QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 16



...Menyepi bukan berarti kesepian, tapi menjadikan semuanya menjadi lebih baik....


.......


Sejak adanya berita mengenai Kim YeonJin, Riana selalu mencegah pertemuan Kaila dengannya. Ia tidak ingin terus membebani pria itu. Bagaimana pun juga YeonJin bukanlah ayah kandungnya. Riana juga merasa tidak enak dengan Hyerin. Ia takut wanita itu berpikir yang tidak-tidak padanya.


Di hari itu juga YeonJin sudah mengkonfirmasi artikel tersebut. Banyak wartawan berdatangan berebut informasi darinya. Alhasil berita itu berangur-angsur menghilang dalam pandangan. Riana maupun YeonJin bisa bernapas lega. Tapi apa semuanya sudah berakhir? Tidak, sang anak masih terus saja merengek memintanya untuk bertemu dengan YeonJin.


Seperti hari ini.


Ahad sudah menjadi rutinitasnya untuk pergi jalan-jalan bersama YeonJin. Seorang pria yang bisa ia percayai sebagai ayah. Sedari selesai sarapan, Kaila terus meminta pada ibunya untuk pergi ke tempat YeonJin. Sebagai seorang ibu dan karyawannya, Riana tidak bisa mengabulkan keinginan sang putri.


“Mamah, Kaila mohon……. Kaila ingin bertemu appa.” Ia berjongkok seraya menarik bajunya hingga melar. Riana tidak bisa bergerak bebas, ke mana pun pergi Kaila selalu bergantung di bawahnya.


“Sayang, mamah bukannya tidak mau mengantar kamu bertemu appa, tapi sekarang kalian tidak bisa bertemu lagi.” Riana menyerah dan bersimpuh di depannya seraya meletakan tangan di kedua bahunya.


“Kenapa? Kenapa Kaila dan appa tidak bisa bertemu lagi?”


Riana terdiam sesaat memandangi lantai memikirkan jawaban yang tepat.


“Emm, Kaila kan tahu YeonJin appa bukan appa kandung Kaila. Dan YeonJin appa juga punya kehidupannya sendiri. Akhir-akhir ini beliau sibuk dan Kaila tidak bisa bertemu dengannya.”


Gadis kecil itu mengangguk-anggukan kepalanya. “Kaila mengerti. Kalau pekerjaan YeonJin appa sudah selesai, kita bisa bertemu kan mah?” Senyum lebar diperlihatkannya. Hal itu membuat Riana diam tidak tahu harus menjawab apa.


“Ahh,, emm,” gumamnya tidak jelas.


“Yyee, baiklah Kaila akan menunggu saja.” Ia pun melengos dari hadapannya.


Tidak lama berselang bel pintu apartemennya ditekan seseorang. Dengan langkah gontai Riana pun membukanya. Sedetik kemudian irisnya melebar sempurna tidak percaya melihat sosok yang tadi dibicarakannya datang.


Senyum yang bertengger manis dengan selung pipit itu membuat Riana terpaku. Seharusnya mereka tidak boleh bertemu. Ia tidak ingin ada berita lain lagi tentangnya.


“Annyeong, aku datang ke sini ingin bertemu Kaila,” jelasnya menyadarkan.


Belum sempat Riana membalas ucapannya, dari arah belakang sang anak berlari dan berteriak.


“APPA….!!” Secepat kilat Kaila menerjang tubuh tegapnya yang sudah berjongkok menyambut kedatangannya. Gadis kecil itu bahkan sampai melewati sang ibu begitu saja. Riana terkejut melihat momen ayah dan anak tidak sedarah ini.


"Ya Allah bagaimana ini?" benaknya.


...***...


Kecanggungan menjadi teman setianya kali ini. Diam-diam dari arah dapur, Riana terus memperhatikan keakraban anak dan atasannya. Seraya mengelap piring-piring yang masih basah, netranya terfokuskan pada mereka.


Ia melihat senyum merekah menghiasi wajah keduanya. Layaknya ayah dan anak kandung Kaila dan YeonJin dekat satu sama lain. Suara televisi menjadi peredam kekakuan situasi yang terjadi. Seharusnya ia tidak boleh membawa pria masuk ke dalam apartemennya. Keberadaan Kaila setidaknya membuat mereka tidak bersama.


“Kata mamah, appa sibuk jadi kita tidak bisa bertemu. Padahal Kaila ingin terus bersama appa,” jujur sang anak membuat Riana menatapnya lekat yang berada dalam pangkuan YeonJin.


