
...Banyak air mata yang sudah dikorbankan. Kini giliran sang waktu harus membayarnya dengan kebahagiaan....
.......
Langit malam terlihat begitu gelap. Tanpa bintang atau pun bulan sebagai penghias. Hanya ada luka menganga yang kembali dibasuh. Sakit, perih menjadi gambaran pertemuannya dengan seseorang. Untuk ketiga kalinya Riana bersama pria itu. Arsyid, orang yang dulu pernah menorehkan tinta hitam dalam buku catatan kehiduapannya.
Niat ingin menutupnya, tapi kenyataan harus memaksanya terbuka lagi. Sudah cukup air mata yang ia keluarkan dulu. Riana tidak ingin menangis untuk kesekian kalinya gara-gara dia.
Di taman kota itu Riana dan Arsyid kembali bertemu. Kini ada Kaila bersamanya. Gadis kecilnya sedari tadi terus bersembunyi di belakang sang ibu. Ia tahu Raina tidak mengizinkannya untuk melihat pria ini.
“Kenapa kamu sembunyikan dia? Aku ingin tahu siapa namanya,” ucap Arsyid membuka suara.
“Kaila Humairah. Aku harap Mas jangan mengganggu kami lagi. Aku dan Kaila sudah bahagia di sini. Lebih baik Mas cari kehidupan lain saja,” tegas Riana.
Namun, pria itu sama sekali tidak mengindahkannya. Ia berjalan ke samping kanan lalu berjongkok di depan sang anak. Merasakan keberadaan seseorang perlahan Kaila pun menunjukan diri. Iris hitam bulannya menatap lekat pada sosok Arsyid.
“Hallo, Sayang Assalamu’alaikum. Ini ayah, Sayang. Kamu Kaila, kan? 7 tahun kita tidak bertemu dan sekarang ayah menemukanmu.” Ungkap Arsyid disertai senyuman. Entahlah apa itu senyum palsu atau tulus. Riana tidak bisa menyimpulkannya.
“A-yah,” suara kecilnya terdengar. Gadis kecil itu sudah tidak terbiasa mendengar ucapan bahasa Indonesia. Mungkin terbiasa menggunakan bahasa Korea?
Arsyid pun mengerti dan beralih ke dalam bahasa Korea.
“Ini appa. Kamu senangkan bisa bertemu appa?” ungkapnya lagi.
Kaila pun menoleh ke arah ibunya. Ia melihat guratan kesedihan yang disembunyikan begitu apik oleh Riana.
Sekilas Riana pun mengangguk mengiyakan ucapan Arsyid.
“Kaila kan selalu bertanya di mana ayah. Nah sekarang ayah Kaila ada di sini,” Balasnya.
Sekuat tenaga ia menahan kesedihan dalam dada. Bagaimana pun juga Riana masih teringat tentang perlakuan Arsyid padanya. Termasuk tidak menginginkan keberadaan Kaila.
“Kaila senang bisa bertemu dengan appa kandung, tapi Kaila sudah tidak memikirkannya lagi.”
Sontak saja ungkapan gadis berusia 7 tahun itu membuat Arsyid mengerutkan dahinya.
“Kenapa?”
“Karena sekarang Kaila sudah mempunyai YeonJin appa. Selama ini beliau yang selalu bersama Kaila.”
Lagi-lagi pria itu. Pikir Arsyid. Senyum manis kembali ia layangkan untuk anak semata wayangnya. Apa dia benar-benar menyayangi Kaila? Riana masih membaca gerak-geriknya sekarang. Sedari tadi ia terus memperhatikannya dalam diam.
“Em, YeonJin appa kan bukan ayah kandung Kaila. Bagaimana kalau appa dan eomma satu rumah? Apa Kaila senang?”
Perkataannya barusan membuat Riana melebarkan pandangan. Bagaimana bisa semudah itu Arsyid memberikan tawaran kepada Kaila.
Riana takut sang anak mengiyakan. Ia tahu seperti apa rasa penasaran yang dimiliki Kaila terhadap ayahnya. Dan juga rasa rindu yang membelenggunya selama ini.
Ia pun memandangi Kaila dengan tatapan memohon untuk tidak menerima tawaran itu.
“Mian appa. Sepertinya Kaila harus memikirkannya. Kaila senang bisa bertemu dengan appa. Ternyata Allah mendengar do’a Kaila,” balasnya kemudian.
Dalam diam Riana menyunggingkan senyum.
