
...Masa lalu memang tidak bisa dihilangkan, dan terkadang memberikan rasa sakit untuk dijadikan pembelajaran....
.......
Hari sibuk kembali datang. Semua orang bersiap untuk beraktivitas lagi melanjutkan mencari nafkah untuk keluarga. Seperti biasa, sebelum berangkat Riana dan Kaila menikmati sepiring nasi goreng favorite mereka. Sudah menjadi kebiasaan nasi berkepul asap itu sudah menemaninya dari dulu. Dari 5 tahun yang lalu, Riana berjuang seorang diri membesarkan sang anak.
Tidak punya uang dan ditelantarkan keluarga tanpa belas kasihan. Ia berusaha sekuat tenaga mencari uang halal guna memberi makan untuk Kaila. Waktu itu ia hanya mampu membeli sebungkus nasi dengan lauk seadanya. Karena tidak tahu besok hari makan apa, ia pun membaginya dua bagian. Dan pada keesokan paginya ia menggoreng nasi tersebut untuk memberinya kehangatan.
"Aku jadi teringat masa-masa sulit itu. Ya Allah terima kasih atas rezeki yang tidak pernah Engkau putuskan untuk hamba. Karena hamba tahu hanya Engkaulah pemberi rezeki pada setiap hamba-Nya," benak Riana menyelam dalam buliran nasi coklat tersebut.
“Oh iya mah, kemarin Kaila melihat YeonJin appa mencari buku tentang keberadaan Tuhan. Emm, dan Kaila juga berdo’a kepada Allah untuk kebaikan appa,” perkataan sang anak seketika membuatnya bungkam.
Ia melihat ke dalam mata hitamnya lekat.
Tidak ada kebohongan sedikit pun di sana. Ia tahu mana mungkin anak sekecil Kaila berbohong. Ia pun tidak pernah mengajarinya hal seperti itu. Ia ingin Kaila tumbuh menjadi seorang anak sholehah dan membuktikan pada dunia meskipun dirinya sebagai orang tua tunggal.
“A, em benarkah? Baguslah,” jawabnya tidak tahu harus berekspresi apa lagi. Kaila hanya mengangguk-anggukan kepala seraya terus menikmati sarapan.
Satu setengah jam berlalu, Kaila pun sudah berada di sekolah. Ia duduk seorang diri di bangku taman seraya membaca buku dongeng yang setiap saat menemaninya sebelum bel masuk berbunyi. Sarah yang baru saja datang melihat keberadaannya di sana. Ia pun langsung berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya begitu saja.
“Assalamu’alaikum Kaila.” Sapanya riang seraya mengusap kepalanya pelan.
“Umi? Wa’alaikumsalam.”
“Apa yang Kaila baca, hmm?”
“Kaila sedang membaca anak beruang yang ditinggal ayahnya. Emm, kenapa ceritanya mirip dengan Kaila,” suara ringan sang anak yang tengah tertawa membuat kedua mata Sarah melebar. Ia tahu seperti apa kehidupan gadis mungil ini. Ia pun kembali mengusap rambutnya sayang memberikan kekuatan. Berharap suatu saat nanti Kaila bisa bertemu sang ayah.
“Apa Kaila sudah bertemu dengan ayah?” Tentu saja kepala bermahkotakan surai legam itu menggeleng pelan.
“Tapi Kaila senang karena sudah punya YeonJin appa. Dihari ahad appa selalu mengajak Kaila jalan-jalan.” Kembali bibir kemerahan itu melengkung memperlihatkan deretan gigi susunya .
Sarah kembali tersadar jika selama ini pengusaha sekaligus pelukis handal itu sudah membuat hari-hari seorang anak lebih berwarna. Kaila, tumbuh besar tanpa kehadiran sosok seorang ayah. Ia merasakan perasaan yang tengah bersemayam dalam hatinya. Ia juga tahu alasan kenapa Riana tidak menceritakan tentang ayah kandungnya.
“Apa Kaila menyukai YeonJin appa itu?”
