QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 43



...Kehampaan menyapa mengundang perasaan untuk saling mempersatukan....


.......


Sedari tadi YeonJin masih betah berada di depan gedung apartemen wanita itu. Satu persatu orang-orang hilir mudik menatapnya aneh. Mereka menggelengkan kepala tat kala melihat senyum "bodoh" sang CEO. Mana ada yang mau rela berdiri di sana seraya menengadah ke atas dengan sebuket bunga mawar, bukan? Namun, itulah yang saat ini tengah ia lakukan.


YeonJin tidak peduli dengan orang lain. Ini caranya menunjukan keseriusan untuk mendapatkan hati belahan jiwanya.


“Aku harus bisa meyakinkan Riana. Kamu pasti bisa!” gumamnya menyemangati diri sendiri.


Tidak lama berselang bus sekolah yang mengantar jemput Kaila berhenti tepat di depannya. Gadis kecil itu pun keluar lalu mengerutkan dahi heran. Seakan kenal dengan siluetnya ia berlarian mendekat.


“Appa.” Panggilnya seraya melebarkan senyum.


“Kaila.”


“Sedang apa appa di sini? Mau menemui mamah?” tanyanya heran.


YeonJin melengkungkan sudut bibirnya. Kaila memang paling mengerti. “Lebih baik Kaila masuk saja. Di sini udaranya dingin. Pasti eomma sedang menunggumu. Ayo masuk.”


Tanpa menolak Kaila pun mengangguk lalu melangkahkan kaki meninggalkannya. Berkali-kali kepala bermahkotakan surai hitam itu menoleh ke belakang. YeonJin melambaikan tangan dengan tersenyum lebar kembali tidak peduli apa yang dipikirkannya.


“Aneh, kenapa appa diam di sana?” gumam Kaila.


Beberapa saat kemudian, ia pun tiba di apartemen. Setelah mengucapkan salam ia mendekati sang ibu yang tengah menggelar kertas besar di lantai dengan beberapa peralatan lainnya. Kedua alisnya saling berpautan heran melihat barang berceceran di mana-mana.


“Mah, Kaila melihat YeonJin appa di bawah. Tapi aneh loh mah, appa terus diam di sana. Dan lagi appa membawa sebuket bunga. Apa itu akan diberikan kepada seseorang?” Ungkapnya seraya duduk di samping sang ibu.


Riana yang tengah fokus dengan pekerjaannya langsung menoleh. Netra jelaganya terbelalak lebar tidak percaya.


“Jinjja?”


Tanpa ragu Kaila mengangguk yakin. Riana kembali melepaskan kontak mata dengannya.


"Apa dari tadi YeonJin di sana? Aku jadi teringat ucapannya tadi "Aku akan menunggu sampai kamu mau bertemu denganku." Dan setelah mengatakan itu YeonJin-ssi pergi. Tidakku sangka ternyata dia ada di bawah? Ya Allah," benaknya berkecambuk.


“A-ahh mungkin YeonJin appa sedang menunggu seseorang. Lebih baik sekarang Kaila makan dan tidak usah memikirkannya lagi."


“Baiklah.”


Dalam diam Riana memikirkan tentang keberadaan sosok pria itu.


...***...


Jam terus berputar seperti biasa. Langit yang semula biru cerah perlahan mulai menggelap. Angin terus berhembus kencang tanpa ia duga. Sedetik kemudian awan hitam bergulung-gulung menandakan sebentar lagi turun hujan. Orang-orang berlarian memasuki gedung untuk menghindarinya.


Namun, apa yang ia lakukan? YeonJin masih betah berdiri di sana menunggu seseorang keluar.


Plarr!! Byurr!!


Bersama pertir yang menggelegar, tetesan air dari langit pun turun dengan cepat. Sepersekian detik tanah yang gerasang langsung basah seketika. Suara guntur saling bersahutan dengan angin berhembus kencang. Tetes demi tetes air itu membasahi tubuh tegapnya. Ia tidak peduli berapa banyak air mengguyur dirinya.


“Riana aku mohon keluarlah. Aku benar-benar mencintaimu!” Ucapnya lantang. Namun, sayang suara alam meredamkannya.


Di lantai atas Riana dirundung gelisah. Ia memikirkan perkataan Kaila saat melihat YeonJin di bawah. Ia mengabaikan pekerjaannya dan terus mondar-mandiri di sana. Beruntung Kaila tengah belajar di kamar. Gadis kecil itu tidak tahu apa yang tengah dicemaskan sang ibu.


“Aku yakian YeonJin-ssi tidak sebodoh itu, kan?” Gumamnya lalu berjalan ke arah jendela. Kepala berhijab hitam itu secara perlahan melihat ke bawah. Betapa terkejutnya ia saat menangkap seseorang di sana.


“Dia benar-benar sudah gila. Apa yang dipikirkannya?” Kesalnya seraya membawa ponsel yang tergeletak di atas meja.


Tidak lama berselang orang di bawah menjawab panggilannya.


“Saya mohon Anda pulang sekarang. Apa yang Anda lakukan? Cepat pulang sana, jika terjadi apa-apa saya tidak bertanggung jawab.”


