QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Jalan (Season 2)



Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, terkadang dengan adanya jarak yang memisahkan bisa menjadi penguat sebuah hubungan maupun perasaan. Seperti halnya yang kini sedang di jalani seorang Choi Jimin, keputusannya sudah bulat guna menyingkirkan permasalahan mengendap dalam diri. Ia sudah memasarahkan semuanya pada yang di atas, biarkanlah takdir menuntun mereka pada kebenaran.


Cinta pada dasarnya akan bermuara dan berlabuh pada sang pemilik takdir, catatan yang sudah Allah tuliskan untuk masing-masing hamba, suatu saat akan diterpemukan juga. Allah sudah menentukan setiap insan di dunia berpasang-pasangan. Sebagaimana dalam surah Ar-Rum ayat 21 yang artinya "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."


Setiap orang pasti mendapatkan pasangannya masing-masing sebagaimana Allah sudah merencanakannya dengan baik. Namun, untuk mencapai itu harus berikhtiar, berdo'a dan selebihnya serahkan pada Sang Pemilik Kehidupan. Karena setiap insan pasti memiliki akhir yang berbeda-beda.


Semenjak kepulangannya dari kediaman keluarga Kim, Choi Jimin termenung di dalam kamar. Di temani cahaya bulan menyembur langsung ke dalam ruangan lewat jendela besar yang terbuka, kedua netranya memandangi sebuah buku dalam genggaman. Judul yang tetra dalam sampul menggetarkan jiwa, dadanya bergemuruh dan keyakinan semakin meningkat tajam.


"JALAN MENUJU CAHAYA."


Sebuah pedoman yang saat ini benar-benar Jimin butuhkan. Keyakinan dan keseriusan pun berseliweran dalam diri membuat ia membulatkan tekad untuk sebuah perubahan. "Aku bisa melalui ini semua," gumamnya sarat akan ketegasan.


Tidak jauh berbeda dengan Choi Jimin, saat ini Jasmin tengah menggelar sejadah di kamar pribadinya. Jam sudah meunjukan pukul setengah empat dini hari. Do'a demi do'a dipanjatkan dalam kata-kata lirih yang tercetus dari bibir ranumnya. Setetes air mata pun jatuh membasahi pipi mengenai hal tabu yang kini tengah dirasakan.


"Ya Allah, jika apa yang hamba rasakan ini salah, maka hilangkanlah. Hamba tidak ingin terbawa arus kesalahan yang mendera. Jika memang sudah saatnya bagi hamba untuk membuka hati lagi, maka labuhkan dan jatuh cintakanlah pada seseorang yang benar-benar menjadi takdir hamba. Seseorang yang terbaik menurut pilihan-Mu. Serta berikanlah kekuatan bagi hamba untuk melupakan masa lalu, yakinkan hamba jika masih ada pria baik yang benar-benar menerima hamba apa adanya."


Jasmin terus menumpahkan perasaan terdalam yang kini menyapa diri. Sudah sangat lama ia tidak merasakan hal menyusahkan bernama rasa suka. Bahkan selama ini ia terus menerus menghindarinya untuk tidak kembali terluka.


Kebohongan serta kekecewaan melekat jelas dalam diri membentuk trauma. Jasmin tidak percaya akan adanya cinta sejatai atau apa pun itu namanya. Menurutnya semua palsu dan dusta, tetapi setelah bertemu dengan pasangan Riana dan Kim YeonJin persepsi itu hancur.


Orang awam saja bisa melihat sekilas jika mereka saling mencintai. Perasaan keduanya teramat dalam dan besar untuk sekedar sebuah permainan. Riana maupun YeonJin bahkan bisa menjalani permasalahan serumita apa pun jika mengandalkan satu sama lain.


Bermodalkan penglihatannya, Jasmin sedikit percaya jika suatu saat ia pun bisa menemukan belahan jiawanya. Entah siapa pun itu ia berharap seseorang yang bisa mencintai dan menyayanginya dengan tulus. Namun, yang lebih penting bisa menyembuhkan ia dari trauma masa lalu.


