
...Kebahagiaan datang pada hati yang bersabar. Ketentuan yang telah Allah berikan menjadi pembelajaran. Sejatinya hidup harus terus melibatkan Allah....
.......
Seminggu setelah kejadian hari itu, Riana, YeonJin dan Kaila memutuskan untuk menemui Arsyid di kantor pihak berwajib. Pria itu tengah menunggu proses pertanggung jawabannya. Seseorang yang pernah ada dalam kehidupannya menatapinya lekat. Melihat hal itu YeonJin selaku suaminya bersiaga melindungi sang istri.
Senyum pun mengembang di wajah tampan Arsyid. Riana tidak mengerti kenapa pria itu bersikap aneh.
“Tidak usah memperlihatkan tampang marah seperti itu. Aku tidak akan menyakiti istrimu.” Ucapnya beralih kepada YeonJin.
Pria Kim itu pun melepaskan pegangan tangan dari Riana dan mencoba bersikap santai.
“Kenapa appa ada di sini?” tanya Kaila bingung.
Bola mata besarnya bergulir menatap sang anak. Senyum penuh kerinduan dan keharuan pun mengiringi perasaan bersalahnya.
“Maafkan appa yah, Sayang. Selama ini appa tidak pernah menemuimu. Bahkan dulu appa tidak menginginkan kehadiranmu.”
Jujurnya membuat Riana dan YeonJin terkejut. Bisa-bisanya seorang ayah berkata menyakitkan di hadapan anaknya sendiri.
“Kenapa appa tidak menginginkan Kaila? Hah~ mungkin jika besar nanti Kaila bisa mengerti. Sekarang Kaila harap appa bisa hidup bahagia meskipun tanpa kehadiranku atau pun mamah. Kaila sangat sayang padamu, appa. Meskipun Kaila tidak pernah tahu di mana appa berada. Kaila selalu mendo’akan yang terbaik.”
Perkataan tulus darinya membuat Arsyid menitikan air mata.
Ia beranjak dari kursi lalu memeluk putrinya hangat. Rasa bersalah semakin menyeruak atas apa yang diperbuatnya selama ini.
“Appa tidak mengira kamu sudah sebesar ini, Sayang. Dari dulu appa tidak pernah mengendong, atau pun mendekapmu. Appa minta maaf.”
Bekali-kali Arsyid mengulangi perkataan yang sama.
Riana pun tidak bisa menahan air mata. Cairan bening itu meluncur bebas di pipinya. Begitu pula dengan YeonJin. Ia menyadari ayah kandung dari anak tirinya ini benar-benar sudah merasa bersalah. Ternyata ikatan darah bisa merubah segalanya. Namun, ia sadar dengan ungkapan jujur yang Kaila katakan tadi.
Sebagian besar kehidupannya dan gadis kecil itu sama. Ayahlah yang menjadi pusat kesakitan mereka. Tetapi, Kaila bisa berlapang dada dan memaafkan semua kesalahan orang tuanya.
"Aku malu. Kaila yang masih kecil saja bisa memaafkan kesalahan ayahnya. Aku? Hah~ aku harus banyak belajar. Ya Allah lapangkanlah hati hamba untuk memaafkan appa," batinnya saat teringat pengkhianatan yang dilakukan ayahnya di masa lalu. Hingga ia tumbuh bersama ibunya tanpa kasih sayang sang ayah.
Momen kebersamaan Kaila dan Arsyid membuat hati Riana tergerak. Ia pun berjongkok di samping mereka seraya tersenyum dengan derai air mata. Ia senang Arsyid sudah mengakui kesalahannya dan ia bangga Kaila bisa memaafkannya dengan ikhlas.
“Aku harap Mas bisa mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Mas tahu, Allah Maha Pemaaf. Minta maaflah pada-Nya atas semua kesalahanmu di masa lalu.”
Perkataan Riana membuatnya melepaskan pelukan dari sang anak.
Netra besarnya menoleh ke sisi kanan melihat sang mantan istri yang sudah berkali-kali disakitinya itu masih menyunggingkan senyum penuh harap. Kejadian 7 tahun lalu tergambar jelas dalam ingatannya. Arsyid semakin merasa bersalah.
“Aku minta maaf, Riana. Aku sudah bertindak sangat kasar padamu. Aku malu sekarang,” tuturnya.
