QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Ketegangan (Season 2)



Musim semi menyuguhkan alam yang begitu memanjakan mata. Pohon-pohon bunga sakura bermekaran menebar aroma wangi yang begitu semerbak. Langit cerah dengan matahari bersinar terang menambah indan pemandangan. Sesekali angin berhembus mengantarkan kesejukan.


Siang ini tidak seperti biasanya, kedua orang yang tidak pernah saling sapa harus disatukan dalam satu waktu. Kaila yang hadir di tengah-tengah mereka menikmati makanannya. Di salah satu restoran halal yang ada di ibu kota, Jasmin dan Jimin duduk berhadapan. Keduanya menunduk menghindari tatapan langsung.


Tidak banyak orang di sana, hanya ada beberapa pengunjung dari negara asing yang satu iman dengan Jasmin. Jendela besar yang tepat berada di samping mereka memperlihatkan aktivitas luar. Orang-orang berjalan silih berganti, suara mobil saling bersahutan menemani kebersamaan.


Restoran halal yang sudah ada sejak tujuh tahun ini menerapkan konsep rumah tradisional Korea. Bangunan unik dengan makanan berbeda menarik wisatwan.


Entah bagaimana jalannya Jasmin bisa terdampar di sana bersama pria yang ingin ia hindari. Ini kedua kalinya mereka bersama-sama dengan Kaila menjadi penengah.


"Kenapa Paman Jimin dan Eonni Jasmin tidak makan? Apa makanannya tidak enak?"


Pertanyaan tersebut sontak mengejutkan mereka. Jasmin yang berada di sebalahnya pun menoleh kala Kaila menatap keduanya bergantian. Wajah bingung bercampur heran hadir di sana. Jasmin gelagapan dan buru-buru mengambil sendok untuk mencicipi makanannya.


"I-ini Eonni baru mau makan." Dengan kikuk Jasmin mulai memasukan sup ayam ke dalam mulut.


Sedangkan Jimin menatap Kaila dengan pandangan bingung. Gadis berusia tujuh tahun tersebut memiringkan kepalanya kala melihat eskpresi Jimin.


"Paman kenapa?" tanyanya lagi.


"Paman bingung, kenapa kamu mengajak kita untuk makan bersama?"


Kata-kata yang Jimin lontarkan mengejutkan Jasmin. Pergerakannya terhenti dan masih berusaha untuk tidak melihat ke arahnya.


Kaila tersenyum lebar dengan kedua mata berbinar senang.


"Kaila ingin makan bersama Paman Jimin dan Eonni Jasmin saja. Apa tidak boleh? Aku juga sudah bilang sama mamah akan pulang telat. Aku ingin Paman dan Eonni bisa berteman baik."


Perkataan polos itu mengejutkan Jimin dan Jasmin lagi. Mereka tidak menyalahkan Kaila atas ucapannya, tapi tetap saja hal tersebut mengundang ketidakpercayaan. Tanpa mengatakan sepatah kata pun Jasmin kembali melanjutkan makan siang menghiraukan perkataan Kaila.


Jimin hanya ber"oh" ria dan berusaha menikmati makanannya juga. Diam-diam ia memperhatikan Jasmin yang tidak pernah sekalipun melihat ke arahnya. Timbul rasa penasaran dan curiga dalam diri Jimin.


"Sebenci itukah dia padaku? Sampai-sampai keberadaanku saja tidak diindahkannya sama sekali," benaknya.


Di tengah atmosfer tersebut hanya ada celotehan Kaila yang terus berdengung. Sesekali Jimin menimpalinya untuk menghidupkan suasana. Jasmin hanya menyunggingkan senyum setiap kali Kaila menoleh padanya. Ia tidak berbicara apapun lagi.


Tidak lama berselang saat mereka masih menikmati makan siang ponsel Jimin berdering. Tertera nama "Kim YeonJin hyung" di layar. Ia pun langsung menerima panggilan dan menghentikan pembicaraan.


Kaila menatap Jimin lekat dan terkejut saat melihat perubahan mimik wajahnya. Kedua alis saling berpautan seolah mendapatkan kabar tidak menyenangkan.


"Paman, apa yang terjadi?" tanya Kaila setelah Jimin mengakhiri panggilan.


"Kita haru segera pergi."


Jimin pun beranjak dari duduk untuk membayar makanan mereka. Jasmin yang melihat hal tersebut bergegas menggendong Kaila dan keluar restoran.


Tidak lama berselang Jimin menyusul. Wajah panik bercampur tegang terlihat di sana. Tanpa mengatakan apapun mereka segera memasuki mobil dan meninggalkan restoran tersebut.


Sepanjang jalan tidak henti-hentinya Jasmin terus beristighfar dan merapalkan do'a-do'a kala Jimin mengemudi dengan kecepatan tinggi. Terdengar beberapa pengguna jalan lain melayangkan kata-kata tidak menyenangkan. Namun, Jimin sama sekali tidak mengindahkan hal tersebut dan terus melajukan mobilnya dengan kencang.


