
...Tidak ada yang paling berharga selain keluarga. Memang benar, di balik kepedihan selalu ada kebahagiaan....
.......
Rumah tangga Riana dan YeonJin sudah berjalan tiga bulan. Mulai hari itu Riana beradaptasi lagi menjadi seorang istri. Sudah lama sekali ia tidak melayani suami yang begitu mencintainya. Rasanya ia masih canggung. 7 tahun lamanya sejak membesarkan Kaila seorang diri, ia tidak memikirkan untuk bersanding dengan seseorang. Lagi.
Namun, ternyata Allah mengadahirkan YeonJin ke dalam hidupnya sebagai pendamping yang baru. Pria itu sangat mencintainya. Riana akui. Perhatiannya, kasih sayangnya, belas kasihnya, begitu ia rasakan. Berbeda jauh jika dibandingkan dengan Arsyid.
Berbicara tentang mantan suaminya. Jujur saja, ketika ia sudah sah menjadi Nyonya Kim, dirinya selalu dirundung gelisah. Arsyid tidak akan mengusik ketenangannya bukan? Pikiran seperti itulah yang terus mengusik ketenangannya.
Ia tahu sudah ada YeonJin yang berdiri paling depan jika pria itu melakukan hal macam-macam. Namun, tetap saja Riana merasa khawatir.
Sudah tiga bulan lamanya. Keberadaan Arsyid pun secara perlahan menghilang dalam pandangan.
“Yeobo? Riana…. Riana,” panggil YeonJin saat mendapati istrinya melamun. Iris jelaganya memang menatap pada layar televisi, tapi tatapan itu terlihat kosong.
Riana pun gelagapan dan sekilas menoleh padanya.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Tanya YeonJin seraya menggenggam tangannya kuat.
Perlakuan seperti itulah yang membuat Riana tidak mungkin bisa melibatkan sang suami. Sudah cukup selama ini YeonJin selalu bersikap baik terhadapnya.
“Tidak usah ragu katakan saja. Aku ini suamimu, kan. Jadi apapun yang mengganggumu, itu pasti menggangguku juga. Jadi, ada apa Sayang. Hmm?”
Tatapan keingintahuannya tertangkap. Riana semakin ragu mengatakannya.
Berkali-kali ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Bibir ranumnya terkatup dan terbuka. Dengan setia YeonJin menunggunya seraya iris kecilnya tidak sedikit pun beranjak dari wajah ayu sang istri.
Lama Riana tidak menjawab. Sampai, “Em…. se-sebenarnya aku kepikiran tentang Arsyid. Aku takut dia datang lagi.”
Senyum pun mengembang menambah ketampanan YeonJin.
“Kamu tidak perlu khawatir, Sayang. Mau Arsyid atau siapa pun itu tidak akan bisa mengganggu kita. Aku akan menjagamu.”
Perasaan hangat menjalar dalam dadanya. Riana tidak menyangka mendapatkan pernyataan seperti itu dari suami barunya. Ia beruntung bisa bersanding dengan pria sebaik YeonJin. Bertanggung jawab, perhatian dan menerima semua kekurangannya.
Malam itu bulan bersinar terang menemani kebersamaan suami istri baru ini.
...***...
Pagi menjelang, aktivitas YeonJin dan Riana pun dilanjutkan lagi. Mantan petinggi perusahaan itu kembali merintis usahanya dari bawah. Tentu dengan campur tangan sang istri. Ia terus menyemangati suaminya untuk berada di puncak.
“Kitakan masih punya gedung galeri. Aku mempunyai ide untuk menerima pelukis pemula. Aku harap dengan adanya mereka usahaku kembali berkembang.” Ujar YeonJin di tengah-tengah sarapan.
Riana pun menoleh padanya. “Ide yang bagus. Kamu juga bisa mempromosikan mereka. Oh yah, akhir-akhir ini aku merancang sebuah rumah. Oppa mau lihat?” tanyanya kemudian.
Dengan cepat YeonJin mengangguk mengiyakan. Tanpa mengatakan sepatah kata pun Riana melengos dari sana menuju lemari yang ada di ruang tamu.
Tidak lama berselang ia kembali seraya membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Ia pun menjulurkannya ke hadapan sang suami.
“Itu baru rancangan kasarnya saja. Aku ingin membangun rumah impian kita.” Jelasnya dengan senyum merekah di bibir ranumnya.
Iris kecoklatan YeonJin bergulir melihat dan meneliti gambar yang tertuang dalam kertas tersebut. Begitu pula dengan Kaila yang duduk di sampingnya.
“Wahhh, bagus sekali. Kaila tidak sabar menempati rumah baru kita.” Tuturnya dengan riang.
Seketika YeonJin menatapnya lekat. “Ett, bukan rumah, tapi istana. Kaila tahukan kalau di dalam istana itu ada apa?”
Kaila langsung saja menerawang ke atas dengan jari telunjuk berada di dagunya.
