QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Gadis Baik (Season 2)



Dua hati yang sempat merajut pernikahan bersama kini kembali dipertemukan dengan situasi berbeda. Masa lalu tinggal kenangan yang tidak usah diingat lagi dan biarkan berlalu. Terlebih jika memori itu hanya menimbulkan luka menganga, lebih baik pergi dan menghilang berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


Gelenyar akan kenangan sendu di hari-hari itu mengusik lamunan. Rumah tangga yang seharusnya dilalui seimbang antara suka dan duka, nyatanya hanya menampilkan lara tak berkesudahan. Janji suci yang terucap berawal dari perjodohan, tanpa adanya cinta hingga berakhir penyesalan.


Namun, penyesalan berujung rasa syukur. Kehadiran sang buah yang semula tidak pernah diharapkan mampu menjadi pengobat kepedihan. Riana sadar dulu sempat tidak menginginkan kehamilannya dan menyalahkan sang jabang bayi atas kejadian yang terjadi.


Ia pun sadar dan menerima keadaan dengan lapang dada, sampai Allah menghadirkan penyembuh lewat rencana-Nya luar biasa. Tidak ada yang tahu di belahan bumi mana Allah menyimpan kejutan terindahnya, tetapi akan ada waktu untuk tersenyum setelah hilangnya luka.


Cinta hadir menimbulkan kesalahan, perasaan suka tersebut hanyut dalam buaian. Tidak peduli apa yang dilakukan sang suami ia tahan, sampai batas tertentu. Ia sudah tidak kuat lagi dan memutuskan untuk pergi.


Waktu terus berjalan dengan tugasnya memberikan takdir berbeda pada setiap insan. Sudah tidak ada lagi air mata membayang, kini raksi kebahagiaan tengah menyebar dalam sanubari mengantarkan kebaikan selepas kepedihan.


Selepas kepergian suami dan kedua anaknya, di sana tinggalah Riana dan Irsyad. Mereka saling berhadapan dan dibatasi meja berbentuk segi panjang. Keheningan begitu mendominasi, atmosfer tidak nyaman pun menyapa lekat.


"Terima kasih sudah membesarkan Kaila dengan sangat baik. Aku menyesal sudah menyakiti kalian," ungkap Irsyad seraya menunduk dalam.


Riana tersenyum simpul dan meletakan tangan di atas meja, "Sudahlah, semua sudah berlalu tidak ada yang patut disesali. Berkat pernikahan itu juga aku bisa mendapatkan putri semandiri dan sebaik Kaila. Aku harap kejadian ini bisa memberikan pembelajaran, Mas harus hidup lebih baik lagi."


Irsyad mendongak menatap ke dalam manik bulan sang mantan istri. "Terima kasih, kamu benar-benar baik. Aku terlalu bodoh sudah melepaskanmu dan mengejar cinta yang salah. Aku benar-benar tidak tahu bersyukur."


Melihat pria arogan menunduk lesu di hadapannya bulan sabit sempurna melengkuh mempercantik wajahnya. Riana, mendengus pelan dan masih menatap lekat sosok di hadapannya ini. Ia sadar jika butuh waktu bagi seseorang untuk berubah.


"Kita lupakan saja, sampai kapan pun Mas akan tetap menjadi ayah kandung Kaila. Tidak akan ada yang bisa menggantikan Mas, meskipun sekarang aku sudah menikah lagi, tidak ada yang bisa melepaskanmu dari hidupnya. Ada darah mengalir dalam tubuh Kaila, seperti yang Mas tahu anak itu ... sangat menyayangimu, terlepas dari semuanya," ungkap Riana membuatnya terpaku.


Irsyad kembali mengangkat kepala dan terperangah. Ia sadar jika sekarang Riana sudah mendapatkan kebaikan terlepas dari rasa sakitnya.


"Aku turut bahagia dengan pernikahan keduamu. Sepertinya pria Korea itu sangat mencintaimu, bahkan kalian sudah mempunyai anak bersama? Semoga bahagia selalu."


Kata-kata itu terus berdengung dalam pendengaran, air mata merembus keluar kala ingatan menyakitkan tiba-tiba saja datang. Sekuat tenaga Riana menahan dan mencoba tersenyum, ia sudah bahagia sekarang dan tidak ada yang perlu ditangisi lagi.


