
...Kedatangan seseorang membuka jembatan baru dan pengharapan....
.......
Tanggal merah dikalender menjadi hari paling membahagiakan. Waktu senggang yang bisa dimanfaatkan untuk berlibur bersama orang terkasih. Namun, rencana orang lain tidak berlaku baginya. Riana hanya bisa berdiam diri di apartemen bersama sang anak. Menonton televisi tidak ada kegaitan yang dilakukan. Itulah yang diingikannya. Sudah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun ia menghabiskan harinya dengan bekerja. Mungkin hari libur seakan menghilang dalam kamus hidupnya. Bersyukur, masa-masa itu sudah terlewat dengan perjuangan yang tidak mudah. Banyak air mata yang sudah mengering di pipinya menjadi saksi bisu. Jam menunjukan pukul setengah 10. Ia tengah tiduran melihat Kaila yang fokus pada tontonan membuatnya tersenyum. Ia tidak percaya sudah membesarkan sang anak seorang diri.
“Mamah, apa kita tidak mempunyai kegiatan lain, selain menonton tv? Inikan hari libur, mah.” Ucap Kaila tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan. Bola mata Riana bergulir memandangi langit-langit. Bibirnya terkatup mencerna pertanyaan sang anak.
“Sepertinya tidak sayang. Mamah ingin tidur saja seharian.”
“Mamah ini pemalas sekali. Lebih baik Kaila pergi main sendiri saja.” Gadis kecil itu terlihat gusar dan pergi ke kamarnya. Riana bangkit lalu duduk memandangi pintu yang tertutup.
“Baiklah… baiklah mamah akan menemani kamu main di luar. Ayo siap-siap.” Lanjutnya. Kaila kembali menyembulkan kepalanya tersenyum lebar dan menerjang ibunya erat.
Beberapa menit kemudian mereka pun pergi meninggalkan apartemen dan tengah melangkah beriringan. Raut senang terpampang nyata di wajah mungil Kaila. Baru saja ibu dan anak itu keluar gedung, tatapan keduanya mengarah pada seorang pria yang keluar dari mobil mewahnya. Mata bulan Kaila semakin melebar seraya tersenyum senang.
“Appa.” Teriaknya. Melepaskan pautan tangan dari Riana lalu berlari cepat pada pria itu. Riana terkejut sekaligus heran dan berjalan mendekat melihat sang anak yang begitu senang berada dalam gendongannya.
“Ye… YeonJin-ssi. Kenapa Anda ada di sini? Apa Anda ada keperluan?”
YeonJin, si maniak kanvas itu melebarkan senyumannya. “Aku datang ke sini ingin mengajak Kaila jalan-jalan. Kamu maukan, sayang?” Dengan semangat Kaila mengangguk setuju.
“Baiklah kita masuk ke mobil.” Tanpa mendengar jawaban Riana, YeonJin membawa Kaila masuk ke dalam kendaraan pribadinya.
“Mamah ayo cepat masuk.” Suara nyaring gadis kecilnya membangunkan. Buru-buru ia pun mengikuti suruhannya.
Jalanan lumayan padat hari ini. Namun, tidak menyurutkan semangat YeonJin untuk mengajak mereka jalan-jalan. Sedari tadi Riana terus diam memperhatikan Kaila yang tersenyum lebar melihat pemandangan yang terlewat. Tanpa ia sadari sudut bibirnya terangkat merasakan kebahagiaan sang anak. Diam-diam YeonJin menoleh melihat ke arah mereka. Sesenang itukah Kaila? Pikirnya. Ia pun turut merasakan kegembiraannya.
Dengan diiringi keheningan, mobil itu tiba di taman bermain.
Seoul Land, tempat tujuan YeonJin membawa ibu dan anak itu pergi bersama. Banyak pasangan yang juga membawa anak mereka untuk menikmati liburan di sana. Melihat itu Riana terdiam di samping kendaraan roda empat milik YeonJin. Sedangkan Kaila sudah antusias berlarian kecil mendekati salah satu wahana permainan.
“Mamah ayo cepat kita main. Kenapa malah bengong?” Ia pun kembali mendekati ibunya dan menarik tangan Riana.
“Ehh, a.....a, eung..” Gugupnya. YeonJin tersenyum lagi seraya mendampingi. Jika dilihat-lihat mereka seperti sepasang pengantin yang baru memiliki seorang putri.
Setiap mata yang memandang merasa iri dengan keakraban mereka. Layaknya keluarga harmonis yang sedang menghabiskan waktu bersama. Namun, pada kenyataannya mereka hanya sebatas atasan dan bawahan.
