QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Saudara (Season 2)



Di dalam bangunan megah di wilayah Timur Ibu Kota, seorang pria paruh baya tengah menikmati secangkir kopi dan membaca koran harian. Seruputan demi seruputan air keruh beraroma tembakau pun menenangkan perasaan. Di temani musik klasik dari pemutar lagu kuno memainkan piringan hitam yang sudah lama tidak pernah disentuh.


Rumah berlantai dua itu sudah bertahun-tahun terbengkalai. Namun, di dalamnya tetap bersih dan nyaman untuk ditinggali. Setiap hari para pembatu dari keluarga Kim terjun langsung untuk membersihkannya. Tanaman pun tumbuh subur di pekarangan menambah keaserian.


Tidak lama berselang ketenangannya diusik dengan kedatangan pria berumur empat puluhan. Garis wajah tegas, postur tubuh masih tinggi tegap memakai setelan jas lengkap berjalan mendekat. Setelahnya bunyi dokumen yang terhempas ke meja membuat sang empunya rumah mendongak.


"Hyung, apa maksudnya ini? Kenapa Hyung menyebarkan berita palsu dan mengatakan jika YeonJin menelantarkanmu?" ucapnya seraya berkacak pinggang.


"Adikku, Kim Haneul, sudah lama kita tidak bertemu. Beginikah caramu menyambut kakakmu?" Kim YeonSun melipat koran dan meletakan gelas kopi di tatakan di atas meja. Bola matanya bergulir pada dokumen tergeletak lalu membawa dan membacanya.


"Hm ... jadi ketua sudah menyerahkan semua asetnya beberapa tahun lalu? Tidak padamu dan tidak padaku juga? Em, jadi di wakafkan untuk panti asuhan? Haha ... sungguh konyol." Kim YeonSun menyeringai dan melemparkan dokumen itu kembali ke meja sampai kertas-kertas tersebut berserakan.


Kim Haneul hanya mengangguk lemah dan duduk di depannya. Sudah bertahun-tahun ia tidak melihat sang kakak dan kini setelah banyak waktu terlewati Kim YeonSun kembali. Kim Haneul terkejut saat mengetahui berita mengenai keponakannya dan tidak menyangka jika dalang di balik itu adalah kakaknya sendiri, tidak lain ayah kandung Kim YeonJin.


Hari ia datang ke kediaman Kim YeunSun untuk memberitahukan mengenai surat wasiat yang ditinggalkan sang ayah tiga tahun lalu. Di mana hari itu menjadi waktu terakhirnya mengikuti keinginan sang ayah dalam hal mengurus Kim YeonJin.


Setelah Kim Dae Jung meninggal, Kim Haneul bergegas kembali ke ibu kota dan menemui keponakannya. Ia tidak menyangka saat mengetahui jika Kim YeonJin sudah berhasil membangun usahanya sendiri. Bakat Kim YeonJin yang dulu sering diolok-olok oleh ayahnya dan pamannya sendiri itu pun waktu itu membungkam mulut Kim Haenul.


Pria yang berstatus adik dari ayahnya itu datang dan memanfaatkan situasi yang ada. Kim Haneul kesal kala warisan yang seharusnya dibagikan oleh Kim Dae Jung untuknya dan sang kakak, nyatanya berpidah tangan ke orang yang tidak memiliki ikatan darah.


Namun, Kim Dae Jung merasa lega sudah mewakafkan hartanya kepada orang yang membutuhkan. Daripada harus jatuh ke tangan kedua anaknya yang serakah. Dim Dae Jung sangat terpukul kala mengetahui kelakuan Kim YeonSun yang memperlakukan anak serta istrinya tidak baik.


Kepala keluarga Kim itu pun tidak mencegah kepergian Min So Yeong untuk membawa Kim YeonJin. Beliau berharap kehidupan mereka lebih baik dan tentu saja Kim Dae Jung diam-diam membantu mereka. Sampai Min So Yeong meninggal barulah sang kakek kembali mengambil alih cucunya tanpa sepengetahuan Kim YeonSun. Kim Dae Jung tahu dengan potensi yang dimiliki sang cucu dan berharap ia bisa mendapatkan kejayaan berkat usahanya sendiri, hal itu pun bisa diwujudkan oleh Kim YeonJin.


"Jadi, selama sepuluh tahun appa merawat anak itu dan kamu membantunya?" tanya Kim YeonSun setelah mendengar cerita singkat dari adiknya.


Kim Haenul mengangguk ringan dan membalas tatapan sang kakak, "Hyung tidak tahu saja, awalnya appa ingin memberikan semua aset perusahaan kepada YeonJin, tetapi anak itu bebal tidak mau menerimanya. Jadi, inilah yang appa lakukan, dia sama sekali tidak memberi sepersen pun untuk kita," ocehnya mengadu.


