QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 2



...Sejak bertekad untuk merubah hidup, saat itu juga Allah sedang berbisik padamu jika sejatinya hidup tidak selalu tentang kesedihan. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui....


.......


Pagi yang cerah, secerah senyuman malaikat kecilnya. Sudah dua tahun ia merantau mengadu nasib di negeri orang. Selama itu pula kebaikan perlahan mendekatinya. Wanita berusia 27 tahun ini mendapatkan berkah luar biasa yang Allah datangkan padanya. Sedari membuka mata beberapa jam lalu, Riana tidak sedikit pun melepaskan pandangan dari kertas putih bersama pensil menari di sana. Ia tahu langit mulai beranjak siang. Bahkan cahaya sang surya pun mulai menghangatinya. Selesai sholat subuh tadi, ia tidak sedikit pun beranjak.


“Mamah…” Hingga panggilan dari gadis kecil menyadarkannya. Ia menatap lurus ke depan melihat sang putri tengah mengucek matanya gemas. Wajah mengantuk itu membuat ia melebarkan senyum. Hanya dia, hanya sang anak yang bisa mengganggu pekerjaannya.


“Sayang, kamu sudah bangun? Maaf, mamah belum buat sarapan. Kita buat sama-sama. Kamu mau?” Bola mata kecil itu berbinar seraya mengangguk senang. Riana menggendongnya dan membawanya menuju dapur.


Ditemani dengan candaan acara masak-masakan mereka pun selesai. Hanya dua telur goreng dan roti sebagai pengganjal perut sudah cukup bagi ibu dan anak ini. Dibandingkan hari-hari itu. Mereka hanya sarapan dengan air putih setiap harinya.


“Alhamdulillah sekarang mamah sudah punya pekerjaan. Kaila harus sabar yah, mamah tinggal.” Ucapnya mengusap kepala sang anak sayang. Seakan mengerti gadis kecil bernama Kaila itu mengangguk-anggukan kepalanya. Riana semakin menyayangi buah hatinya. Meskipun dari suami yang tidak pernah ia cintai. Bukankah anak amanah dari Allah yang harus kita jaga seumur hidup? Itulah yang selalu ia tanamkan dalam dirinya. Bersama Kaila hidupnya lebih berwarna. Anak itu menambah kekuatan baginya.


Selesai sarapan dan membersihkan diri dan sang anak, mereka pun kembali menjalankan aktivitas. Tidak jauh dari apartemen, Riana mengantarkan Kaila ke taman kanak-kanak. Ia tidak mempunyai sanak saudara di negara ini ia pun harus berbaur dengan masyarakat sekitar. 2 tahun hidup di sana ia mengerti dengan lingungannya.


“Kalau begitu mamah pergi dulu yah, kamu baik-baik sama ibu Sarah.” Ucapnya.


“Iya mah. Mamah yang semangat kerjanya.” Balas Kaila.


“Anak pintar, anak sholehah.” Ia mengecup hangat dahinya dan setelah itu beralih pada wanita dibelakang sang anak.


“Mau sampai kapan kamu seperti ini? Ingat Kaila butuh figure seorang ayah.” Tegasnya.


“Hahaha apaan sih mbak. Sudah yah aku pergi kerja dulu. Aku titip Kaila. Assalamu’alaikum…” Ia melarikan diri dari hadapan mereka.


“Hah~ mau sampai kapan anak itu seperti ini terus.” Ucap Sarah wanita muslimah dari Indonesia yang bekerja di TK tersebut.


Satu jam berselang, Riana tiba di gedung art collection. Ia bergegas mencapai lantai 6 untuk bertemu kembali dengan sang pemimpin perusahaan. Lift yang membawanya pun tiba di lantai tersebut. Dengan penuh keyakinan dan percaya diri Riana mencapai gagang pintu ruangannya dan membukanya perlahan. Di sana Kim YeonJin bersama sang sekertrais menyambut kedatangannya. Kedua mata mereka saling bertubrukan dan Riana kembali menundukan pandangan. Ia bergegas duduk di salah satu sofa tunggal di sana. Tangannya membuka perlahan dokumen yang ia bawa. Kertas demi kertas disodorkan kehadapan Kim YeonJin.


“Itu beberapa contoh rancangan bangunan yang saya punya. Jika ada yang kurang Anda bisa membicarakannya.” Jelas Riana.


Bola mata kecilnya bergulir menatap gambaran yang tertuang dalam kertas. Berkali-kali kepala bermahkotakan surai hitam pekat itu mengangguk. Senyum menawan menjadi kemenangan bagi Riana. Ia lega usahanya semalaman tidak sia-sia.


