QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 51



...Dia menghadirkan kebahagiaan melalui caranya yang luar biasa. Kehadirannya membalut luka dengan membasuh kepedihan....


.......


Siang tadi menjadi kenangan paling berharga seumur hidupnya. Meskipun itu pernikahan keduanya, tapi bagi Riana pernikahan sekarang menjadi momen yang tidak akan pernah bisa ia lupakan. Ada cinta yang membelit penyatuan mereka. Benang merah tak kasat mata itu berhasil mempersatukan kedua insan ini.


Riana tidak menyangka bisa bersanding kembali bersama seseorang. Jauh, dari pikirannya ia tidak pernah melabuhkan hati lagi pada seorang pria. Trauma akan pernikahan pertamanya menutup pintu hatinya terlalu kuat. Namun, dengan kekuatan do’a dan usaha yang dilakukan Kim YeonJin akhirnya bisa meluluhkannya. Ia pun akhirnya menerima YeonJin sebagai pelabuhan hatinya.


Kini ada kisah baru yang terlahir. Noda hitam dalam buku catatan hidupnya perlahan mengering dan menghilang berganti dengan rajutan asa yang baru.


Kim YeonJin yang benar-benar tulus mencintainya telah merobohkan kegelisahan dan keraguannya. Hingga hari ini pun tercatat dalam sejarah kamus hidup mereka tentang cinta yang terbalaskan.


Setelah acara pernikahan usai, Riana dan YeonJin sama-sama bungkam. Sekarang hanya ada waktu untuk berdua. Di dalam ruangan bernuansa putih itu pasangan pengantin baru ini terlihat malu-malu kucing. Mereka duduk berdampingan di sofa panjang itu. Riana maupun YeonJin masih menundukan kepalanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hanya dentingan jam yang membersamai keduanya.


Perlahan matahari turun memberikan semburat orange yang menyebur di langit sore ini. Senja, menemai perasaan bahagia mereka.


“Ri-riana.” YeonJin memberanikan diri untuk berbicara. Dia seperti remaja yang baru mengenal cinta.


Riana pun menoleh sekilas dan kembali menunduk. “Aku bahagia sekali, hari ini kita resmi menjadi pasangan suami istri. Dan kamu menjadi pelengkap separuh agama kita. Aku ingin, berpegangan tangan denganmu menuju Jannah-Nya. Tapi, aku tidak bisa menjanjikan apapun. Karena kamu yang merasakannya,” tutur YeonJin lagi.


Riana kembali mendongak dan membalas iris kecil di sampingnya. Senyum pun terbit dengan pipi merona sempurna.


“Terima kasih banyak, karena kamu sudah memilihku menjadi pasangan hidupmu. Eung, aku merasakannya. Banyak sekali pengorbanan yang kamu lakukan untuk wanita sepertiku. Aku bahagia, sungguh kebahagiaan ini belum pernah kurasakan sebelumnya. Terima kasih, karena sudah mencintaiku.”


Di balik bibirnya yang melengkung, setetes keristal bening jatuh. Air mata bukanlah kesedihan, melainkan kebahagiaan.


YeonJin pun menangkup kedua pipinya lalu mengusap cairan bening itu dengan ibu jarinya. Gerakan lembut yang diberikan sang suami malah semakin membuat air matanya tumpah ruah.


“Aku belum pernah diperlakukan baik oleh seorang suami seperti ini. Mian… eum… a-aku-”


Tanpa aba-aba YeonJin memeluk sang istri erat. Sontak hal itu membuat Riana tertegun dan menghentikan tangisannya. Ini pertama kalinya mereka bisa bersentuhan. Karena pernikahan, keduanya sudah sah menjadi suami istri yang halal melakukan apa pun.


“Aku tidak akan pernah menyakitimu. Karena kamu wanita berharga yang berhasil aku temukan. Kamu adalah ratu yang patut dibahagiakan. Aku siap menjadi ksatria untuk menjagamu.”


Wanita mana yang tidak luluh dengan kata-kata itu? Pikirnya, hal tersebut yang kini Riana rasakan. Ia kembali menangis mendengar penuturan manis sang suami. Kebahagiaan tercipta bukan mendapatkan harta melimpah. Namun, kebahagiaan datang dari orang-orang yang mencintai kita. Itu hadiah dari Allah karena sudah dekat dengan-Nya.


Dalam surah Ar-Rum ayat 21 : wa min aayaatihii an kholaqo lakum min angfusikum azwaajal litaskunuuu ilaihaa wa ja’ala bainakum mawaddataw wa rohmah, inna fii zaalika la’aayaatil liqoumiy yatafakkaruun.


Yang artinya : Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menajdikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kamu yang berpikir.


...***...


Aroma penggugah selera mampu mengusik ketenangan ibu muda yang kini kembali mengemban tugas sebagai seorang istri. Selepas salat subuh tadi, Riana tidak sedikit pun keluar dari kamarnya. Ia tengah membereskan barang-barang di tempat tinggalnya yang baru. Setelah menikah ia dan Kaila ikut YeonJin meskipun hanya pindak ke apartemen yang lain. Hanya itu yang YeonJin miliki.


