QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Melepaskan (Season 2)



Seperti de javu yang terus menerus terulang, kini hanya ada kecanggungan dalam kendaraan roda empat tersebut. Lagi dan lagi Jasmin harus terjebak bersama pria Choi yang menyimpan perasaan suka terhadapnya. Berkali-kali ia menekan ibu jari ke jari telunjuknya mencoba menghilangkan keresahan. Dalam diam ia pun terus beristighfar untuk menenangkan diri.


Sesekali bola mata kecoklatan Jimin melihat ke atas kaca spion memperhatikan Jasmin yang tengah duduk di belakang. Siluet kebahagiaan hanya menjadi fatamorgana ia rasakan. Perbedaan yang begitu kentara dalam diri keduanya menyadarkan jika cinta tidak mungkin bisa berlabuh.


Jimin menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sudah hampir satu bulan lebih dari pernyataannya waktu itu kepastian pun belum didapatkan. Jika sekuat apa pun ia mencoba melupakan perasaan yang menetap dalam hati, nyatanya semakin menebal mengalahkannya.


Selama perjalanan tidak ada satu kata pun terlontar dari keduanya, hingga tidak lama kemudian mereka tiba di tempat penitipan anak dan langsung bergegas keluar dari kendaraan. Dalam diam Jimin memandangi punggung Jasmin yang berjalan di depannya, helaan napas berat pun kembali terdengar. "Rasanya ... aku harus segera mendapatkan kepastian untuk perasaan ini," gumamnya.


Beberapa saat berlalu, Kim Hyun Sik kini sudah berada dalam buaian Jasmin. Angin sore menerbangkan hijab menjuntai di punggungnya sehingga pemandangan tersebut menjadi objek perhatian yang tidak lepas dari pandangan Jimin. Tatapannya terus tertuju pada Jasmin yang tengah mengajak bayi hampir satu tahun itu berbicara.


"Maaf yah Sayang, Eonni dan Paman Jimin yang menjemputmu. Mamah, appa, eonni Kaila sedang melakukan sesuatu," ucap Jasmin tersenyum manis.


Hyun Sik yang tengah berada dalam pangkuan Jasmin pun mendongak menatap lekat manik coklat cerahnya. Bola mata sebening kaca itu pun bersinar mendamaikan perasaan, wajah tampan mirip kedua orang tuanya mengantarkan lengkungan bulan sabit di bibir ranum Jasmin. Baru kali ini bisa mendapatkan kesempatan untuk dekat dengan putra kedua Riana.


Hyun Sik pun berceloteh tidak jelas membuat Jasmin tergelak. Hal tersebut membekukan keberadaan seseorang, Jimin yang baru pertama kali mendengar suara tawanya pun seketika menghentikan langkah. Sosok Jasmin perlahan menjauhinya lagi, iris kakaonya pun kukuh tertuju ke sana. Degup jantung bertalu kencang membuat ia meremat dada sebelah kiri.


"Ya tuhan aku tidak menyangka jika perasaan ini bertambah kuat. Aku ingin memilikinya, melindunginya dan menjaganya sepanjang hidupku. A ... tidak bukan hanya sepanjang hidup, tetapi aku ingin bersama Jasmin selamanya. Ya tuhan apa aku bisa mendapatkan kesempatan itu?" gumam Jimin.


Ada genangan air mata di pelupuk, ia yakin dengan perasaan yang dimilikinya saat ini. Jika cinta yang ia punya tulus untuk Jasmin. Namun, masih ada benteng pemisah di antara keduanya meragukan pertahanan Jimin. Tangannya mengepal erat menahan gejolak dalam diri, seketika angin berhembus lagi mengusik ketenangan dua insan tersebut.


...***...


Kembali berkendara dengan senja menghias cakrawala memberikan momentum yang sama lagi. Warna pastel yang melebur di atas langit memberikan kedamaian serta ketenangan. Jasmin yang duduk di jok belakang menengadah menyaksikan pemandangan memanjakan mata tersebut. Lukisan Allah yang satu itu terkadang bisa menyuguhkan kebahagiaan pada penikmatnya, termasuk Jasmin.


