QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 54



...Kehadiranmu menyadarkanku jika sejatinya luka yang telah patah masih pantas mendapatkan kebahagiaan....


.......


Riana masih meyakinkan diri sendiri sebelum mengatakan hal yang sebenarnya. Ia pun menutup matanya erat seraya menarik napas panjang. Sepersekian detik netra jelaganya kembali terlihat. Hal pertama yang tertangkap adalah mantan suaminya. Senyum mengejak yang diberikan pria itu semakin membuat Riana tidak karuan.


Namun, hal itu malah membuatnya yakin. Jika fakta yang disembunyikan harus terungkap. Keberadaan Hyerin di sana pun membantu keberaniannya.


“Park Hyerin memang mantan tunangan suami saya. Dia wanita luar biasa, keberaniannya membuat saya termotivasi. Di sini saya berdiri untuk meluruskan berita yang tidak benar keberadaannya. Kim YeonJin bukan perusak rumah tangga orang. Saya seorang single parent berjuang untuk memberikan kehidupan yang layak untuk putri saya. Jauh, sebelum bertemu dengan Kim YeonJin saya sudah berpisah. Jika kalian tidak percaya saya mempunyai bukti konkret. Di mana pria yang seharusnya melindungi ternyata memperlakukan seorang wanita tidak jauh dari seekor binatang. Namun, jika binatang saja menyayangi istrinya, apa yang pantas disandingkan dengan pria ini? Kalianlah yang bisa menilainya sendiri.” Riana menjeda perkataannya sejenak dan memperlihatkan beberapa foto saat dirinya mengalami luka lebam akibat perlakuan Arsyid.


Hingga video yang dulu diambilnya pun diperlihatkan pada orang-orang yang ada di sana. Kegaduhan mulai terdengar, Arsyid membulatkan matanya terkejut. Ternyata pria itu lupa dengan kelakuannya di masa lalu dan tidak menyangka Riana mengambil foto dirinya di masa itu.


Begitu pula dengan Hyerin sangat terkejut melihat wajah lebam Riana di sana. Meskipun mereka tidak mengerti tentang apa yang diucapkannya, tetapi fisik Riana dalam video maupun foto tersebut sudah menjelaskan.


“Selama satu tahun pernikahan saya mengalami kekerasan rumah tangga. Mantan suami saya seolah tidak berperasaan memperlakukan istrinya seperti barang. Tidak berharga dan tidak ternilai. Sebenarnya fakta ini saya sembunyikan karena tidak mau membuka luka lama. Tetapi, mantan suami saya sudah keterlaluan menebar fitnah kepada suami baru saya. Arsyid, saya harap kamu bertaubat kepada Allah.” Jelas Riana mengungkapkan masa lalunya.


Anehnya, Riana tidak merasakan perih atau pun sakit dalam hatinya. Malah ia merasakan lega luar biasa. Ternyata beban yang selama ini ia tanggung seorang diri sudah bertumpuk dan membesar. Benar, jika masalah itu bisa dibicarakan maka kelapangan hati bisa didapatkan. Itulah yang dirasakan Riana.


Tanpa gentar ia menceritakan pada khalayak ramai mengenai mantan suaminya dulu.


Kini semua pasang mata mengarah pada pria itu. Arsyid merasa dipojokan melihat tatapan mereka menyiratkan ketidaksukaan.


“Dan berita mengenai Kim YeonJin sama sekali tidak benar. Dia mantan tunangan saya yang sudah berhasil mendapatkan kebahagiaannya. Kim YeonJin pantas berada di puncak kejayaannya lagi. Saya harap kalian memberitakan mengenai pria ini.” Ujar Hyerin kembali seraya menunjuk Arsyid yang sudah ketakutan di sana.


“Saya tidak bersalah. Sa-saya tidak bersalah,” ucapnya mengelak.


Namun, tidak lama berselang polisi pun datang. Melihat beberapa pria berseragam itu Hyerin melengkungkan senyumannya. Ternyata ketika Riana membukakan masa lalu Arsyid ia menghubungi pihak berwajib.


“Tangkap pria itu, Pak. Dia bersalah karena sudah mencemarkan nama baik dan melakukan kekerasan rumah tangga,” jelas Hyerin kembali.


Setelah menerima laporan keempat polisi yang datang ke tempat tersebut pun langsung meringkus Arsyid. Dia berontak tidak mau kebebasannya direnggut begitu saja.


“Lepaskan, saya tidak bersalah. Apa mau kalian?!” Ujarnya mencoba melepaskan pegangan tangan mereka.


Namun, polisi tidak melepaskannya dan membawa Arsyid keluar dari galeri tersebut bersamaan dengan lensa kamera wartawan yang terus menyorotinya. Lalu mereka semua pun pergi dari sana.


