QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 6



...Kenyataan menampar jika sejatinya aku harus membuka mata lebar-lebar untuk menerima keadaan....


.......


YeonJin masih tidak percaya wanita yang sekarang duduk nyaman di jok belakang mobilnya sudah mempunyai putri sebesar itu. Sedari tadi mereka saling diam merasa canggung tidak bisa seakrab beberapa jam lalu. Riana terus mengusap kepala Kaila yang tertidur di pangkuannya. Ia terkejut anak semata wayangnya menangis sesenggukan seperti tadi. Ia masih belum tahu penyebab semua itu. Setelah lelah menangis Kaila tertidur sebelum ibunya bertanya ada apa. Sekilas ia menoleh ke arah YeonJin. Riana merasa tidak enak rekan kerjanya melihat kejadian tadi dan sudah menyusahkannya hari ini.


“Emm, YeonJin-ssi terima kasih sudah mengantar saya. Maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud menyembunyikan ini.” Ungkapnya takut-takut. Lama YeonJin tidak menyahutinya membuat Riana cemas. Padahal mereka baru saja menjalin kerjasama beberapa bulan ini. Rasanya ia sudah mencoreng nama baiknya sendiri.


“Jadi kamu sudah menikah? Kenapa kamu merahasiakan statusmu? Kasihankan anakumu.” Tuturnya terdengar sedikit dingin.


“Sa…saya minta maaf. Saya tidak bermaksud menyembunyikannya ha…hanya saja. Sa..saya_”


“Lebih baik kamu di rumah urus anak dan suami daripada cape-cape bekerja keras seperti itu.” Perkataannya tidak memikirkan perasaan Riana. Wajar, pria itu masih belum tahu kebenarannya. Riana terdiam beberapa saat. Ada rasa ngilu menyapa hatinya tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Benar apa yang dikatakan YeonJin jika ia harus di rumah menjaga anaknya. Namun, itu tidak seindah yang diucapkan. Kenyataannya bertolak belakang. Kehidupan Riana tidak seindah orang lain.


“Mungkin itu bagi mereka yang menjalani rumah tangga dengan baik-baik saja. Saya seorang single parent dan bekerja keras menjadi motto saya untuk membahagiakan Kaila. Kalau begitu saya permisi dulu. Mari YeonJin-ssi terima kasih sudah mengantarkan saya lagi.” Jelas Riana seraya keluar dari mobilnya dengan membopong Kaila. YeonJin tercengang tidak bisa berkata-kata.


Rasa bersalah menyeruak dalam dada. Tatapannya mengikuti ke mana wanita itu pergi. Bangunan berlantai 7 ini menjadi tempat tinggal Riana. Sosoknya semakin menjauh dan YeonJin masih betah terdiam di sana.


“A….aku tidak percaya.” Cicitnya.


Beberapa saat kemudian, ia pun tiba di kediamannya.


Sebuah rumah mewah yang ia beli 2 tahun lalu. YeonJin tinggal sendirian di sana. Tanpa orang tua atau pun asisten rumah tangga. Ia sudah terbiasa di tinggal pergi sejak kecil. Keheningan selalu menjadi teman setianya. Langkah gontainya membawa ia ke ruang keluarga. Sorot matanya kosong seraya terus memikirkan perkataan Riana tadi. Ia masih terkejut mendengar kebenaran jika wanita itu sudah menjadi seorang single parent.


“Aku merasa bersalah. Pantas saja dia begitu gigih dalam bekerja. Ternyata…..”


...***...


Sedari tadi Riana terus memandangi Kaila yang tengah tertidur. Wajah polosnya membuat ia melengkungkan sudut bibirnya. Di balik senyumannya tersemat luka yang tidak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Belaian pelan di puncak kepalanya memperlihatkan betapa ia sangat menyayangi anaknya ini. Hanya Riana, orang tua tunggal bagi Kaila. Sang ayah tidak pernah hadir dalam hidupnya.


“Maafkan mamah sayang..” Gumamnya seraya mendaratkan kecupan singkat didahi lebar Kaila.


“Ngeuhh, mamah.” Balas Kaila terbangun. “Mamah kenapa belum tidur?” Tanyanya.


“Kaila ingin tahu tentang ayah, mah. Selama ini Kaila tidak pernah bertemu dengannya. Teman-teman di sekolah juga sering bertanya.” Pertanyaan keingintahuan Kaila semakin membuat air mata itu merembes ingin keluar. Riana sudah tidak bisa menahannya dan tumpah ruah memperlihatkan kegelisahan.


