QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Masa Lalu (Season 2)



Udara cukup dingin siang ini, tidak berawan, tidak berangin dan juga matahari enggan keluar. Langit mendung menemani kedua wanita yang tengah duduk berdampingan di kursi taman. Di tengah-tengah terdapat meja bundar menyajikan tiga toples kue kering dan dua cangkir teh hangat. Kepulan asap bersumber dari cangkir kermik tersebut mengantarkan aroma menenangkan.


Riana mengangkat minuman tersebut dan menyesapnya singkat, Jasmin pun melakukan hal yang sama. Setelahnya menunggu wanita yang lebih tua darinya berbicara.


Berbagai jenis tanaman hias tumbuh subur di sana, bunga-bunga dengan berbagai warna bermekaran menambah keindahan. Harum yang menguar dari bunga melati menyapa indera penciuman mereka. Senyum manis hadir di wajah ayu Riana, perasaannya tentram hanya dengan melihat pemandangan di hadapannya.


Ia sudah siap menceritakan masa lalu yang seharusnya tidak dibuka kembali.


"Sebenarnya, dulu teteh seorang single parent berjuang sendirian untuk membesarkan Kaila. Caci maki, hinaan, dianggap sebelah mata sudah menjadi santapan sehari-hari. Akhirnya teteh datang ke sini menghindari semua itu. Teteh terpaksa berpisah dari ayah Kaila karena sudah tidak sanggup menahan kekerasan yang dilakukannya. Teteh sempat depresi dan tidak menginginkan Kaila hadir. Berat sangat berat, tapi Allah selalu punya cara untuk kebaikan hamba-Nya. Di sini teteh bisa bertemu dengan ayahnya Hyun Sik dan dia menerima statusku sebagai single parent. Tidak hanya teteh, tapi dia juga sangat menyayangi Kaila seperti anak kandungnya sendiri. Teteh jadi menyadari jika apa yang terjadi ternyata tidak terlepas dari rencana Allah. Dan itu adalah sebaik-baiknya rencana," ucap Riana panjang lebar.


Ia tidak mendengar jawaban apapun dari orang sebelahnya. Kepala berhijab hitam tersebut melihat Jasmin menundukan kepalanya lagi. Lengkungan bulan sabit masih setia membingkai di bibir ranum Riana. Ia tahu jika Jasmin mendengarnya dengan sangat baik.


"Awalnya, kami berbeda kepercayaan. Teteh juga tidak bisa menerima perasaannya begitu saja karena hal tersebut. Tetapi, lagi-lagi Allah memberinya hidayah dan mempersatukan kami dalam ikatan pernikahan. Teteh sangat bahagia jika teringat hal itu lagi dan bersyukur atas kejadian masa lalu. Meskipun awalnya berat, tapi akhirnya sungguh luar biasa. Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya terus berlarut dalam kesedihan, bukan?"


Seulas senyum hadir mengakhiri perkataan Riana. Sayup-sayup angin berhembus menerbangkan kata demi kata yang terlontar dari bibir ranumnya. Semua cerita yang Jasmin dengar berdengung dalam pendengaran.


Kepala berhijab yang semula terus menunduk dalam tersebut kini mendongak dan menoleh tepat ke dalam manik Riana. Ibu dua anak itu melebarkan senyum membuat Jasmin terperangah. Ia tidak menyangka jika perjalanan Riana begitu kelam dan terjal.


Kedua tangan yang berada dalam pangkuan mengepal kuat, Jasmin lalu menatap ke depan seraya menghela napas berat. Ia tidak tahu harus menceritakannya atau terus memendamnya sendiri. Hal yang mengganjal dalam dirinya sekian lama semakin mengganggu.


"Teteh benar, Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya terus larut dalam kesedihan. Teteh wanita yang kuat, Allah menyayangi teteh dengan luar biasa," kata Jasmin masih terus memandang bunga-bunga yang terayun oleh angin.


"Bukan teteh yang luar biasa, tapi Allah yang menguatkan," balasnya lembut.


Jasmin mengangguk setuju.


Hening beberapa saat tidak ada satu pun dari mereka berbicara. Riana membiarkannya saja memberikan waktu pada Jasmin untuk fokus pada pikirannya sendiri. Ia sadar jika ada sesuatu yang sudah wanita itu alami. Riana tidak akan memaksa Jasmin untuk bercerita, karena ia sadar masalah yang sulit tidak mudah untuk dikatakan.


Sampai,


"Lima tahun yang lalu aku mengalami hal mengerikan dalam hidup."