Sedangkan dari arah depan, Riana dan YeonJin tidak menyangka melihat kedatangan polisi tadi. Keduanya berjalan mendekati Hyerin yang tengah memandangi pria bernama Arsyid itu masuk ke dalam mobil polisi.


Setelah berbincang-bincang singkat, mereka bertiga pun memutuskan untuk beralih ke ruangan yang lebih pribadi. Ada hal yang harus dikatakan Riana. Begitu pula dengan YeonJin yang penasaran akan sesuatu.


Kini ketiga insan itu sudah berada di lantai paling atas. Ruangan yang dijadikan tempat pertemuan ini diisi oleh mereka.


“Hye-hyerin-ssi, apa kamu yang memanggil polisi?” tanya Riana langsung.


Hyerin pun menoleh menatap suami istri ini bergantian. Senyum manisnya pun kembali mengembang.


“Terima kasih banyak. Berkat bantuanmu mantan suamiku bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Sekarang aku sudah tidak apa-apa, semuanya sudah berlalu,” balas Riana.


“Tidak Riana. Kamulah yang bisa membebaskan dirimu sendiri. Syukurlah aku lega mendengarnya.”


Sungguh sangat tulus seorang Hyerin. Tidak seperti dulu saat mereka pertama kali bertemu. Riana merasakan perubahan yang signifikan padanya.


Tidak hanya Riana yang merasakannya, tetapi juga YeonJin. Mantan tunangannya ini terihat lebih dewasa dan juga baik. Apa ada sesuatu terjadi dalam dirinya? Itulah yang tengah dipikirkannya sekarang. Netra kecoklatannya pun terus memandangi wanita itu.


Merasakan pantauan seseorang, Hyerin pun menoleh padanya. Kini pandangan mereka bertemu. YeonJin pun tersentak kaget dan buru-buru mengalihkan pandangannya.


“Apa yang oppa pikirkan?” tanya Hyerin menyadarkan.


Riana pun sudah menatapnya lekat. Ia tidak mengerti kenapa Hyerin bisa bertanya seperti itu pada suaminya.


Sepersekian detik YeonJin terdiam. Dan tidak lama ia pun kembali menatap kedua wanita di hadapannya ini.


“Sebenarnya aku penasaran akan sesuatu. Apa yang membuatmu bisa datang ke sini dan membantuku? Bukankah selama ini kita sudah tidak saling menyapa?”


Pertanyaan yang sedari tadi mengemban dalam pikriannya meluncur juga.


Hyerin pun kembali tersenyum menatap ke dalam mata coklatnya. “Aku tahu berita tentang kalian makanya buru-buru datang ke sini. Selama ini aku sadar atas apa yang sudah diperbuat. Aku minta maaf karena selama kita bertunangan, aku memanfaatkan keberadaanmu. Semua orang tahu oppa pelukis hebat yang bisa mendirikan perusahaannya sendiri. Karena bertunangan denganmu karierku bisa melonjak drastis. Tapi, ternyata apa yang ku pikirkan itu tidak benar. Setiap orang berhak mendapatkan kebahagiaanya. Sekarang aku bahagia kalian akhirnya bisa menikah. Aku sudah menjelaskan semuanya pada appa. Beliau juga sudah mengikhlaskan semuanya. Dan perusahaan itu bisa kembali padamu, oppa,” jelasnya kemudian.


Perkataan tadi terdengar begitu tulus. Riana sudah tidak bisa menahan kesedihannya. Ia menangis dalam diam merasakan betapa besar hati seorang Hyerin. Dia juga sudah mengakui kesalahannya. Memang cinta tidak bisa dipaksakan. Perasaan itu bisa berlabuh pada siapa saja. Namun, sayang rasa yang dimiliki YeonJin tidak berakhir padanya.


Hyerin sudah mengakui kesalahannya. Karena sampai kapan pun YeonJin hanya menganggapnya sebagai seorang adik. Sekarang ia bisa memahaminya.


“Alhamdulillah, terima kasih banyak Hyerin. Kamu memang adikku yang paling baik.”


Ungkap YeonJin tidak bisa mengekspresikan kebahagiaan sekaligus keterkejutannya.


“Sekali lagi aku minta maaf.”


“Tidak usah meminta maaf. Karena aku juga sudah melupakannya. Dan aku tidak peduli jika kamu mau memanfaatkanku,” jawabnya jujur.


“Terima kasih oppa. Aku harap kalian bisa bahagia dalam pernikahan ini. Mian aku tidak bisa datang waktu itu,” sesalnya.


“Tidak apa Hyerin-ssi. Aku harap kamu bisa mendapatkan kebahagiaanmu juga. Terima kasih sudah menolong kami.” Balas Riana lalu merengkuhnya hangat.


Di balik punggungnya Hyerin mengangguk singkat dan membalas pelukannya tak kalah erat. YeonJin hanya bisa tersenyum haru melihat kedua wanita itu.


"Terima kasih ya Allah, rencana-Mu sungguh sangat indah…" benaknya.