QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Kepercayaan (Season 2)



Cafe sarang menjadi tempat pertemuan antara menantu dan mertua itu terjadi. Banyak pengunjung yang tengah menikmati makan siang di sana. Kegaduhan tercipta menjadi musik pengiring kebersamaan keduanya. Duduk di dekat jendela memperlihatkan aktivitas di luar, banyak orang berlalu lalang dan juga kendaraan silih berganti.


Jari jemari yang berada di atas meja saling berpautan. Cincin berlian bertengger nyaman di jari manis membuat pria paruh baya tersebut menyunggingkan senyum. Kim YeonSeo menyesap kopinya singkat lalu kembali memperhatikan wanita di hadapannya.


"Apa kamu tahu kenapa suamimu, Kim YeonJin menyembunyikan keberadaanku? Anak mana yang tega menelantarkan ayahnya sendiri? Dan yah, YeonJin menjadi anak yang melakukan itu. Tidakah kamu tahu kenapa selama ini saya tidak pernah hadir dalam kehidupannya? Saya rasa kamu bisa memikirkan hal tersebut." Ungkap YeonSun lalu kembali meminum kopinya.


Riana yang masih memperhatikan sosok di depannya ini mengeratkan pelukan pada Hyun Sik. Ia sangat percaya kepada sang suami. Kim YeonJin tidak akan tega menelantarkan orang tuanya sendiri. Ia cukup mengenalnya, selama pernikahan mereka tidak ada tanda-tanda jika pria itu melakukan apa yang Kim YeonSun ucapkan.


Senyum misterius masih bertengger nyaman di wajah tua itu. Kedua kaki jenjangnya menyilang dengan tegas seraya membalas tatapan Riana tak kalah serius. Ada perasaan canggung dan juga gelisah dalam diri Riana.


"Ini pertama kali kita bertemu dan saya percaya kepada Kim YeonJin. Suami saya tidak mungkin menelantarkan orang tuanya sendiri. Bukankah Anda sendiri yang menelantarkan mereka? Kim YeonJin dan Almaruhman ibunya? Saya dengar Anda pergi bersama wanita lain?"


Setelah mendengar penuturan Riana, YeonSun menegakan tubuhnya lalu menggebrak meja. Para pengunjung terkejut dan segara memperhatikan ke arah mereka. Namun, baik Riana dan YeonSun tidak mengindahkan hal tersebut. Sorot mata keduanya terlihat sengit mempertahankan ego masing-masing.


"Dari mana kamu tahu hal seperti itu? Saya tegaskan jika berita yang kamu tahu tidak benar adanya. YeonJin-" jega sejenak YeonSun mengusap wajahnya gusar kemudian menghela napas berat. "Anak itu benar-benar sudah pandai berbohong ternyata. Tahun itu saya pergi untuk menjual lukisan yang sudah saya buat. Ada investor yang rela mengeluarkan banyak uang membeli karya saya. Dan siapa sangka setelah saya kembali YeonJin dan ibunya pergi dari rumah? Padahal saya sudah membawa banyak uang untuk membahagiakan mereka. Tetapi, ini yang saya dapatkan? Sungguh tidak bisa dipercaya."


Kim YeonSun menggeleng-gelengkan kepala seolah telah dikhianati setelah berjuang untuk keluarga kecilnya. Riana kembali memperhatikan ekspresi yang timbul dari pria paruh baya ini. Perkataan yang diucapkan Kim YeonSun dan Kim YeonJin sangat bertolak belakang.


Jauh dari dasar lubuk hatinya paling dalam Riana sama sekali tidak mempercayai kisah yang diceritakan mertuanya. Riana tahu tidak mungkin sang suami berbohong dengan masa lalunya. Kesakitan dan kepedihan yang tersirat dalam sorot matanya sudah menjelaskan bagaimana kehidupan seorang Kim YeonJin.


Kesepian akan kehilangan seseorang berarti dalam hidup tidak mudah untuk disembuhkan. Terlebih adanya pengkhinatan dan juga luka tak kasat mata tersimpan apik membuat Riana merasakan hal yang sama.


Mereka sama-sama menjadi korban keegoisan. Tidak semudah membalikan tangan untuk sembuh dari rasa sakit akan masa lalu. Namun, terus berjuang dan berjalan perlahan lebih baik daripada berdiam diri di tempat.


