QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Kehidupan Baru (Season 2)



...Membuka kembali lembara baru mengantarkan pada muara kebahagiaan....


.......


Satu bulan pasca melahirkan, Riana merasa menjadi seorang wanita yang sesungguhnya. Status sebagai ibu dan istri melekat dalam dirinya. Ia tidak pernah membayangkan kedua peran itu akan kembali. Ia pikir akan selamanya menjadi seorang ibu tunggal bagi putri kecilnya, Kaila Humairah.


Namun, Allah selalu mempunyai rencana terindah untuk setiap hamba-Nya. Siapa pun dia jika sabar dan bertawakal kepada Sang Pemilik Kehidupan maka keberkahan akan didapatkan. Begitulah yang tengah dirasakan Riana.


Seorang wanita yang sudah memasuki kepala tiga ini sangat bersyukur atas kejadian di masa lalu. Masa kelam yang seharusnya tidak untuk dikenang. Namun, akan selama melekat dalam ingatan. Bagaimana pun juga Riana pernah hidup di masa itu mengemban tugas sebagai seorang istri dari pria arogan bernama Arsyid.


Satu tahun berada di bawah kaki pria itu membuat Riana merasakan hidupnya berada dalam jeruji besi. Sangkar emas yang diberikan nyatanya mengundang air mata. Bukan kebahagiaan yang didapatkan, melainkan petaka.


Bukan hanya luka batin yang diterimanya, tapi juga luka fisik.


Masa-masa menyakitkan itu akan selalu menjadi mimpi buruk untuk Riana. Tetapi, di balik itu semua Allah menghadirkan malaikat kecil yang sangat cantik, Kaila. Sosok sang buah hati menjadi peredam emosi dan kesakitan yang diterima mantan suaminya.


Jika kembali teringat kenangan menyedihkan tersebut membuat ia hanya bisa tersenyum masam.


“Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?”


Suara baritone menginstrupsi wanita yang tengah menggendong sang buah hati dalam buaian. Riana, wanita berhijab lebar itu menolehkan kepalanya ke samping kanan. Di mana di sana sang suami tengah mendaratkan dagu lancip di bahunya.


“Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan....betapa bahagianya aku bisa bersanding denganmu.”


Mendengar penuturan hangat dari pujaan hatinya Kim YeonJin berbunga-bunga. Senyum pun mengembang menahambah ketampan dan semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri. Ia merasa begitu bahagia bisa mendapatkan wanita sebaik dan setegar Riana.


“Benarkah seperti itu?”


“Tentu saja, apa oppa tidak mempercayainya?”


Kekehan pun terdengar. Riana ikut mengembangkan senyum seraya menatap ke depan di mana bunga sakura pada musim semi tahun ini bermekaran. Aromanya begitu menenangkan menemani kebersamaan pasangan suami istri tersebut.


“Aku sangat mempercayaimu, Sayang.”


Riana tertawa ringan rasanya beban sebesar gunung jika diberikan padanya sekarang tidak akan terasa apapun. Begitulah jika cinta sudah bermuara, serumit bagaimana pun masalah yang menimpa maka hanya dengan senyuman maka semua akan baik-baik saja.


“Terima kasih, oppa.”


Mereka pun menikmati waktu bersama di pekarangan rumah melupakan gadis kecil yang tengah menguap lebar di belakangnya.


Kaila merasakan kedamaian yang dipancarkan kedua orang tuanya. Ia tahu meskipun Kim YeonJin bukan ayah kandungnya, tapi ia sudah menganggap pria itu sebagai ayah yang terbaik. Bagaimana dari ia berumur 5 tahun hanya sosok Kim YeonJin yang ia tahu sebagai figure seorang ayah.


Ia kini sedikit mengerti kenapa sang ibu sampai harus menyembunyikan fakta mengenai keberadaan sang ayah. Nyatanya, ayah kandung yang dirahasiakan itu menyimpan segudang fakta menyakitkan untuk ibunya.


“Mamah, appa sampai kapan kalian mau bermesraan seperti itu? Kaila sebentar lagi akan terlambat.”


“Jika kalian masih ingin bemesraan Kaila tidak apa-apa, lanjutkan saja. Uhh, sungguh pemandangan yang sangat indah. Seperti drama di televisi saja,” oceh Kaila membuat kedua pipi pasangan suami istri di sana merona hebat.


