
...Allah selalu punya cara memberikan kebahagiaan selepas perginya kesedihan....
.......
Satu minggu berlalu begitu cepat. Hubungan Riana dan YeonJin berangsur-angsur membaik. Meskipun begitu, terkadang mereka masih canggung satu sama lain. Perkataan pria itu terus saja terngiang dalam telinganya. Namun, ia berpikir jika perkataannya tidak benar dan mungkin emosi sesaat yang terbawa suasana.
Mungkinkah Kim YeonJin hanya kasihan saja? Bisa jadi seperti itu. Pikir Riana.
Selama itu pula Riana tidak mengizinkan YeonJin bertemu Kaila. Ia tidak mau kedekatan mereka membuat orang-orang terdekatnya salah paham. Apalagi ia tahu jika YeonJin sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Ia tidak mau merusak hari bahagianya. Riana tidak ingin dicap sebagai perusak hubungan orang.
Ia pun berusaha keras untuk acuh terhadap atasannya itu.
Hari ini ia kembali bekerja seperti biasa. Sudah hampir satu tahun ia bekerjasama dengannya. Banyak kenangan yang terus berdatangan hingga kejadian malam itu terjadi. Bahkan Riana sering menghindarinya dengan berbagai alasan.
YeonJin pun menyadari hal itu.
Jam sudah menunjukan waktu makan siang. Selesai melaksanakan kewajibannya, Riana bergegas mengisi perutnya yang kosong. Sama seperti yang lain, sekarang ia tengah mengantri untuk mendapatkan makanan halal.
Beberapa saat kemudian, setelah mendapatkan makanannya ia pun duduk di salah satu bangku kosong. Ia makan dalam diam seorang diri tanpa adanya teman yang menemani. Tanpa ia sadari seorang pria berjas abu duduk di depannya begitu saja tidak mempedulikan tatapan orang di sekitarnya.
“Akhir-akhir ini aku merasa kamu menghindariku, Riana," ucapnya menyadarkan.
Mendengar suara itu Riana pun langsung mendongak dan tepat menatap bola mata yang tengah menyipit lalu menyunggingkan senyum menawan.
“Ki….kim YeonJin-ssi?”
“Jadi?”
Lama ia tidak menjawab perkataannya. Riana sadar dengan ucapan YeonJin tadi. Ia memang sengaja menghindarinya.
“Aku hanya tidak ingin ada rumor yang tidak-tidak." Balasnya kemudian kembali menikamati makan siang.
YeonJin pun sadar akan hal itu. “Oh yah, bagaimana keadaan Kaila? Sudah lama aku tidak melihatnya. Kenapa kamu juga tidak mengizinkanku untuk bertemu dengannya?”
“Lebih baik seperti ini. Aku tidak mau Kaila merusak pernikahan kalian. Kalau begitu saya duluan.” Riana pun beranjak dari sana meninggalkannya. Tiba-tiba saja keheningan menyapanya perlahan. Kim YeonJin tahu sudah menyakiti perasaannya.
...***...
Senja kembali datang. Setelah menemui orang yang mau membeli lukisannya YeonJin bergegas menuju ruangannya berada. Ia berjalan gontai jika pekerjaannya hari ini begitu melelahkan. Sangking semangatnya mendengar nominal yang diberikan oleh investor itu YeonJin tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
“Hah~ lelahnya.”
Ketika ia melewati ruangan sang arsitek langkahnya terhenti seketika. Ia terdiam melihat wanita itu tengah melakukan gerakan-gerakan yang tidak dimengerti. YeonJin terperangah dan terus memerhatikannya.
Tidak lama berselang Riana pun selesai beribadah. Ia tidak tahu jika ada seseorang yang tengah mengawasinya sedari tadi. Sepasang mata kecoklatan itu tidak pernah sedikit pun berpaling.
“Jadi seperti itu cara Riana beribadah? Entah kenapa membuatku tenang tanpa sebab.” Gumamnya dan kembali melangkah.
Setibanya di ruangan, YeonJin langsung mendudukan dirinya di kursi. Ia terus diam menatap kosong dinding di depannya. Ia tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya sekarang. Hal itu belum pernah terjadi sebelumnya.
“Ini pertama kali aku merasakannya. Ada apa denganku?” Racaunya seraya memegang dada kirinya pelan.
Selesai dengan pekerjaannya, Riana pun bergegas untuk menjemput Kaila di tempat Sarah. Selama ini ia sering merepotkan wanita yang lebih tua 3 tahun darinya itu. Mau bagaimana lagi Riana tidak mempunyai sanak saudara pun di Seoul.