Namun, Riana bersyukur dengan kesungguhannya.


“Siapa yang masak? YeonJin-ssi?” Gumamnya seraya keluar kamar.


Kedua netranya langsung saja menatap pada bahu tegap yang tengah membelakanginya. Apron berwarna hitam membingkai di badan atletisnya. Langkah demi langkah membawa Riana mendekati meja makan. Di sana ia melihat banyak sekali masakan yang dihidangkan.


Sang suami pun tertawa ringan seraya memandanginya lekat. “Kenapa? Kamu tidak percaya aku memasak ini semua?” tanyanya dan hanya anggukan sebagai jawaban dari Riana.


“Dari dulu aku sudah hidup sendiri. Jadi, masalah masak memasak tidak usah diragukan lagi.” Dengan percaya diri YeonJin tersenyum lebar, Riana menganggukan kepalanya lagi mengerti.


“Ayo duduk kita sarapan bersama. Ahh aku bangunkan Kaila dulu.” YeonJin melesat pergi dari hadapannya begitu saja.


Sejanak Riana terdiam dalam kesendirian. Ia merasakan suasana yang berbeda. Tidak seperti hari-hari kemarin. Jika dibandingkan dengan pernikahan pertamanya, itu sangat jauh berbeda. Tanpa sadar liquid bening meluncur indah di pipinya bersama dengan cahaya matahari memberikan kehangatan kepada jiwanya yang resah.


Tidak lama berselang, YeonJin kembali bersama Kaila. Ia pun mendudukan sang anak di sebrangnya.


“Sekarang kita makan. Jangan pasang wajah mengantuk begitu, Sayang.” Ucap YeonJin mampu membuat bola mata kecoklatan sang istri menoleh padanya.


“Tapi Kaila masih mengantuk appa.” Jawab Kaila dengan wajah mengantuk. “Tidak ada tapi-tapian. Kaila harus sarapan!” Titahnya. Lalu tangannya sibuk menyendokan nasi dan beberapa lauk di dalamnya.


Sedetik kemudian, iris kecilnya pun membalas tatapan sang istri. Betapa terkejutnya ia saat melihat air mata itu di sana.


“Yeobo? Kenapa kamu menangis?” Ia pun berjalan mendekat lalu mengusapnya lembut.


Namun, lagi-lagi bukannya mereda air matanya terus saja mengalir deras.


“Mianhae. Aku hanya terharu. Dulu, aku tidak pernah diperlakukan sehangat ini oleh seorang suami. Gomawo, sudah memperlakukanku dan juga Kaila dengan baik.” Jawab Riana menggenggam tangan suaminya erat.


Senyum di pagi hari terpendar indah di wajah tampannya. Selung pipit yang menjadi ciri khas seorang Kim YeonJin tercetak jelas menandakan jika pria itu saat ini tengah dilanda kebahagiaan.


“Tidak usah berkata seperti itu. Memang sudah tugasku sebagai suami memperlakukanmu dengan baik. Aku juga sudah menjadi ayah sekarang. Jadi, aku akan berusaha menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk Kaila. Aku mencintai dan menyayangi kalian sepenuh hatiku. Kamu boleh tidak percaya dengan ucapanku ini. Karena kamu sendiri yang merasakannya,” tutur YeonJin dengan tulus. Kedua tangan besarnya kembali menangup pipi gembil sang istri.


Perlahan wajahnya merona hebat. Sungguh baru kali ini Riana merasakan kesungguhan dari seorang pria yang mencintainya. Sekarang bukanlah status di atas kertas, tapi pernikahan itu benar-benar terjadi dalam hidupnya. Ia mencintai suaminya begitu pula sebaliknya.


Cinta yang mampu mengikat mereka bersama. Riana maupun YeonJin, berkeinginan sama untuk mencapai Jannah-Nya.


Dengan gerakan lembut YeonJin membawa tubuh rapuh sang istri ke dalam pelukan hangatnya. Lalu mendaratkan kecupan singkat di puncak kepala berhijab itu.


“Aku sangat mencintaimu, Riana.”


“Terima kasih sudah menerima kekuranganku. Aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu. Aku juga mencintaimu.”


Sejenak mereka menikmati waktu hanya berdua saja. Melupakan dunia nyata yang begitu banyak problema dan perjuangan.


“Hooaamm, kapan Kaila makannya kalau seperti ini? Baiklah nikmati waktu kalian.” Tutur si gadis kecil seraya menopag dagu. Perkataanya berhasil membangunkan mereka.


Seketika YeonJin dan Riana pun melepaskan pelukannya dan menundukan kepala malu-malu. Kaila tersenyum bahagia melihat ayah dan ibunya ini.


Kaila tertawa riang menyaksikan kedua orang tuanya yang kini sudah lengkap. “Kaila sayang sekali sama Mamah dan Appa. Saranghae,” ungkapnya lalu membentuk hati dengan kedua tangan ke atas kepala.


Sungguh kehidupan ibu dan anak itu berubah secara drastis. Keberadaan YeonJin memberikan keajaiban. Allah selalu tahu yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.