Hingga tidak lama berselang ia tiba di gedung art collection. Tanpa mengatakan apapun pun Jimin langsung melesat pergi meninggalkan Jasmin dan juga Kaila yang diam seribu kata. Berbagai pertanyaan hanya muncul dalam kepala mereka.


"Eonni, kira-kira paman Jimin kenapa? Paman terlihat cemas dan buru-buru. Apa sesuatu terjadi pada appa? Eonni, bisa antar Kaila ke tempat appa? Kaila takut terjadi apa-apa."


Kepala bulat itu mendongak menatap ke dalam manik Jasmin yang masih memadang lurus ke depan tanpa berkedip. Kaila mengerutkan dahi bingung lalu menggoyangkan tangannya yang tengah berada dalam genggaman Jasmin.


Seketika itu juga Jasmin tersentak dan menunduk ke bawah.


"Bisa antar Kaila menemui appa?"


Jasmin menganggukan kepala canggung kemudian menarik pelan Kaila untuk menemui ayahnya berada.


...***...


Suara gaduh bergema dalam ruangan hingga keluar. Beberapa karyawan yang melewati pintu sang bos menundukan kepala berpura-pura tidak mendengar apapun. Mereka tidak mau ikut campur dan berakhir terkena amukan atasannya.


Namun, hanya Jasmin dan Kaila yang terdiam menyaksikan kejadian di ruangan tersebut. Jimin dengan pipi memerah nampak tengah berbicara dengan Kim YeonJin. Berkali-kali ia mengusap wajahnya gusar menahan kekesalan yang membuncah.


"Apa *Hyung akan membiarkannya saja? Meskipun beliau orang tua Hyung*, tapi jika sudah bertindak sejauh ini namanya keterlaluan. Apa Riana tahu?"


"Aku tidak tahu. Artikel ini baru sampai padaku tadi. Aku akan memberikan apa yang appa inginkan, termasuk bangunan ini. Aku rela kehilangan harta, asalkan keluargaku selamat."


"Apa Hyung gila? Jatuh bangun Hyung membangun ini dan akan diberikan begitu saja? Aku tidak bisa terima. Aku akan beri perhitungan pada tua bangka itu."


Bersama amarah yang menggunung Jimin hendak pergi dari sana, tapi dengan cepat YeonJin mencengkram pergelangan tangannya kuat.


"Aku mohon jangan bertindak tanpa rencana. Aku tidak mau membebani Riana juga."


Jimin menghela napas kasar dan berkali-kali mengatur sesak dalam dada untuk menenangkan dirinya sendiri. Sebagai seseorang yang sudah berjuang bersama Kim YeonJin, Jimin tahu bagaimana perjuangan yang selama ini sang sahabat lakukan. Pria yang umurnya lima tahun lebih tua membuat Jimin merasakan mendapatkan seorang kakak. YeonJin sering menasehatinya dalam segala hal dan tidak segan untuk membantu jika ia tengah kekurangan finansial.


Dalam keadaan menegangkan seperti ini Jimin ingin berdiri paling depan untuk melindungi sang kakak. Tidak peduli siapa pun lawannya akan ia hadapi. Ia tidak mau melihat YeonJin kembali terpuruk. Sudah cukup, masa lalu hanya harus tinggal di belakang dan tidak boleh terulang.


"Baiklah jika itu mau Hyung, kita bisa atur rencana lagi."


YeonJin menuntun Jimin untuk duduk di sofa. Tanpa mereka sadari Jasmin dan Kaila menyaksikan hal tersebut dalam diam. Jauh dalam lubuk hati, Jasmin kagum dengan pembelaan yang Jimin lakukan. Ia terkesima atas kepedulian pria itu.


"Astaghfirullah hal adzim," benaknya langsung menundukan pandangan.


Jam sudah menunjukan pukul setengah lima sore. Tidak lama setelah perdebatan singkat terjadi, Jimin dan YeonJin menyadari keberadaan dua sosok yang berdiri di depan ruangannya. Kini mereka berempat pulang bersama menuju kediaman keluarga Kim.


Kim YeonJin secara khusus mengundang Jimin dan Jasmin untuk makan malam bersama. Tidak kuasa menolak mereka pun akhirnya ikut pulang. Kaila sangat senang atas inisiatif yang ayahnya lakukan.


Rumah bertingkat dua itu pun tertangkap pandangan. Setelah memarkirkan mobil, satu persatu mereka keluar dan bergegas masuk ke dalam. Namun, langkah YeonJin terhenti kala netranya memandang sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.


Seketika jantungnya berdegup kencang, darahnya berdesir hebat, kedua tangan mengepal erat dan gigi saling bergeletuk.


"Appa!"


Panggilan tersebut sontak mengejutkan semua orang. Riana tercengang kala mendapati suaminya pulang. Atmosfer di sana pun mencekam bagaikan guntur saling berkilatan dalam tatapan ayah dan anak tersebut.