“Baik. Semua rancanganmu bagus. Tapi bisakah Anda menjelaskan pada saya satu persatu?” Pintanya dan dengan senang hati Riana mengiyakan lalu mengambil alih kembali kertas-kertas miliknya. Bibir dengan lipstik pink lembut itu berceloteh ringan menjelaskan gambaran bangunan tersebut. YeonJin tidak sedikit pun mengalihkan tatapannya. Pria yang berdiri disampingnya pun menyadari hal itu. Di dalam ruangan berbentuk kotak ini hanya ada suara halus mengalun bak nyanyian merdu. Suaranya mampu mendamaikan, bahkan sedari tadi Choi Jimin menguap seakan tengah dibacakan dongeng sebelum tidur.


“Kalau yang satu ini saya rancang menjadi dua lantai. Kenapa? Jadi satu lantai bisa diisi dengan berbagai tempat, misalnya tempat makan, tempat mengobrol, atau bisa juga sebagai tempat sovenier. Karena saya yakin tidak semua pengunjung yang melihat lukisan itu orang dewasa saja. Pasti ada anak-anak hingga remaja. Kita jadikan bangunan galeri art collection ini sebagai wadah kekeluargaan.” Ucapnya mengakhir penjelasannya mengenai 5 rancangan yang sudah ia buat. YeonJin menganggukan kepalanya lagi. Ia senang, sungguh. Penjelasan Riana begitu detail dan jelas. Ia semakin ingin segera bekerjasama dengannya. Tentunya untuk kepentingannya sendiri.


“Sungguh arsitektur yang berbakat. Saya memilih rancangan yang terakhir kita jadikan bangunan itu sebagai wadah membentuk persaudaraan dan keuangan hahahaha….” Suara tawa menggelegar mengejutkannya. Riana merasakan canggung luar biasa. Apa ia harus ikut tertawa atau tidak? Hanya membentuk bulan sabit setengah jadi dibibirnya. Hal itu pun membuat Jimin tercengang. Atasannya ini kembali menjadi seorang maniak. Tidak peduli di mana dan dengan siapa ia berhadapan, jika jiwa bisnisnya sudah keluar maka kebahagiaan tidak bisa ditahan lagi. Tanda tangan kontrak kerja pun terjadi.


...***...


Jam istirahat berlangsung. Riana, hanya mematung di depan kantin. Ia tidak tahu apakah makanan itu bisa dimakannya atau tidak. Ia belum mengetahui seperti apa masakan yang disajikan di sana. Apa itu halal? Banyak pertanyaan dalam diamnya. Orang-orang hilir mudik disekitarnya menatap Riana dengan pandangan bingung. Ia hanya bisa menyunggingkan senyum canggung pada mereka. Tidak jauh dari tempatnya berdiri seorang pria berjas coklat lembut menghentikan langkahnya. Kedua alis tegasnya berpautan. Ia pun berjalan mendekatinya hal itu lantas memberikan tanda tanya besar bagi Jimin kembali.


“Riana-ssi. Anda tidak makan?” Pertanyaan tersebut mengejutkannya. Riana menoleh melihat sang atasan.


“Ehh, Kim YeonJin-ssi…emmm, saya ragu.” Cicitnya.


“Ne. Ragu? Memangnya kenapa?”


“Saya hanya bisa makan makanan halal. Emm…. yang tidak mengandung babi.” Jelasnya kemudian. YeonJin melebarkan senyuman. Ia mengerti dengan kepercayaan yang dianut wanita ini.


“Ahh iya saya mengerti. Baiklah karena kamu baru bekerja di sini maka saya akan melayani Anda dengan baik. Sebagai tanda jadi kerjasama kita. Nah, mari ikut saya.” Ajaknya. Riana tidak mengerti dan hanya mengikuti kemana langkah pria itu pergi.


“Sa…..saya tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih banyak.” Gagapnya sampai tidak bisa berkata-kata.


“Eung, tidak masalah. Makanlah kamu pasti lapar. Tenang saja ini halal, kamu lihat sendirikan labelnya tadi dipintu masuk?” Wanita itu mengangguk singkat dan mulai menikmati makan siangnya.


“Bismillah.” Hal tersebut tidak lepas dari perhatian kedua pria itu. Wanita sederhana dengan bakat istimewa telah datang. Mereka dipertemukan oleh sebuah dokumen. Riana tidak menyangka kesukaannya pada bidang seni arsitektur menghantarkannya pada kerjasama luar biasa seperti sekarang.


“Apa kamu berasal dari Indonesia?” Pertanyaan spontan dari Jimin menghentikan aksinya. Riana pun menoleh singkat.


“Iya, saya dari Indonesia.” Hanya itu yang ia katakan.


“Tidak usah terlalu formal kita sedang tidak di kantor.” Lanjut YeonJin ikut bergabung.


