QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 8



...Menyapa bukan berarti menepi. Terkadang pertemuan memberikan luka lain yang menetap....


.......


Seperti yang sudah dikatakan sekertarisnya kemarin, jika sekarang menjadi hari istimewa bagi Kim YeonJin. Bagimana tidak wanita yang menghilang dalam pandangannya selama setahun sudah kembali. Park Hyerin atau dikenal sebagai pelukis dengan pen name “NA” atau "Kim Na Eun" itu mendarat dengan aman ditanah kelahirannya, Korea Selatan. Setahun belajar di negara orang menjadikan namanya semakin melambung tinggi. Orang-orang terdekatnya bangga dengan prestasi yang berhasil ia dapatkan. Wanita berambut panjang sepinggang itu kini sudah menginjakan kaki di perusahaan art collection. Beberapa orang body guard turut mendampingi setiap langkahnya. Tidak henti-hentinya decak kagum terdengar tat kala mengetahui fakta tentang Park Hyerin. Jimin yang sudah menunggunya sedari tadi melebarkan senyum melihat sosoknya muncul. Ia pun berjalan mendekat.


“Jadi, dia tidak menyambut kedatanganku? Dasar.” Ucapnya saat melihat hanya Jimin sendirian di sana. Tanpa mempedulikan keberadaan pria itu Hyerin bergegas menuju lantai 9 tempat keberadaan pemilik perusahaan itu.


Tingg!!


Pintu lift yang terbuka menyadarkannya. Hentakan heels menggema di lorong sepi tidak sabar bertemu seseorang yang sudah lama ia rindukan. Tidak lama berselang ia tiba di depan ruangannya. Tanpa menyia-nyikan waktu Hyerin membuka pintu kaca itu lebar-lebar. Di sana ia melihat sang pemilik hatinya tengah melebarkan pandangan melihat kedatangannya. Pria itu sampai loncat dari kursi melihatnya muncul.


“Wae? Kenapa YeonJin oppa melihatku seperti itu? Aku bukan hantu. Tega sekali oppa tidak menjemputku di bandara.” Ucapnya seraya bersidekap. YeonJin menatapnya intens. Lidahnya kelu tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Kedatangan Hyerin yang diyakini nanti sore nyatanya secepat itu. Bahkan perusahaan pun baru saja dibuka 2 jam lalu.


Beberapa saat kemudain Jimin dan Riana datang. Wanita itu tidak sengaja bertemu dengannya di pintu masuk. Tatapannya mengarah tepat pada Hyerin yang juga tangah membalas tatapannya. Ia pun menganggukan kepala singkat dengan tanda tanya besar dalam kepala berhijabnya. Wanita cantik itu begitu menarik perhatian. Riana penasaran sekaligus takjub.


“Ahh, kenalkan dia Park Hyerin. Beliau pelukis “NA” dan tunangan Kim YeonJin.” Jimin menjelaskan. Otomatis mata sipit sang bos membola tidak percaya. Bagaimana bisa Jimin dengan mudahnya berkata seperti itu. Ia terus saja menatapnya dan Jimin tidak menyadarinya. Riana tercengang, tidak percaya jika ternyata YeonJin sudah mempunyai pasangan.


“Ahh, anyyeonghaseyo. Senang berkenalan dengan Anda, saya Riana arsitek untuk perusahaan ini.” Tangan putihna terulur hendak bersalaman. Hyerin tersenyum singkat dan membalasnya.


“Park Hyerin. Oh jadi kamu arsitek? Kenapa oppa memilih seorang wanita?” Kini matanya kembali mengarah pada YeonJin.


“Aku tidak sengaja. Jadi, ada apa Riana-ssi?” Balasnya mengalihkan pembicaraan. Ucapan formal itu membuat Riana tersadar mengerti keadaannya.


“Saya ingin memberitahukan jika miniatur itu sudah selesai dibuat. Dan saya ingin Anda melihatnya sendiri.” Jelas Riana. YeonJin menganggukan kepalanya singkat.


“Baiklah setelah makan siang nanti saya ke ruanganmu.”


“Kalau begitu saja permisi.” Setelah kembali menganggukan kepalanya singkat ia pun meninggalkan ruangan disusul Jimin yang tidak mau mengganggu momen bahagia pasangan itu.


YeonJin menatap Hyerin sekilas dan kembali duduk di kursinya. Fokusnya teralihkan lagi pada kertas-kertas yang masih bertumpuk di meja. Merasa diabaikan, Hyerin pun mendekatinya.


“Oppa tidak merindukanku? Selama di Paris aku selalu merindukanmu. Bahkan kamu jarang membalas pesanku. Apa ada wanita lain yang oppa kencani?” Tanyanya sarkas.


“Aku banyak pekerjaan. Dan lagi pertunangan kita karena perjodohan jadi aku bebas kencan dengan wanita mana pun.”


