun adalah putra saya lalu Kim YeonJin adalah cucu saya.”
Riana yang hendak beranjak dari duduk seketika menghentikan pergerakannya. Bola mata melebar, mulut ranumnya terbuka dengan jantung berdegup kencang. Ia tidak percaya jika kini orang yang ingin bertemu dengannya adalah kakek dari sang suami, Kim YeonJin. Seketika secercah harapan hinggap dalam sanubari.