QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 47



...Jika kamu bertanya tentang perasaanku, tanyakanlah pada Tuhan. Karena Dia tahu apa yang terbaik untuk kita....


.......


Tiga hari berlalu. Selama itu pula Riana giat mengunjungi rumah sakit serta membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an untuknya. Ia berharap dengan menyenandungkannya YeonJin cepat sadar. Tidak lupa juga selepas salat ia tidak pernah absen mendo’akan kesembuhannya.


Siang ini rencananya ia hendak kembali ke sana. Selesai mengerjakan tugasnya merancang rumah, Riana bergegas meninggalkan apartemen. Ia belum mengetahui secara pasti bagaimana hubungan YeonJin dan Hyerin. Ia hanya memenuhi pekerjaannya saja.


Sekeranjang buah dan sebuket bunga warna-warni ia bawa sebagai buah tangan. Ia berharap dengan aroma dari bunga tersebut bisa memberikan efek kesembuhan.


Tidak lama kemudian ia tiba di lantai 6. Langkah demi langkah membawanya mendekati ruangan itu. Sebelum tangannya menggapai gagang pintu, dahi lebarnya mengerut saat mendengar suara dua orang yang tengah berbicara.


“Apa ada yang menjenguk Kim YeonJin-ssi?” gumamnya ragu untuk masuk ke dalam. Namun, suara kecil itu seolah tidak asing lagi dalam pendengarannya. “Apa jangan-jangan Kaila?” lanjutnya.


Ia pun langsung membuka pintu yang menghubungan mereka. Bola matanya melebar seketika saat melihat memang putrinyalah yang ada di sana. Namun, bukan Kaila yang membuatnya sangat terkejut. Melainkan presdir itu.


“Ki-Kim Yeon-Jin-ssi. Anda sudah sadar?” gugupnya tidak percaya.


YeonJin yang tengah duduk di ranjang mengangguk sekilas seraya memperlihatkan senyum menawannya.


“Alhamdulillah. Aku sudah sadar dini hari tadi,” jelasnya.


“Ketika Kaila datang ke sini bersama paman Jimin, appa sudah sadar mah,” lanjut putrinya.


Riana termenung dalam diam. Sorot matanya memperlihatkan kekosongan. Entahlah apa yang tengah dirasakannya. Tanpa sadar setetes air bening meluncur di pipi putihnya. Sontak saja hal itu membuat YeonJin dan Kaila tercengang.


“Riana.”


“Mamah.”


Ucap mereka bersamaan.


Riana pun tersentak dan menatap mereka bergantian. “Mi-mianhae.” Hanya itu yang diucapkannya seraya menghapus bulir air mata.


Kaila tersenyum lalu turun dari ranjang mendekati sang ibu. Tanpa ada kata yang terlontar ia pun menarik ibunya untuk duduk di kursi tunggal itu. Kaila tersenyum memandangi ibunya dalam diam. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Hanya saja kedua mata bulatnya berbinar.


Riana menunduk dalam tidak sanggup melihat orang di depannya. YeonJin tersenyum senang bisa melihat wanita yang dicintainya. Ia sudah tidak bisa lagi memendam perasaan terlalu lama. Sejak kesadarannya tadi ia kembali berdo’a supaya Allah membuka hati Riana untuknya. Netra kecilnya memandangi sosok wanita yang dikaguminya ini.


“Riana, maukah kamu menikah denganku? Aku sangat mencintaimu. Tidak peduli apapun kata orang. Karena kamu ratu di istana hatiku. Aku ingin membahagiakan dan melindungimu. Aku harap kamu bisa membuka hati untukku.”


Tegasnya penuh kelembutan. Lagi-lagi YeonJin mengungkapkan keinginan terbesarnya.


Kini di hadapan Kaila, ia mengutarakan niat baiknya. Gadis kecil itu tersenyum senang.


“Aku ingin kita mengucap janji suci di hadapan Allah. Tuhan kita,” jelasnya lagi.


Sontak saja kata terakhirnya membuat Riana mendongak. Bola matanya melebar sempurna. Perkataan Jimin hari itu ternyata benar, jika sekarang YeonJin sudah menjadi seorang muslim.


“Beberapa bulan yang lalu aku mempelajari agama Islam. Dan pada akhirnya aku pun memutuskan untuk menjadi muslim. Bukan karenamu atau siapa pun. Ini murni keinginanku sendiri. Ternyata dekat dengan Allah itu sangat menenangkan.”


Riana tidak bisa mengungkapkan kata-kata. Banyak sekali yang ingin ia ucapkan sekarang. Namun, perkataannya tercekat di tenggorokan. Alhasil hanya lelehan air mata yang terus mengalir. YeonJin menyunggingkan senyum hangat padanya.