“A-apa yang Kaila katakan? Hei, ayo anak manis kamu sudah terlambat untuk pergi ke sekolah,” gugup Kim YeonJin berusaha menyembunyikan rasa malunya.


Begitu pula dengan Riana yang hanya menunduk malu tertangkap basah oleh putrinya sendiri. Ia juga tidak menyangka Kaila akan berkata seperti itu. Rasanya berkali-kali lebih memalukan daripada ketahuan oleh sekertaris suaminya, Choi Jimin.


“Kamu sudah sarapankan, Sayang? Le-lebih baik sekarang kamu berangkat,” ucap Riana berusaha untuk tidak menatap sang buah hati.


Suara tawa Kaila terdengar nyaring membuat Riana mendongak. Ia tidak mengerti kenapa putri pertamanya bisa seperti itu.


“Apa yang kamu tertawakan, Sayang?” tanyanya langsung.


“Mamah.” Jujur Kaila seraya menunjuk ibunya di depan sana.


“Ma-mamah? Memangnya mamah kenapa?” Tanya balik Riana sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Mamah seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta. Appa juga senang sekali menggoda mamah.”


“Hei... hei... hei... siapa yang menggoda siapa? Appa tidak menggoda mamah. Bukannya kamu sendiri yang menggoda mamah?”


Kaila hanya tertawa sampai memegangi perutnya yang terasa ngilu. Ia senang bisa melihat wajah tersipu sang ibu dan juga ayah sambungnya. Itu adalah pemandangan yang terlihat indah di pagi hari untuk anak kecil bernama Kaila.


“Sudah... sudah lebih baik kalian berangkat sekarang, sudah waktunya dan jangan sampai terlambat.”


Intruksi Riana membuat Kaila akhirnya berhasil menghentikan aksi tertawanya. Ia lalu turun dari teras dan mendekati sang ibu.


“Kalau begitu Kaila pergi sekolah dulu.” Ucapnya lalu mengulurkan tangan. Riana pun membalasnya dan langsung dihadiahi kecupan dari Kaila.


“Assalamu’alaikum,” lanjut gadis kecil itu kemudian melangkahkan kakinya.


“Aku pergi dulu yah, Sayang. Hati-hati di rumah aku titip Kim Hyun Sik.” Sambung suaminya lalu memberikan kecupan hangat di dahi.


Riana pun menyalaminya sebelum Kim Yeon Jin pergi. “Aku pasti akan menjaganya. Aku titip Kaila.” Pria itu mengangguk dan setelah mengusap kepalanya singkat ia pun pergi bersama Kaila.


Lambaian tangan Riana menemani setiap langkah suami dan putrinya menghilang masuk ke dalam mobil. Tidak lama berselang kendaraan roda empat itu mulai berjalan pergi dari pekarangan. Sayup-sayup angin berhembus menemani kesendirian.


Satu sapuan yang ia rasakan seolah mengantarkan pada kenangan masa lalu dan sekarang. Sudah banyak episode yang ia lewati bersama linangan air mata. Entah itu kepedihan atau pun kebahagiaan silih berganti mengantarkannya pada titik temu.


Ia sudah berhasil berada di puncak. Bertemu dengan Kim YeonJin, bukanlah sebuah kebetulan melainkan takdir yang sudah Allah atur untuknya. Keberadaan sosok asing dalam hidupnya itu menuntunnya pada muara kebahagiaan yang tidak berkesudahaan. Ia berharap akan selamanya bisa pria itu. Namun, ia sadar jika hidup di dunia pasti seperti roda berputar. Kadang berada di atas dan ada waktunya berada di bawah. Entah kapan waktunya itu tiba, Riana hanya akan berharap pada kebaikan yang Allah atur.


“MasyaAllah, tidak pernah aku membayangkan akan hidup seindah ini. Aku pikir tidak akan pernah lagi merasakan perjalanan berumah tangga, tapi Allah Maha Tahu apa yang terbaik untukku. MasyaAllah, Alhamdulillah terima kasih ya Allah atas luka yang pernah Engkau berikan. Karenanya aku bisa bertahan dan mendapatkan kebahagiaan ini,” oceh Riana.


Ia lalu mendongak melihat langit pagi ini, warna biru membentang luas dengan awan putih berarak menghiasi keindahannya. Sang raja siang pun siap mengemban tugasnya untuk hari ini.