QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 36



...Ketika hendak menggapai cahaya, kau datang membawa kegelapan....


.......


Ketegangan tampak dalam situasi itu. Malam semakin larut jalanan ibu kota mulai menyepi. Namun, mereka masih saja bersitegang di trotoar. Riana pun langsung mendekap Kaila berharap sang anak tidak mendengar pengakuan mantan suaminya. Ia tidak ingin Kaila bingung dengan keadaan sekarang.


Setelah mendengar pengakuan mencengangkan dari Arsyid, YeonJin dan Jimin membulatkan kedua matanya. Ini pertama kali mereka tahu siapa masa lalu Riana. Terutama bagi YeonJin. Sebelum berhadapan dengannya ia sudah mengetahui seperti apa kelakuan Arsyid terhadap Riana. Rahangnya mengeras saat teringat tentang video singkat yang ada dalam benda pipih wanita arsitek itu.


“Lebih baik kamu segera pulang. Ini sudah malam,” ucap YeonJin kemudian. Tanpa menolak Riana mengikuti suruhannya.


Sebelum ia pergi menjauh ucapan Arsyid seketika menghentikan langkahnya kembali.


“Riana, apa dia anakku?”


Deggg!!


Riana merasakan jantungnya berdegup sangat kencang. 7 tahun berlalu dan sekarang pria itu datang bertanya tentang anaknya.


“Bukan. Ini bukan anakmu.” Tegas Riana dan benar-benar pergi meninggalkan mereka.


YeonJin mengerti dengan perasaannya. Sulit bagi Riana melupakan kesakitan yang berulang-ulang dilakukan oleh Arsyid. Ia juga memiliki seorang ibu yang dulu tidak diperlakukan baik oleh ayahnya. Jadi ia mengerti dengan perasaan Riana.


“Lebih baik Anda pergi dari sini,” tegas YeonJin lagi. Tanpa mendengar jawabannya ia pun melangkahkan kaki dari hadapan mereka.


Jimin tidak percaya menyaksikan drama singkat tepat di depan matanya. Ia tahu kilatan mata Kim YeonJin saat menatap pria bernama Arsyid ini. "Mungkinkah rasa cintanya bertambah besar?" Benaknya berpendapat lalu mengikuti langkah atasannya itu.


Arsyid kembali memperlihatkan seriangannya menatap kepergian mereka. Ia tidak tahu jika Riana akan bersikap angkuh padanya.


“Ini semakin menarik,” gumamnya.


...***...


Riana terus melangkahkan kaki cepat tanpa menghiraukan teriakan demi teriakan dari mantan atasannya, Kim YeonJin. Entahlah saat ini ia tidak mau berbicara apapun. Jantungnya masih berdegup kencang saat pernyataan konyol YeonJin tadi.


Terlebih dengan kedatangan Arsyid. Hancur sudah buku yang sudah ia tutup rapat nyatanya harus terbuka lagi. Darah menetes menandakan lukanya kembali menganga. Luka tidak terlihat lebih sakit daripada yang terlihat.


Malam ini langit terlalu kejam memberikan kegelapan.


“Riana, tunggu sebentar!” Dengan langkah lebar ia berhasil menyusul wanita itu. YeonJin pun berdiri tepat di depan Riana dengan napas tersengal-sengal.


Ia terkejut saat melihat buliran keristal itu jatuh berderai di pipi gemilnya. Seraya memeluk Kaila erat, tubuh Riana bergetar hebat. YeonJin tahu penyebabnya. Tanpa mengindahkan keberadaannya, Riana berusaha melangkahkan kakinya kembali.


Bersama angin yang berhembus pelan sosoknya menghilang dalam pandangan.


“Aku mengerti perasaanmu, Riana. Sangat sakit melihat seseorang yang sudah memperlakukanmu tidak baik kembali datang,” gumamnya.


Jimin yang sudah berdiri di sampingnya mengerutkan dahi heran.


“Apa maksudmu, hyung?”


Sayang seribu sayang YeonJin tidak menjawab pertanyaannya dan meninggalkannya begitu saja.


“Dasar hyung itu. Seperti ini jika dia sedang jatuh cinta. Ehh, tunggu. Jatuh cinta? Lalu bagaimana dengan pernikahannya?” racau Jimin seorang diri.


...***...


Balmm!!


Pintu apartemen dibanting dengan keras. Riana masih menangis dalam diam. Perlahan ia pun menurunkan Kaila dalam pangkuannya. Gadis kecil itu menautkan kedua alisnya tidak mengerti kenapa sang ibu menangis sebegitunya.


“Mamah tidak apa-apa?” pertanyaan itu membuatnya tersadar.


