QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 18



...Pertemuan menjadi titik memori baru yang menyesakan atau mendebarkan....


.......


Hari ini rencananya Riana hendak pergi ke lokasi konstruksi. Setelah membereskan barang-barangnya ia pun langsung meninggalkan ruangan. Baru saja ia melangkah keluar seorang pria berambut rapih tersenyum manis padanya. Tatapan mereka saling bertubrukan, otomatis Riana pun menghentikan langkahnya.


“Jimin-ssi,” panggilnya. Jimin. Pria itu masih melebarkan senyum membuat matanya semakin menyipit.


“Kamu mau pergi ke mana?”


“A-saya mau ke lokasi sudah lama saya tidak mengontrol ke sana.”


“Perlu bantuan?”


Riana menggeleng cepat. “Tidak usah. Kalau begitu saya permisi dulu.” Lanjutnya seraya melenggang dari hadapannya. Jimin mengangguk singkat melihat kepergiannya yang terus menjauh.


“Hmm, aku harus memastikan sesuatu.”


YeonJin tengah berkutat kembali bersama kertas-kertas di mejanya. Kacamata bergagang coklat itu bertengger menambah ketampanan seorang CEO muda ini. Berkali-kali dahinya mengerut tat kala bola matanya terus bergulir membaca tulisan Hangeul yang tertuang di sana.


Laporan keuangan bulan ini membuatnya tersenyum puas. Grafik yang memperlihatkan tingkatan pendapatan pun mampu memberikan efek kelegaan.


Di tengah-tengah kekhusuan mengamati laporan, tiba-tiba saja suara seseorang membuatnya terkejut. Pria itu paling bisa merobohkan pondasi kebahagiaannya.


“Tadi aku bertemu Riana, katanya dia mau pergi ke lokasi konstruksi. Em, apa hyung tidak mau menemaninya?” Kedua alisnya kembali saling berpautan. Ia tidak mengerti dengan pertanyaan yang Jimin ajukan.


Langkah demi langkah pria itu mendekat. Perlahan ia mencondongkan badannya mengamati sorot mata sang atasan. Ia pun tersenyum penuh kemenangan.


“Apa hyung menyukai Riana?”


Beberapa detik berselang hanya ada keheningan yang mendominasi. YeonJin memutar bola mata bosan. Ia pun mendorong wajah Jimin untuk menjauh.


“Apa yang kamu bicarakan?”


“Hyung tidak usah berpura-pura. Aku sudah mengetahuinya.”


Jengah, YeonJin pun beranjak dari tempat duduknya tanpa sedikit pun membalas ucapan Jimin tadi. Merasa tidak dipedulikan pria itu melipat tangan di depan dada.


“Dasar hyung itu kelakuannya seperti remaja saja. Hmm, aku sudah menduga kalau dia memang menyukai Riana. Yah, aku akui wanita itu memang sedikit cantik. Apa dia memang tipenya? Lalu Hyerin? Ahh, molla.” Ia terus meracau sendirian. Dan kemudian menduduki singgasana sang CEO.


“Ohh jadi seperti ini rasanya menjadi seorang bos? Ahahahaha aku merasa hidup.” Ia menggoyang-goyangkan kursi beroda itu. Tanpa mempedulikan kedudukanya ia pun menselonjorkan kakinya di atas meja. Merasa puas hanya dengan duduk di sana.


Brakkk!!


Pintu kembali terbuka dan kepala sang atasan menyembul dari sana. “Yakk, Jimin kenapa tidak mengikutiku? Kau kan sekertarisku?” teriakan YeonJin membuatnya terlonjak kaget. Untung saja Jimin bisa mengontrol dirinya dan tidak terjatuh.


“Hyung bikin orang jantungan saja,” YeonJin tersenyum tanpa dosa.


...***...


Riana nampak tenang ketika kedua kaki mungilnya menapaki tanah berpasir itu. Bangunan yang ia rancang sudah sedikit terlihat hasilnya. Ia pun tersenyum melihat pekerja yang begitu bersemangat. Ternyata usahanya tidak sia-sia. Kecintaanya pada dunia arsitek telah mengantarkan seorang Riana pada pekerjaan yang menjanjikan.


“Ahh, begitu yah jadi ada masalah pada bahannya? Kalau begitu lebih baik kita ganti saja,” ucapnya pada mandor yang setiap hari ada di sana. Pria berumur itu mengangguk setuju.


“Baiklah nanti saya akan menyuruh mereka menggantinya. Mari Riana-ssi kita lihat-lihat lagi.” Ajaknya kemudian.


