
...Kebahagiaan kita sendiri yang menciptakan. Dan kesakitan datang dari pemikiran kita yang terus teringat masa lalu menyedihkan....
.......
Ibu kota dihari libur dipadati orang-orang yang hendak menghabiskan waktunya bersama orang terkasih. Dari tempat wisata dan pusat perbelanjaan banyak orang yang terus berdatangan. Begitu pula dengan ayah dan anak tidak sedarah ini. Setelah meninggalkan taman, mereka menyempatkan diri datang ke sebuah toko. Di sana tersedia keperluan sekolah, buku, boneka, dan juga mainan anak-anak.
Banyak orang tua yang mengajak anaknya ke sana. Tentu hal tersebut dimanfaatkan mereka untuk membeli barang-barang kesukaannya, terutama peralatan sekolah.
“Kaila mau beli apa? Lihat banyak sekali mainan di sini.” Tunjuk YeonJin pada rak permainan. Kaila berpikir seraya bola matanya terus mengitari setiap sudut toko tersebut.
“Kaila bingung appa.”
“Kalau begitu Kaila lihat-lihat dulu saja. Nanti jika sudah menemukan yang cocok kasih tahu appa, ne.” Kaila mengangguk lalu berjalan mengikuti suruhannya.
YeonJin tersenyum senang anak itu kembali ceria.
Ia pun melangkahkan kakinya menuju tempat buku. Netra kecilnya bergulir ke sana kemari melihat judul demi judul buku yang terpampang. Hingga tanpa sadar pandangannya terhenti pada salah satu buku dengan cover putih itu. Tangannya terulur lalu membaca deskripsinya.
“Jalan menuju-Mu. Tuntunan pada cahaya Ilahi Rabbi?” gumamnya. Ia terdiam merasakan sesuatu yang aneh. Dadanya bergemuruh, bukan emosi melainkan seperti hal yang menenangkan. Sadar atau tidak ia membawa buku tadi dan membacanya di kursi kayu yang sudah disediakan.
Kata demi kata terlewati. Tidak seperti biasanya, YeonJin membaca sebuah buku bukan kertas atau pun cat sebagai peneman. Ia terhanyut dan menikmati kesendiriannya melupakan orang-orang di sekitar. Ia juga tidak menghiraukan bisakan demi bisikan wanita yang sedari tadi menyadari siapa dirinya.
Tidak lama kemudian, Kaila sudah menemukan apa yang diinginkannya. Ia melangkah riang seraya tersenyum manis pada buku yang digenggamnya. Ia terus berjalan mencari keberadaan sang ayah. Netra beningnya menangkap sosok itu. Perlahan ia pun mendekatinya merasakan aura berbeda dari pria itu. YeonJin yang tengah serius tidak menyadari keberadaan gadis kecil ini.
Kaila pun duduk di hadapannya tanpa mengatakan apapun dan menunggunya selesai membaca.
Sadar jika di sana tidak sendirian lagi, YeonJin mengakhirinya dan terkejut mendapati Kaila tengah memandanginya lekat.
“Ehh, Kaila sudah mendapatkan barangnya?” Kaila mengangguk lalu menyodorkan buku tadi. Kedua alisnya saling berpautan tidak mengerti saat membaca judul tersebut. "Tuntunan pada jalan kebenaran?"
“Kaila ingin memberikan buku ini untuk appa.” Polosnya disertai senyum tulus.
“Kenapa?”
“Kaila sering melihat appa melamun. Mamah bilang jika kita punya masalah lebih baik ceritakan saja semuanya sama Allah. Pasti Allah memberikan solusi untuk kita. Kaila ingin appa melakukannya juga.”
Lagi dan lagi YeonJin tercengang dengan jawaban gadis mungil di hadapannya. Di balik sosok kecilnya terdapat jiwa besar yang mampu memberikan ketenangan.
“Appa juga sering bercerita pada Allah, kan?” Sontak pertanyaan itu seperti menamparnya keras, "tidak Kaila. Bahkan appa tidak punya kerpecayaan," lanjutnya lagi dalam diam. Ia Tidak sanggup membalas perkataannya.
“Terima kasih sudah memberikannya untuk appa. Ayo kita cari barang lainnya.” Ajak YeonJin kemudian seraya menjulurkan tangannya. Kaila tersenyum lebar dan mengangguk cepat lalu menggenggam tangan hangat sang ayah.
Selesai berbelanja, YeonJin kembali mengantarkan Kaila pulang. Bersama senja yang menemani perjalanan terakhir mereka. Hari liburnya kali ini terasa berbeda, dan ia merasakan lebih bermakna.
“Apa Kaila selalu berdo’a?” tanya YeonJin setelah sekian lama bungkam.
“Eung, tentu saja. Kaila sering berdo’a untuk mamah agar selalu sehat dan panjang umur. Kaila juga sering bilang sama Allah agar suatu saat nanti bisa bertemu dengan appa. A, Kaila lupa mendo’akan YeonJin appa.” Jujurnya, ia pun mengadahkan kedua tangannya seraya menutup mata.
“Ya Allah, Kaila mohon berikanlah rezeki yang berlimpah kepada YeonJin appa. Semoga YeonJin appa selalu sehat dan diberikan kelancaran. Terima kasih ya Allah sudah menghadirkan YeonJin appa untuk Kaila.”
