QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Ibu (Season 2)



Sekembalinya ke rumah, Kaila langsung berlari masuk dan mengurung diri di dalam kamar. Riana yang sudah menidurkan Hyun Sik termenung di depan ruangan putri sulungnya. Pengap dalam dada mengantarkan kepedihan tak tertahankan.


Kedua tangan saling mengepal kala memikirkan satu dalang dari semua ini. Namun, ia tidak bisa menuduh sembarangan tanpa adanya bukti konkret.


Dengan kekesalan yang masih membuncah, Riana berusaha membuat makan malam dan mencari cara untuk menyembuhkan rasa sakit dalam diri Kaila. Ia tidak mau buah hatinya memiliki trauma atas apa yang terjadi.


Tidak terasa jam sudah menunjukan pukul setengah delapan malam. Riana yang sudah selesai dengan semua pekerjaan rumah tangga dan kewajibannya kini tengah menunggu sang suami di meja makan. Sedari tadi ia terus merasa cemas dan khawatir dengan keadaan Kaila yang tidak mau keluar kamar, sebagai seorang ibu, Riana takut terjadi sesuatu padanya.


"Assalamu'alaikum."


Beberapa saat kemudian YeonJin pulang dan memberi salam.


"Wa'alaikumsalam," balas Riana tanpa beranjak dari duduk.


Tidak lama berselang sosok YeonJin pun menampakan diri di ruang makan. Ia mengerutkan kening dalam kala tidak mendapati kedua buah hatinya di sana. Seraya meletakan tas di kursi dan melepaskan jas kerjanya, ia memandangi sang istri yang tengah memendam sesuatu.


Ia pun langsung berjalan mendekat lalu duduk di sebelah Riana dan menggenggam tangannya hangat.


"Yeobo, ada apa?" tanyanya lembut.


Riana menoleh sekilas dan menatap ke depan. Ia bingung sekaligus takut untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Kaila. Karena bagaimana pun Kim YeonSun ayah kandung dari suaminya.


"Bicaralah, jangan menyembunyikan apa pun dariku. Kita sudah berjanji bukan? Aku tidak ingin ada kesalahpahaman lain lagi," ujar YeonJin menyadarkan.


Riana pun menghela napas berat lalu menunduk melihat pegangan tangan sang suami.


"Kaila-"


"Kaila? Ada apa dengan putriku?"


Mendengar kata "putriku" seketika mengantarkan kehangatan dalam dada, seluas senyum pun mengembang dan Riana menoleh membalas tatapan Yeon Jin.


"Putriku, aku senang mendengarnya."


Yeon Jin terkejut mendapati kedua manik sang istri berkaca-kaca dengan air mata mulai menggenang. Ia menautkan kedua alis sadar sudah terjadi sesuatu tidak beres. Ia lalu menariknya pelan ke dalam pelukan.


Elusan YeonJin merobohkan pertahanan Riana mengalirkan bendungan dikedua mata. Ia menangis dalam diam kembali teringat akan masa-masa lalu. Masa di mana ia hanya hidup bersama Kaila melewati semua perjuangan yang tidak mudah.


Sebagai seorang single parent ia harus bekerja keras untuk kebaikan putri kecilnya. Namun, sekarang disaat keadaan sudah baik-baik saja topan kembali datang menejerang. Riana memahmi jika di dalam hidup tidak terlepas dari yang namanya ujian. Tetapi, tanpa adanya persiapan bagaikan terkena pukulan bertubi-tubi membuatnya ketakutan.


Sakit, rasa itu menerjangnya lagi.


"Tidak apa-apa aku ada di sini."


Ucapan hangat Kim YeonJin menyadarkan lagi dan lagi jika kini ia tidak sendirian. Ada bahu lain yang sigap untuk menopang keluh kesalahnya, meskipun ia menyadari tidak ada tempat paling indah untuk melampiaskan semuanya selain berlama-lama bersujud meminta pertolongan pada yang Maha Kuasa.


Namun, Allah menghadirkan Kim YeonJin untuk membagi kesedihan bersama-sama.


Ia pun membalas pelukan itu dan menangis sesenggukan di balik bahunya. YeonJin terus mengelus punggung sang istri menyalurkan kekuatan akan kepedulian, jika Riana sudah tidak sendirian lagi. Hanya dentingan jam yang menemani mereka, setiap detik, menit bahkan jam berlalu dihabiskan bersama tanpa orang lain.