Ia hidup sebatang kara. Tidak ada keluarga yang bisa dimintai tolong. Bahkan mereka sudah membuangnya begitu saja.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit dari tempatnya bekerja, Riana pun tiba di kediaman Sarah. Rumah sederhana bercat putih itu selalu ia kunjungi. Tidak lama berselang pintu terbuka lebar memperlihatkan Kaila dan Sarah. Mereka tersenyum senang melihatnya.
“Assala’mualaikum, bidadarinya mamah. Hari ini kamu tidak nakal kan?” tanyanya seraya mensejajarkan dirinya dengan Kaila.
Gadis kecil itu tersenyum lebar, “Wa’alaikumsalam, tentu tidak mah.”
Riana kembali bangkit lalu menatap bola mata besar di hadapannya.
“Maaf yah mbak, aku selalu merepotkan.”
“Kamu bicara apa? Mbak senang dititipi Kaila. Kalau terus merasa seperti itu makanya cepat menikah lagi supaya kamu diam di rumah dan mengurusi Kaila,” jawab Sarah menggodanya.
Riana mengerucutkan bibir ranumnya singkat. “Mbak ini. Kalau begitu aku langsung pulang yah. Assala’mualaikum.” Ia pun melarikan diri dari sana seraya menggandeng Kaila.
Beberapa menit kemudian Riana dan Kaila sudah tiba di lingkungan apartemennya. Mereka tengah berjalan di trotoar untuk membeli makanan riangan sebelum pulang. Baru saja ia keluar dari supermarket langkahnya kembali terhenti dengan netra jelaganya membola sempurna. Ia menoleh ke belakang melihat Kaila yang tengah berusaha membuka plastik es krim.
Ia kelimpungan saat melihat pria itu berjalan mendekati mereka. Sontak saja Riana langsung menggendong Kaila yang langsung terkejut tidak mengerti.
“Tunggu Riana!!” teriaknya. Namun, Riana tidak mengindahkannya dan terus berjalan cepat. Sedangkan Kaila mengerutkan dahinya heran.
“Aku seperti mendengar suara YeonJin appa.”
“A-ahh mungkin hanya perasaan Kaila saja.”
Namun, gadis kecil itu tidak memercayainya. Ia pun menoleh ke belakang punggung sang ibu lalu melihat pria yang sudah dianggap ayah olehnya itu tengah berusaha mencapai mereka.
“Mah, itu beneran appa. Kenapa mamah lari?” Tanpa menjawab pertanyaannya, Riana langsung masuk ke dalam gedung apartemen dan buru-buru mencapai tempat tinggalnya berada.
YeonJin tidak lagi mengejarnya dan tidak mengerti dengan sikap Riana kali ini. Ia benar-benar telah menghindarinya.
“Aku semakin merasa bersalah. Kenapa?”
Riana mendudukan Kaila di sofa lalu membelakanginya tidak sanggup melihat raut wajah penasarannya.
“Mah, mamah belum menjawab pertanyaan Kaila tadi. Seminggu ini mamah juga melarang ku bertemu appa. Kenapa mah?” racaunya semakin penasaran.
Riana pun mengepalkan tangannya erat tidak bisa menjawabnya. Ia tahu keberadaan YeonJin sangat penting bagi kehidupan Kaila. Namun, hubungan mereka tidak bisa diteruskan. Riana tidak ingin menyakiti orang lain, terutama hatinya sendiri.
Sudah cukup penderitaan yang selama ini ia kecap. Riana tidak mau merasakannya lagi.
“Mah jawab Kaila. Kenapa?” nada bicara sang anak meninggi. Riana tahu Kaila tengah menahan kesedihan. Dan benar saja ketika Riana berbalik, Kaila menangis sejadi-jadinya. Ia meraung-raung dengan air mata yang terus mengalir deras.
Riana tidak percaya. Ini pertama kalinya sang anak bersikap seperti itu. Manja dan juga cengeng. Ia pun berjalan mendekatinya lalu mendekapnya hangat.
“Maafkan mamah sayang. Mamah tidak bisa menjelaskan alasannya.”
“Kenapa? Kaila sayang sama YeonJin appa,” ungkapnya seraya sesenggukan. Di balik punggung kecilnya Riana juga tidak bisa menahan kesedihan. Setetes air mata mengalir di pipi putihnya. Sebegitu dalam perasaan Kaila terhadap YeonJin. Jika sudah seperti ini Riana tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ya Allah berikanlah yang terbaik untuk hamba dan juga Kaila."
Visual Tokoh
...Riana Aisyah Humaira (Arsitek)...
...Kaila Humaira...
...Kim NamJoon as Kim YeonJin (CEO art collection)...
...Park Jimin as Choi Jimin (Sekertaris Choi)...
...Park Hyerin (Pelukis/ tunangan Kim YeonJin)...
...Mbak Sarah...
...Mas Arsyid...