“A, eung. Mamah tidak apa-apa, Sayang. Kamu bisa tidur duluan? Mamah ingin sendirian dulu,” pintanya. Tanpa mengatakan apapun lagi Kaila menuruti keinginan sang ibu.


Baru saja ia kembali menceritakan masa lalunya kepada sang sahabat dan tidak lama setelah itu si pelaku datang menyapa.


“Ya Allah kenapa dia harus datang lagi? Hamba tidak sanggup menerima kenyataan ini. Kuatkan hamba menjalani semuanya, ya Rabb. Untuk Kaila. Hamba tidak ingin melukainya,” gumam Riana dengan suara parau.


Tanpa ia sadari di balik kamar sang anak mendengarnya. Ia duduk terdiam merasakan kepedihan sang ibu. Kaila tidak mengerti dengan keadaan wanita yang sudah melahirkannya itu.


“Kenapa mamah menangis? Dan lagi siapa pria tadi?” racaunya kemudian.


Di luar apartemen YeonJin mendengar semua isakan dan ucapan Riana. Ia mengurungkan niatnya untuk mengembalikan ponsel wanita itu. Ia terdiam bak bongkahan es di depan pintu masuk. Tiba-tiba saja ia juga merasakan hatinya begitu terluka.


Ia tidak sanggup melihat wanita yang berharga baginya menangis seperti itu.


“Ya Allah hamba ingin berada di sampingnya dan menghapus air matanya. Tapi hamba tahu itu tidak mungkin. Terlalu kuat dinding yang berdiri kokoh dalam hatinya. Riana, aku harap kamu bisa mendapatkan kebahagiaan,” gumamnya tulus.


Di bawah sinar bulan kedua insan itu saling menahan kepedihan. Riana tidak pernah menyangka Arsyid datang dan menyapanya begitu saja. Tujuh tahun berlalu, pria itu kembali membawa kepedihan dengan senyum kepalsuan.


...***...


Semalam menjadi waktu terkejam baginya. Kini netra jelaganya kembali terbuka melihat dunia yang sudah mempermainkannya. Setelah menunaikan kewajibannya, Riana berjalan lunglai menuju dapur. Dahinya tiba-tiba saja mengerut dalam menangkap bayangan seseorang di sana.


Perlahan ia pun berjalan mendekat dan melihat roti lapis dan segelas susu di meja makan.


“Kai-la,” panggilnya ragu.


Gadis berusia 7 tahun itu membalikan badannya lalu tersenyum lebar menyambut kedatangan sang ibu.


“Pagi ini Kaila membuat sarapan. Kaila ingin mamah kembali bersemangat dan tidak menangis lagi.”


Penuturan sang anak membuat perasaannya menghangat. Kedua matanya memanas dan sekuat tenaga menahan cairan bening itu supaya tidak tumpah.


Riana pun langsung mendekap sang anak dan memberikan kecupan.


“Maafkan mamah, Sayang. Terima kasih sudah menyiapkan semua ini.”


Kaila hanya menganggukan kepalanya beberapa kali. Sesaat mereka menikmati waktunya sendiri merasakan kehangatan masing-masing. Hal itu ampuh membuat Riana merasakan sedikit bersemangat. Keberadaan anak semata wayangnya memberikan obat mujarab untuk sakit hatinya.


“Mamah, lepaskan Kaila mau sarapan,” ucap Kaila menyadarkannya. Riana pun langsung melepaskan pelukan dan membiarkan Kaila duduk di sampingnya.


Mereka sama-sama menikmati sarapan sederhana dengan sinar matahari membakar kepedihan.


“Kaila boleh bertanya sesuatu mah?” tanya Kaila kembali setelah sekian lama bungkam.


“Tentu sayang.”


“Pria yang semalam…. apa itu ayah Kaila?”


“Okhokk….okhokk…”


Mendengar penuturannya membuat Riana tersedak makanannya sendiri. Buru-buru ia pun meneguk susu di depannya untuk membasahi tenggorokan. Setelah itu ia tidak sanggup melihat Kaila yang tengah memandanginya lekat.


Dengan gerakan patah-patah kepala berhijab hitam itu menoleh ke samping kanan berusaha menatap sang anak. Senyum canggung pun terbit membuat Kaila tidak sabar ingin mendengar jawaban dari ibunya.


“Ka-kan semalam mamah sudah bilang. Di-dia bukan ayahmu.” Setelah mendengar itu Kaila tersenyum manis membuatnya tidak mengerti.


“Syukurlah. Karena sekarang Kaila sudah tidak memikirkannya lagi. Kan, sudah ada YeonJin appa. Syukurlah…”


Dengan entengnya gadis itu kembali menikmati roti lapisnya.


Sedangkan Riana mematung bak patung. Ia tidak mengerti kenapa Kaila berkata seperti itu. "Benar, lebih baik seperti ini," benak Riana.