“Allah saja Maha Pemaaf. Aku hanya hamba-Nya yang lemah berusaha untuk melupakan semua kesalahanmu. InsyaAllah aku sudah memaafkanmu. Aku ingin satu darimu, Mas.”
“Apa itu?”
“Bertaubatlah minta ampun kepada Allah. Karena Allah menunggu-Mu.”
Seketika itu juga air mata pecah. Arsyid menangis sejadi-jadinya menahan sesak dalam dada. Ia merasa malu dan sangat bersalah. Perkataan Riana tadi menamparnya menjadi sadar.
“Eung, aku akan bertaubat,” finalnya. Riana pun mengangguk-anggukan kepalanya.
“Selama kita menikah sekali pun aku tidak pernah membahagiakanmu. Aku minta maaf,” lanjutnya lagi. Riana menggeleng sekali dan tersenyum padanya.
“Tidak apa. Aku sudah melupakannya.”
“Sekarang giliranku untuk membahagiakan Riana dan Kaila.”
Suara baritone itu menginstrupsi.
Riana dan Arsyid pun menoleh padanya yang berjongkok di hadapan mereka. Senyum yang memperlihatkan selung pipit di pipinya itu semakin menawan. YeonJin menepuk pundaknya pelan memberikan semangat.
“Dulu aku tidak tahu siapa itu Tuhan. Tapi, keberadaan Riana telah menyadarkanku. Jika sejatinya hidup dekat dengan Allah itu paling membahagiakan. Kesalahanmu memang fatal, tapi masih ada waktu bagimu untuk bertaubat,” kata YeonJin kemudian.
Arsyid pun mengangguk. “Eung terima kasih. Aku titipkan mereka padamu. Aku percaya kamu pasti bisa membahagiakannya.”
Kini giliran YeonJin yang menganggukan kepala yakin.
Lega sudah perasaan yang selama ini mengganjal dalam hatinya. Riana sudah mendapatkan kebahagiaan yang telah lama hilang. Bersama YeonJin, pria yang tidak diketahuinya ia bisa tersenyum melupakan kepedihan.
Arsyid pun memutuskan untuk mengurung dirinya di balik jeruji besi di Indonesia. Bersama langkah demi langkah kaki yang keluar dari gedung tersebut berita mengenai dirinya tersebar luas.
"Pengusaha properti berinisial A ditangkap pihak berwajib karena melakukan penganiayaan terhadap mantan istrinya.”
“Diberitakan jika pengusaha propersi berinisial A tersebut mengalami kebangkrutan"
Seperti itulah media memberitakan tentang seorang Arsyid saat ini. Namun, ia malah tersenyum melihat lambaian tangan dari ketiga insan itu.
"Terima kasih Riana. Karena kehadiranmu menyadarkanku. Maafkan aku." Benaknya saat dirinya digiring oleh polisi.
...***...
Setelah melihat kepergian Arsyid, YeonJin pun memutuskan untuk membawa istri beserta anaknya mengunjungi salah satu tempat. Riana maupun Kaila tidak tahu ke mana tujuannya berada. YeonJin hanya mengajaknya saja tanpa menjelaskan.
Beberapa menit kemudian mereka pun tiba. Sedari tadi Riana yang tengah menggandeng Kaila mengerutkan dahinya, heran. Tanpa mengatakan sepatah kata pun ia terus mengikuti ke mana suaminya pergi.
Dan di sinilah mereka berada.
“Eomma, Yeon datang bersama istri dan anakku. Mianhae Yeon baru datang. Eomma lihat wanita di sampingku ini, kan? Dia wanita hebat sepertimu. Kuat, mandiri, pantang menyerah dan selalu menyembunyikan senyum menawannya. Yeon sangat mencintainya. Yeon juga bahagia bisa mendapatkan anak sepintar dan semandiri, Kaila. Eomma tidak usah khawatir, Yeon di sini sudah bahagia bersama keluarga baruku. Yeon juga sudah memaafkan kesalahan appa.”
Bersamaan dengan ucapan terakhir YeonJin menitikan air matanya. Entah perasaan apa yang tengah dirasakannya sekarang.
Riana pun mengusap punggung tegapnya pelan. Ia tahu sekarang dirinya berada di mana. Pemakaman ibu YeonJin.
