
Setibanya di rumah, keluarga kecil Kim dikejutkan dengan keberadaan seorang pria baya yang tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka.
Kim YeonJin melengkungkan bulan sabit sempurna, ia terharu dan buru-buru memeluk erat tubuh sang kakek.
Pertemuan itu membuat Riana ikut merasa lega dan bisa merasakan apa yang suaminya rasakan.
"Mamah, Kakek itu siapa?" tanya Kaila tiba-tiba.
Riana menatap ke bawah sekilas dan memandang lurus ke depan memperhatikan interaksi keduanya. "Beliau, Kakeknya Appa," jelasnya.
"Ah, jadi Beliau Kakek Buyut Hyun Sik?" tanya Kaila lagi seraya mendongak menatap sang ibu.
Riana pun membalas tatapannya dan tersenyum sekilas. Ia yang tengah menggendong Hyun Sik berjongkok di hadapan Kaila. Entah kenapa ada perasaan kurang nyaman yang mengendap di dasar hatinya.
"Em, Beliau-"
Namun, sebelum menjawab ucapan sang putri, YeonJin lebih dulu mencelanya cepat. "Beliau tidak hanya Kakek Buyut Hyun Sik saja, tetapi Kakek Buyutmu juga, Sayang."
YeonJin berjalan menuju Kaila dan menggendongnya, gadis berusia delapan tahun itu pun terpekik kaget.
Riana tersenyum lebar dan mengikuti ke mana suami membawa putrinya. Hingga mereka pun berhadapan dengan Kim DaeJun.
"Kakek, ini putri pertama kami Kaila Humairah dan ini putra kedua kami Kim Hyun Sik," jelas YeonJin memperkenalkan cicitnya kepada kakek buyut.
DaeJun terharu, dirinya bangga melihat sang cucu yang dulu begitu mandiri dan tidak pernah memperlihatkan kesedihan, kini sudah menjadi seorang ayah serta suami bertanggungjawab.
Senyum lega nan bangga pun terpendar di wajah keriputnya. Kim DaeJun turut bahagia melihat cucu kesayangannya sudah mendapatkan keluarga baru. Dirinya lega, terlepas dari rasa sakit YeonJin bisa menemukan belahan jiwanya.
"Hallo, Sayang. Ini Kakek Buyutmu, maaf baru sempat mengunjungi kalian," ucapnya seraya mengusap puncak kepala Kaila dan Hyun Sik bergantian.
Kaila menoleh pada sang ibu, Riana mengangguk pelan sambil melengkukan kedua sudut bibirnya lagi.
"Apa tidak apa-apa? Aku memanggil Kakek Buyut, seperti Hyun Sik? Aku bukan anak kandung YeonJin Appa," ujar Kaila polos.
Mendengar penuturannya baik Riana maupun YeonJin mengusap kepala serta punggungnya pelan. Embun seketika mengendap di balik mata keduanya, mereka menyadari jika Kaila masih merasa berbeda.
"Sayang, tidak peduli bagaimanapun, kamu tetap cicit Kakek. Kami sudah menjadi keluarga sekarang, jangan pernah berkata seperti itu lagi, yah," balas DaeJun cepat.
Kaila mengangguk mengiyakan, "Baik, terima kasih banyak Kakek Buyut."
Di bawah langit siang itu, mereka bisa merasakan kehangatan keluarga. Tidak peduli seperti apa latar belakang, status, sosial, maupun kedudukan, mereka bahagia bersama.
...***...
Setelah itu YeonJin dan DaeJun duduk di ruang keluarga, sedangkan Hyun Sik dan Kaila tengah tidur siang.
Riana datang seraya membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan lalu meletakannya di depan meja.
"Ada sesuatu yang ingin Kakek beritahu pada kalian. Riana, bisa kamu duduk di sini?" pintanya.
Riana mengangguk patuh dan duduk di sebelah suaminya. Tatapan mereka pun berpusat pada DaeJun yang tengah berada di sofa tunggal.
Wajah yang semakin tua itu pun memperlihatkan keseriusan. Riana dan YeonJin saling pandang tidak mengerti.
"Apa aku melakukan kesalahan, Kek?" tanya YeonJin.
DaeJun menggeleng kemudian mengeluarkan tablet di balik mantel panjangnya. Benda pintar itu tergeletak di hadapan mereka, pasangan suami istri tersebut kembali tidak mengerti.
"Apa? Apa yang Kakek bicarakan? A-aku tidak mengerti," ujar YeonJin mencela.
DaeJun mengulas senyum simpul dan menghidupkan tabletnya. Di sana memperlihatkan berkas-berkas perusahaan YeonJin yang sudah diberikan pada sang ayah.
