QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 34



...Sendiri, menepi dan menyedihkan. Tidak ada yang tahu jika kesakitan itu pernah singgah dan menetap....


.......


Setengah jam kemudian YeonJin sudah tiba di depan gedung apartemen Riana. Ia terdiam di dalam mobil melihat ponsel dalam genggaman. Tiba-tiba saja rasa penasaran itu semakin mencuat dan menajam. Tanpa permisi ia pun melihat-lihat isi dari benda pintar tersebut. Entah sengaja atau tidak Riana sama sekali tidak mengunci ponselnya. Mungkin karena Kaila selalu menggunakannya? Pikir YeonJin dan tidak memikirkan hal tersebut lebih jauh.


Ia tersenyum saat membuka galeri foto yang isinya didominasi oleh Kaila. YeonJin tahu Riana begitu mencintai dan menyayangi sang anak. Ibu jarinya terus menscroll ke bawah dan tidak sengaja menemukan satu folder yang tersembunyi. Ia pun langsung mengkliknya. Alisnya saling bertemu saat di dalam folder itu terdapat folder-folder lain.


Rasa ingin tahunya semakin kuat dan menebal. Mungkin dengan cara seperti ini ia bisa menemukan rahasia yang Riana sembunyikan. YeonJin yakin ada sesuatu yang pernah terjadi di masa lalunya yang membuat ia memutuskan untuk menjadi seorang single parent.


“Banyak sekali foldernya apa yang sebanarnya Riana sembunyikan? Ap-” Ucapnya terhenti cepat pada saat melihat banyak foto dan juga satu video di dalam sana. Matanya melebar tidak percaya melihat itu semua.


Jari-jarinya gemetar ketika menari di layar ponsel tersebut. Hingga ia pun mengklik satu-satunya video di sana. Matanya terfokus pada sosok wanita yang selama ini ia kagumi.


“Assalamu’alaikum, tepat hari ke-100 aku mendapatkan perlakuan tidak mengenakan dari suamiku, Mas Arsyid. Jujur, selama ini aku selalu bertahan dengan tindakannya. Tapi seminggu yang lalu dia sudah memperlakukanku dengan sangat kejam. Jika saja Allah tidak menyelamatkanku mungkin hari itu menjadi waktu terakhir aku ada di dunia. Aku kesakitan. Tidak hanya hati tapi fisikku juga. Setiap hari aku diperlakukan layaknya barang yang bisa dibanting sesuka hatinya. Pria yang ku pikir bisa membimbingku ternyata melakukan kekerasan rumah tangga. Dan bodohnya seiring berjalannya waktu aku mencintainya. Itulah yang membuatku bertahan, tapi sekarang aku sudah tidak sanggup lagi. Pria yang ku cintai tidak pernah menghargaiku sebagai istri. Dia juga tidak mau mengakui anak yang sedang kukandung. Aku sengaja merekam ini sebagai bukti jika aku masih hidup dan akan meneruskan kehidupan. Karena aku tahu Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya..”


Tanpa disadari, liquid bening itu meluncur bebas di pipi mulusnya. YeonJin menangis dalam diam setelah menyaksikan video singkat tersebut. Bahu tegapnya bergetar hebat. Ia tidak menyangka wanita yang terlihat mandiri dan tegar itu memiliki masa lalu yang kelam. Bahkan lebih kelam dari kehidupannya. Netra kecoklatannya kembali melihat-lihat foto dalam ponsel itu. Hatinya terasa tercabik-cabik mendapati kenyataan yang menamparnya keras.


“Ya Allah Riana,” gumamnya.


Foto itu menjadi saksi bisu seperti apa bengisnya seorang Arsyid. Wajah ayu yang semula terlihat ceria harus dihiasi dengan luka lebam di sana sini. Mata bulannya bengkak dengan darah kering di kedua sudut bibirnya.


YeonJin merasakan betapa sakit luka fisik yang dialami Riana masa itu.


Sedangkan wanita yang tengah berada dalam pikirannya saat ini masih berada di rumah Sarah. Mereka duduk berdampingan di ruang keluarga. Riana masih setia menunggu Sarah mengatakan sesuatu. Ia tidak mengerti kenapa wanita itu bersikap seserius sekarang.


“Aku tidak bermaksud untuk membuka kembali luka masa lalumu, tapi aku harap kamu bisa terbuka denganku. Riana, aku sangat menyayangimu seperti seorang adik. Karna itu aku ingin kamu bahagia. Terutama Kaila. Dia butuh sosok ayah dalam hidupnya,” pernyataannya itu membungkan mulut ranum Riana. Ini terharu mendengar penuturannya. Namun, membuka masa lalu sama saja merobekan lagi hatinya.


“Dulu………”


Flashback 7 tahun lalu…


*Riana Aisyah Humaira


Sekarang aku sudah sah menjadi istri dari pengusaha properti, Arsyid Syaputra. Di awal pertemuan dia begitu baik, perhatian dan sangat memanjakanku. Usia kami terpaut 3 tahun. Dia seperti sosok kakak bagiku. Dia juga memenuhi semua kebutuhanku dengan sempurna. Bahkan sampai menyekolahkanku ke universitas. Cita-cita yang dulu aku inginkan.


Kita menikah karena perjodohan. Keluargaku sudah tidak mau menampungku lagi. Aku anak yatim piatu. Ayah dan ibu meninggal ketika aku berusia 10 tahun. Sejak saat itu aku berusaha hidup mandiri dalam kesendirian. Dan sekarang aku menemukan kembali sosok penopang hidup yang baru.


