
...Aku mencintainya, tapi semua sudah berakhir. Namun, do’a ini tidak pernah putus dipanjatkan. Sampai Allah memberikan yang terbaik....
.......
Hampir satu jam lamanya Riana diambang kebimbangan. Ia kembali keluar setelah berdebat dengan pihak medis dan menyerah untuk kebaikan pria itu. Di luar ruangan ia terus berjalan mondar-mandir merasa gelisah dengan keadaan.
Bibir ranumnya berkomat-kamit memanjatkan do’a untuk kebaikan Kim YeonJin.
“Ya Allah hamba mohon berikanlah yang terbaik. Hamba percaya dengan rencana indah-Mu. Hamba yakin di balik badai pasti ada senja setelahnya. Ya Allah hamba mohon sembuhkanlah Kim YeonJin,” gumamnya.
Tidak lama kemudian pintu di depannya terbuka. Buru-buru Riana pun mendekati pria berjas putih itu.
“Bagaimana keadaannya, dok? Ki-Kim YeonJin-ssi baik-baik saja, kan? Nyawanya tertolongkan, dok?” tanyanya menggebu.
Dokter bername tag Lee Yuhan itu menyunggingkan senyum lembut. “Syukurlah, nyawanya bisa tertolong. Jantungnya sempat berhenti berdetak tadi, tapi semuanya baik-baik saja. Kita hanya tinggal menunggu beliau sadar. Kalau begitu saya permisi dulu,” jelasnya.
“Alhamdulillah, terima kasih banyak dokter.” Sang dokter mengangguk singkat dan melangkah pergi dari hadapannya.
Bergegas Riana pun masuk kembali ke ruangan.
Di sana ia melihat YeonJin masih terbaring tidak berdaya. Ia merasa berat untuk melangkahkan kakinya. Air mata terus mengalir seraya tatapan itu mengunci padanya. Tanpa ada kata yang terucap Riana mendudukan dirinya di kursi samping ranjang.
Ia pun membawa ponsel di saku gamisnya lalu membuka aplikasi Al-Qur’an dan membacakan ayat-ayat suci itu untuk YeonJin.
Suara lembutnya mengalun dan bergema di ruangan. Disertai dengan isakan lembut, Riana berharap YeonJin bisa segera membuka mata.
"Aku tidak menyangka kamu bisa seperti ini. Ya Allah berikanlah kebaikan pada kami," batinnya.
Langkah kaki di luar rungan sama sekali tidak terdengar. Seorang pria dan gadis kecil mendengar suara merdunya. Jimin, mengerutkan dahi tidak tahu apa yang tengah wanita itu senandungkan. Ini pertama kalinya ia mendengar suara tersebut.
Tidak lama kemudian mereka pun tiba di ruang inap itu.
“Mamah.”
Panggilan halus dari sang putri membuyarkannya. Riana menoleh ke belakang melihat Kaila berjalan mendekatinya.
“A-appa. Ye-YeonJin appa kenapa, mah? Kenapa appa tidak bangun?” tanyanya. Bola mata besar itu menahan kesedihan.
Riana pun beranjak dari kursi dan berjongkok di hadapannya.
“Sayang, YeonJin appa tidak apa-apa. Appa sedang tidur nanti juga bangun. Mamah harap Kaila mendo’akan yang terbaik untuk appa, yah.”
Tanpa mengatakan sepatah kata pun Kaila menganggukan kepalanya. Jimin pun menggendongnya lalu mendudukannya di tepi ranjang. Tangan mungil Kaila terulur membawa tangan tegap sang ayah angkat.
“Appa ini Kaila. Kenapa appa seperti ini? Bangun appa. Kaila rindu senyuman appa. Kaila ingin selamanya bersama YeonJin appa. Ya Allah sembuhkanlah appa.”
Suara kecilnya menghujam perasaan Riana. Ia tidak bisa menahan air matanya dan memutuskan untuk keluar. Jimin yang melihat itu pun mengikutinya.
Di sana ia melihat Riana menangis. Ia pun menyunggingkan senyum sekilas lalu duduk di sampingnya begitu saja.
“Aku tidak tahu perasaanmu seperti apa. Yang jelas perasaan hyung terhadapmu sangatlah besar. Pagi tadi aku membereskan barang-barangnya. Karena rumah itu sudah diambil alih,” jelasnya kemudian.
Seketika Riana menghentikan tangisan. Ia jadi teringat tentang perkataan Jimin tadi pagi. YeonJin rela kehilangan semua harta untuk bisa bersamanya.
“Tapi meskipun begitu kita tidak mungkin bersama. Kamu tahu perbedaan di antara aku dan dia sangatlah besar,” tuturnya menyesal.
Lagi-lagi kedua sudut bibir Jimin melengkung seketika.
“Kamu salah Riana, justru karena perbedaan itulah kalian bisa bersama. Kamu tidak usah khwatir, hyung sudah menjadi seorang muslim sekarang."