“Tentu saja umi. YeonJin appa bahkan sudah menganggap Kaila seperti anaknya. Kaila juga sayang sekali sama YeonJin appa,” lagi dan lagi gadis kecil itu mengungkapkan kasih sayangnya untuk orang tua yang tidak ada setetes darah pun mengalir dalam dirinya.
Sarah terharu mendengar kejujurannya. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang sudah menggenang. Ia tidak ingin menangis di hadapan Kaila. Sungguh berat ujian yang harus dilalui seoang anak sekecil, Kaila.
...***...
Riana tengah memantau kembali pembangunan galeri yang tidak jauh dari perusahaan. Wanita berdarah Sunda ini tersenyum puas saat melihat perkembangan yang begitu signifikan. Sudah hampir satu tahun lamanya ia berada dalam lingkungan pekerjaan itu. Ini pertama kalinya Riana bisa mewujudkan cita-cita di mana rancangannya bisa di bangun. Ada kebahagiaan sendiri dalam hatinya.
Ia terus bersyukur kepada Ilahi Rabbi yang telah memberikan karunia tidak ternilai.
“Alhamdulillah sebenatar lagi galeri ini selesai di bangun,” gumamnya bangga. Senyum kebahagiaan hadir di wajah ayunya.
Sontak pernyataannya itu membuat perasaan seseorang yang tengah berdiri tidak jauh darinya seperti tercabik-cabik secara perlahan. Ia mematung mencerna baik-baik ucapan Riana. Ia sadar sudah banyak waktu yang dilewatinya bersama wanita itu. Hingga tidak disadarinya perasaan aneh muncul begitu saja. Ia tahu apa itu dan sekuat tenaga menahan gejolaknya seorang diri.
“Oh iya Riana, jika kontrak kita sudah berakhir apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu kembali ke Indonesia?” tanyanya penasaran.
“Ehh Kim YeonJin-ssi?” ia terpekik kaget. Sangking seriusnya menyaksikan bangunan itu ia tidak sadar dengan keberadaan YeonJin. Pria itu hanya tersenyum seraya menunggu jawabannya.
“Aku belum memikirkannya. Kembali ke Indonesia?” Cicitnya diakhir kalimat. YeonJin pun memperhatikan gerak-geriknya. Ia tahu tentang sesuatu yang masih tertimbun dalam dirinya.
“Apa kamu akan kembali ke Indonesia?”
Pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.
Riana terdiam masuk ke dalam lamunan. Tatapannya mengunci tepat pada semen yang berserakan di bawahnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Namun, yang jelas ia enggan untuk meninggalkan Negara Ginseng ini. Terlebih banyak sekali luka yang pernah ia rasakan di negara kelahirannya.
Pertanyaan itu hanya mengambang tanpa memberikan jawaban yang pasti.
Selesai meninjau bangunan tesebut, mereka memutuskan untuk kembali ke kantor. Selama dalam perjalanan hanya ada keheningan yang melanda. YeonJin merasakan kecanggungan setelah kejadian tadi. Bahkan Riana pun tidak bersuara kembali. Ia penasaran bercampur khawatir takut jika pertanyaannya tadi menyakiti perasaan.
“Oh yah, apa Kaila menyukai tas yang kemarin?” ia pun mencoba membuka pembicaraan dan berusaha mengenyahkan pikiran negatif.
“Kaila sangat menyukainya. Bahkan hari ini dia sudah mengganti tasnya yang lama.”
“Benarkah? Aku senang mendengarnya, syukurlah kalau Kaila suka.”
Riana hanya mengangguk-anggukan kepala. Setelah percakapan singkat tadi tidak ada yang mereka katakan lagi. YeonJin maupun Riana sama-sama bungkam mencari topik lain. Wanita itu penasaran tentang sesuatu yang Kaila katakan tadi pagi.
"Apa aku bisa menanyakannya? Ahh tidak-tidak…. aku pikir lebih baik tidak usah. YeonJin-ssi punya privasinya sendiri," Hal itu menjadi rasa penasaran yang tidak pernah ia tanyakan.
Biarkanlah hanya waktu yang akan menjawabnya. Hingga hari itu berkata sesuatu yang ia pendam memberikan kejutan istimewa atau pun sebaliknya. Karena Allah tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.