Selepas sebait do’a yang dipanjatkannya Kaila kembali menoleh ke samping kiri.
YeonJin tercengang dengan kebaikannya. Berkali-kali perasaan hangat itu menghantam dirinya. Kaila sama seperti Riana mencerminkan kebaikan dan juga ketulusan.
“Aamiin, gomawo sayang.”
"Riana sudah berhasil membesarkan seorang anak dengan baik," benaknya kemudian. Ia merasakan perasaan tidak menentu. Sesuatu yang belum ia mengerti masih bergelung nyaman dalam hatinya.
Setibanya di depan gedung, Kaila dan YeonJin langsung menuju lantai 4 untuk menemui Riana. Selepas bel berbunyi, pintu terbuka cepat. Kaila langsung menyalami tangan ibunya cepat dan mengucapkan salam lalu bergegas meninggalkan mereka berdua. Urusan pribadinya mengganggu gadis kecil itu sedari tadi.
“Terima kasih untuk hari ini. Maaf sudah merepotkan,” ucap Riana.
YeonJin tersenyum sekilas seraya, “sama-sama aku senang bisa menghabiskan waktu libur bersama Kaila. Sudah kubilang kamu tidak usah berkata seperti itu. Ini sama sekali tidak merepotkan untukku. Jujur, aku sangat menyayangi Kaila. Dan aku sudah menganggapnya seperti anak kandung.”
Sontak hal itu membuat netranya melebar. Riana tidak menyangka YeonJin bisa berkata seperti itu. Ia merasakan ketulusan dari nada bicaranya. Ia juga tidak melihat kebohongan apapun yang terpancar dalam matanya. Baru saja Riana membuka mulut untuk membalas ucapannya, perkataan sang anak kembali menghentikan.
“Appa, kenapa membelikanku tas ini?” tanya Kaila mendekati mereka seraya menenteng tas gendong berwarna merah muda itu.
YeonJin pun berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Kaila.
“Appa sengaja membelikannya. Appa ingin Kaila menggunakan tas baru. Tas yang diberikan appa Kaila kan sudah tidak layak dipakai, Sayang.”
“Tapi Kaila sangat menyayanginya. Ada kenangan ditas itu,” Kaila menundukan kepalanya dalam.
“Sayang, kenangan akan terus tersimpan dalam pikiran kita. Bukankah sekarang sudah ada YeonJin appa? Appa akan terus bersama Kaila, ada atau tanpa sebuah tas. Kaila maukan menjadi anak appa?” Mendengar itu Kaila kembali mendongak melihat senyum yang bertengger di wajah tampannya. Air mata lolos dengan cepat. Ia pun menerjangnya kembali.
“Gomawo appa. Kaila juga sayang sekali sama YeonJin appa. Terima kasih buat tasnya. Mulai sekarang Kaila bisa menceritakan pada teman-teman jika tas ini benar-benar pemberiaan appa.”
Riana tidak bisa menahan kesedihan. Bulir demi bulir air mata tumpah saat melihat kebersamaan mereka. Ia sadar Kaila dan YeonJin, atasannya sendiri tidak bisa dipisahkan. Ia juga sadar jika tas kesayangan Kaila bukanlah pemberian ayah kandungnya melainkan hasil kerja kerasnya dulu. Uang yang berhasil ia kumpulkan dan berdalih pemberiaan sang ayah agar Kaila tidak mempertanyakannya lagi.
Namun, kini rasa bersalah itu semakin mencuat ke permukaan. Ternyata dengan bangganya Kaila selalu menceritakan jika tas miliknya pemberiaan dari sang ayah.
"Maafkan mamah, Sayang," Benak Riana.
Sepeninggalan YeonJin, mereka pun bersiap untuk beristirahat. Ibu dan anak itu berbaring bersama seraya menatap langit-langir kamar. Kaila tersenyum senang seraya mendekap tas barunya. Bola mata Riana bergulir melihat hal itu.
Rasa bersalah terus menghantuinya. Ia sudah membohongi anaknya terlalu dalam.
“Sayang, mamah minta maaf.”
Kaila menoleh pada ibunya tidak mengerti.
“Untuk apa mamah meminta maaf?”
“Karena sudah membohongimu. Sebenarnya tas itu bukan dari ayah.”
Untuk sekarang Riana tidak bisa menatap sang buah hati dan tanpa disadarinya Kaila melengkungkan bibirnya.
“Kaila senang mamah berkata jujur. Eung, tidak apa-apa mah. Kaila senang setidaknya mamah pernah mengatakan tentang ayah.”
Air mata itu kembali tumpah, ia pun langsung memeluk sang anak erat.
“Maafkan mamah. Ahh kamu sudah tumbuh dengan baik. Jangan cepat dewasa dulu mamah tidak mau kehilanganmu…”
“Ma-mamah Kaila kan masih 5 tahun. Untungnya sekarang ada YeonJin appa Kaila senang sekali bisa bertemu dengannya.”
“Jika nanti bertemu dengan ayah kandung, apa yang akan Kaila lakukan kepada YeonJin appa?”
“Kaila tidak tahu. Tapi yang jelas Kaila sayang sekali sama YeonJin appa.”
Riana tidak bisa mengatakan apapun lagi. Ia sadar dengan situasinya sekarang dan biarkanlah waktu yang akan menjawabnya nanti. Seperti apa pertemuan anak dan ayah kandung itu.