Akhirnya setelah sekian lama, tangisan Riana mereda, YeonJin melepaskan pelukan lalu menangkup kedua pipinya dan menghapus jejak air mata di sana. Lengkungan bulan sabit terpendar di wajah tampan YeonJin melihat betapa rapuh istrinya sekarang.


"Aku minta maaf," lirih Riana.


YeonJin melepaskan ciuman melihat Riana yang tengah menunduk. Ia kembali menangkup pipinya dan mendongakannya pelan hingga tatapan mereka kembali bertemu.


"Minta maaf untuk apa?" tanya YeonJin lembut.


"Sepertinya aku harus bertemu dengan appa."


YeonJin tercengang mendengar jawaban Riana.


"Kenapa kamu mau bertemu dengan appa? Apa terjadi sesuatu?"


Tatapan Riana berubah, sorot mata tegas terlihat mengancam. Seperti induk singa yang terusik ketenangannya akibat sang anak diganggu, kekesalan dan emosi menumpuk di sana.


"Apa-"


"Sepertinya appa bertemu dengan Kaila. Aku melihatnya menangis tadi siang dan Kaila mengatakan ingin pulang ke Indonesia dan bertemu ayah kandungnya. Entahlah mungkin firasat seorang ibu, aku memikirkan beliau. Aku sakit melihatnya seperti itu. Aku merasa sudah gagal menjadi seorang ibu."


YeonJin pun merengkuh sang istri lagi dan berkali-kali mengecup puncak kepalanya menyalurkan kekuatan.


"Tidak seperti itu, kamu ibu dan istri yang terbaik. Masalah ini biar aku yang selesaikan."


Secepat kilat Riana menarik diri dan menggelengkan kepala tegas.


"Tidak, aku yang akan menyelesaikannya."


Setelah mengetakan itu Riana pun beranjak dari sana menyisakan keheningan, YeonJin mengerti istrinya butuh waktu sendiri. Ia menghela napas kasar lalu bergumam, "ya Allah kenapa bertambah runyam? Tapi hamba percaya Engkau tengah mencintai kami sedalam-dalamnya."


...***...


Riana kembali mengetuk pintu sang putri berharap Kaila mau membukanya. Namun, sampai sekarang tidak ada pergerakan dari dalam. Ia lalu mencoba membukanya dan pintu pun tidak terkunci, ruangan di dalam gelap gulita. Hanya bermodalkan sinar bulan Riana bisa melihat Kaila tengah meringuk di atas kasur.


Ia berjalan masuk dan menyalakan lampu meja, seketika cahaya remang menyoroti wajah sembab Kaila. Hati seorang ibu pecah melihat kedua mata buah hatinya membengkak nan merah. Ia berjongkok tepat di depannya seraya mengulurkan tangan mengelus pelan puncak kepala Kaila.


Air mata tidak bisa dibendung dan kembali tumpah ruah mengalir di pipi.


"Kaila, Sayang..... Mamah minta maaf, Nak. Dari dulu sampai sekarang Mamah menyakitimu-" Riana menahan napas berusaha meredakan isak tangis. "Mamah sangat menyayangimu, apa pun akan dilakukan untuk kebahagiaanmu. Mamah akan berjuang meskipun harus melakukan hal yang salah."


Bisikan itu terdengar memilukan untuk YeonJin yang tengah bersembunyi di balik tembok kamar sang putri. Ia tahu sangat besar pengorbanan dan perjuangan seorang ibu untuk kebaikan buah hatinya. Ia hanya akan mendukung Riana dari belakang dan melindunginya.


Seketika kedua tangan mengepal kuat lalu sedetik kemudian ia pergi dari sana dan menghubungi seseorang.


Malam itu Riana pun tidur di kamar Kaila dengan memeluk tubuhnya erat. Ia memandangi wajah cantik malaikat kecilnya yang kini tumbuh dengan baik. Senyum lemah hadir menemani kesendirian, seraya mengelus puncak kepalanya kata maaf tidak pernah putus dari celah bibir kemerahan Riana.


"Mamah sangat menyayangimu," lirihnya.


Sudah banyak air mata serta luka yang ia lewati bersama Kaila. Kesedihan dan kesusahan mereka tanggung, meskipun dulu tanpa kehadiran sosok suami dan ayah keduanya bisa bertahan dari ganasnya ujian dunia.


Sampai Allah memberikan kebahgaiaan tanpa terkira. Riana yakin jika saat ini dirinya berjuang lagi maka kebaikan itu pun akan kembali timbul.