“Kejamnya!! Aku mencintaimu, oppa. Sangat.” Tegasnya.


“Apa oppa masih mengingat luksian ini?” Tiba-tiba saja Hyerin memperlihatkan foto lukisan dalam ponselnya. Sontak hal itu membuat YeonJin menghentikan pekerjaannya. Sekujur tubuhnya bergetar dengan degup jantung bertalu kancang.


“Ke….kenapa kamu masih menyimpan lukisan itu? Cepat hapus.” Ia menatapnya tajam.


“Sebagai cara agar kamu hanya melihatku seorang. Oppa melukis ini bersamaan wanita itu menghancurkan hidupmu dan juga ibumu.” Perkataan Hyerin semakin membuka kenangan menyakitkan yang selama ini ia coba untuk tidak mengusiknya lagi. YeonJin tidak bisa berkata-kata. Perkataan Hyerin seketika menusuk ulu hatinya.


...***...


Selesai makan siang, Riana kembali ke ruangan. Ia tengah menunggu kedatangan YeonJin yang katanya akan datang. Ia masih tidak percaya jika pria itu sudah bertunangan. Berita mengenai hubungannya sama sekali tidak terendus. Bahkan karyawan di sana pun tidak pernah membahasnya.


“Kenapa yah? Padahal dia punya tunangan yang sangat cantik. Pelukis terkenal pula.. hmm, aku tidak mengerti.” Gumamnya memandangi miniatur yang berhasil ia susun selama 2 minggu itu. Senyum mengembang menambah kecantikan naturalnya.


Tidak lama berselang pintu ruangannya dibuka. Riana menoleh ke depan mendapati atasan sekaligus tunangannya. Ia bangkit dari duduk siap menjalankan tugasnya. Bibir ranumnya berceloteh lancar menjelaskan secara detail mengenai miniatur itu yang nantinya diaplikasikan pada bangunan tersebut. YeonJin berkali-kali mengangguk dan sesekali tersenyum senang mendengarnya. Hal itu tidak lepas dari perhatian Hyerin. Ada sesuatu dalam dadanya yang tidak bisa disembunyikan. Ia tahu YeonJin memiliki perasaan pada wanita itu. Cara dia memandang Riana berbeda dengannya. Terlihat hangat dan juga mendamaikan. Hyerin tidak suka. Sebagai tunangannya ia tidak bisa melihat pria yang dicintainya menatap wanita lain dengan pandangan seperti itu. Dari awal bertemu Riana tadi pagi, ia sudah tidak menyukainya. Ditambah sekarang, ia semakin mengepalkan kedua tangannya erat.


“Apa-apaan miniatur seperti ini tidak ada apa-apanya. Oppa tidak melihat? Desainnya kuno tidak ada modern-modernnya lebih baik oppa cari arsitek lain saja. Menyusahkan, cape-cape buang uang hanya untuk membangun bangunan seperti itu, cih sungguh menyedihkan…”


Brakkk!!!


Dengan kasar Hyerin menghancurkan semua minuatur yang sudah susah payah Riana bangun selama ini. Netra bulannya melebar sempurna. Ia terkejut melihat tindakan yang dilakukan Hyerin. Begitu pula dengan YeonJin.


“Hye….hyerin. Apa yang kamu lakukan?” Tanyanya dengan nada suara meninggi.


“Aku tidak suka oppa terlihat akrab dengan wanita ini.” Tunjuknya pada Riana.


Riana menahan kepedihan dengan mengepalkan tangan kuat. Air mata tidak bisa dibendung, tumpah ruah membasahi hijab hitamnya.


“Saya melakukan pekerjaan ini dengan mengorbankan waktu bersama anak saya. Dan dengan gampangnya Anda menghancurkannya? Sungguh tidak mempunyai hati. Anda terlalu dibutakan oleh kecemburuan. Saya tidak bisa terima. Tidak bisa.” Setelah mengatakan itu Riana pergi dari ruangan. YeonJin sadar jika Riana merupakan seorang ibu. Ia bisa merasakan bagaimana sedihnya kehilangan momen itu. Sosok Riana sekan mengingatkannya pada mendiang ibu yang begitu dicintainya.


“Apa-apaan kamu Hyerin. Aku tidak bisa menerima ini. Kamu sudah mengcewakanku. Bisa-bisa pertunangan kita berakhir sampai di sini.” Bola mata Hyerin melebar tidak percaya mendengar nada ancaman dari YeonJin. Pria yang sudah lama ia kenal ini berubah tidak sehangat dulu. Setelah mengatakan itu YeonJin pun pergi mencari keberadaan Riana.


Di sana wanita itu berada. Di taman dekat perusahaan. Ia bisa mendengar jelas isak pilu yang mencoba diredamnya. YeonJin mengerti seperti apa luka tak kasat mata dalam hatinya.


Senja sore ini tidak memberikan ketenangan. Ternyata awan gelap menutupi keindahannya.