
...Pertemuan terkadang membentuk ikatan yang saling membutuhkan. Tak jarang perasaan aneh tiba-tiba muncul tanpa disadari. Allah ingin melihat kesungguhannya, pada siapa perasaan itu dipercayakan...
.......
Hari demi hari berlalu. Setelah insiden beberapa hari ke belakang, pekerjaan Riana yang hancur pun kembali berdiri kokoh. Ia bisa tersenyum lebar lagi melihat karyanya. Ia bersyukur karena Jimin dan YeonJin ikut membantunya. Sejak hari itu hingga sekarang Hyerin tidak terlihat. Sepertinya YeonJin sudah memberi peringatan padanya. Riana tidak ambil pusing, bahkan kejadian itu sudah dilupakannya. Menyambut hari yang baru memberikan kejadian-kejadian tidak terduga. Kembali, iris lebarnya terbuka sempurna. Hal pertama yang Riana lakukan ialah melaksanakan salat subuh bersama sang buah hati lalu dilanjutkan dengan membuat sarapan sederhana. Meskipun hanya berdua, mereka sudah bahagia. Hari ahad menjadi waktu yang ditunggu-tunggu Kaila. Ia bisa bersama sang ibu seharian penuh tanpa terganggu pekerjaan. Momen berharga yang tidak mungkin terulang kembali.
“Jadi, mau ke mana kita hari ini?” Tanya Riana senang.
“Eum, Kaila mau jalan-jalan sama mamah saja di taman.” Riana berpikir sejanak, sampai.
“Baiklah. Selesai sarapan Kaila siap-siap kita pergi ke taman.”
“Horeeeee.” Anak itu senang mengacungkan kedua tangannya ke udara.
Seperti yang sudah dijanjikan beberapa saat lalu, kini mereka berdua meninggalkan apartemen. Langkah demi langkah ringan menjajaki trotoar yang dilalui orang-orang. Hari libur menjadi waktu berharga untuk semua orang. Hanya berjalan kaki kurang lebih 25 menit Riana dan Kaila tiba di taman dekat tempat tinggalnya. Banyak sekali anak-anak yang bermain. Selain tempatnya nyaman untuk nongkrong di sana juga terdapat ayunan, perosotan dan permainan anak lainnya. Riana duduk di bangku dekat ayunan seorang diri melihat Kaila yang begitu antusias. Senyum cerianya mengalahkan cerah matahari siang ini. Riana bersyukur mendapatkan putri yang begitu cantik dan mandiri.
“Senang sekali yang pergi liburan. Ayahnya mana?” Suara familiar itu mengejutkan. Riana menoleh ke samping kanan melihat mbaknya di sana.
“Mbak Sarah? Mbak ada di sini?” Tanyanya balik.
“Mbak bosen di rumah terus. Tadinya mbak mau pergi ke supermarket tapi melihat kalian ada di sini jadi menggodamu.” Iris Riana melebar. Wanita berkepala tiga itu selalu saja membuatnya merona. Sarah menjadi satu-satunya keluarga yang ia punya. Meskipun tidak ada ikatan darah, Riana bersyukur bisa bertemu dengannya. Pertemuan pertama mereka terjadi ketika Riana memasukan Kaila ke TK. Sejak saat itu ia sudah percaya padanya seperti saudara kandung.
"Jadi? Apa kamu sudah memikirkan siapa yang akan menjadi calon ayah Kaila?”
“Ke…kenapa mbak bisa berkata terus seperti itu?” Riana tidak mengerti. Akhir-akhir ini Sarah sering membicarakan hal yang sama. Sosok ayah Kaila seolah sudah mati dalam kamus hidupnya.
“Dua hari lagi ada hari ayah dan TK mengadakan perayaan. Aku takut dengan perasaan Kaila. Hari itu dia duduk sendirian menghindari teman-temannya karena membicarakan ayah mereka. Jadi, kamu mengertikan bagaimana perasaannya?” Penjelasan Sarah membuat Riana terdiam. Ia terus memandangi anak semata wayangnya yang tengah asyik bermain perosotan. Ia tidak memikirkan sampai sejauh itu. Riana pikir hanya hidup bersamanya saja sudah cukup untuk Kaila. Namun, ternyata tidak seperti itu. Kaila membutuhkan sosok seorang ayah.