Kim YeonSun menyesap kembali kopinya dan menatap lekat kertas yang berserakan di meja. Seringaian pun tercetak membuat Kim Haneul mengerutkan kening. "Apa yang Hyung pikirkan?"


Kim YeonSun mendongak dan bersitatap dengan adiknya lagi, "YeonJin sudah memberikan akta perusahannya padaku. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?" tanyanya membuat Haneul tercengang.


Manik kecilnya membulat sempurna tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Dari dulu ia sudah mengincar harta milik keponakannya, tetapi seiring berjalannya waktu Haneul merelakannya dan membiarkan YeonJin menjalani kehidupannya sendiri. Haneul pun merestui pernikahannya dengan Riana, meskipun wanita itu seorang ibu tunggal dengan satu anak.


Kim YeonSun mengangguk lalu bersandar ke sandaran kursi dan melipat kakinya. Senyum yang entah apa artinya mengembang begitu saja. "Itulah alasanku membawa akta perusahaannya untuk menyelamatkan hartanya saja. Bukankah aku ayah yang bijak?" ucapnya bangga.


Namun, Haneul melihatnya berbeda. Dalam diam pria itu pun memikirkan beribu cara memanfaatkan keadaan. Jiwa liciknya tumbuh berkat kekerasan hidup yang di jalani, meskipun mereka terlahir dari keluarga berada, tetapi tidak ada tatakrama maupun pemikiran saling menghargai. Haneul mengembangkan kedua sudut bibirnya sempurna.


...***...


Kim YeonJin kembali ke rutinitas semula. Saat ini ia tengah mengantar Kaila ke sekolah, lega sudah perasaannya anak sambung bisa menerimanya lagi. Mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu gerbang, ayah dan anak tersebut pun keluar dan saling berhadapan.


YeonJin berjongkok menyesuaikan tingginya dengan Kaila. Lengkungan bulan sabit hadir saat ia membetulkan kerah kemeja sang putri. Pemandangan itu menarik perhatian pejalan kaki dan beberapa murid lain yang hendak masuk.


Tidak terkecuali Lee Baek Hyeon, bocah itu menghentikan langkah kala netranya tak sengaja melihat Kaila bersama pria dewasa. Ia mencengkram erat strap tas punggung di bahunya, objek yang terpampang nyata di hadapannya seketika menarik perhatian. Bagaimana Kaila terlihat begitu dicintai dan disayangi.


"Belajar yang rajin yah, Sayang. Nanti Appa akan menjemputmu lagi," ucap YeonJin mengusap kepalanya lembut dan membubuhkan kecupan hangat di dahi. Kaila tersenyum lalu menyalami punggung tangan sang ayah.


"Appa?" cicit Baek Hyeon seraya menuatkan kedua alis.


Tidak lama interaksi mereka berakhir, Kaila melambaikan tangan pada ayahnya dan menunggu sampai mobil itu pergi. Beberapa saat kemudian ia menoleh ke samping di mana Baek Hyeon masih ada di sana. "Apa? Kamu mau mengatakan kalau ah ... sayang sekali itu hanya ayah tirimu, begitu?" celoteh Kaila mengejutkan.


Baek Hyeon terkesiap dan gugup seketika. "A-apa yang kamu katakan? Aku tidak mempunyai pemikiran itu, jadi dia ayah tirimu?" tanyanya penasaran.


Kaila pun berjalan mendekat dan mereka berdua beriringan masuk ke dalam sekolah. "Iya, itu ayah tiriku. Dia sangat baik dan sangat menyayangiku dan Mamah," jawabnya.


Baek Hyeon diam memandang ke bawah merasakan sesuatu bergejolak dalam dada. "Kamu beruntung, aku sedikit iri." Ia menghentikan langkahnya.


Kaila yang berada sedikit di depannya pun mengikuti pergerakannya lalu menoleh ke belakang. Suara tawa ringan itu membuat Baek Hyeon mendongak dan menatap mata bulannya. "Apa yang kamu katakan? Bukankah kamu juga sangat beruntung memiliki eomma dan appa yang sangat menyayangimu? Tersenyumlah Lee Baek Hyeon kamu lebih beruntung dari aku, ayo cepat kita bisa terlambat." Kaila bergegas pergi meninggalkannya sendirian.


Baek Hyeon masih mematung memandangi punggung gadis kecil itu seraya mengulas senyum. "Kaila aku minta maaf sudah menggertakmu," cicitnya dan mengingat kembali lengkungan dikedua belah bibir Kaila.


Sosoknya seperti kupu-kupu terkena cahaya matahari. Dalam pandangan Baek Hyeon, Kaila memiliki aura yang berbeda dari anak-anak lain. Bocah yang beranjak remaja itu pun sedikit merasakan pemberontakan dalam dirinya.