
Saat genggaman terbuka yang terlihat hanyalah kekosongan, tidak ada apa pun yang tersisa dan hanya kehampaan terasa. Tidak ada yang abadi di dunia ini, tetapi selagi masih ada, peluk ia dengan erat sampai waktunya habis. Cinta terkadang mengandung pengorbanan yang tidak masuk akal. Apa pun akan dilakukan untuk mempertahankan jalinan kisah yang tengah terajut.
Begitulah yang kini tengah dilakukan Riana, sebagai seorang ibu dan istri ia tidak akan membiarkan siapa pun mengusik ketenangan keluarga kecilnya, termasuk sang mertua. Ia sudah mengalami kegagalan dalam berumah tangga dan untuk kembali membuka hati bukan perkara mudah dilakukan. Namun, dengan kegigihan Kim YeonJin mampu meruntuhkan pertahanan tersebut, hingga pada akhirnya Riana bisa menikah untuk kedua kalinya.
Kebahagiaan, kasih sayang, cinta yang diberikan sang suami sudah sangat cukup untuk mengobati trauma masa lalu. Bukan hanya batin, tapi juga fisik. Ia yang pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga menghilangkan rasa tidak percaya akan adanya cinta kedua. Tetapi, Kim YeonJin lagi-lagi bisa menyakinkannya. Sampai mereka pun memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius dan pada akhirnya Kim Hyun Sik hadir di tengah-tengah mereka.
Kehidupan yang semula baik-baik saja kini di datangi oleh pihak ketiga. Mertua yang keberadaannya tidak pernah diketahui hadir memberikan duri dalam keluarga. Terkadang Allah memang menguji setiap hamba dari orang terdekat. Entah itu ayah, ibu, mertua, kakak, adik, saudara atau siapa pun yang berpotensi menjadi objek cobaan yang Allah hadirkan.
Riana termenung di dalam mobil yang tengah melaju di jalanan. Udara dingin berhembus mengenyahkan kegelisahan. Bola matanya pun bergulir ke depan di mana sang suami tengah menyetir dengan serius. Ketegasan masih setia menempati wajah tampannya. Ia tahu kini sudah melakukan kesalahan, yaitu menyembunyikan rahasia dari Kim YeonJin lagi. Berkali-kali ia menghela napas dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan terjadi.
Beberapa saat kemudian mobil pun masuk ke pekarangan rumah, Riana keluar lebih dahulu memberikan kesempatan pada YeonJin dan Jimin untuk berbincang singkat. Kedua pria itu pun masih berada di dalam kendaraan roda empat melihat sosok Riana menghilang dalam pandangan.
"Jadi, apa yang akan Hyung lakukan sekarang?" tanya Jimin kemudian.
YeonJin sekilas menatap padanya dan kembali ke depan. "Seperti yang kamu pikirkan, aku tidak akan pernah melepaskan siapa pun. Aku akan mempertahankan keluarga ini."
"Termasuk membiarkan tuan Kim YeonSun mengambil alih gedung gallery?" Pertanyaan itu seketika membungkam mulut YeonJin rapat.
"Jika itu yang terbaik aku bisa merelakan apa pun untuk tetap bersama mereka. Pergilah, jemput Kaila pulang."
Setelah mengatakan itu YeonJin keluar dan menyisakan sejuta kebimbangan dalam diri Jimin. Iris coklatnya mengikuti ke mana sang kakak pergi, ia pun memiringkan kepala dengan berbagai kemelut memenuhinya. Ia percaya jika cinta yang dimiliki Kim YeonJin untuk Riana sangat besar.
"Aku harap juga bisa mendapatkan cinta seperti mereka." Gumamnya lalu beralih ke kursi kemudi dan pergi dari sana.
...***...
YeonJin terkejut kala mendapati sang istri di depan pintu, wajah cemas bercampur takut menjadi satu. Ia pun lalu berbalik menutup kembali pintu dan dengan cepat memeluk erat tubuh mungil sang istri. Riana tenggelam dalam kungkungan suaminya. Ia tidak diberi kesempatan untuk terkejut kala perlakuan hangat melunturkan kegelisahan.
"Syukurlah, Alhamdulillah, terima kasih banyak."
YeonJin melonggarkan pelukan dan memandangi manik bulan Riana. Senyum pun mengembang menambah ketampanan mengantarkan getaran dalam diri wanitanya. Ia lalu mendekatkan dahi keduanya hingga binar yang terpancar dalam manik masing-masing terlihat jelas. Gambaran wajah mereka pun terlukis apik dalam retina sang pasangan.
