QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 24



...Senja telah mengajarkan jika keindahan itu bersifat sementara. Karena malam yang gelap akan datang. Namun, tidak selamanya kegelapan menyimpan penderitaan, bukan?...


.......


Jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam. Entah kenapa Riana tidak bisa tidur dan terus terjaga melihat putrinya yang terlelap. Baru beberapa menit yang lalu Kaila bisa berhenti menangis dan akhirnya tertidur. Senyum kecut ia perlihatkan seraya terus mengusap surai lembut milik Kaila.


Bulir demi bulir air mata mengalir menemani kesendirian. Bertahun-tahun ia hidup sebatang kara dan membesarkan Kaila tanpa pendamping. Hingga anaknya tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah. Ia mengerti apa yang tengah dirasakan sang anak. Bertemu YeonJin dan melewati hari-hari bersamanya membuat Kaila menganggap pria itu sebagai ayah kandung. Sosok yang selama ini dirindukannya. Kehadiran YeonJin seperti mengobati luka yang tidak pernah ia temukan.


Kaila bahagia bisa merasakan hal yang sama dengan teman-temannya. Bahkan ia juga sering membicarakan YeonJin pada mereka. Riana hanya bisa tersenyum saat mendengar cerita itu dan tidak bisa mencegahnya. Namun, dimalam itu ketika mendengar pemberitaan mengenai pernikahan Kim YeonJin dengan Hyerin ia memutuskan untuk menjauhkan mereka berdua.


Alasannya karena ia tidak mau menjadi penyebab rusaknya hubungan mereka. Setidaknya kehadiran Kaila bisa membuat rumor itu kembali datang.


Beberapa detik kemudian dahi lebarnya mengerut dalam saat merasakan sesuatu dari tubuh Kaila. Ia pun bangkit mengcek suhu badannya. Dan betapa terkejutnya ia ketika sadar jika tubuh Kaila sangat panas dan juga mengigil. Sontak hal itu membuatnya kelimpungan.


“Sayang, badanmu panas sekali.” Ia pun mengukurnya menggundakan thermometer. Matanya melebar saat melihat hasilnya.


“A-aku harus membawa Kaila ke rumah sakit.” Ia langsung menggendong dan membawanya pergi.


Baru saja ia melangkah keluar, seorang wanita berumur 40 tahunan yang tinggal di sebelah tidak sengaja berpapasan dengannya. Riana pun mengangguk singkat.


“Kamu mau ke mana malam-malam begini?” tanyanya khawatir.


“Ahh, Kaila demam. Saya mau membawanya ke rumah sakit. Kalau begitu sampai jumpa.” Jawab Riana lalu berlalu dari hadapan wanita itu yang hanya memandangi kepergiannya dalam diam.


Di tempat yang berbeda, di kediaman keluarga Kim, CEO tampan itu tengah melamun di tempat tidur. Entah kenapa sedari tadi YeonJin tidak bisa memejamkan mata. Sudah beberapa halaman buku yang ia baca tapi cara itu tidak membuatnya mengantuk. Ia pun memutuskan untuk berdiam diri menikmati keheningan malam.


Suara serangga menemani kesendirian. Pikirannya tiba-tiba saja kembali pada sore hari tadi. Di mana Riana menghindarinya lagi dan tidak mengizinkannya bertemu Kaila. YeonJin sangat menyayangi gadis kecil itu. Namun, sepertinya Riana senagja membuat hubungan mereka renggang. Mau bagaimana lagi sang ibu berhak melakukan segalanya. Sedangkan ia tidak ada hubungan apapun.


“Kenapa yah? Apa aku berbuat salah? Hah~ padahal aku sudah menganggap Kaila seperti anak sendiri. Tapi bagaimana lagi Riana berhak menentukan yang terbaik untuk putrinya,” gumam YeonJin menengadah melihat langit-langit. Perasaannya berkecambuk. Rasa yang ia miliki semakin besar.


“Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta? Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?” lanjutnya lagi memikirkan keberadaan Sang Pencipta.


30 menit kemudian Riana sudah membawa Kaila ke rumah sakit. Sekarang ia tengah terbaring lemah di atas ranjang. Selang infus menancap di tangan kirinya. Saat melihat jarum disuntikan ketangan mungilnya Riana tidak kuasa membendung kesedihan. Kristal bening itu jatuh melihat anaknya tengah kesakitan.