Selintas bayangan Choi Jimin datang menerpa, Jasmin melebarkan pandangan terkejut tidak percaya dengan pikirannya sediri. Ia pun beristighfar berusaha mengenyahkan dan hal itu menyadarkannya jika bibit-bibit rasa suka tengah tertanam dalam ladang hati seorang Jasmin.


...***...


Seperti yang sudah dibicarakan waktu lalu, kini Kim YeonJin membawa Park Jimin ke masjid pusat Seoul. Tidak banyak orang terlihat hanya beberapa yang mempunyai kepentingan. Jam baru saja menunjukan pukul delapan pagi. Akhir pekan yang mereka miliki kini di habiskan untuk menambah ilmu pengetahuan.


"Tulisan itu dibaca Allahu Akbar, artinya Allah Maha Besar. Allah adalah Tuhan satu-satunya yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Kebaikan-Nya bukankah kini sampai kepadamu? Allah menuntun dan mengundangmu untuk datang ke rumah-Nya. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya, karena aku sudah menerima banyak kebaikan serta nikmat luar bisa yang sudah Allah berikan. Kamu pun menjadi saksi bagaimana aku berubah sampai saat ini," tutur YeonJin panjang lebar.


Ia pun memberikan tepukan pelan di bahu kanan Jimin membuatnya buyar dari lamunan. Air mukanya berubah menjadi haru dan air mata merembes keluar. Sekuat tenaga ia mencoba menahannya untuk tidak menangis di hadapan sang kakak. Kim YeonJin hanya tersenyum hangat dan membawanya masuk ke dalam.


Setiap langkah yang ditapaki bagaikan menjadi jalan cerita berbeda. Di balik gelap masih ada secercah cahaya untuk menggapai kebenaran. Di balik hujan masih ada senja yang menunggu hadir untuk setiap penikmatnya. Allah selalu memberikan kepada siapa saja hamba-Nya yang ingin berubah. Setiap saat Allah sering menyuguhkan hidayah lewat suara muazin, mengajak hamba-hamba-Nya untuk mendekat. Allah terus memanggil hamba-Nya untuk datang dan mengabulkan setiap do'a.


...***...


Sang raja siang masih bertengger nyaman di singgasananya, menemani setiap insan yang tengah menikmati hari ahad. Riana pun kini sedang menghabiskan waktu bersama kedua buah hatinya, permasalahan antara Kaila dan juga sang mertua masih belum menemukan titik terang. Namun, ia bersyukur putri kecilnya sudah bersikap biasa.


Ia pun tertawa senang kala menyaksikan Kaila tengah bermain dengan Hyun Sik. Sebagai seorang kakak, Kaila pandai membangun suasana memberikan kebahagiaan kepada adik kecilnya. Meskipun mereka berbeda ayah, tetapi kasih sayang Kaila sangat besar untuk Kim Hyun Sik.


Riana terkikik riang saat menyaksikan Hyun Sik mencoret wajah Kaila dengan es krim. "Sayang, jangan seperti itu nanti wajah Noonanya jadi lengket."


"Tidak apa-apa, Mah. Kaila suka," balas Kaila gembira.


"Na ... anis," kata Hyun Sik mencoba memuji hasil karyanya. Ia pun tertawa senang membuat ibu dan kakaknya pun ikut tergelak.


Di tengah kebersamaan tersebut suara bel pintu berbunyi mengusik ketenangan, Riana pun bergegas ke depan melihat siapa yang datang. Seketika netranya melebar kala menyaksikan tamu tidak diundang tengah melengkungkan bulan sabit sempurna. Ia terkejut dan tidak menyangka jika waktu kembali mempertemukan.


Hembusan angin siang menemani pertemuan keduanya. Riana dan sosok di hadapannya pun saling pandang dan menyampaikan kata-kata lewat tatapan mata. Ia tidak percaya jika harus berhadapan dengannya lagi.


Seketika Riana menoleh ke belakang di mana Kaila dan Hyun Sik masih sibuk dengan dunianya sendiri. Ia pun membawa tamu tadi ke taman belakang untuk mendengarkan tujuannya datang. Setibanya di sana Riana langsung berbalik dan mereka kembali berhadapan.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya langsung.