“Ahh baiklah. Seminggu lagi appa akan datang untuk mendengar jawaban Kaila. Karena appa ingin membahagiakan eomma dan juga Kaila. Kalau begitu appa pergi dulu yah, Sayang, Assalamu’alaikum.” Setelah memberikan kecupan singkat di kepala sang anak, Arsyid pun meninggalkan mereka sendirian di sana.
Tatapan ibu dan anak itu terus memperhatikannya hingga menghilang dalam pandangan.
Riana pun kembali menatap sang anak yang masih menghadap ke depan tanpa berekspresi apapun di wajahnya. Ia takut Kaila memikirkan tawaran Arsyid tadi.
“Kaila bahagia sekarang tahu siapa ayah. Ternyata ayah tampan dan memiliki senyum yang lembut. Kaila han_”
“Sayang, kamu mau bersama ayah?”
Dengan cepat Riana langsung memotong ucapannya. Kaila pun menoleh padanya seraya melebarkan senyuman. Lama ia tidak menyahuti pertanyaannya, membuat Riana diambang ketakutan.
“Sa-sayang, Ka-kaila.”
“Heheh Kaila hanya ingin mamah bahagia. Tidak peduli itu bersama ayah atau tidak. Karena bagi Kaila kebahagiaan mamah yang terpenting.”
Perlahan kedua matanya memanas. Cairan bening itu meluncur bebas tidak tertahankan. Riana terharu mendengar penuturan sang anak. Ia pun mendekapnya hangat memberikan kecupan singkat padanya.
“Terima kasih, Sayang. Mamah bahagia memiliki putri sebaik kamu. Terima kasih…terima kasih.”
Tidak henti-hentinya Riana mengucapkan rasa terima kasihnya untuk Kaila. Ia tidak menyangka putrinya akan berkata seperti itu.
Beberapa menit kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan menuju restoran langganannya. Makan malam kali ini begitu bermakna baginya. Riana bahagia Allah memberikan harta paling berharga dalam kehiduapnnya.
...***...
Sedari sore tadi YeonJin tidak pernah meninggalkan ruangan pribadinya. Sudah banyak lukisan yang ia buat di sana. Namun, baru kali ini ia mencurahkan semua perasaannya ke dalam tinta tak bersuara itu. Ia ingin menyampaikan segenggam harapan untuk seseorang yang berharga baginya.
Ia tidak mau kehilangannya. Sosok wanita yang belum pernah ia temukan dalam kehidupan, nyatanya takdir mempertemukan mereka dan memberikan rasa asing itu. YeonJin tahu itu bukan rasa kagum semata. Melainkan cinta.
“Ya Allah jika memang dia yang terbaik lancarkanlah niat hamba ini.”
Sebait do’a terus ia lambungkan pada Sang Pemilik Hati.
Ia tahu Allah yang menggenggam hati setiap insan. Karena itu ia hanya meminta pada-Nya. YeonJin tahu Allah pasti memberikan hari terbaik di waktu yang tepat.
“Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hatinya,” tekad YeonJin malam itu.
Seperti yang sudah dipikirkannya, pagi ini YeonJin bersiap-siap untuk datang ke kediaman Riana. Dengan membawa sebuket bunga mawar merah ia yakin dengan pilihannya.
Beruntung jalanan hari ini terlihat lengang. Mobil hitam mewahnya melaju kencang berharap cepat sampai di tempat tujuan. Dengan senyum mengembang YeonJin membawa niat keseriusan. Wanita mana yang akan menolak pria sepertinya.
Namun, akankah Riana luluh dengan hal itu?
Akhirnya setelah menempuh perjalanan 40 menit, ia pun tiba di depan gedung apartemen. Seraya bersenandung kecil ia bergegas mencapai lantai tempat bernaung wanita itu.
Ting!!
Lift pun membuyarkan lamuna. Langkah tegap Kim YeonJin mencapai pintu bernomor 204 di ujung lorong sana.
Teng!! Nong!!
Bel ditekan perlahan. Dengan sabar ia menunggu si penghuni membukakan pintu untuknya. Hingga, “Iya sia-”
Ucapannya langsung terhenti saat pendangan mereka saling bertubrukan. Lengkungan bulan sabit kembali terbit membuat selung pipit di pipinya semakin terlihat. YeonJin memberikan senyum terbaik di pagi harinya.
“Aku datang ke sini untuk melamarmu.”
Tegas dan lantang. Kim YeonJin mengatakan niat kedatangannya.
Riana mematung di tempat tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Nyatakah sosok dihadapannya? Benarkah yang diucapkannya itu? Sekelumit perbedaan pendapat terus bertubrukan dalam kepala berhjiabnya.