Sepeninggalan dokter mereka hanya berdua saja di ruangan inap. Hening, sepi tidak terdengar suara apapun. Riana terus menggenggam tangan Kaila tidak ingin melepaskan. Wajah bulatnya memucat membuatnya semakin khawatir.


“Sayang, bangun nak. Ini mamah.” Ucap Riana seraya membelai kepalanya lembut. Namun, tidak ada jawaban dari bibir mungilnya.


Hingga beberapa saat kemudian, “A…appa. YeonJin appa. Kaila ingin bertemu YeonJin appa. Appaaaa…” Kaila mengigau dalam tidurnya hingga menangis tanpa sadar. Riana terkejut dan tidak bisa menahan kesedihan. Sebagai seorang ibu, ia sadar sudah menyakiti putrinya lagi.


...***...


Keesokan harinya, YeonJin terlihat gusar di ruangannya. Ia tidak menyangka wanita yang sudah menjungkir balikan hatinya itu tidak masuk tanpa keterangan. Ia penasaran tidak biasanya Riana seperti ini. Wanita itu tidak mungkin absen bekerja jika tidak terjadi sesuatu.


Ia tidak bisa berdiam diri saja dan memutuskan untuk menemuinya tanpa mempedulikan bagaimana pekerjaannya sendiri.


Mobil mewahnya kembali melaju kencang. Baru saja ia datang ke perusahan beberapa menit lalu, kini ia meninggalkan tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan wanita itu. Khawatir dan cemas menjadi satu.


Beberapa menit kemudian ia tiba di bangunan itu. Ia pun bergegas mencapai lantai 3 untuk bertemu dengannya. Berkali-kali ia menekan bel apartemen Riana, tapi tetap saja sang pemilik tidak kunjung membuka pintu.


“Hah~ apa dia tidak ada di rumah?” gumamnya.


“Maaf, apa Tuan mencari seseorang?” suara yang tidak dikenal mengejutkan. YeonJin menoleh ke sisi kiri mendapati seorang wanita bersanggul.


“A-ne. Apa pemilik kamar ini tidak ada?” tanyanya. Wanita tadi mengangguk singkat.


“Ne, semalam mereka pergi ke rumah sakit,” jawabnya membuat netra kecil YeonJin melebar sempurna. Setelah mendapatkan informasi ia pun buru-buru meninggalkan lokasi tersebut.


Jantungnya berdegup kancang, ia semakin bertambah khawatir. Kendaraan roda empat itu melaju kencang di jalanan lagi. YeonJin seperti kehilangan akal sekarang. Banyak mobil di depannya yang berhasil ia salip. Terkadang mereka memberikan klakson karena caranya menyetir terlihat membahayakan.


Namun, YeonJin tidak memedulikannya. Ia harus segera tiba di rumah sakit.


Dan benar saja hanya membutuhkan waktu beberapa menit ia sudah tiba di sana. Ia pun memarkirkan mobilnya sembarang dan berlari masuk ke dalam gedung. Ia langsung bertanya kepada suster yang menjaga resepsionis di mana ruangan gadis kecil itu berada. Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkannya ia kembali berlari menuju lantai 5.


Pintu lift terbuka, YeonJin bergegas mencari pintu bertuliskan Byeol. Bola matanya bergulir ke sana ke mari mencari keberadaannya. Tidak lama berselang pintu berkaca kecil itu berhasil ditemukan. Tanpa aba-aba YeonJin langsung membukanya.


Dan betapa terkejutnya orang yang tengah mengisi ruangan itu saat mendapati sang atasan. Ia bangkit dari duduknya seraya melebarkan pandangan.


“Ki-kim YeonJin-ssi?”


YeonJin memberikan seulas senyum. Ia pun berjalan masuk dan mendekati ranjang Kaila, di mana gadis itu masih menutup kedua matanya rapat-rapat. Riana terus mengekori ke mana pria itu pergi. Ia tidak menyangka sosoknya datang untuk menemui sang anak.


Riana bisa melihat kilatan kekhawatiran dalam matanya. Ia sedikit senang, tapi kembali diurungkan karena hal itu sangat mengganggunya. Dan ia tidak menyukainya.


"Hah~ aku tidak tahu harus bagaimana sekarang…"