QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Goyah (Season2)



Menjadi seorang ibu merupakan tugas mulai. Dari bangun sampai tidur lagi banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan bernilai pahala. Allah tidak salah menempatkan syurga di bawah telapak kaki ibu. Karena perjuangan dan cinta kasihnya untuk anak-anak serta keluarga tiada tara. Jatuh bangun, menjadi pengiring kehidupannya.


Terkadang ada luka yang harus disembunyikan. Ada air mata yang tidak boleh dikeluarkan. Sesak dalam dada menjadi rahasia tersendiri. Karena harus ada senyum kebahagiaan untuk melihat sang buah hati.


Riana, salah satu ibu di dunia ini yang memperjuangkan kebahagiaan keluarganya. Asam, manis, pahit kehidupan sudah tidak asing lagi. Air mata sudah surut mengantarkan setiap episode perjalanan kisahnya.


Kembali menjalani rutinitas yang sama membuat Riana bersyukur atas berkah Sang Pencipta. Ia senang bisa mengemban tugas sebagai ibu dan istri, lagi. Terlebih adanya Kim Hyun Sik menjadi pelengkap keluarga kecilnya. Seorang putra dan putri, dua anak yang membuatnya tegar.


Saat ini ia tengah membuat makan malam spesial untuk menyambut dua tamu yang sudah diberitahu oleh sang suami beberapa waktu lalu. Wajah sumeringah pun hadir menemani kegiatannya. Kepulan asap dan aroma penggugah selera menemani kesendirian. Hal tersebut terus terulang, tapi Riana tidak pernah bosan melakukannya.


Ada kebahagiaan tersendiri kala melihat suami dan anak-anaknya menikmati makanan yang dibuatnya. Ia senang bisa melihat binar suka cita yang mereka layangkan.


Di tengah-tengah kegiatannya memasak, suara bel mengalun ke seluruh penjuru rumah. Buru-buru Riana mematikan kompor dan bergegas membuka pintu. Setelah terbuka senyum mengembang dari tamu tidak diundang pun membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.


"A-appa?" panggilnya gugup.


Kim YeonSun melebarkan senyum menatap sang menantu.


"Kita bertemu lagi Riana, bagaimana? Apa kamu suka aku datang berkunjung?"


"Ke-kenapa Appa bisa tahu rumah ini?"


Kim YeonSun melipat tangan di depan dada dengan seringaian tercetak di wajah tuannya.


"Kenapa? Apa kamu takut aku bertemu dengan Kim YeonJin? Tidak usah khawatir, sebelum bertemu denganmu aku sudah bertemu lebih dulu dengannya. Emm, apa kamu senang dengan hadiah yang aku berikan?"


Kedua alis Riana saling bersahutan tidak mengerti. Perkataan sang mertua membuatnya gamang dan kembali merasakan firasat tidak mengenakan. Ia mengepalkan kedua tangan berusaha menahan diri untuk tidak bertindak gegabah.


"Hadiah apa maksud Anda?" tanya Riana formal.


Kim YeonSun semakin melebarkan kedua sudut bibirnya. Pria paruh baya tersebut merasakan kemenangan.


"Artikel yang baru saja rilis, apa kamu suka? Ahh, bagaimana reaksi Kim YeonJin yah? Aku tidak sabar melihatnya, dan juga apa cucu tiriku akan baik-baik saja?"


Mendengar perkataan terakhir bagaikan menuang bensin di api yang menyala. Kemarahan berkobar dengan cepat dalam dada. Riana menggeretakkan gigi, urat di pelipisn bermunculan melihat betapa licik dan menyebalkannya Kim YeonSun. Jika bukan mertuanya sendiri, entah apa yang akan dilakukan Riana. Sebagai seorang ibu, ia tidak bisa melihat buah hatinya terluka, termasuk oleh kakeknya sendiri.


"Apa yang Anda ingin lakukan? Jangan pernah Anda menyakiti putri saya." Balas Riana dengan suara berat yang teredam.


"Oh, apa kamu mau melawan mertuamu sendiri? Mertua sama saja seperti orang tuamu, Riana."


Riana semakin mengeratkan kepalan tangan dengan dada naik turun serta menatap tajam ke arah sang ayah mertua. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan mencoba untuk tenang, meskipun ada amarah yang tertahan.


"Sebenarnya apa tujuan Appa datang ke sini?"


"Tentu saja mau menengok cucuku, Kim Hyun Sik."


Riana tahu ada makna tersirat dalam sorot mata tegas Kim YeonSun. Baru saja bibir kemerahannya terbuka suara seseorang mengejutkan. Ia tidak sadar jika sang suami sudah kembali.


"Appa!!"


Kedua manik jelaga Riana mebelar sempurna. Kim YeonSun berbalik tersenyum lebar mendapati putra semata wayangnya. Layaknya seorang ayah yang baik pria paruh baya itu merentangkan kedua tangan berharap sang anak mendekapnya hangat.


