
...Kesakitan meliputi kepedihan. Raga ingin pergi tapi hati tidak mengizinkan. Kehadiran seseorang mengikis kegelapan....
.......
Riana menangis kembali. Luka yang selama ini ia tutup-tutupi mencuat ke permukaan. Sarah yang baru mengetahui hal sebenarnya merasa bersalah. Ia pun memeluknya erat memberikan kekuatan. Ia tahu Riana wanita kuat yang bisa melewati rintangan sekejam apapun. Allah sangat menyayanginya lewat ujian yang diberikan-Nya.
“Aku pikir, aku tidak akan hidup lagi. Mengingat luka terakhir yang ditorehkan Mas Arsyid begitu banyak. Hah~ yah aku sudah sekarat waktu itu. Tapi Allah memberi kesempatan kedua untukku. Dan Kaila menjadi salah satu penguatku. Allah melindunginya sebagai pengikis kepedihan.” Pungkas Riana mengakhiri cerita masa lalunya.
“Ya Allah Riana. Kamu wanita yang sangat kuat. Aku yakin Allah tengah menyiapkan sesuatu yang terbaik untukmu. Percayalah, Laa yukallufullohu nafsan illaa wus’aha Allah tidak membebani seorang hamba melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Balas Sarah seraya mengusap punggung Riana pelan.
“Iya Mbak aku tahu. Dan itulah alasanku kenapa tidak ingin menikah lagi.”
“Mbak mengerti sekarang. Hanya kamu sendiri yang tahu kebaikanmu dan juga Kaila. Sekarang pulanglah, kasihan Kaila sudah menunggu,” lanjutnya. Riana pun mengangguk seraya pergi dari rumahnya.
Taksi melaju membawa wanita rapuh itu meninggalkan kediamannya. Sarah menangis tidak bisa menahan kesedihan lebih dalam. Ia merasakan kesakitan yang dialami, Riana. Wanita yang baru dikenalnya beberapa tahun terakhir ini.
“Ya Allah berikanlah kebahagiaan untuk adik hamba, Riana.” Gumamnya menengadah ke atas melihat langit berbintang malam ini.
YeonJin yang sudah menghentikan tangisannya keluar dari mobil. Langkah lebarnya mencapai lantai 5 untuk menemui seseorang. Perasaan ingin melindungi mencuat begitu besar. Ia tidak menyangka Riana memiliki masa lalu menyedihkan. Ia tidak bisa diam saja setelah mengetahui fakta tersebut. Jiwa ingin melindunginya menyeruak begitu saja.
Teng!! Nong!!
Bel apartemen ditekannya secara brutal. Buru-buru orang yang ada di dalam membukanya dengan kasar tidak mengerti siapa orang yang bertamu seperti itu. Baru saja mulutnya terbuka hendak mencermahinya suara YeonJin menghentikannya cepat.
“Jimin? Sedang apa kamu di sini?” tanyanya terkejut saat mendapati sekertarisnya di sana.
“Appa.”
Dan gini giliran si gadis kecil yang menghentikan ucapannya. Kaila berlari menerjangnya cepat. Dengan senang hati YeonJin merentangkan tangan menyambut kedatangannya.
“Eomma mana?” tanyanya langsung.
“Justru kami sedang menunggu Riana. Dia belum pulang.” Penjelasan Jimin mengerutkan dahinya dalam.
“Belum pulang? Tapi dari tadi dia sudah pulang,” jawab YeonJin. Perkataannya pun mengejutkan dirinya sendiri. Ia takut sesuatu terjadi pada wanita itu. Terlebih sekarang dirinya tahu seperti apa kehidupan Riana sebelumnya.
“Kalau begitu aku harus mencarinya.” Ia pun pergi dari sana seraya menggendong Kaila.
Jimin menggeleng-gelengkan kepala melihat atasannya dan mengikutinya begitu saja.
...***...
Beberapa saat kemudian Riana pun tiba di lingkungan apartemen. Sebelum pulang ia menyempatkan diri membeli makanan riangan untuk Kaila. Ia takut sang anak merajuk karena meninggalkannya sendirian terlalu lama.
Ia terus berjalan di trotoar menuju kediamannya. Ketika hendak berbelok sepasang sepatu pantofel menghentikan langkahnya. Riana menatap sang pemilik. Pandangan mereka bertubrukan dan seketika itu juga bola mata bulannya terbelalak lebar. Mulut ranumnya menganga sempurna tidak percaya melihat pria di hadapannya ini.
Beberapa saat lalu ia menceritakan masa kelam bersamanya kepada Sarah. Seperti benang merah mengikat mereka, kini takdir mempertemukan keduanya.
“Assalamu’alaikum Riana, apa kabar?”
Suara baritone itu menyapa gendang telinganya dan menampar perasaannya begitu dalam.
Riana berjalan mundur tidak sanggup menatap mata bulat itu. Seakan kaset usang yang kembali diputar, bayangan kejadian demi kejadian hari itu terus berdatangan.
“Ma-mas Arsyid? Se-sedang apa Mas di sini?” Sekuat tenaga Riana menahan ketakutan.
Senyum mengembang di bibir keritingya. Tanpa mengindahkan ketakutan Riana, Arsyid pria itu terus berjalan mendekat.