“Ahh ne. Terima kasih atas makan siangnya.” Balas Riana lagi.


Mereka pun menikmati makan siang dengan hidangan istimewa. Jimin tidak menyangka sahabat sekaligus atasannya ini bisa membelikan banyak makanan untuk Riana. Sedari tadi netra jelaganya terus memperhatikan pria itu. Ada sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan kagum? Mungkin lebih tepatnya seperti itu.


Setelah selesai mereka kembali pada pekerjaan masing-masing. Riana mulai menjalankan tugas pertamanya. Ia bertemu dengan beberapa orang pekerja konstruksi untuk membangun gedung hasil rancangannya. Kedatangan wanita muda berhijab di sana membuat semua orang menatapnya heran. Benarkah dia yang akan bekerjasama dengan mereka? Kira-kira sepert itulah tatapan orang yang melihatnya. Bagi Riana itu biasa. Diremehkan dan tidak dihargai, tidak asing lagi baginya. Bahkan hal itu kecil untuk ia hadapi ketimbang rasa sakit yang bersemayam dalam hatinya. Tidak ada yang tahu seperti apa masa lalu seorang Riana. Hanya ia dan Allah saja sebagai saksi masa kelam itu. Ia ingin mengubur kepedihan menjadi kebahagiaan. Ia tidak mau mengungkitnya dan menjadi boomerang. Ia cukup bahagia hidup bersama buah hatinya, Kaila. Kekuatan yang tidak akan ia dapatkan dari siapa pun.


“Baiklah mulai sekarang kita harus bekerjasama dengan baik. Anggap saja saya sama seperti kalian. Em, bisakah kalian memperlihatkan bahan-bahannya kepada saya?” Ucap Riana setelah menjelaskan seperti apa rancangan yang ia bawa.


Seorang pria muda bername tag Lee Jung Hoon menjadi pemandungnya untuk hari ini. Mereka pun melihat-lihat bahan-bahan yang sudah disiapkan di sana. Riana mengangguk-anggukan kepala saat pria itu menjelaskan bahan demi bahan yang dikunjunginya.


“Baik. Bahan-bahannya cukup lengkap. Nanti saya kabari lagi tentang pembangunannya.” Setelah itu ia pun pergi kembali ke ruangannya.


...***...


Di lantai 6 tepatnya di ruangan CEO, sedari pulang makan siang tadi pria itu tersenyum sendiri dengan cahaya dari layar laptop menyorotinya. Jimin yang kembali ke ruangannya terkejut melihat senyuman itu tidak pernah pudar. Apa Kim YeonJin sudah gila? Itu tidak boleh terjadi.


“Hyung gila yah?” Ucapan itu meluncur bebas dari bibirnya hingga membuat kotak tisu mendarat dikepala bersurai coklat lembutnya.


“Sakit hyung.” Cicitnya mengaduh.


“Kau mengatakan hal bodoh.”


“Terus kenapa hyung senyum-senyum sendiri seperti itu? Menakutkan sekali.” Ucapnya kesal. Ia pun segera membalikan laptop padanya.


“Lihat!! Pemasukan kita bertambah ahahahahaha…. aku senang sekali.” Dan ternyata itu alasannya.


“Hah~ dasar maniak uang… aku pikir hyung sedang jatuh cinta.” Ujarnya kembali. Tatapan serius itu mengarah padanya. YeonJin tidak mengerti. Dahi lebarnya pun mengerut dalam.


“Kenapa kau bisa berkata seperti itu? Pada siapa aku jatuh cinta?”


“Ha…habisnya gelagat hyung memperlihatkannya. Yah wanita itu, arsitek baru kita, Riana.” Seketika itu juga bola mata kecilnya melebar. Ia tidak percaya Jimin berkata demikian dengan lancarnya. Bahkan ia sendiri pun tahu bagaimana susahnya Kim YeonJin jatuh cinta pada seorang wanita, meskipun setahun belakangan ini banyak wanita cantik bertubuh ideal mendekatinya terus menerus. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang menarik perhatiannya. Hanya ada satu wanita yang menjadi rahasia mereka.


“Riana? Hahaha aku hanya kagum saja. Ada juga wanita menjadi seorang arsitek. Em… bagus juga menambah pemandangan di kantor kita. Pekerja di sinikan kebanyakan pria.”


“Hahahahaha aku pikir hyung beneran jatuh cinta.” Jimin ikut terawa.


“Hahahaha dasar konyol.” Mereka pun tertawa bersama dengan pemikiran yang melintas begitu saja dalam pikiran Jimin. Ia tidak menyangka YeonJin tidak seperti yang diharapkannya. Jatuh cinta tidak mudah bagi seorang Kim YeonJin. Alasannya, karena ia terlalu takut dan masa lalu menjadi gambaran untuk dirinya.