Gelak tawa terdengar nyaring tat kala mereka bermain bersama menaiki salah satu wahana. Senyum kedua wanita yang terpaut usia jauh itu membuat perasaan YeonJin tiba-tiba menghanagat. Ia tidak pernah melihat Riana seceria ini. Wanita gila kerja itu memperlihatkan sisi lainnya. Ditambah dengan rona merah di pipi bulatnya membuat seorang Kim YeonJin sedikit terpesona.
Setelah melewati satu persatu wahana permainan, Riana memutuskan untuk beristirahat seorang diri di bangku kayu di bawah pohon rindang. Tempat itu berhadapan langsung dengan penangkaran kelinci.
“Apa seperti itu ekspresi Kaila kalau bertemu dengan mas Arsyid? Hah~ Ya Allah aku ibu yang jahat tidak pernah menceritakannya pada Kaila.” Gumamnya melihat sang anak tengah bersama YeonJin. Gadis kecil itu gembira dengan harinya ini. Ia merasakan mempunyai seorang ayah.
“Paman, terima kasih sudah mengajak Kaila dan mamah bermain.” Ucapnya senang.
“Appa, panggil paman appa karena mulai sekarang aku adalah ayahmu.” Rangkulnya memberikan senyum manis memperlihatkan selung pipit di pipinya. Kaila mendongak haru, “Terima kasih appa.”
“Apa selama ini eomma tidak pernah menceritakan siapa appa, Kaila?” Gadis itu menggeleng singkat lalu menunduk.
“Eum, mungkin eomma punya alasan sendiri. Baiklah, Kaila main dulu di sini appa mau ke sana dulu.” Kaila kembali mengangguk mempersilakannya pergi.
Riana yang tengah sibuk bermain ponsel terkejut saat seseorang menyodorkan minuman dingin padanya. Ia mendongak melihat pria itu berjalan ke sampingnya dan duduk begitu saja. Riana pun kembali menatap ke depan melihat sang anak.
“Terima kasih minumannya.” Ucapnya, “Bismillah.” Ia meneguknya pelan membasahi tenggorokannya yang kering. YeonJin pun mengikuti tatapannya.
“Aku senang bisa bertemu dengan Kaila. Dia gadis yang sangat baik dan juga mandiri, meskipun usianya masih terbilang sangat muda tapi Kaila anak penurut.”
“Eung, aku juga bahagia bisa memilikinya di hidupku.”
Hening kembali menerjang. Mereka merasakan hembusan angin yang menyapa pelan. Daun-daun kering dari atas pohon berjatuhan menjadi backround kebersamaan.
“Aku tidak pernah melihat senyum Kaila seperti itu. Dia terlihat bahagia sekali.” YeonJin menoleh padanya melihat sorot kesedihan dalam matanya.
“Aku tidak bermaksud ikut campur. Tapi kenapa kamu menyembunyikan keberadaan ayah kandungnya?”
“Kita tidak berada pada level harus menceritakan masalah pribadi. Maaf YeonJin-ssi saya tidak bisa menceritakannya.” Mimik wajah Riana berubah. YeonJin sedikit terkejut dan benar juga apa yang dikatakannya.
“Ahh, kamu memang benar.” Entah kenapa ada sedikit rasa nyeri yang menyapa ke dalam hatinya. Ia terus memandangi wajah damai terbalut hijab di sampingnya ini. Berkali-kali semilir angin menyapu mereka menemani kebersamaan. YeonJin tahu hidupnya sedikit berubah setelah kedatangan Riana. Kenangan yang ia coba untuk dihilangkan kembali mencuat. Sama seperti kehidupan Riana, YeonJin seolah melihat bayangan sang ibu dari dalam dirinya. Masa terkelam yang pernah ia lewati. Hingga waktu menjadikannya besar seperti sekarang.
“Sepertinya waktu azan sudah tiba. Kalau begitu aku beribadah dulu. Kaila, sayang ayo kita salat.” Riana beranjak dari sana meninggalkannya sendirian.
Sosok ibu dan putri kecilnya itu terus menjadi objek utama perhatiannya. YeonJin masih tidak mengerti kenapa ia merasa nyaman berada disekitar mereka.
“Riana seperti eomma dan Kaila wujud diriku. Tapi ada yang berbeda dalam diri Riana. Ia terlihat tenang dalam menghadapi kehidupannya. Aku tidak mengerti dan ingin mencari tahu.”
Siang ini bersama gugurnya daun kering yang terakhir menjadi saksi bisu tekad yang terlihat dalam kilatan mata seorang Kim YeonJin.