
Angin sore berhembus menerbangkan hijab serta anak rambut kedua wanita di sana. Senja melebur menjadi satu membentuk lukisan Tuhan yang sangat indah di atas cakrawala. Sang raja siang perlahan turun ke peraduan menyiskan siluet orange.
Pertemuan untuk kedua kalinya kini lebih intens dari pada terakhir kali. Baru tadi malam mereka saling tatap dan sekarang keadaan mengizinkan untuk lebih terbuka. Riana terkejut kala mendapati mantan kekasih dari Choi Jimin kembali mendatangi rumahnya.
Ia pun melipat tangan di depan dada seraya memandanginya lekat, "apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu mencari Jimin lagi, Yona?"
Yona, mantan kekasih Jimin mengulas senyum dan mengikuti gestur Riana. Ia yang lebih tinggi pun membalas tatapannya tak kalah serius. "Apa dia ada di sini lagi?"
"Apa yang kamu inginkan? Kalian sudah tidak ada hubungan apa pun, lagi pula Jimin tidak mencintaimu."
Yona mendengus melirik ke samping sekilas dan memberikan tatapan tajam. "Apa yang kamu katakan? Jadi ini istri dari Kim YeonJin? Aku tidak percaya oppa lebih memilih wanita sepertimu daripada Hyerin, sungguh tidak terduga," ucapnya seraya menggelengkan kepala beberapa kali.
Riana mendengus dan memberikan seringaian tajam," apa urusan Anda? Urus saja urusan Anda sendiri, jika tidak ada yang ingin dibicarakan lebih baik Anda pergi dari sini. Karena rumah ini tidak menerima orang seperti Anda," ketusnya.
Riana lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Namun, baru beberapa langkah ucapan Yona kembali menghentikan. "Aku memang tidak ada urusan denganmu, tapi sampai kapan pun aku akan tetap memperjuangkan Choi Jimin."
Riana kembali mendengus sebal dan menolehkan kepala ke samping kanan, "begitukah? Baiklah kita tunggu saja siapa yang menang pada akhirnya." Sebelum melangkahkan kakinya lagi, ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang kini menatap mereka bergantian.
Wanita berhijab putih itu tercenang tidak percaya kala mendengar sendiri percakapan tersebut. Ia lalu berjalan mendekati Riana dan mengulas senyum manis. "Ja-jasmin? Sejak kapan kamu ada di sini?" tanyanya gugup.
"Sejak tadi, aku datang ke sini ingin berbicara dengan Teteh mengenai sesuatu, tapi tidak terduga aku menyaksikan kejadian ini," balas Jasmin menolehkan kepalanya memandangi Yona.
Mantan kekasih dari Choi Jimin tersebut berjalan ke arah keduanya dan melempar senyum mengejak. "Oh, apa ini wanita yang disukai Choi Jimin? Kenapa seleranya jelek sekali? Hei, jika kamu tahu tempatmu lebih baik mundur saja. Karena aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil alih tempatku di hatinya," ujar Yona percaya diri seraya mencondongkan badannya tepat ke samping telinga kanan Jasmin.
Senyum pun kembali mengembang di wajah cantik Jasmin kala pandangan mereka beradu lagi. "Nona tenang saja, saya tidak berharap mendapatkan tempat di hatinya. Saya hanya memasrahkan semuanya pada yang di atas, pemilik hati sesungguhnya. Jika tidak ada urusan lagi, bukankah lebih baik Anda pergi, Nona?" Suara lembut mengalun dengan kata-kata halus bermakna sindiran tajam melayang tepat padanya.
Riana tidak menyangka melihat ketegasan dalam diri seorang Jasmin. Ia pun tersenyum bangga dan terpesona dengan keyakinannya. Tidak menyerah pada situasi dan mengabaikannya begitu saja, ia sangat mengaguminya.
...***...
Malam pun datang dengan cepat dan keadaan menjadi sedikit hening hanya dentingan jam terdengar. Setelah berurusan dengan Yona, kini Riana dan Jasmin tengah duduk bersama di ruang keluarga. Di temani segelas teh hangat keduanya menikmati waktu bersama.