Keinginan yang kuat pun mengantarkan penyatuan. Kedua tangan Riana terulur dan mengalung di leher jenjang sang suami, jari jemarinya saling berpautan merasakan euforia menghantam diri. Begitu pula dengan YeonJin yang kembali merengkuh erat pinggang ramping pujaan hatinya. Mereka terlena untuk beberapa saat dan melupakan kejadian yang baru saja menimpa.
Di kala pasokan oksigen keduanya menipis, Riana lebih dulu mendorong dada bidang YeonJin hingga pautan mereka pun terlepas. Lengkungan bulan sabit serta rona merah menghiasi wajah keduanya. Kepelikan yang terjadi menguap bersama kebahagiaan dalam dada. YeonJin lalu menarik sang istri menuju sofa terdekat. Riana pun duduk di pangkuan sang suami seraya kembali berpangku pada lehernya.
YeonJin mendongak meniti setiap lekukan wajah cantik jantung hatinya. Kebahgaiaan semakin melimpah ruah kala perkataan Riana pada sang ayah kembali berputar dalam ingatan. Ia pun betah memeluk erat tubuh istrinya seraya menghirup aroma vanilla yang menguar memenuhi iendera penciuman. Cinta dalam diri pasangan suami istri tersebut tengah bergelora dan kesenangan menari indah dalam perasaan.
"Terima kasih untuk tidak meninggalkanku, Sayang. Aku sangat sangat mencintaimu," ungkap YeonJin kemudian.
Riana pun mengerti ke mana arah pembicaraan tersebut. Ia yakin suaminya mendengar apa yang dikatakan pada Kim YeonSun. "Karena aku tidak bisa meninggalkanmu. Berkatmu aku bisa bangkit dan merasakan jatuh cinta lagi. Jadi, bagaimana bisa aku merelakanmu begitu saja? Tentu aku tidak akan pernah sanggup. Aku sangat menyayangimu dan juga Kaila. Kamu, Kaila, Hyun Sik merupakan harta berharga yang kumiliki sekarang. Siapa pun tidak bisa mengambilnya dariku. Aku sangat beruntung bisa memilikimu." Riana melemparkan dirinya memeluk sang suami.
YeonJin tercengang dan tersenyum hangat. "Itu yang aku rasakan juga. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi dari hidupku. Karena kehadiranmu membawa kebenaran dalam hidup, maka sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu. Aku sangat mencintaimu."
Kata cinta kembali bergema dalam sanubari. Semakin dirasakan, maka semakin kuat ikatan jalinan kisah cinta keduanya. Pernikahan yang terjadi pun bertambah kepercayaan dan janji di hadapan Allah yakin untuk dilalui. Dua insan yang tengah saling merengkuh itu membuktikan jika cinta memang butuh pengorbanan. Awalnya dari tidak mengenal serta jarak yang terpaut sangat jauh, tetapi jika takdir Allah berbicara sesulit apa pun dua insan yang sudah dituliskan bersama maka akan menyatu jua.
"Aku minta maaf sudah menyembunyikan sesuatu lagi darimu," kata Riana lagi.
YeonJin menggeleng sekilas dan memberikan kecupan ringan di bahu sang istri. "Tidak apa-apa aku mengerti. Aku sangat merindukanmu seminggu ini. Aku merelakanmu bersama Kaila. Karena aku juga sangat menyayanginya. Putri kecil yang sangat aku banggakan."
Mendengar penuturan tersebut Riana tidak kuasa menahan haru. Air mata kembali menitik merasakan ketulusan dalam diri YeonJin. Dari dulu sampai sekarang sikap sang suami kepada putri pertamanya tidak pernah berubah. Bahkan setiap hari ia menjadi sosok ayah terbaik untuk Kaila, meskipun mereka mempunyai anak bersama, tetapi YeonJin tidak pernah membanding-bandingkan keduanya. Riana sangat bersyukur atas apa yang terjadi.
Pasangan halal itu sangat menikmati kebersamaannya tanpa menyadari ketiga pasang mata sedari tadi terus memperhatikan. Perkataan Kim YeonJin tadi pun menyentuh relung hati terdalam Kaila. Gadis kecil itu teringat akan hari-hari kemarin yang sudah ia lewati bersama ayah sambungnya. Kasih sayang yang diberikan YeonJin dari dulu hingga sekarang tidak berubah.
"Ya Allah, apa yang harus Kaila lakukan?" benak Kaila menyaksikan dengan kedua mata kepalanya sendiri kebahagiaan yang terpancar di wajah ibu dan ayah sambungnya.
*Ada yang baper juga gak sih? Ya Allah tolong baper sendiri nulis ini harap maklum yah jika chapter ini terlalu manis, mungkin ðŸ¤ðŸ¤ðŸ˜…😅😂😂