“Annyeong haseyo eomma. Saya Riana. Dan ini putri saya Kaila. Terima kasih sudah melahirkan seorang anak yang baik hati, bertanggung jawab dan bisa diandalkan. Meskipun keras kepala hehehe. Eomma saya mencintai, putramu. Saya minta maaf, karena saya seorang single parent. Tapi saya berjanji akan menjadi istri yang terbaik untuknya. Eomma, saya minta restu darimu untuk pernikahan kami. Saya sangat mencintai, Kim YeonJin dan tidak ingin kehilangan dia.”
Tutur Riana kemudian yang kembali menangis.
Mendengar perkataannya YeonJin pun tersentuh. Ia pun menggenggam tangannya erat merasakan kehangatan. Perkataan cinta yang diungkapkan sang istri di depan makan sang ibu membuatnya sangat bahagia. Kini cintanya sudah terbalaskan sepenuhnya.
Sepulang dari makam, mereka melihat seorang wanita cantik berdiri di depan apartemen. Riana dan YeonJin saling pandang tidak tahu siapa gerangan orang itu. Namun, sedetik kemudian dia pun berbalik dan tersenyum melihat keduanya.
Riana dan YeonJin terkejut melihatnya di sana.
“Hyerin,” panggil mereka bersamaan.
“Aku datang ke sini ingin memberitahu satu hal. Jika appa ingin kamu kembali dan menjadi pemimpin perusahaan lagi, bagaimana?” jelasnya senang.
Pasangan suami istri itu saling pandang tidak mempercayai perkataannya. YeonJin pun terdiam beberapa saat sebelum menjawab pernyataan Hyerin tadi. Wanita Park itu dengan setia menunggunya. Hingga…..
“Aku ucapkan terima kasih banyak atas tawarannya. Tapi, maaf sepertinya aku tidak bisa kembali.”
“Aku ingin membanun sendiri perusahaan itu,” balasnya.
“Ahh baiklah aku mengerti. Nanti aku sampaikan pada appa. Aku akan menanti perusahaan hebatmu yang dirancang istri cantikmu ini. Kalau begitu aku pergi dulu.”
Hyerin pun langsung melesat pergi dari sana. YeonJin tersenyum mengiringi kepergiannya.
“Kenapa oppa tidak menerimanya?” tanya Riana kemudian.
“Seperti Hyerin tadi. Aku ingin membangun perusahaan dengan rancangan dari istri cantikku.” Ucapnya dengan sedikit mencubit pipi Riana gemas.
Wanita itu merona dan melengos dari hadapannya. “Yak!! Yeobo kamu mau ke mana?” Teriak YeonJin mengikutinya dari belakang.
“Pasang suami istri yang bahagia. Hah~ mereka bahkan melupakanku, hehehe terima kasih ya Allah karena sudah memberikan kebahagiaan pada appa dan mamah.” Ucap Kaila seraya melihat langit senja sore itu. Senyum pun melengkung begitu lebar di bibirnya.
“Sayang, ayo masuk!”
YeonJin kembali menyembulkan kepalanya di pintu depan. Kaila pun mengangguk dan berlari kecil mendekatinya seraya tersenyum lebar.
...***...
Selesai salat subuh tadi Riana berulang kali pergi ke kamar mandi. Ia terus merasakan mual dan ingin mengeluarkan isi perutnya. YeonJin yang baru selesai menyiapkan sarapan pun terkejut melihat istrinya pucat seperti itu.
“Sayang, kamu kenapa?” tanyanya cemas.
“Aku tidak tahu oppa. Dari tadi mual terus.”
“Kalau begitu kita ke rumah sakit, yah.”
Tanpa membantah Riana pun mengangguk setuju.
Tidak lama berselang mereka pun tiba di tempat tujuan. Riana yang tengah diperiksa membuat YeonJin semakin bertambah khawatir. Selama ini ia tidak pernah melihat Riana sakit. Tentu saja hal itu membuatnya ketakutan.
Melihat sang istri selesai diperiksa, YeonJin langsung menyerobot dokter cantik itu dengan pertanyaan.
“Istri saya kenapa, dok? Tidak ada penyakit yang parah, kan? Riana tidak apa-apa, kan?”
Dokter bernama Yunna itu tersenyum.
“Anda tidak usah khwatir. Wajar istri Anda seperti itu, karena dia tengah mengandung. Usia kehamilannya memasuki 4 minggu.”
Untuk sesaat YeonJin seperti hilang dalam raganya. Ia diam membuat Riana tidak mengerti. “Oppa. Sayang!” Panggilnya sedikit keras.