"Sebenarnya aku ingin mendiskusikan sesuatu dengan Teteh," ucapnya kemudian.
Riana mengangguk singkat dan memandangi Jasmin lekat menunggu kembali apa yang hendak dikatakan selanjutnya. "Jujur, aku tidak tahu apa yang sedang aku rasakan sekarang. Namun, setelah kejadian kemarin aku merasa tidak nyaman saat melihat dia dengan mantan kekasihnya. Seolah-olah ada perasaan tidak nyaman di hatiku. Apa ini ..."
Sebelum Jasmin berhasil menyelesaikan ucapannya, Riana lebih dulu memotongnya cepat. "Kamu sudah jatuh cinta," ucapnya ringan lalu meneguk teh singkat. Riana mengerti "dia" yang dikatakan Jasmin pasti Choi Jimin.
Jasmin terdiam dengan manik terbelalak dan sedetik kemudian mengangguk ringan, "sepertinya."
"Kamu tahukan, apa yang harus dilakukan ketika kita merasakan hal tersebut?"
Jasmin mengangguk lagi dan menatapnya sekilas. "Serahkan semuanya pada Allah. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena keyakinan kami berbeda. Aku cukup sadar dan tidak memaksakan kehendak."
Riana terharu dengan jawaban yang diberikan Jasmin. Ia pun menariknya ke dalam pelukan dan mengusap punggungnya pelan. "Teteh percaya Allah tengah menyiapkan sesuatu yang terbaik untukmu. Bersabar dan yakinlah dengan ketentuan-Nya. Suatu saat akan ada kebaikan yang mendatangimu, Teteh senang kamu sudah berhasil melawan trauma."
Jasmin terus menganggukan kepala tanpa sepatah katapun terlontar. Ia menahan kegelisahan dalam dada dengan membalas pelukan Riana tak kelah erat. Sebagai seseorang yang sudah gagal dalam membina rumah tangga dan mendapatkan kenangan terburuk, tidak mudah bagi Jasmin untuk kembali membuka hati.
Itulah yang dirasakan Riana juga. Namun, setelah bertemu dengan orang yang tepat maka serumit apa pun pasti ada jalan. Allah tidak mungkin salah memberikan sesuatu yang terbaik bagi setiap hamba-Nya yang percaya. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak, kun fayakun, jadilah maka jadilah ia. Allah pemilik segala kehidupan yang sudah menuliskan skenario terbaik.
Tanpa mereka ketahui Kim YeonJin sudah pulang beberapa saat lalu. Ia berdiri di tiang pembatas mendengarkan percakapan mereka. Senyum pun mengembang kala menyaksikan sendiri bagaimana perasaan terpendam seorang Jasmin untuk adiknya, Choi Jimin.
Ia berharap keduanya bisa menemukan jalan terbaik mengenai perasaan masing-masing. "Ya Allah kuatkanlah keyakinan Jimin untuk memeluk agama-Mu. Semoga dia bisa menemukan jalan kebenaran dan segera dipersatukan dengan Jasmin, jika memang mereka berdua benar-benar berjodoh," lirihnya seraya menengadah ke atas bermunajat pada Sang Pemilik Hati.
Sebagai seseorang yang menjadi saksi bagaimana perjalanan kisah cinta Choi Jimin, YeonJin berharap ia bisa menemukan belahan jiwanya. Dari dulu sampai sekarang YeonJin pun terus berdo'a agar Allah membuka hatinya untuk menerima kebenaran. "Syukur Alhamdulillah, sekarang ia mau belajar mengenai Islam atas keinginannya sendiri. Semoga tidak lama lagi ia bisa bersyahadat," gumamnya.
Ia jadi teringat saat tadi menemai Jimin untuk menemui imam di masjid. Jimin banyak mengajukan pertanyaan dan terlihat sangat antusias. YeonJin semakin berharap keinginan terkuatnya segera tersampaikan dan menemukan titik terang.
Karena bagaimanapun juga ia menginginkan yang terbaik untuk Jimin, selepas perginya kekecewaan. Ia ingin melihat sang adik berumah tangga dan menemukan kebahagiaannya sendiri. Termasuk entah itu bersama Jasmin atau bukan.