"Aamiin, terima kasih. Aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu juga Mas. Segeralah keluar dan temukan kebahagiaanmu sendiri. Aku yakin di luar sana masih banyak wanita baik yang bisa kamu temukan," ucapnya, Irsyad hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


Tangannya bergetar hebat serta mencengkramnya kuat, YeonJin tersenyum hangat. "Sayang, apa kamu senang bisa bertemu dengan ayah?" tanyanya kemudian.


Lama Kaila tidak menyahuti perkataannya, sampai beberapa saat kemudian kepala bersurai lembut itu mendongak dan membalas tatapannya. Anggukan pun diberikan dengan manik berbinar senang, "Kaila sangat bahagia bisa bertemu ayah secara langsung. Waktu itu mungkin Kaila masih sangat kecil dan tidak mengingat wajahnya."


"Itu benar sudah tiga tahun berlalu, pasti kamu lupa, tetapi yang jelas ayah Irsyad adalah pria bertanggungjawab. Kenapa ayah bisa ada di sini? Itu karena beliau mau mengakui kesalahannya. Bukankah beliau ayah yang baik?" tanya YeonJin kemudian.


Kaila pun mengangguk cepat dan melepaskan kontak matanya lalu menatap lurus ke depan. Senyum masih apik tersungging di bibir kemerahannya. "Sekarang Kaila mengerti, ayah adalah ayah terbaik di dunia. Meskipun orang-orang berkata tidak baik tentangnya, tapi dengan bangga Kaila akan mengatakan jika .... Ayah yang terbaik. Kaila sangat menyayanginya, tidak peduli bagaimana keadaan ayah. Kaila sama sekali tidak pernah membencinya."


Perkataan jujur dari sang putri membuat YeonJin tidak bisa berkata-kata. Sosok anak kecil yang ia temui dua tahun lalu kini sudah tumbuh menjadi gadis mandiri dan sangat baik hati. Dari umur lima tahun ia sudah melihat kebaikan terpancar dalam dirinya.


YeonJin pun melepaskan pautan tangan mereka dan merangkul bahunya pelan serta menarik ke dalam pelukan. Ia membubuhkan kecupan hangat di puncak kepalanya dengan keharuan menyeruak. Ia bangga dan bersyukur bisa mendapatkan seorang putri seperti Kaila.


"Appa bangga padamu, Sayang. Tetaplah seperti ini dan jangan pernah berubah, ayah Irsyad tetap menjadi ayah kandung dan kebangganmu. Sayangi, cintai dan hormati beliau sebagaimana mestinya," nasehat YeonJin.


Kaila pun mengangguk singkat dan terus menunduk dalam. "Kaila juga sangat menyayangi Appa. Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan pada Mamah. Kaila tahu jika dulu, Mamah sering menangis setiap kali Kaila menanyakan keberadaan ayah. Terima kasih Appa selalu membuat Mamah tersenyum, Kaila sangat senang melihatnya."


YeonJin kembali dibuat tidak bisa mengatakan sepatah kata. Kaila seorang anak yang sangat peka terhadap perasaan orang tuanya.


"Tidak usah berterima kasih, Sayang. Itu sudah menjadi tugas Appa untuk membahagiakan Mamah, kamu dan juga adik kecil, Hyun Sik. Kita satu keluarga tidak bisa digantikan oleh siapa pun."


"Em, terima kasih," balas Kaila sekali lagi.


Pemandangan tersebut memberikan embun dikedua mata Riana. Sedari tadi ia terus memperhatikan keluarga kecilnya di sana. Air mata tidak bisa dibendung dan terus berjatuhan saat perasaan nyaman menyapanya.


"Terima kasih ya Allah sudah menitipkan putri yang sangat baik untuk hamba. Suami yang mencintai hamba tidak peduli bagaimana statusku sebelumnya. YeonJin Oppa, terima kasih sudah menyayangi Kaila layaknya anak kandungmu. Aku sangat bersyukur atas kejadian yang menimpa. Karena berkahnya sungguh luar biasa," gumam Riana berdiri di pekarangan kantor polisi seraya melihat mereka.


YeonJin menjadi sosok ayah dan suami yang paling berharga dalam hidupnya. Tidak ada yang lain hanya ia seorang mengisi relung hati Riana. Kegagalan waktu itu menjadi batu loncatan baginya untuk bertemu pria baik seperti suaminya sekarang. Berkah dan rahmat yang sudah Allah berikan sungguh luar biasa bagi kehidupannya.