
Cakrawala memperlihatkan keindahannya, warna biru membentang sepanjang mata memandang tanpa adanya awan putih sedikitpun. Musim semi merupakan musim terbaik tahun ini, raksi lembut yang menyebar mengalirkan aroma bunga begitu menenangkan. Sesekali angin hangat datang menemani perasaan resah gelisah.
Kemarin bagaikan mimpi di siang bolong, pria yang tidak pernah Jasmin ketahui keberadaannya mengutarakan niat baik. Di satu sisi ia senang pada akhirnya Choi Jimin sudah menjadi seorang mualaf, itu artinya mereka kini seiman dan sejalan. Tidak ada yang salah dengan mengutarakan perasaan, hal tersebut bisa memberikan kelegaan. Namun, di satu sisi yang lain ia masih takut untuk membuka hatinya lagi.
"Mbak tahu, kamu masih belum bisa melupakan kejadian itu. Peristiwa yang mengandung luka dan trauma memang tidak bisa dimaafkan begitu saja. Namun, yang harus kamu tahu Allah maha baik, bisa saja Allah menghadirkan Choi Jimin agar kamu sedikitnya bisa menghapus jejak itu. Mbak tidak akan memaksamu untuk menerimanya. Karena yang tahu dirimu, adalah kamu sendiri," tutur Sarah yang sudah mengetahui pernyataan Choi Jimin kemarin. Semalam Riana beserta keluarga kecilnya datang untuk membicarakan hal tersebut.
Jasmin terdiam mencerna baik-baik ucapan sang kakak sepupu. Ia menyadari jika sudah waktunya untuk membuka hati, tetapi, masih ada yang mengganjal dalam dirinya, yaitu, "Mbak, aku tahu Choi Jimin adalah pria yang baik. Aku tahu dia serius dengan perkataannya, tapi apa pernyataan tersebut bisa dibilang resmi? Meskipun tidak di depan abah dan umi?" tanyanya seraya menoleh ke arah kakak sepupu.
Senyum terbingkai apik di wajah cantik Sarah. Ia lalu berjalan mendekat dan duduk di sebelah Jasmin seraya memegang kedua tangannya erat. "Jadi, kamu akan menerima dia jika pengakuan itu diungkapkan di hadapan abah dan umi?" tanya balik Sarah dengan manik besarnya berbinar.
"Aku hanya ingin melihat kesungguhannya saja," cicit Jasmin, rona merah seketika melebur di pipi putihnya. Sarah semakin melebarkan lengkungan bulan sabit dan langsung menyambar ponsel menghubungi seseorang.
Di tempat lain, Riana yang tengah menikmati waktu libur bersama sang suami dan kedua buah hatinya dikejutkan dengan suara ponsel. Buru-buru ia beranjak dari sana dan mengambil benda pintar miliknya. Tertera nama Mbak Sarah di layar, ia pun langsung menerima panggilan tersebut seraya berjalan ke tempatnya semula.
"Assalamu'alaikum, iya ada apa mbak?" tanyanya penasaran.
Di seberang sana Sarah menjawab salam dan memberitahukan apa yang baru saja diterima. Seketika manik jelaga Riana melebar sempurna, mulut ranumnya terbuka sambil menoleh ke arah suaminya. YeonJin mengerutkan dahi bingung tidak mengerti.
Tidak lama berselang panggilan pun berakhir. Riana memandangi YeonJin dengan wajah sumeringah. Kaila dan Hyun Sik yang juga berada di sana pun memandangi sang ibu dengan tatapan heran. Mereka tidak mengerti apa yang tengah terjadi.
"Sayang, ada apa? Siapa yang menelepon?" tanya YeonJin penasaran.
"MasyaAllah, Oppa. Ada berita baik ... ada berita baik," hebaohnya.
"Iya, apa Sayang?" tanya YeonJin kembali.
Riana menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, lalu menggendong Hyun Sik yang tengah berjalan tertatih mendekat. Bayi berumur hampir satu tahun itu duduk di pangkuan ibunya sambil berceloteh riang. Ia pun penasaran apa yang hendak di katakan ibunya.
"Tadi, mbak Sarah menelepon. Beliau mengatakan ada kemungkinan Jimin akan diterima oleh Jasmin, jika dia mengatakan langsung niat baiknya itu di hadapan orang tua Jasmin. Ah, sekalian saja pertemuan dua keluarga, em, sepertinya itu bukan ide yang buruk, kan?" tutur Riana senang.
