QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 50



...Kehadiranmu membasuh luka masa lalu, memberikan kebahagiaan dengan ketulusan....


.......


Pernyataan yang terucap hari itu hari demi hari mulai mendekati penyatuan. Kedua insan yang tidak pernah saling kenal sebelumnya, ternyata takdir mempertemukan. Bukan sebuah kebetulan, semuanya memang sudah menjadi kehendak yang Di Atas. Allah menghadirkan luka lengkap dengan obatnya. Begitu pula dengan air mata. Selepas menangis senyum kebahagiaan pasti terbit setelahnya.


Itulah yang dirasakan Riana. Wanita berumur 29 tahun ini sudah merasakan asam, manis, pahitnya kehidupan. Rumah tangga yang pernah ia emban ternyata tidak memberikan kebahgaiaan. Hanya air mata kepedihan yang menemani cinta sebelah pihak. Luka dan luka, menghampiri kehidupan pernikahannya waktu itu.


Namun, sekarang semua sudah berubah. Hari-hari terburuknya seolah baru saja terjadi kemarin dan sekarang ia berhasil membuka lembaran baru bersama orang yang tulus mencintainya.


“Mamah, ayo nanti terlambat. Mamahkan harus dirias dulu.” Teriak sang anak dari luar.


Riana yang masih duduk di tepi tempat tidur sedari tadi terus memainkan kedua tangannya. Ia tidak nyaman dalam kesendiriannya. Bibir ranumnya terus bergetar tidak karuan. Ia tahu jika sebentar lagi kehidupannya akan segera berubah.


“Mamah…”


Kaila kembali berteriak dan kali ini sangat kencang membuatnya tersadar.


“A-ahh i-iya, Sayang. Ma-mamah keluar sekarang.” Jawabnya kelabakan.


Tidak lama berselang pintu kayu itu terbuka. Kaila tersenyum lebar melihat sang ibu menyembul dari sana. Ia pun berjalan mendekat lalu menggenggam tangannya erat.


“Ayo mah sebentar lagi acaranya dimulai.” Anak itu terlihat bersemangat sekali seraya menariknya pelan. Riana hanya bisa pasrah dan mengikutinya.


Jalanan kota Seoul pagi ini terlihat lengang. Dengan matahari bersinar terang mobil yang membawa ibu dan anak itu melaju membelah angin. Musim semi untuk kesekian kalinya menyapanya lagi.


Tidak lama berselang ibu dan anak itu pun tiba di gedung resepsi. Buru-buru Riana langsung dibawa ke ruang rias untuk mendapatkan renovasi dirinya. Senyum terus terukir di wajah Kaila melihat sang ibu.


Di ruangan yang berbeda Kim YeonJin tengah menunggu waktu pengucapan ijab kabul. Sedari tadi ia hanya menatap keindahan kota Seoul lewat jendela besar itu. Perlahan kedua sudut bibirnya melengkung membentuk bulan sabit sempurna.


Wajahnya semakin rupawan dengan tatanan rambut sederhana.


“Eomma, hari ini Yeon akan menikah. Apa eomma melihatku di sana? Aku harap eomma merestui pernikahan kami. Aku bahagia sudah menemukan belahan jiwa.” Tuturnya pada kehampaan seraya menatap langit biru cerah.


Tidak lama berselang seseorang membuka pintu. Tanpa mengindahkan kehadirnnya YeonJin terus pada posisinya. Hal itu membuat sang sahabat berjalan mendekat.


“Hyung sudah siap?” tanya Jimin setelah berdiri di sampingnya.


YeonJin pun menoleh padanya sekilas. “InsyaAllah aku siap.”


Seulas senyum hangat menyapa Choi Jimin saat melihat ketulusan yang terpancar dalam mata hyungnya ini.


“Riana wanita yang hebat. Dia bisa meruntuhkan pendirian hyung yang selama ini tertutup tentang cinta. Aku tahu hyung memiliki trauma. Karena pernikahan eomma dan appa kan?”


“Aku memang terlahir dari keluarga broken home. Setiap hari selalu disuguhi dengan pertengkaran mereka. Aku percaya, Tuhan menghadirkan itu semua agar aku kuat. Aku memang sempat menutup hati pada cinta. Tapi, sekarang aku sudah menemukan seseorang yang berharga. Riana, wanita yang mandiri. Mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Dan aku tidak peduli dengan statusnya.”


Jimin semkain mengagumi sosok Kim YeonJin. Ia belum pernah melihatnya seperti sekarang. Ada hal lain yang tidak ia ketahui sebelumnya. Dan itu karena seorang wanita, Riana.


“Eung, aku bersyukur hyung bisa menemukan seseorang. Aku harap kalian bahagia.”


“Gomawo.” Balasnya seraya memeluknya singkat.


...***...


Beberapa jam kemudian acara yang dinanti telah tiba. Tidak banyak orang yang datang untuk menyaksian pernikahan mereka. YeonJin maupun Riana, memiliki riwayat keluarga yang sama. Mereka tidak peduli tentang kehidupannya.