Riana senang mereka bisa bekerja sama dengan lancar. Tidak membeda-bedakan meskipun ia seorang wanita terlebih lagi berhijab dan juga orang asing. Namun, dalam hal pekerjaan ternyata tidak ada yang membedakan. Ia bersyukur mereka menerimanya dengan sangat baik. Bahkan tidak jarang juga ada yang meminta saran darinya. Dan dengan senang hati Riana membantunya.


Keberadaan Riana di lokasi itu membuat para pekerja menjadi lebih nyaman. Jika sebelumnya sang mandor sering berkata keras hari ini ia melunak. Ada beban yang terangkat dari bahu mereka. Senyum Riana bisa memberikan semangat lebih.


Jam sudah menunjukan makan siang. Riana pun bahkan ikut makan bersama mereka meskipun hanya dengan hidangan sederhana. Beruntung ia mendapatkan makanan halal. Gelak, canda, tawa terdengar renyah tat kala mereka menikmati hidangan itu di luar ruangan. Semilir angin menambah nikmat makanannya.


Langkah tegap seorang pria seketika terhenti ketika melihat senyum yang menawan dari wanita ayu itu. Kedua matanya tidak sekali pun berkedip dan tanpa ia sadari rona merah menghiasi pipi putihnya. Ini pertama kali ia melihatnya seperti itu. Beberapa jam lalu setelah menyelesaikan pekerjaannya ia pun memutuskan untuk pergi ke sana. Entahlah apa yang ia pikirkan bahkan di kantor masih banyak setumpuk kertas yang harus ia tangani.


Keinginanannya yang begitu kuat mengalahkan egonya sendiri.


Brukkh!!


Seseorang menubruk bahu tegapnya, tapi sedikit pun ia tidak bergeming.


“Hyung kenapa berhenti mendadak?” tanya Jimin seraya mengusap hidungnya yang sedikit ngilu lalu berjalan ke sampingnya. Dahi yang tertutup poni halus itu mengerut dalam melihat senyuman sang bos. Ia pun mengikuti arah pandangannya. Sudut-sudut bibirnya terangkat menyadari sesuatu.


“Ternyata buru-buru pergi, tujuannya ke sini dan berhenti mendadak karena terpesona? Hahahaha hyung..... hyung mudah sekali ditebak.”


Seketika tawa Jimin membuatnya tersadar. “Ehh, apa yang kamu katakan?”


“Riana, hyung menyukainya, kan?” Lagi dan lagi pria itu memberikan pertanyaan yang sama. Netra kecilnya melebar seketika. YeonJin berusaha untuk bersikap biasa saja meskipun itu sama sekali tidak berpengaruh pada Jimin.


“Jangan mengatakan hal yang aneh-aneh.”


“Cinta itu memang aneh hyung. Makanya bisa membuat orang aneh seperti hyung. Hahahaha sudahlah aku mau ikut makan bersama mereka. Riana-ssi...” Jimin melenggang pergi dari hadapannya seraya melambai kepada wanita itu. YeonJin masih mematung tidak percaya melihat sekertarisnya.


Mendengar namanya dipanggil Riana seketika menolehkan pandangannya melihat kedatangan mereka. Ia terkejut kedua pria itu menyusulnya.


“Yah kamu memang benar Jim. Ini aneh, mana mungkin aku jatuh cinta pada wanita seperti Riana. Bahkan dia bukanlah tipeku. Apa aku memang merasakan itu?” gumamnya seorang diri.


“Hyung ayo sini.” Kembali Jimin berteriak seraya melambai padanya untuk mendekat. YeonJin kembali tersentak dan bergegas bergabung bersama mereka.


Melihat kedatangan sang atasan semua orang yang bekerja di sana buru-buru bersikap hormat padanya. Riana hanya tersenyum melihat betapa disiplinya mereka. Ia pun merasa senang sudah menjadi bagian dalam hubungan itu.


“Oh yah, bukankah 2 minggu lagi perusahaan ulang tahun?” celetuk Jimin setelah beberapa saat kedatangannya.


“Ahh yah,” balas YeonJin, “kalian semua harus datang karena kita akan mengadakan pesta besar-besaran.” Ia merentangkan kedua tangannya lebar. Orang-orang mengangguk setuju dan tidak sabar untuk merayakannya.


Hanya Riana yang diam tidak tahu harus merespon seperti apa.


"Pesta yah? Pasti malam kan acaranya? Mana mungkin aku meninggalkan Kaila," benaknya berkecambuk.


Hari ini YeonJin benar-benar merasa mendapatkan keluarga baru seutuhnya. Ia tidak lagi merasakan kesepian tanpa orang tua disisinya.