YeonJin mengembangkan senyum ikut lega mendengarnya. Ia menganggukan kepala dengan ide yang dikatakan sang istri. "Kamu benar, Sayang. Kalau begitu aku akan menghubungi Jimin terlebih dahulu." Riana mengangguk mengiyakan dan menggendong Hyun Sik menangkatnya tinggi-tinggi.
Pertanyaan polos dari Kaila seketika menghentikan pergerakan mereka. Riana menurunkan Hyun Sik secara perlahan dan memandangi putri pertamanya. Begitu pula dengan YeonJin yang menjauhkan ponsel dari telinganya membuat orang di seberang sana mengoceh tak karuan.
"A-apa kamu merindukan ayah?" tanya Riana hati-hati.
Kaila memandangi kedua orang tuanya bergantian. Kedua sudut bibir mungilnya melengkung kala menyadari kekalutan mereka. Ia lalu berjalan mendekati sang ibu kemudian menangkup wajah tegang itu dan mengusapnya lembut.
"Mamah, tenang saja tidak usah khawatir. Aku hanya ingin bertemu ayah, bukankah sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu?" tanyanya kembali.
Riana menyerahkan Hyuk Sik pada ayahnya dan memfokuskan diri pada Kaila. Ia menggenggam pergelangan tangannya lembut dan menariknya pelahan. "Sayang, Mamah tahu kamu merindukan ayah, tapi apa tidak masalah, Kaila bertemu dengannya? Ayah ... dia berada di penjara," jelas Riana gugup.
Kaila menggeleng sekilas dan menatap ke dalam manik sang ibu. "Kaila tidak masalah, Mah. Karena bagaimanapun juga ayah adalah ayah kandung Kaila. Mau seperti apa keadaannya, beliau tetap ayahku. Aku harus menghormati dan menghargainya."
Riana tidak kuasa membendung air mata dan langsung memeluk tubuh mungil sang putri erat. Ia menangis dalam diam sambil terus menusap punggung Kaila pelan. "Mamah, bangga padamu, Sayang," ujarnya lalu melepaskan pelukan.
Riana memegang kedua bahu Kaila pelan seraya memandanginya serius. "Ada yang ingin Mamah sampaikan. Setelah ini terserah kamu mau menerima atau tidak, keputusan ada di tanganmu, Sayang."
"Apa itu, Mah?" tanya Kaila penasaran.
Riana menahan pengap dalam dada, seketika bayangan akan masa-masa sulit hinggap begitu saja. YeonJin menepuk pundaknya menyalurkan kekuatan, sang empunya menoleh sekilas melihat senyum menenangkan pasangannya. Ia kembali memandangi Kaila dan memberikan lengkungan bulan sabit sempurna.
"Mamah tahu cerita ini tidak enak untuk didengar, tetapi kamu harus tahu jika ... sebelum kamu lahir dan masih berada di dalam perut Mamah, ayah ... tidak menginginkan keberadaanmu. Mendengar itu Mamah sangat sakit dan berusaha untuk bertahan. Namun-" Sebelum menyelesaikan ucapannya, Kaila lebih dulu menerjang sang ibu dan mendekapnya erat.
"Mamah tidak usah mengatakan apa pun lagi. Kaila senang sebab Mamah mau memberitahuku tentang hal itu. Meskipun sangat menyakitkan, tetapi tetap saja beliau adalah ayah kandung Kaila. Terima kasih, Mamah sudah bertahan selama ini untuk membesarkanku. Aku akan tetap menghormati, menyayangi ayah, selayaknya ayah dan anak," jelas Kaila.
Riana tidak kuasa menahan air mata lagi dan tumpah ruah begitu saja. Ia bangga dan bahagai dianugerahi seorang putri yang sangat baik hati serta mandiri. Di usianya yang masih belia buah hatinya memiliki pemikiran terbuka. Ia menyadari jika Kaila didewasakan oleh keadaan.
Seorang anak akan tetap menghargai ayah dan ibunya, meskipun salah satu dari mereka memberikan luka. Karena bagaimanapun juga berkat mereka ia hadir dan mampu mengenal dunia yang begitu keras, tetapi memberikan pelajaran berharga, sebab Allah tidak mungkin salah memberikan takdir kepada setiap hamba-Nya. Allah selalu memberikan yang terbaik terlepas dari permasalahan menimpa.
YeonJin ikut memeluk keduanya dan membubuhkan kecupan hangat di puncak kepala mereka. Tanpa ada kata terucap gerakan implusif sudah mengatakan perasaan sebenarnya. Jika ia sangat mencintai, menyayangi ibu dan anak tersebut. Hartanya paling berharga lebih dari apa pun, berkat kehadiran mereka ia bisa bangit dan membangun keluarga harmonis bersama.