“Cepatlah cari pendamping jika berat memperkenalkan ayah kandung pada Kaila.”
“Tidak semudah itu mbak. Aku tidak mau menikah lagi. Mbak tahu sendiri bagaimana pernikahanku. Bukankah aku sudah menceritakannya sekilas?” Sarah mengangguk. Ia tahu bagaimana masa lalu yang pernah dikecap oleh Riana. Masa kelam yang seharusnya tidak perlu diungkit kembali. Namun, Sarah ingin Riana bisa bangkit dari kepedihannya.
“Baiklah, tapi pikirkan lagi bagaimana caranya agar Kaila merasakan kasih sayang dari seorang ayah.”
“Maafkan mamah sayang.” Gumamnya seraya mengecup dahi putrinya hangat.
...***...
Hari ini Riana tidak seperti biasanya. Wanita itu banyak melamun dan membiarkan pekerjaannya terabaikan begitu saja. CEO perusahaan tersebut tidak sengaja melewati ruangannya dan menangkap kesedihan itu. Ia tahu Riana sedang tidak fokus pada pekerjaan. Ini tidak seperti biasanya. Rasa penasaran pun menyeruak dalam dada. Langkah lebar Kim YeonJin membawanya ke dalam ruangan. Hingga ia tepat di hadapannya pun Riana masih tidak sadar. Dahi YeonJin mengerut. Riana sudah jatuh terlalu jauh dalam lamunan.
Tokk!! Tok!!
“Riana-ssi, hallo, Riana-ssi.” YeonJin mengetuk-ngetuk meja mengejutkannya. Sekejap mata Riana bangun dari alam bawah sadarnya. Netra bulatnya melebar melihat sang atasan ada di sana.
“E….ehh Sajangnim. A..ada apa?” Tanyanya.
“Apa ada yang mengganggumu? Dari tadi aku perhatikan sepertinya kamu tidak konsentrasi bekerja.”
“Ehhh!!” Riana terpekik kaget ketahuan sedang bermalas-malasan. Bola matanya bergulir menghindari tatapan YeonJin. Riana malu sekaligus takut. Ia juga tidak bisa membicarakan hal yang sebenarnya. Ia pikir itu urusan pribadinya yang tidak perlu diceritakan.
“Oh iya, besok kamu bisa pergi ke lokasi? Mereka ingin mendiskusikan sesuatu.” Jelasnya kemudian. Riana kembali menoleh dan sedikit menyesal.
“Em, maaf. Sepertinya besok saya tidak bisa pergi ke lokasi dan tidak bisa pergi kerja. Saya izin cuti.” Sontak hal itu membuat YeonJin tercengang. Baru pertama kali Riana izin dari pekerjaannya. Bukankah wanita itu selalu bekerja keras? Ia penasaran dengan alasannya.
“Kenapa?” Bingungnya.
“Be…besok hari ayah dan di TK anak saya ada acara untuk menyambutnya. Jadi saya harus datang.” Jelasnya. "Meskipun sendirian." Benaknya kemudian.
YeonJin mengerti. Namun, di balik itu sorot mata Riana menjelaskan semuanya. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan. Dan Riana tidak bisa menjelaskan padanya.
“Ahh, baiklah kalau begitu. Semoga acaranya menyenangkan, aku titip salam buat anakmu.” Setelah mengatakan itu ia pun berlalu.
Di sepanjang lorong menuju ruangannya, YeonJin terus memikirkan wanita itu. Ia melipat tangan di depan dada seraya bibirnya terus berkomat-kamit menggumamkan apa yang ada dalam kepalanya.
“Hari ayah yah? Apa besok mantan suaminya akan datang? Aku jadi penasaran_ eh…. tunggu.. apa yang aku pikirkan. Itu bukan urusanku, tidak…tidak…tidak.” Ia mengacak-ngacak surai lembutnya cepat. “Tunggu! Tapi aku mengerti perasaan anaknya, aarrgghh…. aku tidak mengerti.” Ia terus meracau hingga tidak menyadari langkahnya sudah mencapai depan pintu ruangannya. Beruntung di sana sepi tidak terlihat satu pun karyawannya. Ia terselamatkan dengan tingkah konyolnya.