
...Kehadiranmu memberikan kesejukan, sekaligus kepedihan....
.......
Café byeol menjadi tempat pertemuan dua insan yang sempat terikat janji pernikahan. Sedari tadi Riana terus menundukan kepalanya tidak sanggup menatap sosok yang pernah ada dalam hatinya. Ia tahu rasa cinta itu sudah hilang seiring berjalannya waktu. Terlebih karena luka menganga yang sudah ditorehkan pria itu padanya. Riana tidak mungkin melupakan kesakitan itu. Sangat sulit, butuh bertahun-tahun lamanya untuk menyembuhkannya. Atau bahkan seumur hidup. Arsyid, mantan suami yang ia pikir sudah menghilang dalam peradaban kini kembali dengan membawa sejuta kenangan buruk.
Ia tidak mau bertemu dengannya lagi. Namun, waktu kembali mempersatukan.
“Apa kamu tidak mau menyapaku? Aku ini mantan suami sekaligus ayah kandung dari anakmu,” jelas Arsyid membuka suara.
Rasanya seperti menabur air lemon diluka menganga. Perih, satu kata yang menggambarkan perasaan Riana sore ini.
“Mau apa kamu menemuiku? Jika untuk bertemu dengan Kaila, aku tidak akan mengizinkannya,” balas Riana dengan suara meredam.
Senyum terbit di bibir kemerahan Arsyid. “Sudah kuduga dia anakku. Ohh jadi namanya Kaila. Dia cantik sama sepertimu.”
“Cepat katakan apa maumu?”
Lagi-lagi Riana menahan kekesalan. Sedari tadi ia mencengkaram kuat gamis dalam pangkuan mencoba meredam emosi.
“Aku datang ke sini untuk mengucapkan selamat padamu. Karena kamu berhasil berubah menjadi angsa. Aku tidak menyangka itik yang dulu bergantung padaku sudah bisa semandiri ini. Ternyata hidup itu berputar, tapi aku tidak akan membiarkanmu bahagia," ungkap Arsyid seraya tertawa meremehkan.
Deggg!!
Detik itu juga Riana mendongak melihat kilatan matanya yang serius. Ia tidak percaya mendengar penuturan mantan suaminya yang terdengar tidak main-main. Ia tahu seperti apa pria bernama Arsyid ini. Senyum lembutnya menyembunyikan beribu kata-kata pedas dan perlakuan yang tidak menyenangkan.
“Kita sudah bukan siapa-siapa lagi. Buat apa kamu mencampuri urusanku?!” tegas Riana tidak suka.
“Karena menikah denganmu aku tidak bisa bersama wanita yang kucintai. Gara-gara kamu aku terlambat dan sekarang dia sudah menikah. Itulah alasannya kenapa aku tidak mau melihatmu bahagia,” jujur Arsyid tanpa cela.
“Dasar pria picik. Allah Maha Melihat. Dia tahu apa yang terbaik untukmu. Tidak usah menyesali apa yang sudah terjadi. Apa tidak puas, dulu kamu menyiksaku?”
Seringaian tercetak di wajah tegas Arsyid mengingat kembali perlakuannya pada wanita ini. “Aku belum puas. Kenapa kamu malah menggugatku waktu itu? Aku jadi tidak punya boneka pelampiasan.”
“Astaghfirullah Arsyid, kau ini pria licik. Percuma punya wajah tampan tapi kelakuanmu sebaliknya. Aku harap Allah memberimu hidayah. Dan jangan pernah ganggu aku lagi.” Setelah mengatakan itu Riana pun pergi dari sana dengan beribu kekesalan.
Bersama angin yang berhembus pelan sosoknya perlahan menghilang. Arsyid kembali tersenyum menyiratkan sesuatu.
...***...
Esok hari menjadi awal baru bagi setiap tokoh utama dalam kisah hidupnya untuk melanjutkan perjalanan. Setiap episode selalu mendatangkan kejutan tak terduga. Itulah yang dirasakan CEO art collection, Kim YeonJin.
Hari-harinya setelah menjadi seorang muslim berubah drastis. Ia lebih terarah dan juga mendapatkan tempat untuk berbagi keluh kesah. Setiap malam tak urungnya ia selalu bertasbih dan bercerita pada Sang Khalik. Sang rembulan saksinya. Bagaimana curahan hati presdir ini begitu mendalam.
Senyum terukir indah di wajah tampan YeonJin. Selesai menghabiskan sarapan sederhannya ia bergegas menuju gedungnya berada.
Tidak membutuhkan waktu lama ia pun akhirnya sampai di sana. Baru saja kakinya melangkah masuk, netra kecilnya melihat Jimin datang terburu-buru saat melihat sosoknya di lobi. Dengan wajah sumeringahnya ia mendekati YeonJin seraya membawa beberapa dokumen.