"MasyaAllah, indah sekali. Allah tidak pernah gagal dalam menciptakan alam yang sungguh luar biasa. Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan? MasyaAllah begitu banyak hal yang sudah Allah berikan, Ya Allah ampuni hamba jika masih lalai. Hamba ingin terus berada di jalan-Mu." Monolog Jasmin dan tanpa sadar tersenyum lebar.


Jimin yang menyaksikan hal tersebut pun terperangah dibuatnya. Dahi tertutup beberapa helai anak rambut itu pun mengerut dalam. Ia penasaran sekaligus heran apa yang tengah Jasmin pikirkan. Hal tersebut mengundang sebuah pertanyaan yang ia cetuskan.


"Jasmin ... kamu baik-baik saja?"


Pertanyaan Jimin seketika menyadarkan Jasmin yang langsung menoleh ke depan dengan air muka panik. Seketika senyum canggung pun tersungging di wajah ayunya. "A-aku baik-baik saja," balasnya.


"Benarkah? Apa yang sedang kamu pikirkan sampai tersenyum sendiri seperti itu?"


"Ah ... aku minta maaf sudah mengatakan yang tidak-tidak. Sekali lagi aku minta ... "


"Tidak apa-apa, aku hanya terkejut," jawab Jasmin mendongak ke depan melihat jalanan yang disinari cahaya hangat dari sang surya.


"Aku minta maaf," ucap Jimin lagi. Nada suara menyesal membuat Jasmin tersenyum lagi.


"Tidak usah meminta maaf, aku tidak apa-apa."


Di depan Jimin melengkungan kedua celah bibirnya dengan sempruna. Pegangan pada stir pun mengerat mersakan beribu kupu-kupu tengah menari di dalam perut. Padang bunga tengah bermekar di lubuk hati menguatkan perasaan yang mendera.


"Jadi?" tanya Jimin kembali.


"Aku sedang menikmati senja, aku berpikir jika Allah begitu luar biasa dalam menciptakan sesuatu. Tuhan tidak pernah salah memberikan kedamaian serta kebaikan. Aku hanya terharu, Allah begitu baik memberikan skenario terindahnya," ungkap Jasmin kemudian.


Kata demi kata yang terlontar dari wanita di belakang membuat Jimin terdiam. Perasaan hangat yang baru saja ia rasakan berubah menjadi kedamaian. Ia belum pernah mengecap hal tersebut dan baru pertama kali mengalaminya. Ia membungkam mulutnya rapat serta memandang lurus ke depan di mana jalan bebas hambatan tersebut begitu lancar mereka lalui.


Ada desiran aneh dalam dada menyadarkan jika ia, alam semesta maupun Jasmin memiliki satu pencipta yang sama. Keyakinan pun datang mengalirkan keseriusan di wajah tampannya dan ketegasan terpancar lewat sorot mata. Jimin bersungguh-sungguh dengan pilihan yang kini dibuatnya.


"Jasmin, kamu tahu aku sangat mencintaimu?"


Kata cinta yang kembali tercetus kini membekukan Jasmin. Ia cengo seraya kedua manik melebar sempurna. Degup jantung bertalu kencang merasakan keseriusannya. Namun, ia hanya bisa terdiam tanpa mengatakan sepatah kata. Bagaimanapun ia masih belum percaya akan perasaan menyusahkan itu lagi. Bayangan masa lalu masih menghantui memberikan ketakutan.


"Aku bersyukur bisa bertemu denganmu, tetapi maaf aku tidak bisa melanjutkan perasaan ini. Karena ... "


"Aku mengerti, seharusnya memang seperti itu dari awal. Karena kita berbeda dan tidak mungkin untuk bersama. Aku yakin kamu mengerti," potong Jasmin cepat.


Tanpa mengatakan apa pun lagi Jimin mengangguk singkat, meskipun ia tahu Jasmin tidak bisa melihatnya. Namun, sedikit pun tidak ada raut sedih di wajahnya yang terlihat hanyalah keyakinan, ketegasan dan percaya diri. Ia pun setuju dengan apa yang dikatakan Jasmin. Karena bagaimana juga dari awal mereka tidak bisa bersama jika masih ada perbedaan di antara keduanya.


"Aku bisa melepaskan perasaan ini sampai waktu yang sudah ditentukan." Benaknya.