Hari demi hari kulalui dengan berbedar. Meskipun belum ada cinta dalam hati, aku berusaha menjadi istri yang terbaik untuknya. Sampai………


“Mas ini kopinya.” Aku menyodorkan kopi kesukaannya yang setiap pagi selalu ia minum.


“Kopi apa ini pahit sekali. Kamu sama sekali tidak becus mengurus suami!!” kopi yang kusuguhkan ia muntahkan kembali.


Tiba-tiba saja sikapnya berubah. Dia sedikit kasar padaku. Sekarang saja Mas Arsyid mencengkram pipiku dengan kuat. Aku terkejut sekaligus takut.


“Ma-maaf, Mas,” cicitku menahan kepedihan.


Dari sana penderitaan sesungguhnya dimulai. Setiap pulang kerja Mas Arsyid selalu menumpahkan amarahnya padaku. Tidak ada seorang pun yang bisa kumintai tolong. Semuanya seolah tutup mata tidak menginginkan keberadaanku lagi.


“Kamu cantik jika seperti ini. Wajahmu terlihat menggemaskan hingga aku mau-”


Plakkk!!


Tanpa ampun Mas Arsyid kembali menampar kedua pipiku berkali-kali.


“Hentikan Mas sakit.” Rengekku mencoba menghentikannya. Namun, tetap saja pria itu memukuliku tanpa ampun. Hingga kurasakan darah mengalir di kedua sudut bibirku. Terasa panas dan menetes di lenganku.


Ya Allah sebenarnya siapa yang ku nikahi ini? Aku takut. Sungguh aku sangat takut dengan makhluk berhati dingin seperti Mas Arsyid ini.


Hari demi hari kulalui dengan terluka. Aku bertahan karena aku sudah mencintainya. Apa karena jatuh cinta membuatku bodoh? Aku membiarkan diri sendiri menjadi sasana tinjunya. Ia terus menyiksaku tanpa ampun.


Hingga tahun berlalu. Tepat hari ini usia pernikahan kami memasuki satu tahun. Aku bahagia berharap Mas Arsyid bisa berubah. Setelah dia berangkat bekerja, aku menyiapkan pesta kecil di ruang keluarga dengan lilin-lilin sebagai dekorasinya.


Aku tersenyum menyaksikan usahaku hari ini.


“Aku harap Mas Arsyid berubah. Karena aku sudah menyiapkan kado terindah untuknya,” dengan bangga aku berpikir seperti itu.


Tidak lama berselang aku mendengar suara mesin mobil berhenti di pekarangan. Buru-buru aku menyambut kedatangannya di depan pintu. Senyum terbingkai indah di bibirku. Baru saja ia membuka pintu kepalan tangannya tiba-tiba saja mendarat di wajahku. Aku jatuh tersungkur seraya menatapnya takut-takut. Kilatan di kedua matanya membuatku terpaku.


“Ma-mas aku mohon hentikan. Aku tidak sanggup lagi.”


Tapi sepertinya ucapanku hanya dianggap angin lalu. Ia terus menyiksaku tanpa ampun. Dan sekarang bertambah parah. Dia memukul, menampar, menendang serta menjambak rambutku dengan kasar.


“Ma-s a-ku ha-mil.”


Aku berusaha untuk memberitahunya, tapi kenapa seringaian yang muncul di wajah tampan itu?


“Hamil? Aku tidak peduli dengan anak itu. Karena dari awal pernikahan, kamu tidak kuanggap sebagai seorang istri melainkan pelampisanku. Gara-gara kamu aku gagal menikah dengan wanita idamanku. Jadi nikmati saja perlakuan ini, Sayang.”


Cairan bening sudah mengalir bagaikan sungai di pipiku. Namun, tetap saja air mata tidak bisa menghentikan aksi bejadnya. Malam ini bulan bersinar terang menjadi saksi bisu seperti apa kejamnya seorang Arsyid.


Hampir satu jam lamanya aku berada dalam kuasa pria itu. Setelah puas melampiaskan amarahnya, dia pun pergi meninggalkanku sendirian. Ulang tahun pernikahan yang kupikir bisa membuatnya berubah ternyata malah semakin menjadi.


Aku sudah tidak berdaya. Terbaring lemah dengan darah mengalir di sana sini. Apa ini terakhir aku hidup? Ya Allah jika memang waktuku sudah tiba, aku mohon maafkan semua kesalahanku. Tapi jika Engkau masih memberi hamba kesempatan berikanlah kekuatan untuk membuktikan kepada mereka, jika hamba kuat bersama-Mu ya Rabb.


Aku berhasil melarikan diri dari sangkar mengerikan yang terbalut emas itu. Aku tidak mau hidup selamanya dengan pria seperti dia.


“Aku tidak mau kamu ada dalam perutku. Kenapa kamu hadir jika ayahmu saja tidak menginginkanmu ada di dunia ini. Kenapa kamu bertahan menerima perlakuan ayahmu? Kenapaaaa?”


Aku berteriak seperti orang gila seraya memukul-mukul perutku. Janin yang masih berusia satu bulan ini begitu kuat dalam rahimku.


Sejak saat itu aku sadar jika ternyata Allah masih melindungi kami. Aku pun mengambil sebuah video dan memotret diriku sendiri dengan keadaan seperti itu. Aku yakin suatu saat nanti akan berguna.


Hinggaku temukan kebahagiaanku sendiri*.