“Emm, sayang. Mamah dan ayah sudah tidak bisa tinggal satu rumah lagi. Ayah sibuk bekerja dan lagi kita kan sudah pindah dari Indonesia jadi susah untuk bertemu. Kaila yang sabar yah, nanti pasti ketemu dengan ayah. Bilang saja ayah Kaila ada di Indonesia. Anak mamah tidak boleh menangis lagi. Mamah sayang~ sekali sama Kaila. Nah, sekarang kamu tidur lagi sudah malam. ” Ia kembali menghujani kecupan di kepala anaknya pelan.


“Eung Kaila mengerti. Kalau begitu Kaila tidur lagi.” Ia pun menutup kedua matanya rapat. Bersamaan dengan itu cairan bening tidak berhenti mengalir di pipi Riana. Ia menangis dalam diam. "Ya Allah berikanlah kesabaran pada anak hamba. Semoga Kaila mengerti permasalahan orang tuanya…"


Pagi-pagi sekali YeonJin sudah datang ke kantor. Langkah lebar itu mencapai lantai 9 untuk segera menemui seseorang. Selama itu kepalanya terus dipenuhi rasa bersalah. Mungkin bisa saja ucapannya sudah melukai perasaan seseorang.


“Tunggu!! Ada apa denganku? Kanapa aku seperti ini?” Ia menghentikan langkahnya tepat di depan ruangannya. Pintu kayu jati bercat coklat itu ditatapnya lekat. Ia ragu untuk menemuinya dan masih belum tahu apa yang tengah dirasakannya, kini.


Brakk!!


Tiba-tiba saja pintu dibuka. YeonJin tersentak. Tatapan mereka saling bertubrukan, Riana tidak mengerti melihatnya ada di sana. Dahinya mengerut dalam, “YeonJin-ssi? Sedang apa Anda di sini?” Melihat kilatan matanya YeonJin kembali terkejut. Ia memang harus meminta maaf.


“Riana, aku minta maaf.”


“Untuk?” Riana tidak mengerti.


“Semalam. Aku tidak tahu jika keadaannya seperti itu.” Riana melemparkan senyumnya dan melangkah keluar dari ruangan. YeonJin pun mengikutinya begitu saja.


“Eung, tidak apa-apa. Saya mengerti, jadi tidak usah dipermasalahkan lagi. Kalau begitu saya permisi dulu.” Riana pergi meninggalkannya sendirian. Bola mata kecilnya masih memandangi sosok bergamis itu yang terus menjauh. YeonJin tahu di balik senyum tegar yang diberikan menyimpan jutaan kepedihan.


“Kenapa dia bisa berpisah? Ahh, aku semkain penasaran.” Rasa penasaran itu bisa saja menjerumuskannya pada hal yang tidak disangka-sangka. Banyak kejutan yang akan mendatangi mereka. Kedatangan Riana seperti angin sejuk menyapanya dikala musim panas datang. Ia kagum pada sosoknya yang gigih dalam bekerja.


Di awal pertemuannya beberapa bulan lalu, ia sudah mengaguminya. Ia seperti melihat dirinya di masa lalu. Kegilaannya pada lukisan membuat YeonJin menutup mata. Jika dunia luar tidak akan mendukungnya. Namun, ternyata ia salah. Kini dunia mengakui kemampuannya. Ia terkesan saat Riana menjelaskan mengenai rancangan tersebut. Bak mimpi yang pernah ia harapkan dulu tercapai berkat bantuannya.


“Seperti ada seseorang yang benar-benar memahami hatiku.” Gumamnya dengan bayangan masa lalu menyapa. Orang-orang terdekatnya sering melemparkan ejekan. Jika lukisannya tidak mungkin laku di pasaran. Hanya barang rongsokan yang tidak berguna. Bertahun-tahun ia merilis kerja kerasnya dan akhirnya YeonJin mampu membangun perusahaan sendiri.


Sekarang gilirannya yang tertawa bahagia. Ia meninggalkan masa kelam bersama luka perih yang tidak akan dikenang lagi.


Tanpa disadari ternyata keduanya memiliki perjalanan hidup yang memilukan. Buku itu harus terus tertutup tidak usah dibuka lagi. Jika terpaksa terbuka itu artinya mereka harus siap menerima peristiwa-peristiwa baru.