QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Kebersamaan (Season 2)



Jalan cerita setiap insan pasti berbeda-beda. Allah sudah memberikan porsinya masing-masing sesuai kesanggupan dan kebutuhan setiap hamba. Allah tidak pernah salah mengatur rencana yang terbaik, di balik kepedihan pasti menyimpan kebaikan di dalamnya.


Sama seperti musim, kadang hujan, panas, berangin, semua berputar seiring berjalannya waktu. Masa akan terus bergulir sebagaimana semesta menemani setiap langkah episode kehidupan. Baik dan buruk sudah menjadi bagian dari rencana-Nya. Sebagai seorang hamba hanya bisa menerima ketentuan yang ada. Karena Allah pasti memberikan yang terbaik. Tutup mata dan telinga atas apa yang dipertanyakan. Karena takdir akan datang di waktu yang tepat, bukan hadir sebab sebuah perkataan.


Merenung menjadi bagian terpenting dalam hidup seorang Riana. Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Sudah banyak kejadian yang dilaluinya selama ini, asam, manis, pahit berganti melewati kisah kehidupan.


Riana bersyukur di balik air mata pilu, masih ada senyum mengembang di ufuk sana. Allah menghadirkan sosok Kim YeonJin sebagai kekasih halal pengganti syurganya yang telah rapuh.


Sepasang lengan kekar pun terulur mengitari perut rampingnya. Kembali, balkon menjadi tempat favorite mereka melepas keluh kesah dan kebersamaan akan cinta yang keduanya miliki.


YeonJin menyandarkan dagu di atas kepala sang istri. Aroma vanilla seketika menguar memberikan kenyamanan. Ia bersyukur dan sangat mencintai sosok Riana.


"Apa kita bisa melewati rintangan ini bersama?" tutur YeonJin kemudian.


Riana yang tengah menikmati rengkuhan suaminya tersenyum sekilas dan memeluk erat kedua lengan YeonJin.


"Kita bisa dan mampu, Allah sudah menjanjikan dalam surah Al-Insyirah ayat 5-6 jika di balik kesulitan ada kemudahan. Aku tidak tahu apa yang sedang menunggu kita di sana, tapi aku percaya ada sesuatu terbaik. Oppa percaya itu juga, kan?"


YeonJin menganggukan kepalanya sekilas dan semakin mengeratkan pelukan.


"Aku percaya. Karena bersamamu aku yakin bisa melewati itu semua."


Ia pun membubuhkan kecupan hangat di puncak kepala wanitanya. Riana menutup kedua mata seraya mengembangkan senyum. Ia bahagia bersuamikan Kim YeonJin, sosok yang tidak pernah diketahui. Namun, Allah menakdirkan mereka bersama.


Karena sejauh apa pun jarak memisahkan, semesta menghalangi, jika Allah sudah berencana maka tidak ada yang tidak mungkin. Semua akan menemukan jalannya masing-masing sesuai dengan waktu yang sudah Allah rencanakan.


Bulan bersinar terang di atas sana, bintang berkelap-kelip menemani kebersamaan pasangan suami istri tersebut. Angin berhembus menambah kesyahduan, raksi menyebar mengantarkan kedamaian. Cakrawala ikut tersenyum dengan kisah cinta mereka berdua.


Namun, hal itu tidak berlaku pada dua insan yang masih terjebak dalam perjalanan pulang. Jasmin dan Jimin sedari meninggalkan kediaman keluarga Kim terus bungkam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing mencoba meredam debaran yang tak bersyarat.


Sedari tadi Jasmin terus memandang keluar jendela mengalihkan pandangan. Sesekali Jimin menoleh memperhatikannya dan hanya suara mesin mobil yang terus menemani.


"Jasmin ak-"


"Sebelumnya aku minta maaf."


Jasmin memotong ucapannya cepat membuat kedua alis Jimin saling berpautan. Ia pun kembali memperhatikannya yang sama sekali tidak merbuah posisi.


"Ma-maaf? Apa maksudmu?" tanya Jimin tidak mengerti.


"Aku minta maaf tidak bermaksud menguping tadi."


Mendengar hal tersebut seketika degup jantung Jimin semakin bertalu kencang dengan keringat dingin bermunculan. Ia gugup luar biasa enggan mendengarkan apa yang selanjutkan Jasmin katakan.


"Maaf."


Satu kata yang keluar dari mulutnya mengantarkan hunusan pedang menorehkan sebuah kepiluan. Seperti ada tangan tak kasat mata mengoyak hatinya tanpa perasaan. Jimin tanpa sadar menepikan laju mobil seraya memandang lurus ke depan.


