
...Malam gelap yang tidak pernah dilirik lagi ternyata memaksanya untuk mendongak dan melihat kepekatannya. Luka lama yang sudah lama terkubur harus kembali terbuka....
.......
Hari demi hari, minggu demi minggu terlewati dengan gelisah. Tanpa ada yang tahu jika selama ini YeonJin terus datang ke masjid yang ada di daerah Itaewon. Di sana ia terus belajar tentang agama Islam. Haikal, selaku orang yang membantunya senang bisa membimbing pria itu. Ia juga berharap YeonJin bisa mengucapkan dua kalimat syahadat dengan ikhlas tanpa paksaan dari siapa pun.
Namun, semua itu tergantung dari niatnya sendiri.
“Haikal, sepertinya aku sudah memutuskan,” ungkapnya jujur tanpa sedikit pun menatapnya.
Haikal yang tengah membaca Al-Qur’an di sampingnya langsung menatapnya cepat tidak mengerti.
“Apa maksudmu?”
“Malam ini aku ingin masuk Islam.”
Perlahan kedua sudut bibir kemerahan Haikal melengkung membentuk bulan sabit sempurna. Hatinya lega bisa mendengar sendiri penuturan dari pria CEO ini. Ia yakin ucapannya tadi datang dari hati terdalamnya.
“Jadi kamu siap mengucapkan dua kalimat syahdat?”
Dengan yakin YeonJin menganggukan kepalanya dan membalas tatapan itu lekat. Ia menyunggingkan senyum terbaiknya merasakan kedamian. Selama ini ia sering menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam masjid. Belajar lebih dalam mengenai agama Allah bersama Haikal. Dan selama itu pula ia jarang melihat atau bertemu dengan Riana maupun Kaila. Mereka juga tidak mempermasalahkannya, karena YeonJin mempunyai privasinya sendiri.
Jam menunjukan pukul setengah 9 malam. Bersama dengan cahaya bulan yang bersinar terang di langit gelap, ucapan dua kalimat syahadat mengalun tegas dari bibirnya dengan khidmat. Disaksikan oleh para jemaah masjid YeonJin merasakan kedamaian.
“Kamu yakin mau masuk Islam?” tanya Haikal sebelumnya.
“Aku yakin.”
“Tidak ada paksaan atau pun perintah dari siapa pun?”
“Sama sekali tidak. Ini murni atas keinginanku sendiri.”
“Baiklah kalau begitu ikuti kata-kata saya. Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah."
"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah."
YeonJin mengucapkannya dengan lancar. Seketika itu juga semua jamaah terharu dengan kesungguhan yang dimiliki pria berkepala tiga ini. Tidak hanya tampan tapi juga kedudukannya sebagai pemimpin perusahaan membuat mereka bangga.
“ALLAHU AKBAR…!!”
Gema takbir seketika terdengar dari dalam masjid. YeonJin merasakan lega luar biasa, seperti beban dalam dirinya selama ini terangkat dan menguap begitu saja. Tanpa ia sadari, keristal bening meluncur bebas di pipi putihnya.
Satu persatu semua orang mengucapkan selamat. YeonJin semakin terharu selama ini keberadaannya diterima dengan sangat baik. Bahkan mereka juga selalu membantunya dalam belajar.
“Selamat yah, sekarang kamu saudara kami. Dan nama Islammu Muhammad Ibrahim.” YeonJin memeluknya erat merasakan kesenangan luar biasa. Haikal menjadi saksi atas perjuangan yang dilakukan YeonJin hingga menemukan kebenaran.
...“Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan…” (Q.S Al-An’am ayat 88)...
...“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.S Al- Qasas ayat 56)...
Itulah ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan jika Allah sudah berkehendak maka siapa pun bisa menerima petunjuk dan kebenaran. Allah tidak pernah salah memberikan cahaya hidayah pada hamba-Nya yang mau berpikir.
"Terima kasih ya Allah sudah memberikan kelimpahan hidayah ini padaku. Dalam bimbingan Haikal aku menemukan kebenaran." Benaknya seraya menatap hangat pria di sampingnya. Ia bangga bisa bertemu dengan Haikal.
