
Riana merenung memikirkan kejadian beberapa saat lalu. Pertemuan tak terduga bersama kakek dari sang suami memberikan kejutan tak terbayangkan. Tidak ada yang serba kebetulan, semua sudah menjadi takdir dari sang pemilik kehidupan. Ingatannya pun berkeliaran ke siang hari tadi.
Pengunjung datang silih berganti ke restoran halal tersebut. Riana termangu dalam diam seraya terus memperhatikan sosok di depannya. Senyum tulus nan ikhlas bertengger nyaman di wajah tuanya, Kim Dae Jun, senang kala bertemu dengan cucu menantunya.
"Ini kedua kalinya kita bertemu, saat pertama kali kita berpapasan di trotoar dekat kafe di jalan simpang di sana. Itu bukan kebetulan, kakek yang sudah merencanakannya," jelas Dae Jun menyadarkan lamunan Riana.
Ia terperangah dan berusaha bersikap biasa. "Be-benarkah? Kenapa Anda melakukan itu?" tanyanya gugup.
"Jangan terlalu formal, panggil kakek saja. Kamu sudah menikah dengan Kim YeonJin bahkan sudah memiliki seorang putra jadi, aku kakekmu juga." Riana hanya mengangguk pelan.
Kim Dae Jun menyesap teh hangatnya singkat dan memperhatikan wanita muda di hadapannya. Selama ini sang pengusaha itu sudah memperhatikan mereka. Tanpa sepengetahuan sang anak ataupun cucuknya, kakek Dae Jun memerintahkan seseorang untuk mengawasi. Tidak diduga kejadian tak diharapkan yang datang dari anak kandungnya begitu mencengangkan.
Dae Jun tidak menyangka jika Kim YeonSun begitu kejam memanfaatkan sang anak yang sudah lama disakitinya. Sebagai seorang kakek yang sangat menyayangi cucuknya, Dae Jun tidak terima dan merasa geram atas tindakan putra pertamanya tersebut. Rahasia yang sudah bertahun-tahun disimpan rapat kini kembali ke permukaan.
"Kakek harap kamu tidak menceritakan pertemuan kita pada YeonJin," ucapnya menarik perhatian Riana.
"Kenapa? Bukankah kalian sudah lama tidak bertemu? Astaghfirullah, bu-bukankah Kakek su-sudah meninggal?" gugup Riana mendekap mulutnya cepat saat teringat Kim YeonJin pernah bercerita mengenai kebaikan sang kakek.
Dae Jun merentangkan bulan sabitnya lagi, "memang benar, beberapa tahun lalu Kakek sempat mengalami sebuah insiden kecelakaan. Dari peristiwa tersebut Kakek memanfaatkannya dan memalsukan kematian. Karena Kakek tahu ada yang tidak beres dalam keluarga kami, putra pertama dan kedua memiliki misi masing-masing untuk menguasai harta. Kakek menguji dan tidak memberikan harta kepada mereka. Namun, apa yang terjadi? Kakek tidak menyangka jika keduanya memanfaatkan Kim YeonJin, cucu satu-satunya dari keluarga Kim. Kakek sangat bangga padanya karena sudah berhasil hidup dengan baik dan mendapatkan keluarga yang sangat baik. Dia beruntung bisa bertemu dengan wanita sebaik dirimu, Riana," jelas sang kakek.
Riana tidak bisa berkata-kata, dirinya tidak menyangka dan menduga jika di hadapannya kini kakek dari sang suami masih hidup dalam keadaan sehat. Seketika embun merembes dalam manik jelaganya, sekuat tenaga ia tahan kala gejolak kebahagiaan terus berkeliaran. Ia sangat bersyukur banyak jalan yang Allah datangkan untuk meredamkan setiap permasalahan.
Tidak ada yang tahu tentang rahasia di hari esok, semuanya menjadi skenario Illahi. Terkadang kedatangannya memberikan kejutan tak terduga. Namun, di balik itu terdapat suka cita yang tak terbendung. Meskipun dibalut dengan luka, tetapi balasannya direngkuh kebahagiaan.
"MasyaAllah, a-aku tidak tahu harus berkata apa. Apa Kakek tidak keberatan? Saya seorang single parent, ap-"
"Jangan berkata seperti itu, Tuhan tahu mana yang terbaik untuk kalian. Di balik kejadian menyakitkan masih terdapat kebaikan. Kakek tidak mempermasalahkan statusmu, karena kamu sudah membawa kebaikan yang tak ternilai kepada Kim YeonJin. Dia lebih baik dari sebelumnya, Kakek sangat bersyukur. Kamu juga mempunyai putri yang sangat mandiri dan baik. Kamu sudah berhasil mendidiknya, jadi jangan pernah merendahkan diri sendiri."