"Astaghfirullah hal adzim, ke-kenapa?" tanya Riana gugup.


"Saat aku berumur dua puluh tahun umi dan abah menjodohkanku dengan seseorang. Aku pikir dia pria yang baik karena sudah mapan. Tetapi, aku salah. Sebelum kami ke jenjang pernikahan dia dia-" perkataan Jasmin tercekat dan bergetar. Sekuat tenaga ia menahan kepedihan dalam dada, membuka masa lalu sama saja kembali menggali luka lama. Namun, Jasmin ingin menceritakannya hingga tidak ada lagi batu sebesar gunung dalalm dadanya. "Dia hampir merenggut kesucianku."


"Ya Allah, astaghfirullah hal adzim, tega sekali. Ya Allah."


Riana pun bangkit dan berjongkok di hadapannya. Kedua tangan terulur menggenggam jari jemari Jasmin yang masih mengepal kuat. Wanita itu menangis dalam diam tidak sanggup menahan ketakutan yang ia rasakan waktu itu. Dengan lembut Riana menarik tubuh rapuh Jasmin ke dalam pelukan. Ia lalu mengelus pelan punggung bergetarnya. Riana bisa merasakan bagaimana takut dan traumanya Jasmin sekarang.


"Karena itu aku tidak mau menikah. Aku takut, teh." Adu Jasmin seraya membalas pelukan Riana dan mencengkram pakaiannya.


"Teteh mengerti, tapi percayalah di luar sana masih ada pria baik yang sudah Allah takdirkan untukmu."


Jasmin tidak membalas apapun dan terus memeluk Riana dengan erat.


Dua wanita yang berbeda usia, kedudukan dan status tersebut saling menguatkan untuk masa lalu kelam yang pernah mereka jalani. Setiap orang memiliki ceritanya masing-masing. Ada yang mampu bertahan atau pun menyerah pada keadaan.


Namun, Allah sudah mengatakan laa tahzan inallaha ma'ana "Janganlah kalian bersedih sesungguhnya Allah bersama kita."


Laa yukallifullohu nafsan illa wus'ahaa, "Allah tidak membebenai seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."


Ujian datang karena Allah percaya hamba-Nya mampu menanggung semua itu dan Allah yakin hanya ia yang bisa melewati semuanya. Dan setelahnya Allah memberikan kebaiakan yang luar biasa. Hadiah atas kesabaran yang sudah hamba-Nya lakukan. Tidak ada yang tahu skenario hebat apa yang tengah Allah kerjakan. Tetapi, itulah sebaik-baik rencana-Nya. Hanya terus percaya dan yakin pada ketetapan yang sudah Allah SWT atur.


***


YeonJin masih mempertahankan keterkejutannya. Ia tidak percaya mendengar semua perkataan Jimin mengenai sang ayah. Pria paruh baya tersebut mulai bergerak dengan menyebarkan berita tidak benar adanya. Salah satu artikel memberitakan mengenai kehidupan seorang Kim YeonJin. Di sana dikatakan jika ia menelantarkan ayahnya setelah berada di puncak kejayaan.


Seketika ia tidak bisa menahan kekesalan saat membaca kata demi kata yang tertuang di dalamnya. Luka yang berhasil ia sembunyikan kini mencuat ke permukaan dengan cepat.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang hyung?" tanya Jimin khawatir.


"Jangan dulu bertindak, penulis artikel ini juga anonim tidak ada bukti kuat dengan kebenarannya."


"Hyung yakin ingin membiarkannya begitu saja?"


Belum sempat bibir menawannya terbuka kedatangan sang istri dan Jasmin menghentikannya. Wanita yang dicintainya itu seketika menatap lekat. Ia gugup tidak bisa menyembunyikan kekesalan yang masih melekat di wajah tampannya.


Dengan langkah terburu-buru Riana mendekati YeonJin dan seketika menangkup kedua pipinya hangat.


"Apa yang terjadi? Kenapa oppa terlihat kesal?"


Firasat seorang istri tidak bisa dicegah, terlalu kuat dan kadang benar adanya. YeonJin tersenyum lemah dan menampilkan kesedihannya. Tanpa mengindahkan siapa pun ia memeluk tubuh sang istri menumpahkan amarahnya di sana.


Jasmin dan Jimin yang berada di sana melebarkan pandangan. Mereka tidak menyangka menyaksikan drama tepat di depan kedua matanya. Seketika kecanggungan begitu kentara. Jasmin menunduk dalam dan Jimin menggaruk belakang kepalanya gusar.


Tidak ada yang tahu jika cerita lain tengah ditulis.