Namun, sampai YeonJin berdiri di hadapannya hal tersebut tidak pernah terjadi.


Kim YeonSun mendengus seraya kembali melipat tangan, "beginikah caramu menyambut Appa? Apa salah seorang ayah dan kakek ingin melihat anak serta cucunya sendiri? Apa kamu juga tidak akan memperkenalkan Appa pada istrimu. Ah, tapi sebenarnya Appa dan Riana sudah pernah bertemu. Em, kemarin sore, kan?" Lanjutnya seraya mendelik ke arah sang menantu.


Riana tidak menyangka mendengar penuturan ayah mertuanya. Seketika degup jantung bertalu kencang, ia menoleh ke arah sang suami yang tengah menatapnya dalam. Kepala berhijabnya menggeleng beberapa kali dengan wajah memelas.


Kim YeonJin menggenggam lengan Riana kuat, "Aku butuh penjelasan."


Ia lalu menarik pelan tangan sang istri masuk ke dalam. Sedangkan mereka menatap kepergian dua orang tersebut dalam diam.


Jasmin menunduk melihat Kaila yang menautkan jari jemarinya dengan sorot mata ketakutan. Ia lalu berjongkok di hadapannya seraya memegang kedua bahu kecilnya. Ia mengerti ada ketakutan yang tersimpan dalam hatinya.


"Kaila tidak usah khawatir, mamah dan appa pasti baik-baik saja."


Tanpa bisa dicegah air mata keluar dari iris bening Kaila. Jasmin terperanjat dan buru-buru membawanya ke dalam dekapan hangat dan mengelus punggungnya perlahan.


"Jangan menangis, ada Eonni di sini. Kaila, anak yang kuat apapun yang terjadi tidak usah menangis, yah."


Kaila mengangguk perlahan dan membalas pelukan Jasmin. "Kaila tidak mau sampai mamah menangis lagi. Kalia hanya ingin mamah terus tersenyum bahagia," jawabnya dengan suara lirih.


Jasmin tidak kuasa membendung kesedihan, cairan bening itu pun meluncur tidak bisa dicegah. Ia terus memeluknya mencoba meyakinkan dan menguatkan Kaila.


"Kaila tahu, Allah tidak pernah memberikan ujian dibatas kemampuan hamba-Nya. Apa Kaila tahu juga? Allah pasti memberikan yang terbaik untuk mamah dan appa. Kaila percaya itu, kan?"


Kaila masih sesenggukan berusaha menghentikan tangisannya lalu mengangguk samar. "A-ku percaya."


"Bagus, Kaila anak pintar."


Tanpa mereka sadari Jimin sedari tadi memperhatikan interaksi Jasmin dan Kaila. Ada perasaan hangat menyapanya begitu kuat. Ia ingin mendekap keduanya menyalurkan kekuatan jika mereka tidak sendirian. Karena masih ada seseorang yang akan melindunginya.


"Tapi aku sadar, tidak bisa melakukan hal tersebut. Kami berbeda, aku tahu itu," benaknya dalam diam.


Kim YeonSun kembali menyeringai menatap adegan menggelikan di hadapannya.


"Itu anak Riana? Kenapa YeonJin mau menikahi wanita single parent beranak satu? Apa yang ada dalam pikirannya? Aku tidak bisa membiarkan mereka menikmati hartanya begitu saja," monolognya.


Sedangkan di balkon lantai atas YeonJin menatap sang istri dengan serius. Riana mendongak membalas tatapan suaminya tanpa gentar sedikit pun. Ia tahu jika mungkin saja detik itu juga ketentraman rumah tangga mereka goyah.


Ia sudah siap apapun resikonya.


"Kenapa kamu tidak mengatakan apa pun padaku jika sudah bertemu dengan appa?" tanya YeonJin cepat.


"Aku tidak mau membuatmu khawatir dan menimbulkan masalah lain."


"Tapi buktinya sekarang apa? Masalah lain terus berdatangan. Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, Riana? Apa kamu tidak percaya dengan suamimu sendiri? Pria paruh baya di luar itu orang tuaku. Ayah kandungku. Yang sudah bertahun-tahun pergi meninggalkan aku dan mendiang eomma. Apa kamu tahu bagaimana rasa kecewa itu hadir saat mengetahui fakta barusan? Ya Allah Riana, aku suamimu." Tegas YeonJin seraya menunjuk pada dirinya sendiri


Riana tidak bisa berbuat apa-apa, ini pertama kalinya mereka adu mulut sampai sang suami menggunakan nada tinggi. Ia sadar jika saat ini Kim YeonJin tengah menelan kekecewaan.


"Aku minta maaf, tidak bermasud untuk menyembunyikannya. Aku ha-"


"Sudahlah."


Setelah mengatakan itu YeonJin pun melengos pergi begitu saja tanpa memberikan kesempatan sang istri untuk menjelaskan.