“Cemburu?” timpal Kaila. YeonJin mengangguk-anggukan kepalanya begitu saja.


“Cemburu itu apa?” tanyanya polos menatap lekat mata pria itu.


“Cemburu itu, orang yang tidak suka melihat Kaila bersama orang lain.”


“Ehh, kenapa mamah cemburu pada Kaila? Bukankah mamah dan YeonJin appa itu pasangan? Kata Umi Sarah kalau mamah dan appa menikah Kaila resmi menjadi anak YeonJin appa. Kaila kan sudah resmi menjadi anaknya appa, yah,” perkataan polos Kaila membuat kedua orang itu terdiam.


Riana menundukan kepalanya dalam sedangkan YeonJin melebarkan mata sipitnya sempurna. Ia terlihat kikuk mendapati perkataan Kaila tadi. Bola matanya bergulir menghindari tatapan. Kaila masih setia melihat ke arahnya penasaran dengan jawaban YeonJin.


“A-eum, Kaila memang sudah resmi menjadi anak appa. Tapi appa dan mamah kamu tidak menikah sayang. Jadi, kami masih orang asing.”


“Kalau begitu kenapa tidak menikah saja?”


Blushhh!!


Kedua pipi mereka memerah bak kepiting reubus yang berkali-kali dipanaskan. YeonJin dan Riana tidak percaya mendengar perkataan polos dari anak itu. Kaila melihat kedua orang dewasa ini bergantian. Ia heran dengan kelakuan mereka. Apa ucapannya ada yang salah, pikirnya.


...***...


Beberapa jam kemudian, setelah puas bermain di kediamannya Kaila jatuh tertidur pulas di pangkuan YeonJin. Ia pun membaringkan tubuh mungilnya di sofa lalu menyelimutinya. Riana yang masih betah di dapur merasa tersanjung dengan kebaikan yang dilakukan pria itu.


Atasannya memperlakukan Kaila seperti anaknya sendiri. Tiba-tiba saja ia merasakan hangat dalam hatinya. Namun, buru-buru ia tepis begitu saja.


“Lumayan menguras tenaga. Apa kamu tidak kesusahan membesarkannya sendirian?” tanya YeonJin berjalan mendekatinya.


“Lihat saja bagaimana kurusnya aku. Alhamdulillah, aku bersyukur memiliki Kaila dihidupku,” jelas Riana seraya menyodorkan segelas kopi hangat untuk YeonJin. Ia pun menyesapnya singkat dan kembali menatapnya.


“Hahaha aku mengerti. Eung, aku juga merasakannya. Bagi seorang ibu keberadaan anak merupakan anugrah yang tidak ternilai.” Riana menganggukan kepalanya singkat.


Hening mendominasi, mereka pun fokus pada Kaila yang tengah terlelap. Bocah yang selalu ceria itu tersenyum dalam tidurnya.


“Sepertinya Kaila senang sekali hari ini. Terima kasih banyak YeonJin-ssi. Karena sudah bersedia menjadi sosok ayah untuknya,” kata Riana lagi tanpa merubah posisinya. Tanpa disadari YeonJin menatapnya lekat. Ia tahu dari sorot matanya, Riana menyimpan ribuan penyesalan.


Ada kesakitan yang begitu besar di balik senyumnya.


“Apa kamu tidak berniat untuk menikah lagi? Apa ayah kandung Kaila tahu tentang anaknya?” entahlah ia hanya penasaran. Riana menunduk menyembunyikan kepedihan.


“Bagiku pernikahan sudah bukan menjadi tujuan utama lagi. Ayah Kaila tidak pernah menginginkannya hadir di dunia.” Ia pun mendongak memberikan senyum kepalsuan. YeonJin tercengang, tidak percaya. Tiba-tiba saja rasa ingin melindungi menyelimuti hati terdalamnya.


“A-begitu yah aku mengerti. Tapi bagaimana kalau ada seorang pria yang ingin menikahimu dan dia tidak mempermasalahkan statusmu, apa kamu bisa menerimanya?”


Pertanyaan dari YeonJin tadi terus terngiang dalam pendengarannya. Selama 5 tahun ia hidup seorang diri baru kali ini ada pria yang mempertanyakan hal itu. Bahkan kata pernikahan sudah menghilang dalam kamus hidupnya? Hanya angan yang tidak mungkin bisa ia gapai kembali. Rasa penasaran YeonJin semakin tinggi tat kala tidak mendengar jawaban dari wanita itu.