YeonJin pun akhirnya sadar. “Ehh, hamil? Ja-jadi saya akan menjadi seorang ayah?”
“Tentu tuan.” Jawab sang dokter seraya tersenyum lebar.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.”
Rasa syukur tidak pernah lepas ia panjatkan. YeonJin bahagia akan mendapatkan anak darah dagingnya sendiri.
“Kita harus segera beritahu Kaila.”
Ia pun langsung membawa sang istri pulang.
Di apartemen bernuansa putih bersih itu Kaila tengah membaca buku di ruang tamu. Ia terkejut saat mendengar ayahnya membuka pintu depan dengan sangat keras. Senyum yang mengambang di wajahnya membuat ia mengrutkan dahi bingung.
“Appa kenapa?” tanyanya langsung.
“Sayang, kamu akan punya adik,” jelasnya to the point.
Netra bulatnya semakin membola. Kaila tidak percaya mendengar penuturan dari ayahnya itu. “Benarkah? MasyaAllah, Alhamdulillah.”
Ia pun langsung memeluk sang ibu. Riana membalasnya tak kalah erat. Melihat itu YeonJin pun ikut bergabung bersama mereka.
...***...
Bulan demi bulan dilewati dengan suka cita. Selama itu pula mereka membangun rumah baru yang disebut istana kebahagiaan. Rancangan bangunan itu dibuat oleh Riana dan YeonJin yang menciptakannya.
Bersamaan dengan selesainya rumah baru mereka, Riana pun tengah berjuang menaruhkan nyawa melahirkan anak keduanya. Detik-detik paling menegangangkan bagi YeonJin membuatnya sadar tentang pengorbanan yang dilakukan sang ibu. Begitu pula dengan istrinya.
“Oee….oee..ooe..”
Suara malaikat kecilnya terdengar. Riana berhasil melahirkan seorang putra yang sangat tampan.
“Terima kasih, Sayang.” Ucap YeonJin lalu menghunjani kecupan hangat di dahi lebarnya.
Setelah bayinya dibersihkan dan Riana pun dipindahkan ke ruangan, Jimin, Kaila, Hyerin pun menjenguknya. Kaila begitu bahagia bisa melihat adik kecilnya yang tengah digendong sang ayah.
“Azani dia.” Titah Riana. YeonJin pun mengangguk dan segera mengazani buah hatinya.
“Allahu akbar.. Allahu~ akbar…”
Gema suara azan melingkupi kebahagiaan mereka. Rinana tersenyum haru melihat momen bahagia itu.
“Hyung mau kasih namanya siapa?” tanya Jimin setelah YeonJin menyelesaikan tugasnya.
“Emm, Muhammad Asraf Dhaifullah. Artinya tamu Allah yang agung datang membawa kebahagiaan kepada keluarga kita. Kamu setuju kan, Sayang?” Ia pun menoleh pada sang istri.
“Nama yang sangat indah. Aku sangat setuju,” balasnya.
“Boleh aku menggendongnya?” tanya Hyerin. YeonJin mengangguk dan memberikan putranya pada mantan tunangannya itu.
Hubungan mereka semakin bertambah baik. Seperti keluarga hidup rukun bersama.
YeonJin pun duduk di tepi ranjang sang istri seraya merangkulnya.
“Terima kasih, Sayang kamu sudah memberikan kebahagiaan dalam hidupku. Aku sangat mencintaimu,” jujurnya.
“Aku juga sangat berterima kasih padamu. Karena sudah mau menerima kami. Aku bahagia, bahagia ada kamu di hidupku,” balas Riana.
Kebahagiaan mereka lengkap sudah dengan datangnya buah hati. Putra keturunan keluarga Kim itu membawa kegembiraan lebih padanya. Sudah tidak ada kisah pilu yang menyertai. Semuanya sudah berlalu dan berganti senyum menawan.
Pelangi datang menggantikan awan hitam.
"Terima kasih ya Allah karena sudah menghadirkan seorang raja dan pangeran kecil itu pada hamba. Rencana-Mu memang sangat indah…" batin Riana.
Seorang ratu akan tetap bersinar sekali pun kehilangan senyumannya. Namun, sekarang ratu itu sudah bisa kembali menebar senyum kebahagiaan…..
Allah menghadirkan kebahagiaan dengan cara-Nya yang begitu indah.
...❤️TAMAT❤️...