“Emm, umi Sarah pernah membacakan dongeng jika di istana itu pasti terdapat seorang ratu dan juga putri.”
“Benar. Dan Kaila tahu siapa ratu dalam istana yang kita bangun nanti?” Kaila pun menggelengkan kepalanya. “Dia eomma. Ratu tercantik di dunia ini.”
“Kaila setuju. Mamah memang ratu terhebat. Dan Kaila jadi putrinya.”
“Appa sangat setuju.”
“Kalau mamah ratu, appa jadi rajanya. Ahh senangnya. Kaila bahagia sekali, sekarang punya keluarga yang utuh.”
Perkataan Kaila tadi seketika menghujam ulu hati Riana. Dirinya sadar jika sang anak tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Bukan salahnya. Seorang anak yang terlahir ke dunia ini berhak bahagia. Ada atau pun tanpa orang tua lengkap.
“Maafkan mamah sayang.”
Tiba-tiba saja Riana meminta maaf membuat Kaila langsung menoleh padanya.
“Kenapa mamah minta maaf?”
“Karena dari dulu mamah selalu menyembunyikan keberadaan appa.”
Kaila semakin melebarkan senyumannya.
“Mamah tidak usah minta maaf. Kalau Kaila sudah besar pasti mengerti. Kenapa mamah melakukan itu. Yang jelas sekarang Kaila bahagia~ sekali. Ada mamah dan YeonJin appa di hidup Kaila.”
Bersamaan dengan kedua matanya yang berkaca-kaca Riana pun beranjak lalu beralih duduk di samping Kaila. Ia langsung memeluknya erat dan mendaratkan kecupan kasih sayang menghujani puncak kepalanya.
“Mamah sayang sekali sama Kaila. Terima kasih sudah mengerti,” ucapnya.
Melihat keakraban ibu dan anak itu, YeonJin tidak membiarkan mereka menikmati waktu hanya berdua saja. Ia pun langsung mendekap mereka. “Appa juga sayang sekali sama Kaila. Appa akan melindungi kalian," yakinnya.
Sungguh kehidupan Riana dan Kaila berubah drastis dengan kehadiran Kim YeonJin. Pria itu seperti air di padang pasir, menyejukan dan juga membuat tenang.
...***...
Setelah mengantarkan Kaila sekolah, YeonJin dan Riana pun pergi bersama menuju gedung galerinya berada. Mereka hendak membukanya kembali. 3 bulan vakum dari dunia melukisnya membuat YeonJin was-was. Ia takut usaha yang hendak dirintisnya lagi gagal. Hal itu terlihat dari wajahnya yang menunjukan kecemasan.
“Jika belum mencoba, kita tidak pernah tahu hasilnya. Maka lakukanlah, terjang saja apa yang ada di hadapan sana. Dan libatkan Allah di dalamnya,” ucapan sang istri tadi seketika membuyarkan lamunan.
“A-aku tidak memikirkan apa-apa,” jawab YeonJin gugup.
“Oppa tidak pandai berbohong ternyata. Aku tahu apa yang kamu khawatirkan. Tenang saja, Allah tidak pernah salah memberikan rezekinya.”
Perasaan lega menyapa relung hati terdalam YeonJin. “Terima kasih kamu memang paling mengerti. Aku jadi semakin bersemangat.” Ungkapnya lalu mengecup singkat tangan kiri sang istri.
Tidak lama berselang mereka tiba di tempat tujuan. Keduanya mengerutkan dahi heran saat melihat begitu banyak orang seraya membawa kamera di depan gedung. Riana dan YeonJin yang baru saja keluar dari kendaraan perlahan mendekati mereka.
Merasakan keberadaan sang pemilik, para wartawan menyambut keduanya. Riana yang tidak biasa berada dalam sorot lampu kamera pun langsung menduduk dalam. Melihat itu YeonJin melindunginya dengan tubuhnya sendiri. Riana langsung saja bersembunyi di balik punggung tegapnya.
“Maaf ini ada apa?” tanyanya tidak mengerti.
“Kami mendengar jika Anda terlibat dalam rumah tangga seseorang. Dan sekarang wanita itu menjadi istri Anda.”
“Apa Anda menjadi orang ketiga?”
“Kenapa Anda bisa terlibat dalam skandal rumah tangga orang lain?”
Pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar dari mereka membuat YeonJin terkejut. Begitu pula dengan Riana yang sudah melebarkan kedua matanya. Ia pun mengepalkan tangannya erat serta darahnya mendesir menahan amarah.
"Jangan-jangan ini ulah mas Arsyid? Jika memang benar, keterlaluan kamu Arsyid. Ya Allah, Astagfirullah haladzim…" benak Riana berpendapat.
Dan memang benar apa yang tengah dipikirkannya. Pria yang berperan penting di belakang kejadian itu tengah berdiri di depan pintu masuk. Seringaian pun tercekat di bibir keritingnya. Ia merasa puas melihat adegan yang terjadi di depannya.
“Bagus. Ini baru permulaan,” gumamnya.