Riana pun langsung mengakhiri panggilannya. Napasnya naik turun dengan emosi yang membuncah. Bukan kemarahan yang ia rasakan. Meliankan hal lain.


“Ahh masa bodoh. Itu bukan urusanku,” gertaknya.


Sedangkan pria itu tersenyum saat mendengar nada kekesalan yang dilayangkan Riana. Ia tidak mempedulikan benda pipihnya kebahasahan.


Kehangatan menyapa hati terdalamnya.


...***...


Pagi yang kelam menyambut harinya kali ini. Berkendara di jalanan dengan pakaian basah membuat tubuhnya meriang. Setibanya di rumah ia langsung masuk ke dalam tanpa memperhatikan sekitar. Jika saja ia menoleh ke samping kanan pasti dirinya mendapati mobil merah itu terparkir di sana.


Krekkk!!


Ia menggeser pintu kayu tersebut. Wajah pucatnya menyembul membuat seseorang yang tengah berdiri seraya melipat tangan di depan dada menggelegkan kepala.


“Dari mana saja hyung? Kenapa basah kuyup?”


Suara khas itu membuatnya mendongkak.


“Jimin? Sedang apa kamu di sini?”


“Kemarin hyung tidak masuk kerja. Aku khawatir jadi memutuskan datang ke sini. Dan hyung belum menjawab pertanyaanku tadi.”


“Sudahlah aku tidak mau mengatakannya padamu. Aku mandi dulu.” Ujarnya seraya meninggalkan sekertarisnya begitu saja.


“Apa ini ada hubungannya dengan Riana?” gumam Jimin melihat kepergiannya.


Di dalam kamar mandi itu YeonJin melihat pantulan dirinya dalam cermin. Wajah pucat dengan mata panda meredupkan ketampanannya. Ia tidak tahu apa yang sudah dilakukannya sampai rela kehujanan menunggu wanita itu.


“Kamu lihat Riana? Aku sangat mencintaimu,” ucapnya menahan kepedihan.


2 jam kemudian, YeonJin dan Jimin sudah tiba di perusahaan. Senyum yang ia terbitkan menyembunyikan keresahan. Menyimpan perasaan dengan topeng kebahagiaan. Berharap semuanya baik-baik saja tanpa melibatkan hati. Kini ia tengah berada diwaktu bekerjanya.


“Hachimmm..”


Suara bersin yang menggelegar itu membuat Jimin terkejut. Buru-buru ia pun membawakanya tissue.


“Pasti hyung sudah hujan-hujanan, kan? Aku tahu dari dulu hyung tidak tahan dengan air hujan. Ya ampun apa yang hyung pikirkan sampai seperti ini? Lebih baik sekarang kita ke rumah sakit.”


Tingkah overthinking Choi Jimin muncul. Sebagai seseorang yang sangat dekat dengannya, Jimin mengkhawatirkan keadaan YeonJin sekarang.


“Tidak usah, tidak perlu. Kamu jangan berlebihan, aku baik-baik saja,” tolaknya. YeonJin pun masuk ke dalam ruangan siap menandatangani kertas yang menumpuk di mejanya.


“Baiklah terselah hyung saja. Kalau ada apa-apa aku tidak mau tahu.”


Itulah Jimin, pria 29 tahun ini sangat mempedulikan atasan sekaligus sahabatnya.


Sepeninggalannya, YeonJin melamun seraya menyandarkan bahu tegap itu di kursi kebesaran. Kepalanya menengadah ke atas memikrikan apa yang terjadi.


“Sampai seperti ini aku mencoba untuk meyakinkan Riana. Apa dia sudah sadar jika perasaanku tidak main-main? Ya Allah bantulah hamba.”


Racaunya dalam kesendirian. Tanpa ia sadari Jimin menguping ucapannya di balik pintu.


"Sudah aku duga, pasti ada hubungannya dengan Riana," batinnya yakin.


...***...


Jam menunjukan waktunya makan siang. Sebelum mengisi perutnya, YeonJin menyempatkan diri untuk melaksanakan kewajibannya. Ia tahu tidak mungkin Jimin masuk ke dalam ruangannya dijam-jam seperti itu.


“Dia pasti sibuk makan bersama wanita idamannya,” ucapnya yakin.


Ia pun menggelar sejadah menghadap langsung jendela besar itu. Keindahan ibu kota yang terlihat di sana seketika membuatnya sejuk.


“MasyaAllah indahnya. Aku tidak tahu Seoul secantik ini.” Setelah mengatakan itu ia melaksanakan salat dzuhur.


Namun, sayang pikirannya tentang Jimin salah. Pria itu saat ini tengah berjalan di lorong seraya tersenyum lebar.


Brakk!!


“Hyung ayo makan. Aku sud-” perkataannya berhenti cepat ketika melihat sang kakak tengah melakukan gerakan-gerakan yang tidak ia mengerti.


"Hyung sedang apa?" batinnya bingung. Namun, ia merasa seolah tidak asing lagi melihat itu.