
Hari esok menyimpan berjuta misteri, kedatangannya mengundang kejutan dan ketidakpercayaan. Kehidupan akan terus berjalan sebagaimana Allah masih memberikan napas untuk terus berubah menjadi lebih baik.
Kim Kaila atau Kaila Humairah, anak berusia delapan tahun itu kini tengah berbahagia bisa mengecap manisnya sebuah keluarga. Ia senang bisa melihat senyum tulus di wajah sang ibu saat bersama suami barunya. Selama lima tahun ia hidup dengan orang tua tunggal tanpa merasakan kasih sayang seorang ayah dan takdir mempertemukannya dengan ayah sambung yang menyayanginya seperti anak kandung.
Kaila bahagia setidaknya merasakan kehidupan seperti anak lainnya bisa bersama dalam satu atap dengan kedua orang tua utuh.
Namun, tidak akan selamanya mengecap manisnya madu. Pahitnya empedu terkadang datang menyuguhkan air mata tak diundang, melunturkan senyum dan mengundang kepedihan.
Kaila yang tengah menunggu sang ibu menjemputnya ke sekolah dikejutkan dengan kedatangan pria paruh baya. Sosok itu tersenyum dan berjalan mendekat mengundang tanda tanya.
"Kakek siapa?" tanya Kaila seraya mendongak.
"Aku Kim YeonSun, orang tua Kim YeonJin, ayah tirimu."
Dahi kecil Kaila mengerut dalam. Selama ini ia tidak pernah mendengar sang ayah menceritakan tentang kakeknya dan sekarang Kim YeonSun tiba-tiba hadir mengejutkanya.
"Ah, kakek yang kemarin datang ke rumah, kan? Aku tidak menyangka ternyata appa masih mempunyai seorang ayah, tapi kenapa tidak pernah memberitahuku?" Oceh Kaila seraya meletakan jari telujuk di bawah dagu.
"Ayahmu malu mempunyai orang tua seperti kakek." Ujar Kim YeonSun berjongkok tepat di depan Kaila.
"Kenapa?" tanya Kaila lagi tidak mengerti.
Sebelum mendengar jawaban dari pria dewasa di depannya, beberapa anak keluar dari gerbang sekolah. Kaila menoleh mendapati teman sekelasnya dan tatapan mereka saling beradu memberikan rasa penasaran.
"Kaila? Siapa pria asing itu?"
Tunjuk salah satu dari mereka, anak berkuncir kuda tersebut berjalan mendekat dan diikuti kedua temannya yang lain.
"Perkenalkan kakek tiri Kaila," ucap YeonSun tersenyum ramah pada mereka.
"Kakek tiri?" cicit anak berkepang satu.
"Iya, Kaila mempunyai ayah tiri dan bukan ayah kandung."
Ketiga anak tersebut saling pandang dan beralih menatap Kaila menuntut pembenaran darinya.
"Ah, aku ingat. Saat di TK dulu ada seorang pria yang datang ketika kami merayakan hari ayah, apa itu ayah tirimu, Kaila?" tanya anak berkuncir lagi.
"Itu benar, Byeol," jawab Kaila singkat.
Byeol tercenang dan memandang kedua temannya seraya berbisik singkat membuat Kaila mendongak melihat ke arah ketiganya. Ia tidak percaya kakek tiri yang tiba-tiba saja datang mengatakan sebuah fakta. Kaila tidak bermaksud menyembunyikan, hanya saja ia memang sudah menganggap Kim YeonJin sebagai ayah kandung tanpa ada maksud lain.
"Aku tidak menyangka Kaila mempunyai ayah tiri," sambung Aeri.
"Apa ayah tiri sama seperti ayah kandung?" tanya Ahin kemudian.
"Tentu saja berbeda, Sayang. Ayah kandung dan ayah tiri mempunyai kedudukan sayang tidak sama. Kita tidak bisa bebas minta apa pun pada ayah tiri. Namanya juga orang asing pasti perlakuannya berbeda, kalian paham maksud kakek? Kaila hanya memanfaatkan kebaikan ayah tirinya dan menganggap beliau seperti ayah kandung dan berlaku seenaknya. Bukankah itu tidak baik? Terlebih ayah kandung Kaila sekarang sedang berada dalam penjara, pasti kelakuannya sama. Kalian harus hati-hati berteman dengannya." timpal YeonSun memandangi ketiga anak dengan senyum hadir di wajah tuanya.