Dekorasi sederhana dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menemani setiap langkah wanita berkebaya putih itu. YeonJin tahu Riana berasal dari Indonesia. Ia ingin memberikan pernikahan sesuai adat yang dimilikinya. Tentu dengan pengetahuan yang ia cari sebelumnya.


Netra jelaganya tepat berhenti di pundak tegap sang calon imam. Di sana ia tengah duduk membelakanginya. Ia malu sungguh dirinya tidak menyangka mendapatkan hal seperti ini lagi. Jika hari itu pernikahannya karena perjodohan dan bukan cinta yang mendasarinya, tapi sekarang berbeda. Ada perasaan hangat yang mendiami lubuk hatinya.


Tidak lama berselang Riana duduk di belakang YeonJin. Melihat itu pria berumur yang akan menikahkan mereka berdua pun mulai menjabat tangan Kim YeonJin. Detik-detik paling mendebarkan seumur hidupnya kini datang juga.


YeonJin dengan lancar mengucapkan ijab kabul tersebut. Pria maskulin itu dengan lantang menuturkan janji di hadapan Tuhan. Ikatan suci pernikahan pun membelit mereka berdua. Kata “Sah” dari saksi yang ada membuat perasaan kedua mempelai menjadi lega.


Sang istri pun digandeng untuk berdampingan dengannya.


Perlahan YeonJin menoleh ke samping kanan melihat seseorang yang dicintainya. Sekarang wanita itu sudah menjadi istri sahnya. Keinginan terdahulunya tercapai sudah.


“Aku bahagia akhirnya kamu menjadi istriku. Mulai sekarang aku akan membahagiakanmu,” ucapnya tegas.


Riana yang sedari tadi menunduk pun mendongakan kepalanya membalas tatapan itu.


“Terima kasih sudah memilihku dengan perbedaan yang tidak mungkin membuat kita bersama."


“Justru dengan perbedaan membuat kita menyatu.”


“Aku seorang single parent tidak pantas bersanding denganmu.”


YeonJin tersenyum seraya menggenggam kedua tangannya erat. “Aku tidak peduli. Karena kamu ratu yang berhasil duduk di singgasana hatiku. Aku ingin, membangun istana impian bersamamu.”


Kembali ucapan itu berhasil meloloskan kerital bening di wajah Riana. Dengan gerakan lembut YeonJin menghapusnya. Lalu ia pun mendaratkan kecupan hangat di dahi lebar sang istri.


Momen tersebut tidak luput dari kamera orang-orang yang hadir di sana. Mereka merasakan kebahagiaan dari kedua mempelai. Hangatnya cinta, keromantisan dua insan yang baru menyatu, memudar, menguap memberikan kebahagiaan untuk mereka.


Hal itu terbukti dari seorang Choi Jimin. Pria yang terkenal murah senyumnya ini tidak henti-hentinya menangis. Ia senang sungguh dirinya merasa lega melihat YeonJin dan Riana sudah bersama. Ia tahu seperti apa besarnya cinta yang dimiliki YeonJin untuk wanita itu.


“Bahkan hyung rela kehilangan semuanya untuk bisa bersama Riana. Aku harap dia bisa membahagiakannya. Ahh, aku yakin mereka bahagia sekarang.” Ucapnya seraya sibuk menghapus air mata.


“Hahaha paman Jimin lemah.” Ledek Kaila yang duduk di sampingnya. Pria itu pun langsung menatapnya. “Apa Kaila tidak senang melihat eomma menikah?” tanyanya.


Kaila melebarkan senyum seraya terus menatap ke depan. Di mana sang ibu tengah melebarkan sudut bibirnya juga untuk suami barunya.


“Kaila bahagia sekali. Ini pertama kalinya Kaila melihat mamah tersenyum seperti itu. Ternyata mamah punya senyum yang sangat indah. Kaila harap mamah tidak menangis lagi,” ungkapnya tulus.


Jimin pun merangkul bahunya memberikan kekuatan. “Paman yakin, ibumu pasti bahagia. Bukankah sekarang dia menikah dengan YeonJin appa? Seorang pria yang sudah Kaila anggap ayah sendiri.”


Kaila menganggukan kepalanya beberapa kali. “Ahh… tentu saja Kaila bahagia sekali. Ahahaha mamah appa.” Gadis itu turun dari kursinya lalu berlarian mendekati orang tuanya. YeonJin dan Riana pun menyambut kedatangannya seraya merentangan kedua tangan mereka.


Jimin yang terus memperhatikannya kembali melebarkan senyum hangat. “Beruntunglah kalian. Semoga bahagia.”


Musim semi berhembus memberikan aroma bunga sakura. Kegelapan yang menghantui kedua insan itu memudar dan berganti dengan cahaya terang. Tidak ada yang tahu rencana Allah, dan itu sebaik-baiknya rencana. Allah tahu yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.