...***...
Siang kembali datang. Semalam menjadi waktu paling bersejarah dalam hidupnya. Tanpa ada teman dan saudara yang tahu kini ia sudah menjadi seorang mualaf. Ada kepercayaan yang diemban dalam hidupnya. YeonJin merasakan kehidupannya lebih terarah.
Tidak lama kemudian ia pun tiba di kediamannya. Sudah lama rasanya ia tidak menghabiskan waktu di rumah. Sesekali ia ingin kembali datang dan melihat keadaannya. Tepat, setelah ia membuka pintu tatapannya mengarah pada seorang wanita berhijab yang tengah duduk di ruang makan. Meja bundar itu menjadi tempatnya bekerja untuk menuangkan ide-ide beriliannya. Kertas lebar membentang menemani kesendirian. Langkah kaki YeonJin terhenti seketika. Ia tidak menyangka pemandangan pertama yang dilihatnya sekarang adalah Riana.
Merasakan keberadaan seseorang, Riana pun menghentikan kegiatannya dan menoleh kesamping kiri melihat YeonJin mematung di sana. Bola matanya melebar saat tatapan mereka saling bertubrukan. Buru-buru keduanya pun menundukan pandangan.
“Wah akhirnya kamu pulang juga. Selama ini kamu pergi kemana, Yeon?” suara berat itu menginstrupsi.
YeonJin mendongak dan melihatnya langsung. “Ada sesuatu yang sedang kuurus.”
“Hmm, lebih baik kamu tidak usah bekerja terlalu berat. Sebentar lagi kamu akan melangsungkan pernikahan. Lihat Riana saja sudah merancang rumah yang bagus untuk kalian,” Pamannya kembali menorehkan luka baru.
Ia sadar keberadaan wanita itu di sana tengah merancang sebuah rumah untuknya.
“Iya dan sebentar lagi akan segera dibangun. Saya harap Anda menyukainya.”
Riana kembali bersikap formal padanya. Hal itu tentu saja membuat YeonJin tidak suka.
Tanpa membalas perkataannya, ia pun melangkahkan kaki melihat rancangan itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat gambar yang tertuang dalam kertas tersebut. Rumah mewah lengkap dengan detail ruangan berhasil Riana gambar untuknya.
“Kenapa kamu mau melakukan semua ini?”
“Ehh…?!” Riana terkejut mendengar pertanyaannya. YeonJin bersikap serius tanpa sedikit pun mengalihkan tatapan.
“Kalau begitu aku ke ruangan dulu,” lanjut YeonJin tidak memberikan kesempatan Riana menjawab pertanyaannya.
Kim Haneul tersenyum mengerti kenapa keponakannya bersikap seperti tadi. Ia paham dengan sesuatu yang tersimpan apik dalam hatinya.
“Sepertinya Yeon jatuh hati padamu, Riana.”
Untuk kedua kalinya Riana tersentak kaget dengan penuturan pria bermarga Kim ini.
“Apa maksud Anda?”
“Apa kamu tidak melihatnya?” Setelah memberikan pertanyaan itu Haneul pergi meninggalkan Riana seorang diri memberikan tanda tanya besar dalam kepalanya.
“Apa maksudnya? Mana mungkin. Eh, tunggu bukannya dia waktu itu- Ahhhh tidak tidak itu tidak mungkin,” racaunya, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan di ruang pribadi yang digunakan untuk tempat melukisnya, YeonJin duduk seorang diri seraya berhadapan dengan canvas lagi. Ternyata ia masih menyimpan perasaan dalam hatinya setelah sekian lama tidak berinteraksi dengan wanita itu.
“Ya Allah, ya Tuhan hamba berikanlah petunjuk. Hamba tidak ingin kembali tersesat karena sebuah perasaan.”
Ia sudah menjadi pribadi yang lebih baik.
Segala sesuatu yang mengganggunya sekarang, ia lebih dahulu menceritakan pada Sang Pemilik Kehidupan. Ia bahagia telah menemukan tempat pengaduan. Allah Sang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui segala isi hati. Kim YeonJin kini menyadari akan keberadaan-Nya.