Wanita mana yang tidak luluh dengan keseriusan itu. Seorang pria yang begitu mencintainya terus menerus mengatakan niat ingin mengkhitbahnya.


Iris kecoklatannya pun bergulir menatap Kaila yang masih tersenyum pada mereka berdua. Ia merasakan perasaannya menghangat. Lama, Riana tidak menjawab membuat YeonJin sedih. Ia pun tidak tahu harus berbuat apa dalam situasi seperti sekarang. Canggung begitu mendominasi, Riana belum memahami perasaannya.


Namun, sedetik kemudian seolah ada sesuatu yang hangat menyapa hati terdalamnya.


“Ahh, sepertinya kamu tidak bisa menerimaku. Kalau beg-”


“Eung, insyaAllah aku menerimamu.” Potong Riana cepat.


Kini giliran YeonJin melebarkan kedua matanya. Benarkah apa yang didengarnya ini? Riana menerima lamarannya? Ia bahagia tidak terkira, akhirnya penantian itu berbuah manis.


“Alhamdulillah, terima kasih Riana. Setelah keluar dari rumah sakit aku akan langsung menikahimu!” Tegasnya lagi.


“Terima kasih. Allah sangat baik menghadirkan orang sepertimu untukku. Kamu tahu sendirikan jika aku ini seorang single parent. Apa kamu tidak mempermasalahkannya?”


Riana masih ragu dengan keseriusan


YeonJin. Ia takut statusnya ini mempengaruhi kehidupannya. Mana bisa Riana bersikap egois. Ia tahu YeonJin pria single yang berhak memilih wanita lebih baik darinya. Namun, kenapa dia yang terpilih? Riana masih tidak mempercayainya.


“Karena kamu wanita hebat. Seorang ibu yang rela berkorban untuk kebahagiaan anaknya. Kamu wanita tangguh, mandiri, percaya diri yang belum pernah aku temukan. Aku terpesona dengan tanggung jawabmu. Dan juga perjuanganmu,” tutur YeonJin lagi.


Riana kembali menunduk menyembunyikan pipinya yang bersemu merah.


“Jangan ragu. Sudahku bilang bukan, aku tidak peduli dengan statusmu. Karena bagiku kamu wanita terhebat. Aku mengagumi sekaligus mencintaimu. Aku ingin memilikimu seutuhnya.”


"Ya Allah jika hamba sedang bermimpi bangunkanlah. Hamba tidak ingin berada di dunia semu. Illusi hanya memberikan kebahagiaan sementara. Namun, ternyata ini bukan mimpi atau khayalan semata. Di depanku seorang pria mengutarakan perasaannya. Ya Allah jika ini memang yang terbaik lancarkanlah," batin Riana seraya mencerna baik-baik kata-kata yang terlontar dari mulut YeonJin.


Selama 7 tahun ia hidup seorang diri dan membesarkan sang anak, baru kali ini ada seorang pria yang begitu memperhatikannya. Bahkan dia rela menjadi ayah angkat untuk Kaila. Seorang anak yang tidak pernah diketahuinya.


Begitu tulus dan besar perasaan Kim YeonJin. Riana menghargainya. Ternyata ia juga merasakan hal yang sama. Meskipun dirinya selalu saja menampik keberadaan pria itu dan menutup hatinya dari kebenaran.


“Syukurlah, sebentar lagi mamah dan appa akan satu rumah. Yyeeee Alhamdulillah Kaila tidak sabar lagi.”


Suara cempreng itu membuyarkan lamunan Riana. Dan kedua tangan tegap Kim YeonJin terulur membawanya kembali kepangkuan.


“Sebentar lagi appa resmi menjadi ayahmu, Sayang. Kaila senang?” ucap YeonJin menatapnya lekat.


“Eung, Kaila sangat senang. Ahh semoga hari itu cepat sampai.” Lanjutnya menerawang ke atas langit-langit. YeonJin pun merengkuhnya hangat.


Disertai hujan di kedua matanya, Riana tersenyum melihat keakraban mereka. Begitu sumeringahnya Kaila saat mengetahui ibunya akan bersama seseorang. Ia tahu Kaila sangat menyayangi Kim YeonJin, layaknya ayah kandung. Sedangkan kepada Arsyid, Riana belum pernah melihat ekspresi itu di wajah Kaila.


Ia tahu apa yang terbaik untuk anaknya.


"Aku harap, Kaila lebih bahagia dengan adanya Kim YeonJin. Terima kasih karena sudah memilihku. Dan semoga aku tidak mengecewakanmu," batinnya lagi.


Siang ini ungkapan Kim YeonJin mendapatkan jawaban yang memuaskan. Ia bisa bersanding dengan wanita yang dicintainya. Bersama dengan musim semi ini kehidupan mereka perlahan mulai berubah. Berharap alam semesta meridhoinya.