“Hyung, ayo cepat. Hari ini kita kedatangan tamu yang ingin membeli lukisanmu. Dia sudah datang dari tadi dan sekarang ada di ruanganmu,” jelas Jimin membuat lengkungan bulan sabit di bibir Kim YeonJin terbit.
Seketika itu juga Jimin tertegun mendengar ucapan kakaknya barusan. Ia tidak mengerti apa yang dikatakannya.
“Hyung mengatakan apa tadi? Sshhh, sepertinya kata asing. Ahh molla, hyung tunggu aku.” Teriaknya lalu mengikuti sang bos.
Tingg!!
Lift yang membawanya sampai di lantai 9. Buru-buru YeonJin pun mencapai ruangannya berada. Beberapa saat kemudian ia tiba dan membuka pintu kaca tersebut. Iris kecilnya menangkap sosok pria berjas biru dongker tengah memunggunginya.
Senyum masih setia menemaninya hingga ia pun menyapa pria itu.
“A-anyyeonghasseyo.”
Mendengar suaranya sosok itu pun berbalik. Tatapan mereka saling bertubrukan. Sontak hal tersebut membuat bola matanya melebar. YeonJin tidak percaya melihatnya ada di sana.
“Ka-kamu, kan?” Tunjuknya tepat.
“Yah, saya Arsyid mantan suami Riana.” Tanpa cela Arsyid pun menyodorkan tangan ke hadapannya. YeonJin terdiam terkejut dengan penglihatannya sendiri.
"A, saya Kim YeonJin. Pemilik perusahaan ini.” Jawabnya seraya membalas salaman itu.
Bibir keriting Arsyid melebar. Ia tahu jika YeonJin adalah seorang CEO yang tengah berada dipuncak kejayaan. Beberapa hari ini ia mencari tahu siapa gerangan YeonJin sebenarnya. Ia jadi teringat tentang sebuah berita hari itu. Di mana Kim YeonJin meresmikan gedung galerinya yang dirancang oleh Riana.
“Kedatangan saya ke sini ingin membeli lukisan Anda. Saya tahu Anda pemilik perusahaan art collection sekaligus calon suami Riana. Benar begitu?” dengan yakinnya Arsyid berkata demikian.
Rahang YeonJin mengeras saat teringat kejadian yang menimpa Riana akibat pria ini. Begitu kejamnya Arsyid memberikan luka fisik kepada wajah ayunya. YeonJin tidak mengerti kenapa masa lalu Riana kembali datang. Bahkan isak tangis Riana yang ia dengar malam itu masih terngiang jelas.
“Membeli lukisan saya? Apa yang sebenarnya Anda inginkan?” Tanya YeonJin dengan sorot mata tajam.
Bukannya menyerah Arsyid malah kembali memperlihatkan senyumannya. “Sebenarnya saya sudah tahu dari awal jika Anda pemilik perusahaan ini. Dan setelah tahu Anda calon suami Riana, semuanya semakin menarik.”
YeonJin mengerutkan dahi, heran. Ia tidak mengerti kenapa pria itu bisa berkata seperti tadi. Bukankah mereka baru saja bertemu? Seharusnya dia memberikan kesan pertama yang bagus bukan? Namun, Arsyid tidak pernah memperlihatkannya.
Ia tidak peduli dengan siapa dirinya berhadapan. Kegelapan semakin menyelimuti hatinya yang patah. Rasa kecewa yang dulu mengendap dalam dirinya terus bertambah besar. Arsyid terpaksa menerima perjodohan itu. Karena harta sang ayah. Dan kini ayahnya sudah meninggal akibat kecelakaan pesawat bersamaan dengan itu Riana pergi dari rumahnya. 9 bulan Riana menghilang dalam kehidupan Arsyid. Namun, setelah itu surat gugatan perpisahan yang dilayangkan Riana datang.
Ia semakin bertambah kesal. Setelah menyetujui surat tersebut Arsyid pergi keluar negeri untuk mendinginkan kepalanya sekaligus mencari tambatan hatinya. Dan sayang seribu sayang sang wanita ternyata sudah bersanding dengan pria lain.
Setahun setelah kepergiannya, Arsyid menerima kabar dari sang ibu jika Riana sudah ditemukan bersama jabang bayi yang berhasil dilahirkan. Arysid pun kembali ke tanah air. Namun, takdir kembali harus memisahkan mereka. Riana pergi membawa Kaila ke Korea Selatan.
Tahun terus berganti dan kini benang merah yang masih mengikat mereka mempertemukannya.
“Apa maumu sekarang?” tanya YeonJin kembali membuyarkan lamunannya.
“Aku menginginkan Riana kembali.”
Tegas dan jelas. Arsyid mengatakannya tanpa keraguan sedikit pun. Bola mata kecil YeonJin melebar sempurna tidak percaya mendengar penuturannya.