"Saya tidak tahu bagaimana kebenaran yang terjadi di masa lalu. Tetapi, saya lebih percaya terhadap Kim YeonJin. Jika tidak ada yang ingin Anda katakan lagi, saya permisi dulu."


Setelah mengatakan itu Riana beranjak dari duduk, tapi sebelum kakinya melangkah Kim YeonSun kembali menghentikannya.


"Sebenci itukan Kim YeonJin padaku? Sampai-sampai ia berhasil menghasut istrinya untuk tidak memperhatikan mertuanya sendiri. Apa kamu tahu seperti apa rasanya ditinggalkan anak dan istri? Aku menikah lagi bukan keinginan sendiri, tapi karena takdir yang mengharuskanku memilih jalan tersebut," jeda sejenak Kim YeonSun mendongak lalu tersenyum penuh makna ke arah Riana. "Apa dia putra kalian? Cucuku?" tunjuknya pada Hyun Sik yang masih tertidur dalam buaian sang ibu. Riana hanya mengangguk singkat tanpa mengatakan sepatah kata pun. "Dia sangat mirip dengan YeonJin saat masih kecil. Aku titip mereka padamu."


Tanpa terasa air mata menetes tak tertahankan. Riana menunduk memperhatikan wajah polos sang buah hati. Hingar bingar di dalam cafe menemani kepiluan. Sesak dalam dada tiba-tiba saja memuncak membuatnya menangis.


Ia memeluk Kim Hyun Sik dan memberikan kecupan hangat di dahinya.


...***...


Kisah akan terus berlanjut sampai masa yang sudah ditentukan. Asam, manis, pahitnya kehidupan akan tetap berjalan hingga titik akhir. Kejadian demi kejadian akan terus bergulir dan berganti seiring berjalannya waktu. Jam terus berdentang menandakan napas masih berhembus. Allah tidak akan pernah salah memberikan ujian dan cobaan pada setiap hamba-Nya. Karena di dalamnya Allah sudah memberikan kebaikan.


Tidak ada yang salah dengan air mata kepedihan. Itu bukti seberapa kuat kita menjalani kehidupan yang Allah berikan. Kesempatan tidak datang dua kali, jika berada dalam kepedihan maka bersabar adalah kuncinya dan setelahnya Allah memberikan kotak kebahagiaan. Kita menggunakan kunci itu untuk membuka kotak tersebut dan tersenyum lega atas apa yang sudah Allah berikan.


Riana menjadi salah satu dari sekian juta peran utama yang menjalani kisahnya sendiri. Masa-masa terberat sudah dilewati dengan banyaknya air mata. Tidak terhitung jumlahnya sesak dalam dada mengantarkan kepada kepiluan. Namun, setelah semua itu berakhir Allah memberikan kebahagiaan tak terbayangkan.


Kim YeonJin hadir tanpa pemberitahuan dan peringatan. Begitulah Allah memberikan kejutan yang tidak pernah disangka sebelumnya. Banyak air mata yang sudah mengalir dan banyak juga tawa hadir setelahnya.


Cinta hadir dibungkus dalam ikatan janji suci pernikahan. Episode baru berlanjut bersama keluarga baru dalam satu atap. Kebahagiaan hadir menjadi kunci utamanya.


Namun, kini ujian lain datang. Riana hanya akan terus bersabar dan mengikuti ketentuan yang sudah diberikan. Layaknya air mengalir, ke mana arus akan membawanya di sana pasti yang terbaik.


Selepas pertemuan dengan sang ayah mertua Riana kembali ke kediamannya. Langit sudah berubah menjadi gelap dan bintang satu persatu bermunculan. Wanita berhijab lebar itu berhenti tepat di depan rumah memperhatikan bangunan di depannya.


Sudah banyak kenangan yang ia lewati bersama sang suami. Kaila dan Hyun Sik hadir dalam hidupnya menambah kebahagiaan. Riana tidak menyangka akan berada di titik sekarang. Selama ini ia sudah berjuang keras untuk hidupnya dan juga putri kecilnya, Kaila. Menjadi seorang single parent membuatnya kuat untuk terus bertahan.


"Aku percaya apapun yang terjadi kami bisa menghadapinya. Ada Allah yang Maha Besar dari masalah ini," gumamnya lalu masuk ke dalam rumah.


Langkah demi langkah ditapi mengukir kembali kisah yang masih akan terus berlanjut.