Tidak hanya itu bahkan perjalanan hidupnya selama ini ada di sana, mulai dari foto, video, lukisan yang pernah dibuatnya, sampai kenangannya bersama sang ibu.
Hal itu mengembalikan memori yang tidak ingin ia ingat kembali. Dengan tatapan nanar, YeonJin menatap lekat kakeknya meminta penjelasan.
"Selama ini Kakek sudah mengawasimu, maaf jika harus membuat riwayat palsu. Ini semua Kakek lakukan untuk kebaikanmu. Karena ayahmu, Kim YeonSun adalah pria yang tidak bertanggungjawab dan tamak. Anak itu bisa-bisanya menelantarkan dan mengambil paksa apa yang sudah kamu perjuangkan. Kakek tidak bisa membiarkannya terus menerus melakukan hal seenaknya, apalagi sampai menyakitimu," ungkap DaeJun.
YeonJin termangu, pikirannya gamang, kedua maniknya fokus pada layar tablet yang memperlihatkan satu demi satu kenangan masa lalu.
Perjalanan yang dilaluinya begitu curam dan terjal. Setelah ibunya tiada ia harus berjuang tanpa mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Ditambah dengan kematian palsu sang kakek, ia diharuskan dewasa sebelum waktunya.
Perjuangan tidak mengkhianati hasil, ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Pengkhianatan yang dilakukan oleh ayahnya memberikan kekuatan lebih untuk terus berjuang.
Sampai ia mendapatkan tambatan hati dan menemukan jalan kebenaran. Saat ini Kim YeonJin hanya akan mengucap rasa syukur atas apa yang sudah Allah diberikan.
"Lalu, bagaimana keadaan appa? Dia baik-baik sajakan Kek?" tanyanya cepat.
"Kamu masih mengkhawatirkannya?" tanya DaeJun balik dan YeonJin mengangguk cepat.
Pria berusia hampir delapan puluh itu pun melengkungkan bibirnya singkat. "Dia baik-baik saja. Ayahmu hanya harus merenungkan apa yang sudah diperbuatnya. Ia harus merasakan kehilangan dan menyesali semuanya."
"Ka-Kakek tidak memenjarakannya, kan?" ucap YeonJin lagi.
"Kamu tahu apa yang Kakek lakukan," jawabnya singkat.
"Aku mohon Kakek jangan melakukan apa pun. Bagaimanapun juga dia masih ayah kandungku ... aku harus menghormati dan menyayanginya."
DaeJun terpaku, tidak menyangka jika cucu yang dulu selalu merengek meminta permen, sekarang sudah berubah menjadi pria dewasa.
Sang pengusaha itu menyadari jika perubahannya tidak luput dari campur tangan Riana. Selama ini DaeJun sudah memperhatikan wanita itu dan dirinya menyadari jika istri dari cucunya tersebut adalah yang terbaik.
"Kamu beruntung memiliki pendamping sebaik Riana. Kakek bersyukur dulu kamu memutuskan perjodohan dengan Hyerin. Riana, Kakek titip dia padamu yah," ungkapnya, kemudian menoleh pada YeonJin sekilas dan menatap lekat pada Riana.
Wanita berhijab itu mengangguk malu, ia bersyukur bisa bertemu dengan keluarga baik seperti mereka.
"Terima kasih juga Kakek sudah menerima putriku, Kaila seperti keluarga sendiri," ujar Riana buka suara.
"Kamu tidak usah berterima kasih, bagaimanapun juga dia sudah menjadi cicitku. Seperti yang Kakek bilang tadi, kita adalah keluarga," jelas DaeJun.
YeonJin turut senang mendengar penuturan sang kakek. Ia lalu menggenggam tangan istrinya erat memperlihatkan pada pria tua itu jika mereka saling mencintai.
"Aku sangat mencintainya, terima kasih Kakek sudah mau menerima kami," balasnya kemudian.
DaeJun terkekeh pelan, di hadapannya YeonJin terang-terangan mengakui perasaan. "Dasar bocah," jawabnya.
Beberapa saat kemudian Kaila yang tengah menggendong Hyun Sik berjalan ke arah orang tuanya. Di ruangan itu seketika dipenuhi dengan aroma kebahagiaan. Kehangatan akan kehadiran sebuah keluarga begitu dirindukan oleh YeonJin dan Riana.
Kini keduanya bisa mendapatkan itu kembali, meskipun tanpa orang tua lengkap. Keberadaaan Kim DaeJun begitu berarti sebagai ketiadaan ayah dan ibu.
Bersama di bawah atap dan membicarakan hal-hal sederhana, sudah membuat perasaan begitu baik. Tidak ada yang lebih penting selain ... keberadaan sebuah keluarga. Meskipun terkadang bisa menimbulkan luka, tetapi keluarga lebih dari segalanya.