"Apa? Ayah kandung Kaila di penjara?" Byeol terkejut tidak percaya mendengar kembali fakta baru terungkap. "Aku mengerti, pasti tidak nyaman tinggal bersama orang asing. Ayo pulang, aku tidak mau dekat-dekat dengan Kaila. Dia hanya memanfaatkan keadaan." Byeol pun memberikan tatapan sinis ke arah Kaila membuatnya tercengang.
"Kalau begitu ayo pulang aku tidak mau berteman dengan seorang anak penjahat." Ahin pun melangkahkan kaki diikuti kedua temannya.
Kaila memandangi teman sekelas dengan mata berkaca-kaca lalu kembali menoleh ke samping di mana YeonSun masih melengkungkan kedua celah bibirnya tanpa rasa bersalah.
"Kenapa? Kenapa kakek berkata seperti itu? Apa aku punya salah pada kakek?"
"Iya, aku tidak mau harta anakku dimanfaatkan oleh orang asing. Selamat tinggal, sampai jumpa lagi."
Kim YeonSun pun pergi begitu saja menyisakan goresan luka tak kasat mata di hati seorang anak. Kaila menangis dalam diam seraya mencengkram rok seragamnya erat. Angin menerbangkan kehiupan manis yang selama ini ia jalani.
Tidak lama berselang sosok sang ibu datang. Riana terkejut mendapati buah hatinya berlinang air mata. Hyun Sik yang berada dalam buaian memandangi sang kakak seraya berceloteh tidak jelas. Buru-buru Riana mendatanginya dan bersimpuh di hadapan Kaila.
"Sayang, kenapa kamu menangis? Apa yang terjadi?" tanya Riana khawatir.
"Aku mau pulang, Mah."
"Iya kita akan pulang sekarang."
Gelengan kepala Kaila seketika membuat dahi lebar Riana mengerut dalam. Ia tidak mengerti dengan gelagat sang putri.
"Kaila tidak mau pulang ke rumah. Kaila mau pulang ke Indonesia dan bertemu ayah." Ucapnya seraya sesenggukan.
Riana semakin tidak mengerti lalu kepala berhijabnya menoleh ke sana kemari mencari sesuatu yang mencurigakan. Firasatnya mengatakan jika sudah terjadi hal yang tidak benar pada Kaila. Baru kali ini ia melihatnya menangis seperti tengah menahan luka.
"Sayang, kita tidak bisa pulang ke sana, Nak. Ayah, em ayah-"
"Ayah di penjara, aku tahu, Mah. Tapi, aku tetap ingin ke Indonesia dan bertemu ayah. Aku tidak mau kembali ke rumah Appa."
Riana pun langsung memeluk putri kecilnya dan ikut menangis. Ia tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya hingga membuat Kaila seperti itu. Namun, ia menyadari satu hal jika Kaila tengah terluka diingatkan kembali oleh fakta jika kini dirinya hidup bersama ayah sambung.
"Sayang, Mamah mengerti perasaanmu, tapi sekarang kita harus kembali dulu, yah."
Riana melepaskan pelukan lalu menghapus jejak air mata di pipi gembil Kaila.
"Kaila anak baik, sholehah, sayang Mamah, kan?" Kaila mengangguk singkat, "dengarkan Mamah, sekarang kita pulang dulu dan bicarakan di rumah, yah."
Kaila kembali mengangguk dan mengikuti ke mana ibunya pergi. Dalam diam Riana mengepalkan sebelah tangan yang tidak menggandeng tangan sang anak. Sorot mata berubah serius dan giginya saling menggretak menahan kekesalan.
"Aku tahu siapa dalang di balik ini semua," batinnya.
Sepanjang perjalanan pulang Kaila terus mengeluarkan air mata tanpa isak tangis. Riana yang tengah menyetir berkali-kali melihat kaca spion mengkhawatirkan keadaannya. Sebagai seorang ibu ia memahami bagaimana kesakitan yang tengah ditanggung Kaila.
"Ya Allah, Kaila hanya anak berumur delapan tahun. Tega sekali membiarkan anak sekecil itu menerima fakta menyakitkan. Sayang, maafkan Mamah," benak Riana lalu menoleh ke samping kiri di mana Kim Hyun Sik tengah tertidur lelap.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Kaila dan Hyun Sik. Aku harus melakukan sesuatu agar masalah ini tidak berkepanjangan. Bagaimana pun juga Kaila akan tumbuh besar di sini dan masa lalu akan mempengaruhi lingkungannya," monolognya lagi.
Siang ini menjadi waktu paling menyulitkan bagi mereka. Kebahagiaan membuatnya terbuai dan lengah pada ujian menghadang.