Tentu saja ucapan Jimin tadi mengejutkannya. Bagaimana bisa YeonJin sudah berubah? Bahkan ia belum pernah melihatnya bertanya atau pun tertarik dengan kepercayaannya.
“Sebelum kecelakaan terjadi, aku melihat hyung melakukan gerakan-gerakan sepertimu. Sshh, kalau tidak salah namanya salat bukan? Yah, aku melihatnya waktu itu, meskipun hyung belum mengatakannya. Atau mungkin dia memang sengaja menyembunyikan hal itu.”
Perkataan Jimin seketika membungkam mulut ranum Riana. Ia menunduk dalam melihat lantai di bawahnya tidak percaya. Benarkah YeonJin sudah menjadi muslim? Pikirnya.
“Kamu juga berhak bahagia. Awalnya aku tidak setuju hyung menyukaimu. Tapi setelah aku perhatikan ternyata cintanya padamu begitu besar. Mana mungkin aku bisa mencegah kebahagiaan orang lain. Terlebih dia hyungku sendiri,” lanjut Jimin meracau.
Riana semakin dirundung gelisah. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sesuatu dalam dirinya mencoba untuk mencuat kepermukaan. Bongkahan es yang membelenggu hatinya perlahan mencair. Kepedihan sedikit demi sedikit mulai menghilang.
Namun, bisakah ia bersamanya?
Hal tersebut masih menjadi keraguan dalam dirinya.
...***...
Malam datang dengan cepat. Riana dan Kaila pun sudah kembali ke apartemen. Sedari kepulangannya dari rumah sakit, Kaila selalu murung. Hal itu tentu saja membuat Riana khawatir. Ia takut terjadi sesuatu pada putrinya.
“Kaila, Sayang. Kamu kenapa, Nak?” Ucapnya mendekati sang anak yang tengah duduk di sofa.
“Kaila tidak mau melihat YeonJin appa sakit,” jujurnya. Air mata itu mengalir di kedua pipi bulat Kaila. Riana melebarkan matanya tidak percaya.
“Kaila sangat menyayangi YeonJin appa yah?”
Berkali-kali kepala bersurai hitam lembut itu mengangguk.
“Kaila ingin bersama YeonJin appa. Kaila harap appa segera bangun dan bisa bermain bersama lagi.”
Riana terdiam mencerna baik-baik ucapannya. Hingga, “Sayang, kalau boleh memilih antara YeonJin appa dan Arsyid appa, siapa yang Kaila pilih?”
Entah kenapa ia mempertanyakan hal tersebut. Riana hanya ingin kebahagiaan untuk anaknya.
“Tentu saja Kaila akan memilih YeonJin appa,” balasnya tanpa gentar sedikit pun.
“Wae?”
“Karena selama ini yang menemani Kaila adalah YeonJin appa. Appa juga yang memberikan kasih sayang seorang ayah untuk Kaila."
“Meskipun YeonJin appa bukan ayah kandung Kaila?”
Gadis kecil itu kembali mengangguk. Keheningan menayapa. Riana tidak tahu harus berkata apa lagi. Kasih sayang yang dimiliki Kaila untuk YeonJin sangatlah besar.
“Selama ini Kaila tahu kalau mamah menyembunyikan kesedihan. Itu karena Arsyid appa, kan? Meskipun menyembunyikannya, Kaila tahu kesakitan yang mamah rasakan. Setiap Kaila bertanya tentang appa mamah pasti sulit mengatakannya. Mianhae, Kaila belum mengerti saat itu. Tapi sekarang Kaila tahu apa yang terbaik untuk mamah. Kaila harap mamh bahagia, meskipun bukan bersama Arsyid appa.”
Deg!!
Degup jantung Riana bertalu cepat. Ia tidak percaya Kaila bisa berkata seperti tadi. Putrinya ini terlihat dewasa diumurnya yang sekarang. Rasa bersalah semakin menjadi. Namun, ia melakukan semua itu untuk kebaikannya juga.
Riana membawa tubuh mungilnya ke dalam pelukan. Ia menangis sejadi-jadinya, bahagia bisa mendapatkan putri semandiri dan sebaik Kaila.
“Suatu saat nanti Kaila pasti mengerti kenapa mamah selalu menyembunyikan keberadaan Arsyid appa. Gomawo untuk tidak memaksa mamah bersamanya lagi. Gomawo.”
Tidak henti-hentinya ia berterima kasih pada sang putri.
Jika saja Kaila memintanya untuk kembali bersama Arsyid mungkin malam itu waktu berhenti dalam hidupnya. Mana bisa Riana bersama lagi dengan seseorang yang sudah menorehkan luka menganga dalam kehidupannya. Surga yang pernah ia impikan bersama pria itu nyatanya berubah menjadi neraka. Sudah cukup, ia juga berhak bahagia.
Bersama pria yang bisa membawanya menuju Jannah-Nya. Dan juga melupakan kenangan menyakitkan itu.