
Angin berbisik lirih jika sejatinya besok menyimpan sejuta misteri yang tidak ada habisnya untuk diceritakan. Kehidupan akan terus berjalan sebagaimana Tuhan masih memberikan napas, melanjutkan yang biasa di jalani atau berubah menjadi lebih baik, tergantung masing-masing.
Seperti dalam surah Ghafir ayat 39 yang artinya : "Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal."
Hidup di dunia bagaikan persingghan sementara, menunggu sampai kapan waktu menyuruh kembali berpulang. Selagi masih ada kesempatan teruslah berusaha mencapai kebaikan hingga nanti bertemu dengan Allah dengan senyum kebahagiaan.
Ketika masih ada napas di kerongkongan, ujian akan terus berdatangan. Allah menyuguhkannya untuk melihat siapa yang bertahan dan menyerah. Bertahan artinya menunggu balasan kebaikan dari Allah dan menyerah mengandung arti kalah.
Berjuang untuk mencapai kemaslahatan patut dilakukan, seorang ibu akan menunjukan jati dirinya kala sang buah hati diusik. Riana, bentuk nyata dari wanita pejuang demi kebaikan Kaila, putri yang selama ini dirawatnya dengan sangat baik.
Perjalanan yang ia tempuh membutuhkan waktu kurang lebih dua jam lamanya. Suasana sekitar pun berubah dari keramaian menjadi hening, dengan bermodalkan alamat dalam ponsel ia mendatangi tempat tersebut.
Tidak lama berselang taksi yang ditumpanginya berhenti tepat di depan gudang kosong. Ia keluar dari sana dan berjalan tanpa gentar masuk ke dalam. Debu bertebaran menyambut kedatangannya, sarang laba-laba menghiasi tempat tersebut memberikan kesan kelam.
Beberapa orang yang berjaga disekitar menghadang Riana untuk melangkah ke salah satu ruangan di sana.
"Minggir, saya perlu pria tua itu dan tidak ingin berurusan dengan kalian."
Ketegasan dalam manik kecoklatannya menggetarkan para pria berjas hitam yang ragu mempersilakan Riana masuk, sampai suara dari dalam bergema membuat mereka membuka barisan memberikan akses untuknya.
Tanpa basa basi Riana melangkahkan kaki masuk. Di dalam pria paruh baya itu pun sudah menunggu kedatangannya seraya menautkan kedua tangan di atas meja. Senyum mengembang kala manik mereka saling pandang.
"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi secepat ini."
Suara serak menendang indera pendengaran, Riana menatapnya nyalang dengan dada naik turun.
"Silakan duduk, bagaimana mungkin aku mengabaikan menantuku sendiri."
Riana mendengus lalu mendudukan diri tepat di depannya.
"Saya tidak akan basa-basi, Kim YeonSun-ssi, apa maksud Anda menyebarkan jika ayah Kaila berada di penjara kepada teman-temannya?"
Tawa ringan pun tercetus, Kim YeonSun menyeringai melihat keseriusan dan ketegasan dikedua iris kecoklatan Riana.
"Apa itu salah? Aku tidak berbohong atau menyebarkan rumor yang tidak-tidak. Itu fakta yang tidak bisa terelakan."
"Apa maksud Anda mendatangi sekolah Kaila dan melakukan itu semua?" tanya Riana lagi.
"Saya hanya tidak terima jika Kim YeonJin mengasuh anak dari pria lain. Anak yang dulu saya bangga-banggakan, kenapa buruk sekali dengan seleranya? Apa di dunia ini tidak ada wanita lain?" jawabnya dengan suara yang semakin pelan dan pelan.
Riana masih mendengar kata-kata menyakitkan tersebut, ia tahu jika saat ini sang mertua tengah menyindirnya. Dalam kehidupan rumah tangga tidak selamanya berjalan mulus, selalu akan badai menerpa di depan sana kala perahu lepas landas di lautan.
Ujian tersebut datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Kehadiran mertua yang tidak pernah terendus memberikan cobaan tak tanggung-tanggung. Kedatangannya bagaikan matamorgana dengan ujian yang tidak pernah diharapkan.
"Apa salah saya sebagai seorang single parent? Saya hanya ingin memperjuangkan kebaikan untuk Kaila dan berusaha mencegah hal buruk terjadi padanya. Saya ingin memberikan yang terbaik tanpa menyakitinya sedikitpun, tapi kenapa Anda melakukan ini semua? Ap-"
Pertanyaan yang memotong perkataannya membuat hazelnut Riana melebar. Ia tidak percaya diberikan pilihan yang belum pernah diterimanya.