Jasmin pun melakukan hal yang sama dengan wajah datar.


"Sepertinya kamu harus melupakan perasaan itu. Kita tidak sama dan tidak bisa untuk bersama. Aku dan kamu diciptakan berbeda, tapi kamu dan aku hanya ditakdirkan untuk bertemu."


"Tapi aku sangat mencintaimu."


"Bisakah kamu memberikan kesempatan untukku membuktikannya?" tanya Jimin menyambar perkataan Jasmin.


Sekilas ia menoleh melihat binar harap dalam kedua mata itu. Jasmin menundukan kepala dalam seraya mengepal kedua tangan erat.


"Aku tidak tahu. Terima kasih sudah mengantarkanku."


Seteleh mengatakan itu Jasmin buru-buru keluar meninggalkan berjuta kebimbangan. Jimin memandangi sosoknya yang menghilang dalam taksi. Dalam keheningan ia meremat kuat stir mobil seraya menahan kepedihan dalam dada.


Jimin menangis untuk pertama kalinya, karena seorang wanita.


...***...


Hari baru kembali datang Kim YeonJin melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Dokumen-dokumen menumpuk membuatnya tersenyum. Beban tersebut tidak sebanding dengan kebahagiaan yang dimilikinya saat ini. Hidup bersama orang tercinta telah mengantarkan kedamaian dalam hati.


Namun, lagi-lagi hal tersebut tidak berlaku untuk sang sekertaris. YeonJin yang baru saja tiba mengerutkan dahi dalam kala melihat Choi Jimin menelungkupkan wajah di atas lipatan tangan. YeonJin mengetuk meja kerjanya perlahan membangunkan sang pemilik.


Dengan malas Jimin membalikan kepala ke samping dan mengangkat bola matanya melihat sang atasan.


"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu kusut seperti itu?" tanya YeonJin seraya melipat tangan di depan dada.


Jimin hanya menghela napas kasar dan memalingkan wajahnya lagi. YeonJin semakin mengerutkan dahinya dalam lalu menarik kerah belakang sang sekertaris membuat sang empunya kembali duduk tegak.


"Hyung, apa yang Hyung lakukan?" Sungutnya memandang lekat ke arah YeonJin.


"Aku tadi bertanya bukannya menyapa. Kenapa kamu lusuh begini, sepeti sedang patah hati saja."


Seketika ucapan sang kakak membuatnya membeku. YeonJin memperhatikan gerak-gerik Jimin dan sadar jika kata-katanya barusan tepat mengenai sasaran.


"A-apa benar seperti itu? Apa semalam terjadi sesuatu?" tanya YeonJin hati-hati.


"Jasmin menolakku."


Dua kata yang telontar membuat YeonJin melebarkan pandangan. Ia tidak menyangka jika kisah cinta sang adik berujung tragis.


"Kamu tidak boleh menyerah, ini bukan akhir dari segalanya. Kamu masih punya kesempatan untuk mendapatkan hatinya. Kar-"


"Bukankah kata Riana kita berbeda dan tidak mungkin bersama?"


Jimin mendongak membalas tatapan itu dengan air mata merembes keluar. YeonJin terkesiap melihatnya seperti sekarang. Baru kali ini ia menyaksikan luka teramat dalam pada diri Jimin. Dulu, saat ia dikhianati hanya kekesalan yang terlihat. YeonJin yakin jika sekarang perasaan Jimin terhadap Jasmin benar-benar tulus.


"Tidak ada yang tidak mungkin. Jika kalian memang dipersatukan untuk bersama maka akan ada jalannya. Kamu harus mengikuti apa kata hati, temukan kebenaran dan minta petunjuk pada Sang Pemilik Hati. Kamu, sadar itu?"


Seulas senyum terpendar di bibir kemerahan YeonJin. Ia pun lalu meninggalkan Jimin dengan pertanyaannya yang terus berputar.


Jimin termenung menyadari kata-kata yang baru saja hinggap dalam pendengaran. Ia harus mencari kebenaran sebelum meyakini sebuah perasaan.


"Aku harus mencari tahu."


Ia pun beranjak dari meja kerja berniat untuk meninggalkan pekerjaannya hari ini. Ia sudah bertekad untuk menemukan sebuah kebenaran yang selama ini tidak pernah dilihatnya. Keputusannya sudah bulat dan ia menginginkan yang terbaik. Bukan karena cinta, tetapi untuk kebaikan dirinya sendiri.