“Tidak usah takut Riana. Aku datang ke sini ingin melihat keadaanmu. Beberapa bulan lalu aku melihatmu disalah satu berita Korea. Wah aku tidak menyangka kamu sudah menjadi arsitek terkenal,” jelasnya. Entah itu sindiran atau bukan, tapi Riana tidak menyukainya.
“Jadi sebenarnya Mas mau apa?”
Hal itu membuat Riana merinding seketika. “Aku ingin kita kembali rujuk.”
Degg!!
Degup jantungnya berdebar kencang. Riana tidak menyangka waktu kembali mempertemukannya dengan pria itu. Seketika sekujur tubuhnya bergetar hebat. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan mengepalkan tangan kuat. Keringat dingin bermunculan di dahi lebarnya. Melihat Riana seperti itu, Arsyid semakin melebarkan senyuman.
Ia jadi teringat hari-hari yang pernah dilaluinya bersama Riana. Masa yang mungkin terindah baginya, tapi tidak untuk Riana. Masa itu menjadi neraka dalam kehidupan rumah tangganya. Bukan surga yang diharapkannya.
“Melihatmu seperti ini membuatku teringat masa lalu. Inilah yang kuinginkan, melihatmu gemetar ketakutan,” ucapnya lagi.
Riana sudah tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Bola matanya terus bergulir ke segala arah menghindari tatapan Arsyid. Sialnya, di jalanan itu tidak ada satu pun orang yang lewat membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Ia juga tidak bisa menggerakan tubuhnya sendiri. Seperti ada akar yang menancap di kakinya.
“Ma-mau apa kau datang ke sini?”
Sekuat tenaga Rina menahan kepediahan dalam dada.
"Ya Allah, astaghfirullah haladzim. Lindungi hamba ya Rabb," benaknya kemudian.
Di balik topeng ramahnya, Arsyid menyimpan berjuta kepalsuan. Manusia berdarah dingin ini tidak berperasaan. Riana sudah habis menjadi mangsanya waktu itu. Dan sekarang ia tidak mau terjebak dalam kungkungannya lagi.
“Aku merindukanmu, Riana. Terutama-” Tangan kekarnya terangkat hendak menampar wajah ayu wanita itu. Namun,
Greppp!!
Seseorang lebih dulu menahan pergerakannya. Sorot mata kecilnya menajam menatap Arsyid. Ia tidak percaya beberapa saat lalu melihat bayangan mantan arsiteknya tengah bersama pria yang tidak diketahuinya.
“Jangan pernah Anda bermain kasar terhadap wanita!” Tegasnya seraya mencengkram pergelangan tangan Arsyid. Dengan cepat ia pun menghempaskannya kuat lalu menyeringai mendengar ucapannya. Pria yang pandai berbahasa asing itu membalas tatapannya lekat.
Arsyid cukup pasih berbahasa Korea. Karena dalam pekerjaannya mengharuskan ia bolak-balik Indonesia-Korea. Wajar saja jika ia mempelajari bahasa rekan kerjanya. Ia mengerti apa yang diucapkan pria di hadapannya ini.
“Siapa kamu?” tanya Arsyid kemudian.
“Saya Kim YeonJin, mantan atasan Riana sekaligus calon suaminya.”
Mendengar penuturannya sontak ketiga orang dewasa itu melebarkan pandangan.
Riana yang semula menundukan kepalanya, mendongak kembali melihat bahu tegap di hadapannya. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan YeonJin barusan. Calon suami? Itu memang benar, tapi bukan untuk dirinya melainkan wanita lain bernama Hyerin. Lalu apa yang dikatakan YeonJin tadi, apa dia sedang bercanda? Riana tidak habis pikir dengan apa yang didengarnya sekarang.
"Calon suami? Yang benar saja," benak Choi Jimin.
“Kim-Kim YeonJin-ssi.” Cicit Riana berusaha menyadarkannya.
“Appa, mamah," panggil anak kecil yang berada dalam gendongan Jimin.
Seketika itu juga tatapan Riana, YeonJin dan Arsyid mengarah padanya. Kaila berlari lalu menerjang tubuh YeonJin yang sudah kembali berjongkok menyambut kedatangannya. Tatapan jelaga Arsyid tidak sedikit pun teralihkan dari gadis kecil itu.
Dahi lebarnya mengerut secara perlahan. Ia berpikir apa mungkin itu anak Riana bersama pria ini? Ia pun menatap YeonJin dan Riana bergantian. Merasakan tatapan darinya lagi, Riana pun berusaha tidak menghiraukannya. Ia tidak mau sampai Kaila tahu siapa Arsyid sebenarnya.
“Mamah, pria itu siapa?”
Pertanyaan yang ingin dihindarinya pun meluncur bebas dari mulut kemerahan sang anak. Riana gelagapan dibuatnya. Sampai di sini YeonJin dan Jimin tahu siapa sebenarnya pria itu.
“Yah, aku mantan suami Riana.” Jelasnya membaca sorot mata penuh tanya dari mereka.
Riana kembali melebarkan mata tidak percaya.
Di bawah taburan bintang malam ini, masa lalu yang berusaha ia kubur kembali ke permukaan. Ia datang tanpa pemberitahuaan. Riana tahu Allah pasti menyiapkan sesuatu yang terbaik untuknya. Bahkan sampai sekarang pun ia bisa bertahan dari keganasan Arsyid. Karena Allah selalu melindungi dirinya.