"Saya akan memilih keduanya."
"Egois sekali, mana bisa. Kaila dan YeonJin tidak ada hubungan darah apa pun, kamu tidak bisa memilih keduanya. Kamu merupakan beban untuk anak saya. Jika saya menyebarkan fakta jika Kim YeonJin pelukis sekaligus pemilik gallery art collection menikahi seorang janda, apa yang kira-kira terjadi nanti? Perkataan netizen pasti berdatangan, tidak sedikit dari pembenci YeonJin yang bertepuk tangan atas kekalahannya. Terlebih manatanmu berada di dalam penjara, bukankah itu memberikan pukulan untuk Kim YeonJin? Pandangan orang tidak akan sama, mereka mempunyai opini masing-masing untuk apa yang terjadi, terlebih topik menyangkut seseorang yang berpengaruh, begitu minat untuk dibahas. Apa kamu mengeri maksud saya?"
Kata-kata Kim YeonSun berdengung, berkeliaran dalam ingatan. Riana terdiam memandang lurus ke depan dengan ucapan sang mertua menyadarkannya. Selama ini ia tidak pernah memikirkan apa pandangan orang tentang dirinya. Namun, tidak jika menyangkut Kim YeonJin dan kedua buah hatinya. Ia berusaha sekuat tenaga memberikan yang terbaik.
Pernikahan mereka sudah berjalan dua tahun, selama itu pula tidak ada rumor ataupun gosip yang menyangkut hubungan tersebut. Riana sadar jika rumah tangganya bersama YeonJin tidak pernah dipublikasikan di media masa, media sosial ataupun dalam layar televisi.
Kim YeonJin tidak menginginkan hal tersebut. Karena baginya mempublikasi sama saja seperti memberikan santapan bagi lawan untuk saling menjatuhkan. Ia cukup nyaman dengan kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk media sosial.
"Apa jadinya jika pernikahan kami tersiar di dalamnya? Apa yang akan terjadi?" benak Riana.
Melihat menantunya terdiam, YeonSun melebarkan kembali senyum dan mencondongkan tubuh ke depan. Meja berbentuk segipanjang itu menjadi penghalang bagi mereka, kemenangan seolah sudah di depan mata mengantarkan kesenangan dalam dada.
"Jadi, kamu harus bisa memilih. Kaila atau Kim YeonJin."
Bola mata Riana kembali bergulir memandangi pria paruh baya tersebut. Ada makna tersirat yang tertangkap, seketika kedua tangannya mengepal kala paham keinginan terpendam sang ayah mertua.
...***...
Suara tawa bergema di dalam restoran halal tersebut, Jimin yang tengah menikmati makanan tidak percaya mendengar cerita Kaila. Ia bangga dan juga tercengang jika gadis kecil itu berkelahi dengan seorang laki-laki.
Makan malam mereka kini diwarnai canda tawa membuat Kaila tersenyum lebar.
"Paman bangga kamu bisa menghajar anak laki-laki itu. Kaila-" Ia menjeda ucapannya dengan memasaukan sepotong bibimbab ke dalam mulut. "Jika ada teman-teman yang menjahilimu atau menuduh yang tidak-tidak hajar saja jangan beri ampun. Seorang wanita juga harus melawan jika diusik."
"Paman Jimin benar, aku tidak suka mereka. Terlebih Baek Hyeon, Aeri, Byeol dan Ahin. Mereka selalu memandang remeh padaku, ugh, aku sangat membencinya."
Kaila terus berceloteh seraya terus menerus memasukan makanan ke dalam mulut. Hal tersebut mengundang senyum di wajah cantik Jasmin. Ia bangga terhadap pertahanan dan juga perlawanan yang diberikan.
"Jangan sampai mereka membiarkanmu, jika perlu lawan saja. Tidak peduli mereka laki-laki atau perempuan, keadilan harus ditegakan."
Jimin mengacungkan tangan kanan yang tengah mengapit sumpit dengan wajah tegas meyakinkan. Jasmin dan Kaila memandanginya dan tertawa bersama.
"Kamu lucu juga."
Suara hangat menyadarkan Jimin, maniknya bergulir memandangi Jasmin yang tengah menutupi wajah tertawanya. Seketika degup jantung kembali berpacu kencang membuat ia canggung dan perlahan menurunkan tangannya.
"Ah, mana mungkin aku bisa melupakannya jika cinta ini malah berkembang semakin besar," benaknya.
Perasaan hangat pun begitu kental terasa di sana.