Mendengar penuturannya mengalirkan buliran bening di pipi putih Riana. Ia tidak menyangka jika selama ini Kakek Dae Jun sudah mencari tahu masa lalunya. Kata demi kata yang tercetus di balik bibir keritingnya menyentuh relung hati paling dalam. Ini pertama kali bagi Riana bisa diterima dengan tangan terbuka dari keluarga sang suami.
"Terima kasih .... terima kasih banyak," lirihnya.
Kim Dae Jun mengulurkan saputangan miliknya, "hapuslah air matamu. Tersenyumlah, karena wanita yang baik untuk pria yang baik pula. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan."
Riana mengangguk seraya menerima saputangan dan menghapus air matanya. "Terima kasih," ucapnya lagi.
"Ternyata wanita berhijab tidak seperti yang diberitakan. Media massa terlalu berlebihan dalam memberikan berita. Kakek mendapatkan pelajaran baru jika sejatinya kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari luarannya saja," ucapnya kembali.
Riana mendongak melihat kekaguman terpancar dari manik cokelat gelap sang kakek. "Apa yang Kakek rasakan?" tanyanya penasaran.
"Tenang," jawab Dae Jun singkat.
"Ya Allah, semoga Kakek Dae Jun bisa merasakan nikmat hidayah dari-Mu. Aamiin," benak Riana.
"Tujuanku bertemu denganmu, karena kakek ingin membantu kalian. Kakek tidak bisa membiarkan YeonSun terus menerus memanfaatkan anaknya. Dia harus belajar bersyukur dan menerima keadaan. Dari dulu dia selalu menyakiti istri dan putra semata wayahnya. Sampai ... Min So Yeong meninggal, dia sama sekali tidak memperhatikan YeonJin. YeonSun terus bersenang-senang bersama wanita simpanannya dan menelantarkan sang anak, bertahun-tahun dia pergi dan sekarang-" Dae Jun menggantung kalimatnya, Riana menyaksikan kekesalan dari sorot mata sayu di sana. "Dan sekarang dia dengan tega mengambil jerih payah putanya sendiri. Di mana hati nurani seorang ayah, oh astaga aku tidak percaya memiliki anak tidak tahu diri seperti dia," keluh Dae Jun lalu mengusap wajahnya gusar.
"Kakek tidak usah menyesali apa yang sudah diberi. Dalam hidup kita pasti akan diuji, datangnya bisa dari istri, anak, teman, sahabat, rekan kerja atau siapa pun ... tujuannya agar kita bisa bersabar dan menggantungkan harap hanya kepada Tuhan semata. Tuhan memberikan cobaan semata-mata untuk memberikan pelajaran jika kita harus banyak bersyukur," balas Riana.
Suaranya yang lembut mengalur menyadarkan Dae Jun. Pria baya berusia pertengahan tujuh puluan tersebut tercenang. "Kamu memang wanita luar biasa, Kakek titip YeonJin padamu. Mulai sekarang kamu tidak usah khawatir, urusan YeonSun biar Kakek yang mengurusnya." Riana mengangguk cepat dan mereka pun menikmati makan siangnya lagi.
...***...
"Yang .... Sayang .... Sayang, Riana."
"Astaghfirullah hal adzim, Oppa? Ka-kamu sudah pulang?" tanya Riana terkejut saat mendapati sang suami sudah berdiri di hadapannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu melamun? Dari tadi aku panggil kamu tidak menyahut sama sekali. Aku khawatir, Sayang," celoteh YeonJin dan dengan lembut membelai puncak kepala sang istri.
Secepat kilat Riana melemparkan dirinya ke dalam pelukan sang suami. Aroma mint dan maskulin menguar menenangkannya. "MasyaAllah, aroma suamiku sangat wangi. Aku sangat mencintaimu, Sayang," balasnya membuat YeonJin merona.
Ia pun merengkuhnya tak kalah erat dan memberikan kecupan hangat di puncak kepala jantung hatinya. "Begitu pun denganku. Sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu. Apa yang sebenarnya terjadi, hm?" tanya YeonJin lagi.
Riana termangu dan terus menyamankan diri persandar di dada bidang sang suami. "Nanti aku ceritakan. Izinkan aku memelukmu sebentar saja."
YeonJin melebarkan senyum dan semakin mengeratkan pelukan mereka. "Jangankan sebentar, kamu meminta selamanya pun aku tidak keberatan."
Riana mendengus senang dan mendengarkan detak jantung imam dalam hidupnya. Iramanya bagaikan musik harmoni mengalum tenang mengantarkan kepada kebahagiaan. Cinta yang membelit keduanya tidak akan pernah terputus jika berlandaskan kepada sang pemilik hati. Allah menghadirkan sebuah perasaan untuk menguji kembali, apa dia mampu dikuasai oleh nafsu atau menyerahkan sepenuhnya hanya kepada Allah semata. Karena cinta sejati akan diseriuskan pada jenjang pernikahan dan berjanji di hadapan Allah.